Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Kembali Sadar.


__ADS_3

"Rey …!"


Bu Suryo membola, saat ia mendengar suara samar Ilham yang tengah memanggil nama anaknya itu.


"Pa … Papa, Ilham bangun Pa?" pekik bu Suryo. "Cepat Pa panggil dokter, buruan!"


Pak Suryo terkejut mendengar ucapan sang istri, "Benarkah Ma?" tanya nya tak percaya.


"Iya Pa, mama sendiri dengar Ilham memanggil Reyhan. Cepat panggil dokter Pa, kok malah bengong?" sentak Bu Suryo.


Adit yang melihat majikannya masih bingung dan sedikit terkejut, memilih keluar untuk memanggil dokter. "Biar saya saja Bu, yang memanggil dokternya. Bapak disini saja menunggu mas Ilham bersama dengan Ibu."


"Baiklah Dit, kamu panggil dokter saja dulu!" seru pak Suryo.


Adit bergegas keluar untuk menemui sang dokter dan menceritakan kondisi Ilham yang katanya sudah mulai sadar.


Dokter andre pun terkejut dan bergegas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Selamat siang Pak, Bu. Boleh saya periksa keadaan pasien dulu?" tanya dokter Andre sesaat setelah sampai di ruangan Ilham.


"I-iya Dok, silahkan."


Dokter Andre pun memeriksa Ilham, tapi gerakan tangan Ilham yang tiba-tiba membuat nya sedikit takjub. Pasalnya jika seseorang di dalam keadaan koma, mereka cenderung akan susah menggerakkan anggota tubuhnya dan mungkin hanya bisa mendengar, tanpa bisa berbuat apa-apa.


Perlahan-lahan Ilham mulai membuka matanya, dan terus menggumamkan nama sang anak. "R-rey…han"


"Pak Ilham sudah sadar, Alhamdulillah."


Meski samar Ilham bisa mendengar dan mengangguk pelan. Dokter tersenyum saat melihat respon Ilham yang mulai membaik. Dan setelah melakukan semua pemeriksaan, dokter Andre pun keluar dan menemui orang tua Ilham.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Pak Suryo.


"Alhamdulillah Pak, pasien merespon dengan baik tapi untuk memastikannya lagi, kami akan melakukan pengecekan kembali dan memastikan kalau pasien benar-benar dalam keadaan yang baik. Sehingga bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa nanti."


"Baik Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya?" pinta Pak Suryo.


"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak bapak, kalau begitu saya pamit dulu Pak?"


Pak Suryo mengangguk, mempersilahkan sang dokter untuk kembali bekerja.


Bu Suryo bergegas masuk kembali ke ruangan, di mana sang anak terbaring dan yang kini tengah menatapnya samar.


"Ilham nak, kamu sudah bangun? Terima kasih ya Allah!" ucap bu Suryo sambil mencium kening Ilham.


"M-ma, dimana Reyhan?"


"Reyhan?"

__ADS_1


Ilham mengangguk samar, membenarkan ucapannya ibunya itu.


"Reyhan gak disini nak, kenapa kamu ingin bertemu dengannya?"


Ilham kembali mengangguk, saat mendengar ucapan bu Suryo.


"Iya nanti kita ketemu Reyhan ya, sekarang kamu istirahat dulu. Jangan berpikiran yang berat-berat dulu. Nanti papa sama mama usahain untuk ketemu sama Reyhan ya?"


Ilham kembali mengangguk dan memejamkan matanya, kondisi nya belum begitu sehat, membuatnya tak bisa untuk berlama-lama membuka mata.


Bu Suryo keluar setelah memastikan sang anak kembali terlelap dan bergegas untuk menemui sang suami, yang masih berbincang dengan Adit.


"Pa?" panggil bu Suryo.


"Nanti kita bicara lagi, Dit. Sekarang kamu istirahat saja dulu dan terima kasih karena sudah mau membantu saya?"


"Sama-sama Pak, itu sudah menjadi tugas saya!" ucap Adit sembari pamit meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Bagaimana keadaan Ilham, Ma?"


"Ilham sudah sadar Pa, tapi sekarang sedang istirahat dan kembali tidur. Mungkin karena obat yang tadi suster kasih."


"Alhamdulillah kalau begitu. Lalu kenapa Mama keluar?"


"Ada yang ingin Mama bicarakan sama Papa?"


"Saat bangun dari koma nya, Ilham menanyakan Reyhan Pa. Sedangkan kita tidak tahu, kemana Hanum membawa Reyhan setelah menikah dengan Sakha." ucap bu Suryo cemas.


"Nanti kita ke rumah Bu Surti Ma, nanti kita coba tanyakan dimana Hanum dan Reyhan berada?"


"Hm iya Pa, Mama harap bu Surti mau memberitahu dimana Hanum dan Reyhan tinggal sekarang!"


***


"Gimana Bi, sudah ada kabar belum dari mas Ilham?"


"Belum ada Bu, tapi sebelum pergi. Pak Ilham pernah bilang kalau ada pekerjaan di luar kota!"


"Tapi ini sudah lima hari, Bi. Masa mas Ilham gak bisa dihubungi sama sekali?"


"Mungkin di tempat Pak Ilham tidak ada sinyal, Bu?"


"Ya sudah tapi nanti kamu coba tanya sama mertua ku ya? Aku harap papa sama mama tahu mas Ilham kemana?"


"Baik Bu, nanti saya coba tanyakan sama orang tua Pak Ilham!"


Amel kembali masuk kedalam kamar, sesaat setelah menyelesaikan makan paginya. Dan sedikit mengobrol dengan asisten rumah tangganya itu.

__ADS_1


Amel mendesahkan nafas lelah, setelah lima hari ini dia mencoba menghubungi dan mencari tahu kemana perginya sang suami. Tapi nihil itu yang ia dapatkan kini.


"Sebenarnya kamu kemana mas?" tanyanya lirih.


Tok …tok …tok.


Amel yang baru saja ingin merebahkan diri di tempat tidur, kembali terbangun, saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Siapa?"


"Saya Bu?"


"Masuk Bi, ada apa?"


"Di luar ada Bu Ratna, Bu. Beliau ingin bertemu dengan Ibu?"


Amel menarik nafas panjang, tak dipungkiri sekian lama setelah ia mulai sembuh dan mulai bisa menerima orang tua nya kembali. Tapi rasa sakit karena pernah ditinggalkan itu, belum sepenuhnya hilang dari ingatannya. Sejauh dan sekuat apapun Amel mencoba melupakan tapi bayang-bayang kelam itu selalu hadir tanpa diminta.


"Ya sudah bilang sama Ibu, sebentar lagi aku keluar!"


Bi Tari meninggalkan Amel sendiri sebelum menemui orang tua dari majikannya itu.


"Ada apa Ibu kesini?" tanya Amel saat ia melihat Ibunya duduk sambil menyesap teh, yang di buatkan oleh asisten rumah tangganya itu.


"Ibu hanya ingin melihat keadaanmu Nak, sudah lama semenjak kedatanganmu dari luar negeri, tapi Ibu belum sempat datang untuk menjenguk?"


"Aku sehat, Ibu tenang saja!"


"Hmm, Ibu bisa melihat itu! Gimana kabar nya Ilham?" tanya Bu Ratna basa-basi.


"Mas Ilham baik-baik saja. Tapi sekarang mas Ilham gak dirumah karena harus keluar kota!"


Bu Ratna manggut-manggut mendengar ucapan Amel, berarti benar kalau Amel belum tahu keadaan Ilham yang sebenarnya. Ada rasa bersalah dalam diri Bu Ratna, padahal ia tahu kemana Ilham pergi dan bagaimana keadaannya sekarang. Tapi lidah nya kelu jika harus memberi tahu Amel yang sebenarnya terjadi, ia takut kalau Amel kembali histeris. Padahal keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Em, Mel boleh Ibu menginap disini untuk beberapa waktu?"


"Tapi kenapa, Bu? Bukankah rumah Ibu lebih besar dari rumah Amel?"


"Iya tapi Ibu sedikit kesepian tinggal disana sendirian, boleh ya Ibu tinggal disini?" pintanya dengan sedikit memohon.


Melihat Ibu nya yang memohon untuk tinggal, Amel jadi sedikit tak tega dan dengan perasaan gamang, akhirnya Amel mengiyakan permintaan sang Ibu.


"Ya sudah Ibu boleh tinggal disini tapi nanti kalau mas Ilham pulang, Ibu bisa pulang kerumah Ibu ya?"


Dengan wajah sendu, Bu Ratna mengangguk. Untuk saat ini mental Amel lebih penting dari apapun untuknya. Dan dirinya sengaja menginap hanya untuk lebih dekat dengan sang anak, jika suatu saat takdir akan berkata lain. Setidaknya sudah ada dirinya, yang mampu untuk jadi penguat dalam hidup anak perempuannya itu.


****

__ADS_1


__ADS_2