
Empat jam berlalu begitu lama. Ilham semakin gusar saat lampu yang menandakan operasi itu belum berubah, hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri saat kata-kata amel kembali terngiang di telinga dan pikirannya.
"Aku mohon ya Allah semoga mereka baik-baik saja!" doa Ilham dalam hati.
Tak berselang lama, operasi yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai juga. Dokter Ramli keluar dengan wajah yang terlihat sangat datar.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" tanya Ilham ketika melihat dokter yang sudah keluar dari dalam ruang operasi.
"Operasi nya berhasil luka di kepala istri anda juga sudah dijahit, t-tapi!" dokter Ramli menjeda kalimatnya.
"T-tapi apa Dok, tolong bicara yang jelas!"
"Operasi nya berjalan lancar tapi melihat kondisi yang sekarang bu amel alami saya tidak bisa berkata banyak!"
"Lalu bagaimana dengan anak saya, Dok?"
"Anak Bapak berhasil dikeluarkan, tapi mengingat usia nya yang masih terlalu muda dan dalam keadaan prematur. Kami langsung memasukkannya ke dalam ruang inkubator untuk menjaganya tetap selamat, tapi …! Saya tidak bisa menjamin kalau anak bapak akan baik-baik saja, karena rata-rata anak yang lahir dalam keadaan prematur memiliki komplikasi yang banyak."
Ilham lemas mendengar keterangan dari dokter. Rasanya sulit untuk dirinya, bisa menerima semua cobaan yang datang secara bersamaan. Walaupun masih ada sedikit keraguan tentang identitas asli anak itu. Apakah benar itu anaknya atau bukan.
"Lalu bagaimana dengan menantu saya Dok?" tanya Bu Suryo.
"Seperti yang tadi saya bilang Bu, operasi nya lancar, hanya saja benturan keras yang tepat berada di perutnya menyebab kandungan nya juga bermasalah jadi setelah operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya, kami juga terpaksa mengangkat rahimnya karena rahimnya pun ikut rusak!"
Bu Suryo menutup mulutnya kaget, tepatnya ia tak percaya kalau kemalangan itu datang secara bersamaan. "Lalu sekarang bagaimana Dok?"
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU dulu, untuk tahap observasi. Setelah keadaanya mulai membaik kami akan memindahkan ke ruang perawatan. Nanti Ibu dan Bapak bisa bergantian menjenguk jika sudah di pindahkan."
"Tapi apakah saya boleh melihat anak saya Dok?" tanya Ilham.
"Bisa, Bapak dan Ibu boleh untuk melihat sebentar sebelum nanti di lakukan tindakan!"
"Terima kasih Dok?" ucap Ilham bersamaan dengan Ibunya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, masih banyak yang harus saya lakukan!" ucap dokter Ramli sembari meninggalkan Ilham beserta keluarganya.
__ADS_1
Ilham dan keluarganya berjalan ke arah ruangan, dimana ada anaknya yang kini tengah ditempatkan di salah satu box kaca dengan banyak alat yang terpasang di tubuh mungil nya.
Hanya dua orang yang diperbolehkan untuk melihat bayi yang kini tengah diperiksa itu. Bu Suryo dan Ilham yang ingin melihat anaknya, diwajibkan memakai pakaian khusus yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
Ilham berjalan mendekat, mata nya berkaca-kaca saat melihat tubuh mungil itu penuh dengan alat untuk membuatnya tetap hidup. Bu Suryo terperangah. "Wajahnya mirip sekali denganmu waktu bayi Ham!" ucap Bu Suryo lirih, disertai elusan pada box bayi itu.
Ilham seketika menoleh saat sang Ibu berbicara seperti itu. "Mirip?"
"Iya, bahkan Mama masih menyimpan fotomu waktu masih bayi, tak mungkin Mama salah mengenali cucunya sendiri!"
Ilham terisak, ia berjongkok menyamakan tingginya dengan box yang berisi anaknya tersebut. "Maafkan Papa Nak?" ucap Ilham lirih. "Maafkan kebodohan Papa yang sudah membuatmu menjadi seperti ini. Maaf karena selalu meragukanmu dan Mamamu! Tolong bertahanlah untuk Papa?" ucap Ilham yang semakin tersedu-sedu.
Bu Suryo yang sama sekali tak mengerti maksud Ilham, sedikit menyentuh pundaknya. Matanya seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Tapi Ilham masih menangis dan memohon supaya anaknya bisa kembali sehat.
Saat Ilham masih tenggelam dengan air mata dan doanya. Monitor yang ada di sampingnya menunjukan gambar yang ia tak mengerti, disertai dengan bunyi yang sangat kencang. Tak lama suster dan dokter yang kebetulan datang untuk memeriksa, sedikit terburu-buru untuk menangani bayi mungil tersebut.
"Bapak dan Ibu dimohon untuk keluar sebentar, kami akan melakukan tindakan!" ucap suster memberi pengertian.
"T-tapi anak saya kenapa Sus?"
Dengan langkah yang terpaksa, Ilham dan Bu Suryo melangkahkan kaki nya keluar dari ruang inkubator, disambut Pak Suryo yang juga tengah berharap-harap cemas saat menunggu diluar.
"Bagaimana Ma?"
"Entah Pa, tadi dokter tiba-tiba masuk dan menyuruh kami keluar. Semoga tidak terjadi apa-apa sama cucu kita ya Pa?"
"Aamiin Ma, semoga saja. Lalu bagaimana dengan wajahnya?"
"Cucu kita sangat mirip dengan Ilham waktu bayi Pa, mirip sekali!" ucap Bu Suryo dengan berbinar.
Ilham masih menatap dinding kaca yang memisahkan ruang dimana anaknya dirawat dan dirinya berada sekarang. Air matanya masih terus menetes mengingat kebodohan yang ia lakukan sebelumnya.
"Maafkan Papa Nak, semoga kamu kuat dan kita bisa hidup bahagia mulai sekarang!"
****
__ADS_1
"Bang Sakha gak kembali ke kantor?" tanya Hanum saat melihat Sakha masih asyik berbincang dengan sang ibu dan adiknya.
Sakha melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, sambil menggeleng. "Jam sudah menunjukan waktu pulang kantor, jadi aku gak bisa kembali ke kantor sekarang!" ucap Sakha sembari tersenyum.
"Lho memangnya gapapa Bang?"
Sakha terkekeh. "Kamu lupa Han, kalau aku bosnya?"
"Ah, iya Bang Hanum lupa!" ucapnya sambil menunduk malu.
Bu Surti dan Ardi tertawa bersamaan tapi tawa itu tak berlangsung lama, saat suara tivi yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul menayangkan berita tentang kecelakaan yang ilham alami.
Hanum terkejut bahkan semua yang ada di satu ruangan pun ikut terkejut.
"Mas ilham." lirih Hanum.
Ardi menatap kakaknya gamang, "Mbak?" panggil nya. Tapi Hanum masih bergeming menatap layar dua puluh satu inc itu.
Sakha langsung berinisiatif, untuk mengajak Hanum dan keluarga nya untuk melihat keadaan mantan suami dan istri barunya itu.
"Kamu mau lihat kesana?" tanya Sakha.
Hanum menatap Sakha dan beralih menatap Ibu dan adiknya. "Apakah boleh Bu?" tanya Hanum.
"Pergilah, Ibu nanti menyusul bareng Ardi?"
Hanum pun bergegas mengambil tas yang ada di dalam kamarnya, tak lupa sebelum ia pergi. Hanum sempat meminta doa dari sang ibu agar mantan suami dan istrinya itu selamat dan tak terjadi apa-apa.
Walaupun Hanum berpisah dengan Ilham dengan cara yang tidak baik. Tapi jauh didalam lubuk hati Hanum ia sangat mencemaskan keduanya. Baik Ilham maupun istrinya, terlebih amel juga sedang mengandung sekarang. Hanum hanya tak bisa membayangkan seandainya dirinya ada di posisi tersebut.
"Masih lama ya Bang?" tanya Hanum yang memecah kesunyian diantara mereka.
"Sebentar lagi sampai, kamu jangan khawatir ya?" ucap Sakha menenangkan.
Hanum pun mengangguk, dirinya cemas bukan karena Ilham. Ia hanya merasa kasihan, saat kembali mengingat wajah amel yang menahan kesakitan, sesaat sebelum Ilham memaksanya untuk pulang tadi.
__ADS_1
****