
"Kamu gapapa kan untuk sementara tinggal disini?" tanya Sakha saat melihat Hanum yang sedikit terkejut, melihat rumah baru yang akan mereka tinggali selama di Semarang.
"Apa ini gak kebesaran Mas untuk kita?" tanya Hanum takjub, saat melihat rumah yang jauh dari bayangannya itu.
Sakha terkekeh pelan, "Aku pikir kamu kecewa lho sayang, karena rumah ini tak sebesar rumah kita yang di Jakarta?"
Hanum menggeleng pelan, "Gak sih Bang, tadinya aku berpikir kalau rumah yang akan kita tinggali nanti lebih kecil sedikit dari yang di Jakarta. Ternyata sama saja!"
"Rumah ini gak gede sayang, yang gede itu rasa cintaku sama kamu?" gombal Sakha.
Pipi Hanum merona, saat mendengar gombalan Sakha. "Kamu sekarang sudah pandai menggoda ya Bang?"
"Nggak, aku begini kalau sama kamu aja, kalau sama yang lain nggak!"
Hanum tersenyum, "Terima kasih ya Bang, aku bahagia sama Abang?" ucap Hanum sambil memeluk Sakha.
"Aku yang lebih bahagia sama kamu!" ucap Sakha sambil mencium kening Hanum.
Keduanya saling memeluk, untuk menyalurkan perasaan bahagia yang tengah mereka rasakan. Sampai suara cadel Reyhan, yang memanggil keduanya yang akhirnya membuat pelukan ala teletubbies itu terpisah.
"Papa gendong?" pintanya.
"Sini?" panggil Sakha sambil mengulurkan tangan, untuk menggendong Reyhan.
"Reyhan suka gak sama rumahnya?"
"Suka Pa, lumahnya besal!" jawab Reyhan sambil membentangkan tangan, menunjukkan kalau rumah yang sekarang mereka tempati benar-benar besar menurutnya.
"Bagus kalau Reyhan suka, pasti betah nanti ya, tinggal disini sama mama dan papa?"
Reyhan menganggukan kepalanya, tanda setuju dengan apa yang Sakha ucapkan.
"Ya sudah yuk, kita lihat kamar untuk Reyhan bobo nanti?" ucap Sakha sambil menggendong Reyhan, tak lupa ia juga membawa Hanum untuk ikut serta melihat kamar yang akan mereka tempati nanti.
"Kita akan tinggal berapa lama disini Bang?" tanya Hanum saat kaki nya, mulai menapaki tangga menuju arah kamar mereka.
"Kenapa? Apa kamu merasa belum betah tinggal disini?"
__ADS_1
"Bukan itu maksudku Bang! Aku hanya bertanya? Sekarang Reyhan sudah mulai masuk usia sekolah dan aku hanya ingin memastikan saja, dia akan bersekolah dimana nanti?"
"Oh, aku gak tahu sampai kapan. Mengingat ini juga bisnis yang baru mulai dirintis, paling lama setahun tapi bisa lebih." Sakha menghentikan jalannya dan menatap Hanum. "Kamu gapapa kan kalau tinggal lama disini sama aku?" tanya Sakha sambil menatap Hanum.
Hanum mengangguk dan tersenyum, "Kemana langkah kakimu membawa dirimu, disitu aku akan selalu ada buat untukmu Bang!"
Sakha terharu, mendengar jawaban manis yang keluar dari bibir istrinya itu, ada rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sambil terus menatap Hanum Sakha sedikit mencuri ciuman di bibir sang istri dan berkata. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!"
Pipi Hanum kembali merona, saat sang suami menyatakan cintanya berulang-ulang kali. Dan genggaman ditangannya, semakin mengerat satu sama lainnya.
***
Tak puas setelah mendapat jawaban dari Ardi, kini Ilham mengemudikan kendaraan roda empat nya menuju rumah sang mama.
Sesampainya disana, Ilham memarkirkan mobilnya asal dan langsung masuk kedalam rumah sang ibu. Tanpa mengucapkan salam, Ilham memanggil sang Ibu yang tengah duduk bersama dengan suaminya.
"Ma โฆ?"
"Lho Ham, kamu kapan datang?" tanya bu Suryo yang terkejut melihat kedatangan sang anak.
Tanpa menjawab pertanyaan sang Ibu, kini Ilham duduk bersimpuh di dekat kaki nya dan bertanya. "Ma, apa yang sebenarnya terjadi selama Ilham pergi?"
"Reyhan Ma, kemana Reyhan? Apa yang Ilham gak tahu tentang anak Ilham?" jawab Ilham frustasi. "Aku tadi kesana sengaja membawakan hadiah untuk nya, tapi saat sampai disana bu Surti bilang kalau Reyhan sudah bahagia dengan keluarganya. Siapa keluarga yang di maksud bu Surti Ma?"
Bu Suryo menarik nafas panjang, sambil menatap sang suami. Hatinya bimbang ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi saat melihat Ilham yang begitu terluka karena tak bisa menemui anak semata wayangnya. Timbul rasa iba di dalam hatinya.
"Kamu mau dengar cerita dari mana dulu Ham?" tanya Pak Suryo.
Ilham menatap sang ayah dengan perasaan bingung, "Ilham ingin dengar semuanya Pa, tanpa ada yang terlewat!"
"Hanum sudah menikah, Ham?" ucap Bu Suryo pelan.
Ilham terkejut luar biasa, saat mendengar ucapan ibunya itu. "H-hanum menikah dengan siapa, Ma? Lalu Reyhan bagaimana?"
"Dengarkan penjelasan Mamamu dulu, Ham?"
Ilham mengangguk sambil menatap sang Ibu, yang kini mulai menceritakan semuanya dari awal. Awal mula Hanum menikah karena Reyhan dan juga sudah bahagia bersama Reyhan.
__ADS_1
"Ng-gak Ma, itu gak boleh terjadi?" rancau Ilham. "Reyhan anakku Ma, dia akan bahagia bersama denganku, bukan Sakha!"
"Apa yang kamu katakan Ham? Reyhan sudah bahagia bersama dengan Hanum dan papa sambungnya yang selalu ada untuknya!" ucap Pak Suryo berang.
"Tapi Reyhan anakku Pa, bukan anaknya Sakha. Dan hanya aku yang berhak atasnya, Papa gak tahu bagaimana tersiksanya Ilham saat harus jauh dari anak kandung Ilham sendiri, Pa?"
"Itu semua salah kamu sendiri, kamu yang pergi ninggalin Reyhan untuk menemani istrimu yang sudah gila itu. Kamu gak tahu, berapa kali anak kecil itu harus bolak-balik kerumah sakit. Berapa kali juga, tangan mungilnya harus dipasang infus terus menerus, karena gak mau makan dan terus merindukanmu bahkan dalam tidurnya sekalipun." ucap Pak Suryo menggebu-gebu.
Ilham terdiam lama, mencerna semua perkataan orang tuanya. Ilham akui ini memang salahnya tapi apa pantas kalau sekarang dirinya dijauhkan dari anak semata wayangnya itu.
"Ilham tahu, Ilham salah Pa. Tapi Ilham juga gak terima kalau Ilham dijauhkan dari anak kandung Ilham sendiri." jawab Ilham dengan menahan rasa marah di dalam dirinya.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Pak Suryo.
"Ilham akan menemui Hanum dan meminta Reyhan, bukankah Hanum sekarang sudah bahagia bersama dengan Sakha. Ilham rasa itu adil untuk kita semua!" ucap Ilham sambil berdiri dan berlalu dari rumah kedua orang tuanya.
"Ilham โฆ jangan gila kamu?" teriak Pak Suryo.
"Pa, gimana ini?" tanya Bu Suryo.
Pak Suryo memijat keningnya, rasa sakit tiba-tiba hadir saat melihat amarah anak lelakinya itu. "Sebentar Ma, Papa hubungi Adit dulu untuk mengikuti Ilham dan untuk menenangkannya kalau terjadi masalah nantinya."
Ilham masuk ke mobilnya dan mulai melajukan kendaraan roda empat nya itu, dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Sialan, arghhh!" maki Ilham sambil memukul stang kemudi. "Kenapa jadi seperti ini?"
Ilham melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, amarah yang menguasai hatinya telah membutakan pikirannya. Yang sekarang Ilham pikirkan, bagaimana dia cepat sampai dan bertemu dengan putra yang selalu di rindukan nya siang dan malam.
Dering suara ponsel yang ada di sakunya, mengalihkan sejenak perhatian nya. Nama Amel terpampang di layar ponselnya. Ilham lupa, saat pergi dari rumah sampai saat ini. Dia belum sekalipun mengabari istrinya itu dan saat ia ingin menjawab panggilan dari sang istri, ponsel yang ia pegang jatuh di antara kakinya.
Ilham mengabaikan panggilan itu tapi suara dering yang tak henti, membuatnya ingin meraih ponsel yang masih menampakan nama sang istri di layar ponselnya itu.
Belum sempat Ilham meraih ponselnya, tapi kecelakaan yang menimpanya tak dapat dihindari.
Karena kondisi jalan yang sepi dan laju kendaraan Ilham yang diatas rata-rata, Ilham tak sempat mengerem, saat truk pengangkut pasir tiba-tiba berbelok arah dan menabrak mobil yang saat ini Ilham kendarai.
Brrakkk
__ADS_1
****
Done Dua bab ya kak, nanti kalau sempat up lagi. Akhir-akhir ini mood lagi anjlok di tambah harus revisi outline yang udah menyimpang jauh dari yang seharusnya. maaf sudah membuat kecewa tapi gak lama lagi end kok kak. Terima kasih sudah sabar menunggu dan maaf ๐ Happy Reading ๐๐๐๐