Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Bulan Madu.


__ADS_3

Hanum tersenyum sendiri, saat keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Waktu menunjukan pukul empat pagi, yang berarti subuh akan datang sebentar lagi.


Dengan langkah perlahan Hanum mendatangi suaminya yang masih bergelung dalam selimut, Hanum memperhatikan wajah sang suami yang tidur dengan pulas nya setelah percintaan mereka semalam.


"Bang, bangun sudah mau subuh?" panggil Hanum sambil menggoyangkan lengan kekar sang suami.


Sakha hanya menggeliat dan memicingkan matanya saat mendengar suara sang istri. "Hm sebentar lagi boleh?" tanya Sakha dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Kan Abang harus mandi dulu, nanti kita sholat berjamaah!" jawab Hanum lembut.


Dengan sedikit malas, Sakha duduk sambil menatap Hanum. "Hm Abang mandi tapi cium dulu boleh?" rayu Sakha.


Hanum menggeleng, "Mandi dulu Abang bau!"


Sakha terkekeh lalu beranjak, "Oke Abang mandi dulu ya habis itu kita sholat bareng?"


Saat Sakha berjalan Hanum menundukkan pandangannya, malu itu masih ia rasakan, saat melihat Sakha berjalan hanya memakai boxer pendek yang hanya menutupi bagian bawahnya.


Tak butuh waktu lama, setelah ritual mandi nya selesai. Kini kedua nya melakukan sholat subuh berjamaah dengan Sakha yang menjadi imamnya.


"Terima kasih ya?" ucap Sakha saat keduanya selesai melaksanakan kewajiban nya.


"Terima kasih untuk apa Bang?" tanya Hanum.


"Terima kasih sudah melakukan kewajibanmu, Abang sangat bahagia!" ucap Sakha sambil mengusap pipi Hanum lembut.


"Iya Bang, sama-sama maaf jika sudah membuat Abang menunggu lama!"


Sakha menggeleng, "Ini pantas buat Abang, untuk mendapatkan berlian seperti dirimu menunggu selama apapun Abang bersedia?"


Hanum mendongak menatap Sakha, ucapan Sakha menyentuh hatinya yang paling dalam. Saat mantan suaminya bahkan tidak menganggapnya ada dulu. Tapi lelaki yang ada di depannya yang kini menjadi suaminya ini, menganggapnya seperti berlian yang layak untuk diperjuangkan.


Tak terasa air mata itu luruh lagi dengan sendirinya. Rasa haru karena dicintai dengan begitu dalam, membuat air mata yang seharusnya berhenti malah semakin deras mengalir dari kedua mata Hanum.


"Lho kok nangis, Abang salah bicara ya?" tanya Sakha panik saat melihat air mata Hanum.


Hanum menggeleng samar, "Abang gak salah? Aku beruntung menikah dengan Abang, lelaki baik yang mau menerima semua kekuranganku, maaf jika belum bisa jadi istri yang sempurna ya Bang?" ucap Hanum sendu.


Sakha meraih wajah Hanum, menatapnya dalam dan berkata, "Aku tak butuh istri yang sempurna, kamu sudah mau menikah dan menjadi istriku saja itu sudah lebih dari cukup untukku. Melengkapi hidupku dengan cinta darimu, sudah merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan untukku."


Sakha mendekat dan memagut bibir ranum hanum, "Biarkan kesedihanmu berlalu dan biarkan aku menggantinya dengan cinta dan kebahagian di seumur hidupmu." bisik Sakha didepan bibir Hanum.

__ADS_1


Pagi itu cinta dan air mata membaur jadi satu. Malam panjang yang sebelumnya terjadi kembali terjalin di waktu pagi.


Sakha mencium lembut bibir Hanum, pelan tapi menuntut. Perlahan tangannya kembali masuk di sela baju yang dikenakan Hanum.


Suara ******* yang lolos dari bibir Hanum, membangkitkan kembali rasa yang pernah hilang dulu. Perlahan ciuman itu turun ke leher jenjang nan mulus, kancing baju yang dipakai Hanum mulai terbuka satu persatu, menampakan pemandangan indah yang untuk kedua kalinya Sakha nikmati.


Ciuman itu kembali turun dan meninggalkan jejak di antara kulit yang putih. Jejak yang semalam Sakha tinggalkan masih begitu membekas dan kini semakin ia tambah dengan jejak yang baru.


Suara ******* itu kembali lolos dari bibir Hanum, saat bibir Sakha bermain di dadanya. Sakha yang telah diliputi gairah tak menunggu waktu lama untuk penyatuannya kembali.


Dengan nafas yang terengah-engah, Hanum berusaha mengimbangi suaminya. "Aku mencintaimu?" rancau Sakha di sela-sela aktivitas nya bercocok tanam.


Bibirnya kembali memagut bibir Hanum, bak gayung bersambut Hanum pun mulai membalas ciuman Sakha dengan begitu lembut tapi menuntut.


Tak lama terdengar suara erangan panjang dari Sakha, menandakan selesainya hasrat yang lama terpendam dan telah terpuaskan.


Sakha berguling ke sisi Hanum dan mencium keningnya lembut, setelah pagi panas yang mereka lewatkan berdua. "Terima kasih lagi, aku mencintaimu!" ucap Sakha sembari memberikan kecupan disertai pagutan tanpa nafsu.


Hanum tersenyum setelah ciuman itu berakhir, keduanya mengambil nafas sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan oksigen yang mulai menipis. Tak dipungkiri aktivitas pagi yang mereka lakukan membuat keduanya lelah, setelah sebelumnya juga melakukan hal yang sama.


Bagi Sakha Hanum sudah menjadi candu untuknya, jika sebelumnya hanya bibir Hanum yang mampu ia gapai. Sekarang tidak hanya bibirnya tapi juga tubuhnya dan itu membuat Sakha lebih merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya.


***


Hanum menatap Sakha yang tertidur setelah aktivitas yang mereka lakukan tadi. Dengan sangat perlahan, Hanum turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk membuat sarapan paginya.


Sebelum turun Hanum memastikan bahwa putra semata wayangnya belum bangun, kamar Reyhan dan kamar nya hanya dipisahkan oleh pintu yang terhubung langsung dengan kamar miliknya.


Setelah melihat putranya, Hanum bergegas turun dan memasak sarapan untuk keluarga kecilnya. Perasaan Hanum bahagia untuk saat ini, walaupun belum bisa jadi istri yang sempurna untuk sang suami. Tapi Hanum berusaha menjadi istri yang baik, dengan melayaninya baik dalam urusan perut ataupun urusan di bawah perut.


Tak butuh waktu lama untuk Hanum menyelesaikan pekerjaan di dapur, setelah masakannya siap, Hanum bergegas naik ke kamar untuk membangunkan tidur sang suami dan juga sang anak. Tapi saat sampai di dalam kamar Hanum tidak mendapati Reyhan dan Sakha, tapi saat mendengar suara tawa dari dalam kamar mandi, hati Hanum seketika menjadi lega saat dua lelaki yang paling dicintainya sedang bersama.


Sakha keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya, dan juga Reyhan yang ada di gendongannya. Seketika Hanum memalingkan wajahnya karena malu, Sakha berjalan dengan tersenyum menghampiri Hanum.


"Kok buang muka sih, masih malu ya? Padahal kamu udah lihat dan merasakan dalamnya?" ucap Sakha sambil tertawa.


Hanum yang mendengar ucapan Sakha seketika melotot tak percaya. "Abang, kok ngomong gitu? Ada Reyhan lho!" tegur Hanum.


Sakha reflek menutup bibirnya dengan tangan dan berkata, "Maaf aku tak sengaja!"


Hanum lalu meraih Reyhan dalam rengkuhannya. "Rey mandi sama Papa ya?"

__ADS_1


Anak kecil yang berumur empat tahun itu mengangguk lucu, membenarkan pertanyaan Ibunya. "Ya sudah pakai baju sama Mama ya, habis itu kita sarapan bareng?" ajak Hanum.


Hanum pun membawa Reyhan masuk kedalam kamarnya dan langsung memakaikan baju agar Reyhan tidak kedinginan. Setelah keduanya selesai Hanum membawa Reyhan turun untuk sarapan.


Sesampainya di bawah sudah ada Sakha yang menunggu di meja makan. "Sini duduk disamping Papa?" ajak Sakha.


Hanum melayani keduanya, Reyhan sudah bisa belajar untuk makan sendiri, karena baik Hanum ataupun Sakha selalu mengajari Reyhan untuk jadi anak yang mandiri dan tidak manja.


"Sayang?" panggil Sakha di sela-sela aktivitas sarapannya.


"Iya Bang?"


"Aku lupa mau bilang kalau bulan depan aku akan ada di Semarang, mengurus bisnis ku bersama dengan Bram. Mungkin agak lama disana mengingat bisnis ini baru saja dimulai!" Sakha menjeda ucapannya dan meminum air yang ada di depannya. "Kamu mau ikut atau disini dan ditemani oleh mama?" lanjutnya.


"Abang pergi berapa lama?" tanya Hanum sambil memainkan nasi goreng yang ada di piringnya. Mendengar ucapan Sakha yang akan pergi lama, membuat nafsu makan Hanum jadi hilang. Dan Sakha melihat perubahan itu.


"Mungkin sebulan atau bisa lebih!" ucapnya sembari menatap Hanum. "Atau kamu mau ikut Abang dan tinggal disana sama Abang, sampai bisnis Abang berkembang?"


"Apa boleh?" tanya Hanum lirih.


Sakha terkekeh, "Boleh lah siapa yang bisa melarang seorang Sakha Abimana, kamu itu istriku ratu dihatiku dan untukmu apapun itu boleh sayang!"


Hanum menatap Sakha dengan mata yang berbinar, "Aku mau ikut kemanapun Abang pergi?"


"Oke, jadi kita akan kesana dan tinggal disana nanti ya? Tapi sebelum itu aku ingin mengajak kamu untuk berbulan madu. Setelah menikah kita tidak pergi kemanapun dan kali ini kamu gak boleh menolaknya?"


Hanum mengangguk patuh, mengiyakan permintaan Sakha. "Lalu Reyhan bagaimana Bang?"


"Ajaklah dia kan anakku juga dan aku ingin bulan madu kita ini tak hanya untuk kita, tapi untuk Reyhan juga. Anggap saja ini hadiah liburan untuknya, karena setelah kita menikah Reyhan sudah tidak pernah berlibur kan?"


Hanum lagi-lagi menganggukan kepala nya. Menyetujui usul suaminya itu. "Jadi kapan kita akan pergi Bang?" tanya Hanum.


"Besok kita akan pergi, hari ini kamu bersiap-siap ya?"


Belum selesai kejutan yang Sakha berikan, kini Hanum semakin terkejut mendengar kalau besok ia akan pergi berbulan madu dengan sang suami dan anaknya. "T-tapi Bang?"


"Gak ada tapi, semuanya sudah beres kamu tinggal siapkan perlengkapan kita dan Reyhan saja sisanya sudah aku urus, oke?"


Mau tidak mau Hanum mengiyakan permintaan Sakha, setidaknya setelah semua kepahitan di dalam hidupnya, kini kebahagiaan itu nyata hadir kembali menghiasi hati yang pernah mati, dengan cinta dan ketulusan yang Sakha beri.


****

__ADS_1


Maafkan kalau malam pertamanya tidak sesuai dengan ekspetasi kalian ya kak, mau nulis yang lebih takut gak lulus sensorπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€­


Terima masih sudah baca dan Selamat membaca kembali πŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2