Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Perpisahan


__ADS_3

Malam berlalu dengan cepat dan pagi menyapa dengan senyuman. Hanum mengerjapkan mata saat cahaya matahari mulai menampakan sinarnya.


Hanum menatap jam yang menempel di dinding rumahnya, angkanya baru menunjukan pukul tujuh pagi, yang berarti dirinya terlelap dua jam setelah sholat subuhnya.


Hanum bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, sedikit menyegarkan badan dan juga pikiran nya. Tak lama setelah itu ia pun bergegas keluar dari kamar, dan menyiapkan makanan sebelum dirinya pulang kerumah orang tuanya.


Tapi saat Hanum membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya dia saat suami bukan tepatnya calon mantan suaminya, berdiri di depan pintu kamar yang Hanum tempati.


Hanum pikir, suaminya langsung kembali saat sang madu berpesan untuk tidak meninggalkan nya terlalu lama, tapi kalau melihat kantung mata yang ada di mata suaminya, Hanum yakin kalau suami nya tidak kembali tadi malam.


"Dek!" sapa Ilham.


"Kamu gak pulang semalam Mas kerumah istrimu?"


Ilham menggeleng, "Aku tidur di sofa semalam!" jawabnya.


"Kenapa?"


"Duduklah dulu ada yang ingin kubicarakan?" ajak Ilham.


Hanum menurut, saat Ilham membawa tangan nya untuk kembali masuk dan duduk disisi tempat tidurnya.


"Mungkin sudah terlambat untuk Mas mengucapkan ini, tapi sungguh di dalam hati. Mas sangat menyesal melakukan semua ini kepadamu, bahkan mungkin beribu kata maafku, tak akan sanggup mengobati luka yang ku buat di hatimu." ucap Ilham menjeda kalimatnya.


Hanum masih menatap dan berpikir apa ini akan menjadi akhir dari kesakitan nya selama ini.


"Setelah Mas pikir, mungkin jalan yang terbaik untuk kita memang perpisahan." ucap Ilham yang mulai tersendat-sendat, karena air mata yang mulai ikut turun mewarnai penyesalan nya.


"Maaf kalau selama ini Mas sudah zholim kepadamu, maaf kalau Mas juga sering mengabaikan mu dan maaf karena tidak bisa setia hanya kepadamu. Aku membebaskanmu untuk memilih jalanmu sebagai bentuk permintaan maafku."


Air mata Hanum menetes, hatinya berdenyut nyeri, cinta dan rumah tangga yang ia bangun lima tahun lamanya, kini kandas begitu saja. Menyesalkah dirinya, jawaban nya iya! seandainya dirinya cepat diberi momongan mungkin rumah tangganya masih akan baik-baik saja. Tapi mungkin juga ini sudah menjadi jalan yang Allah pilih untuk nya, di saat kesetiaan dan ujian yang di berikan yang Maha Kuasa tak sanggup membuat hati sang suami tetap berada di genggamannya.

__ADS_1


Kini hanya keikhlasan yang Hanum punya, seandainya. Entah berapa banyak seandainya yang Hanum inginkan, tapi bagaimanapun ia berharap jalan yang Allah pilihkan pasti yang terbaik untuk nya.


Hanum masih setia mendengarkan ucapan Ilham, yang terdengar menyayat hatinya.


"Bolehkah Mas minta berkas-berkasnya Dek, biar Mas yang mengurus perceraian kita nanti?" pinta nya.


Hanum lantas berdiri, menuju lemari yang biasa dia gunakan untuk menyimpan semua surat-surat berharga, yang ada di rumahnya.


Hanum mengambil tumpukan dokumen yang jauh sebelumnya, sudah Hanum siapkan seandainya Ilham tak kunjung memberikan kepastian akan nasib rumah tangganya.


Hanum berjalan kembali ke arah Ilham dan menyerahkan semua yang Ilham minta, Ilham menatap nanar semua berkas yang tersusun rapi, di dalam sebuah map berwarna biru tua.


"Apa sebelumnya kamu sudah mempersiapkan semua ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari map warna biru tua itu.


"Iya!" jawab Hanum singkat.


"Jadi kamu memang sudah berencana untuk meninggalkan diriku?" tanyanya lagi.


Hanum menggeleng, "Tidak Mas dulu aku berpikir, mungkin kita bisa hidup bertiga antara aku kamu dan maduku. Tapi keegoisan mu dan ketidakmampuanmu membagi waktu, yang membuat aku memilih jalan ini. Aku sudah pernah memberimu kesempatan tapi rasa percaya mu yang semakin tipis untukku yang membuat kesempatan itu kembali hilang."


"Aku masih memberimu muka, untuk mengajukan cerai terlebih dahulu, jika aku yang menuntut, aku khawatir nama baikmu yang akan rusak nantinya. Biarlah orang berpikir aku yang tidak mampu dalam pernikahan kita. Itu hal terakhir yang bisa ku lakukan untuk mu, sebagai bentuk terima kasih dariku karena telah mencintaiku selama lima tahun ini."


Ilham semakin tergugu mendengar ucapan wanita yang pernah singgah dan bertahta di hati dan hidupnya dulu.


"Sementara kamu tinggal disini saja dulu Dek, selama menunggu masa iddah mu. Mas yang akan pergi dari rumah ini." ucap Ilham disela tangisnya.


"Tidak Mas, aku akan pulang kerumah ibu dan akan menjalani masa iddah ku di sana!"


"Tapi ibu belum tahu dan ini juga rumahmu Dek?"


"Aku akan semakin tersiksa, saat aku menjalani masa iddah ku disini, kenangan kita akan terus berputar dan itu akan sangat menyiksa Mas!"

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan ibu?"


"Aku yang akan menjelaskan semuanya Mas, kamu tenang saja. Ibu akan mengerti walaupun tidak sekarang tapi suatu hari nanti beliau akan memahami, kalau ini yang terbaik untuk kita berdua!"


Ilham terdiam ia kembali menyusahkan istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya ini. Untuk sekedar meminta maaf kepada sang ibu mertua.


"Kapan kamu akan pulang? biar nanti Mas yang antar sampai rumah."


Hanum menggeleng, "Biarkan aku pulang sendiri saja Mas, aku juga belum selesai berkemas. Aku tidak ingin meninggalkan kenangan apapun di dalam rumah ini." ucapnya mantap.


Ilham mengangguk, "Kalau begitu, Mas pamit. Mas akan pulang ke rumah mama selama perceraian kita berlangsung nanti. Jaga dirimu dan sekali lagi Mas minta maaf telah membuatmu terluka sampai seperti ini." ucap Ilham sembari berdiri dan melangkah pergi, tapi sebelum kakinya melangkah keluar, Ilham berbalik dan berkata, "Bolehkah aku memelukmu? sebelum kata talak itu ku ucapkan untuk mu nanti."


Hanum berbalik menatap sang suami dan mengangguk. Mendapat persetujuan dari sang istri Ilham sedikit berlari dan memeluk erat wanita yang pernah ada dan menemaninya berjuang dari bawah itu.


Pelukan itu terasa berat, Ilham memeluk nya dengan erat seakan tak ingin melepaskan. Ilham mengecup seluruh wajah Hanum dan berakhir di bibir ranum itu. Ciuman tanpa nafsu, hanya sekedar melepaskan kerinduan yang sebentar lagi tak akan pernah bisa ia curahkan.


Ilham mengurai pelukan nya. Matanya masih mengeluarkan air mata, yang entah sejak kapan sering menghiasi wajah tampannya.


"Aku pamit, kamu jaga dirimu baik-baik dan tolong maafkan aku." pinta Ilham.


Hanum mengangguk dan pagi itu menjadi awal perpisahan mereka, Hanum dengan hidupnya dan Ilham dengan kesakitannya yang baru saja dimulai.


Setelah Ilham pergi Hanum kembali membereskan sisa barang-barangnya, sesuai ucapannya. Ia tak ingin meninggalkan jejaknya di rumah ini bahkan dengan kenangan nya sendiri.


Hanum mulai merapikan rumah, memasak semua bahan yang tersedia di kulkas. Memasukkannya pada setiap wadah dan menyimpannya kembali pada lemari pendingin. Itu masakan yang ia buat untuk terakhir kali, sebelum baktinya sebagai istri di ambil dari hidupnya.


Hanum menarik koper berukuran besar dari dalam kamarnya, menatap kembali kamar yang pernah menjadi saksi percintaan nya dulu. Sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari dalam rumah.


Hanum memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke rumah sang ibu, tak lama menunggu taksi yang Hanum pesan sudah datang. Dengan langkah berat Hanum meninggalkan rumah itu dan sebelum taksi yang ditumpanginya melaju Hanum mengirimkan pesan. "Aku pamit Mas, jaga dirimu. Maaf jika selama menjadi istri aku bukan istri yang baik untukmu, jika ada waktu pulang lah. Aku masih menyiapkan makanan kesukaanmu sebagai bentuk bakti terakhirku untukmu." pesan itu Hanum kirimkan sebelum ia mematikan ponsel dan memilih menikmati perjalannya untuk pulang ke rumah sang ibu.


***

__ADS_1


Untuk semua pembaca Terima kasih atas dukungan nya, maaf jika nanti updatenya tidak sesuai jam, tapi saya usahakan untuk setiap hari update di karena kan kesibukan RL dan penulisan naskah cerita terbaru, mungkin cerita ini sedikit jauh dari jam updatenya, sebelumnya terimakasih dan maaf ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Happy Reading ๐Ÿค—


__ADS_2