
Hanum berlalu meninggalkan Ilham sendirian. Setelah pembicaraan yang mulai tidak masuk akal! apa katanya? ia harus mengerti sedangkan dirinya tak pernah mau mengerti. Hanum sudah membulatkan tekad seandainya perpisahan yang akan menjadi jalan keluarnya! maka Hanum akan mantap memilih itu, bukan karena tak lagi cinta tapi hatinya juga butuh kekuatan untuk selalu baik-baik saja.
Ilham masih mematung selepas kepergian Hanum, perasaan nya susah untuk di jabarkan, saat Hanum dengan tegas menolak rencana nya untuk menikahi amel secara sah baik agama maupun negara.
Ilham menyugar rambutnya, dirinya merasa kalau semuanya akan sia-sia, tapi mengingat kembali apa yang amel katakan, sepertinya memang dirinya harus mengambil keputusan siapa yang akan dia pilih nantinya.
Ilham kembali masuk kedalam kamar tamu, kamar yang ia tempati sejak dari pertengkaran itu. Tidak mungkin baginya untuk kembali tidur bersama dengan Hanum, setelah kemarahan nya tadi.
Keesokan paginya, suasana kembali lengang. Kedua penghuni rumah masih asik berada di dalam kamar nya masing-masing.
Tapi tak lama kesunyian itu terpecah, kala suara dering gawai yang terletak di atas nakas mengusik sang empu pemilik kamar.
Kring … kring … kring
Hanum yang sebenarnya sudah bangun dari subuh, tak merasa terganggu saat suara dering itu terus menerus memanggilnya!
"Halo, Assalamu'alaikum Ma!"
"Waalaikumsalam, kamu sudah bangun Num?" tanya wanita yang disebut mama dari seberang sana.
"Alhamdulillah sudah ma, ini Hanum sedang bersiap untuk membuat sarapan!"
"Udah gak usah buat sarapan, nanti kalian makan saja disini. Mama kangen sama kamu dan Ilham."
"Memang ada acara apa Ma?" tanya Hanum heran.
"Mama hanya ingin makan bersama dengan keluarga, kita sudah lama tidak berkumpul bersama ya kan?"
"Iya, nanti Hanum bilang sama Mas Ilham dulu ya Ma!"
"Iya Mama lupa, seharusnya kemarin Mama kasih tau Ilham tapi ya sama aja kan ya, kalau sekarang kamu yang memberitahu." kekeh bu Suryo.
"Iya, ya sudah kalau begitu, Hanum bangunin Mas Ilham dulu ya Ma?"
"Oke sayang, jangan lupa datang ya!"
"Iya, Ma Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Klik
Panggilan berakhir dan menyisakan tanda tanya di benak Hanum, apakan mertuanya sudah tahu tentang kehamilan amel? hingga mengundangnya untuk datang. Pikiran buruk itu seketika menghinggapi diri Hanum, tapi secepat itu juga Hanum menghilangkan nya, "Astaghfirullah, mungkin mama hanya rindu." ucap Hanum dalam hati.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Amel sedang bersiap dan mempercantik dirinya. Hari ini ia akan mengambil keputusan untuk masa depan nya, disaat dia mengharapkan ilham akan segera memberinya kabar, namun kabar yang ditunggu-tunggu tak kunjung diberi dan menyisakan sesak ketakutan akan tinggalkan sang suami.
Amel tahu se cinta apa suaminya kepada istri pertama nya itu, bahkan pernikahan yang hampir berjalan tiga bulan belum cukup mampu menggoyahkan hati ilham. Untuk membenci istri pertama nya! sebanyak apapun Amel mencoba mempengaruhinya.
Setelah semua ritualnya selesai, Amel bersiap untuk ke rumah mertua nya, sekaligus membawa bukti kalau dirinya sudah mengandung calon cucu yang selama ini mereka tunggu.
Perjalanan satu jam lama nya dilewati Amel dengan pikiran yang berkecamuk, bukan tanpa sebab! selama menikah dengan ilham, ini pertama kalinya Amel akan bertemu dengan mertua nya. Hati Amel gelisah tak menentu, akankah dirinya diterima atau malah di usir dengan tidak terhormat, mengingat mereka dari keluarga yang terpandang.
***
"Tok … tok… tok, Mas!" panggil Hanum dari luar kamar yang ditempati ilham.
Ilham menggeliat, menajamkan pendengaran nya saat suara itu terus memanggil namanya, di antara rasa kantuk yang masih mendera, Ilham memaksakan diri untuk bangun dan menghampiri wanita yang memanggilnya itu.
Masih dengan mata yang terpejam Ilham membuka pintu kamarnya, "Hm, iya sayang ada apa?" jawab Ilham.
"Mas mama barusan telpon, nanti kita diminta untuk datang kesana!"
"Benarkah, ada acara apa?"
"Hanum juga tidak tahu, Mas buruan mandi setelah siap nanti kita berangkat. Tapi sebelum itu Hanum ingin memasak makanan kesukaan mama dan papa dulu untuk buah tangan."
"Hm, ya sudah Mas bersiap dulu ya!"
Hanum hanya mengangguk tapi disaat hanum ingin berbalik, dengan cepat Ilham menarik tangan nya!"
Hanum hanya menggeleng samar, "Tidak! apapun keputusan Mas nanti, aku akan menerima tapi jika Amel harus sah menjadi istri kedua mu aku yang akan mundur." ucap Hanum seraya melepaskan cekalan tangan Ilham.
"Mama dan papa belum tau masalah ini Dek!" ucap Ilham.
Hanum terkejut, bahkan kedua orang tuanya saja belum tahu, jika menantu nya yang lain sedang mengandung cucu pertamanya.
"Lalu Mas harap aku harus apa?" tanya Hanum yang mulai paham kemana arah pembicaraan dengan suaminya.
"Tidak ada, aku hanya berharap kalau kamu akan menyembunyikan ini dulu, sebelum aku bisa mengambil keputusan."
"Baiklah Mas sesuai dengan keinginanmu, aku akan bersikap biasa saja seolah-olah tak pernah ada yang terjadi di antara kita."
"Terima kasih." ucap Ilham tulus.
"Hmm, ya sudah bersiaplah Mas. Aku pun akan bersiap, memulai sandiwara denganmu lagi." lanjut Hanum dalam hati.
***
Kini Amel sedang berdiri di depan rumah mewah milik keluarga Suryo Mahendra, rasa takut dan deg-deg an muncul silih berganti mewarnai hatinya.
__ADS_1
Setelah lama mematung, akhirnya Amel memberanikan diri untuk masuk.
Tok … tok … tok.
"Assalamu'alaikum."
Lama Amel berdiri di depan pintu, hingga ketukan suara alas kaki yang berbenturan dengan lantai, terdengar mendekat ke arahnya. Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dan menampakan si empu rumah dengan senyum anggun yang menyapa.
"Waalaikumsalam!" jawab si empu rumah.
Bu Suryo masih memandang wanita yang sedang berdiri di depan nya ini, dengan pandangan heran, "Siapa ya?" tanya nya ramah.
Dengan menampakan senyum ramah amel menjawab pertanyaan Bu Suryo, "Saya amelia Bu, istrinya mas ilham."
Bu Suryo menatap tak percaya wanita yang kini berada tepat di depannya. "Istri ilham?"
"Iya Bu, maaf kedatangan saya yang tiba-tiba dan tidak memberi kabar terlebih dahulu." ucap Amel seraya menundukan kepalanya.
"Masuklah, kita bicara di dalam!" titah Bu Suryo.
Amel mengangguk, mengikuti Bu Suryo dari belakang. "Kamu tunggu disini dulu, saya sedang repot menyiapkan makanan. Setelah saya selesai kita akan bicara."
"Apa boleh saya bantu Bu?" tawar Amel.
"Bu Suryo melihat Amel dengan rasa tak percaya, kalau gadis ini mau membantunya di hari dia bertemu dengannya untuk pertama kalinya."
"Kamu yakin?"
Amel mengangguk mantap, mengiyakan pertanyaan Bu Suryo.
"Baiklah mari ikut denganku."
Kegiatan memasak, lumayan membuat Amel lelah. Hamil muda membuatnya sering merasa lelah tapi demi merebut perhatian ibu mertua. Amel rela melakukan hal yang belum pernah ia lakukan bahkan bersama ibu nya dulu.
Mengingat ibunya, sedikit membuat Amel menitikkan air mata dan semua itu tak luput dari penglihatan sang ibu mertua.
"Kamu kenapa?"
Amel mendongak sambil menggelengkan kepala nya, "Tidak Bu, saya hanya rindu dengan ibu saya. Dulu kami sering melakukan aktivitas seperti ini bersama-sama." dusta Amel.
Bu Suryo yang sedikit terharu, menghampiri Amel dan memeluknya. "Kamu jangan sedih anggap saja ibu sebagai mama mu juga."
Amel merasa senang, rencananya untuk merebut hati ibu mertuanya berjalan dengan lancar tanpa harus bersusah payah.
Suasana haru yang diciptakan Amel, mampu meluluhkan hati ibu mertuanya. Sang ibu masih memeluk dan memberikan ketenangan, hingga ucapan salam yang diucapkan seseorang memisahkan pelukan ibu dan menantu tersebut.
__ADS_1
****