Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Perasaan Takut


__ADS_3

Pintu ruangan hanum terbuka, suster yang bertugas menjaga keluar dan bertanya. "Pasien sudah bangun dan mencari keluarganya, apakah ada?"


"Saya Ibu nya Sus?" jawab Bu Surti.


"Mari masuk Bu!" ajak suster yang merawat Hanum.


Sesampainya di dalam, hanum tersenyum melihat kedatangan ibunya. "Bu!" sapa Hanum.


"Kamu kenapa bisa sampai seperti ini, hem?"


"Hanum hanya lelah saja Bu, akhir-akhir ini Hanum merasa lemas!"


"Kenapa tidak bilang sama Ibu, kalau Ibu tahu pasti Ibu akan ikut kamu ke pengadilan tadi." ucap Bu Surti penuh penyesalan.


"Gapapa Bu, Hanum sekarang sudah lebih baik kok!" ucap Hanum menenangkan Ibu nya.


Perhatian Ibu Hanum beralih ke suster yang masih memeriksa infus yang ada di tangan Hanum.


"Anak saya sakit apa Sus?"


"Bu Hanum tidak sakit Bu, hanya sedikit kelelahan dan stres yang membuat daya tahan tubuhnya sedikit melemah, terlebih Bu Hanum sedang mengandung dan awal-awal kehamilan pasti seperti ini." ucap suster memberitahu.


Baik Bu Surti maupun Hanum keduanya terkejut mendengar ucapan suster yang ada di depan nya ini!


"Apa …! saya hamil?" tanya Hanum tak percaya.


"Iya menurut pemeriksaan tadi, Ibu sedang mengandung tapi untuk lebih jelas nya, Ibu bisa periksa di poli kandungan untuk hasil yang lebih akurat."


Bu Surti menangis haru, hal yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, tapi hatinya juga sakit mendapati kenyataan, kalau cucunya akan lahir tanpa kasih sayang ayahnya.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya Bu, nanti kalau sudah merasa lebih baik. Ibu bisa pulang dari rumah sakit tapi untuk sekarang, saran saya Ibu lebih baik banyak-banyak istirahat." ucap suster sebelum meninggalkan kamar rawat Hanum.


Tak lama setelah suster keluar, ilham beserta keluarga dan juga Ardi ikut masuk kedalam ruang rawat Hanum. Mendung masih setia menyelimuti mata ilham, berusaha sekeras apapun, rintik air mata itu masih setia menetes walau ditutupi dengan senyuman yang sengaja ditampilkan.


"Bagaimana keadaan kamu Num?" tanya Bu Suryo.


"Alhamdulillah Ma, sudah lebih baik dari yang tadi!"


"Baguslah kalau begitu!"


Ilham masih setia mematung, hanya menatap karena ia sama sekali tidak mempunyai keberanian walau sekedar untuk menyapa.


Hanum melihat ilham yang sedikit terlihat lebih kacau dari sebelumnya, hatinya terusik. Bagaimana seorang lelaki yang gagah dan juga tampan, terlihat sangat menyedihkan di matanya sekarang.


"Mas!" tegur Hanum.


"Hm, iya Num?"

__ADS_1


"Mas baik-baik saja?"


Ilham mengangguk samar, "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit khawatir dengan keadaanmu!" ucapnya sendu.


"Mas sudah tahu?" tanya Hanum sedikit takut.


"Hm, sudah. Maafkan aku?" ucap Ilham dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dari kedua sudut matanya.


"Aku sudah memaafkanmu Mas, kamu tidak perlu memikirkan semua ini. Biarlah kado terindah ini aku yang menjaganya?"


"Tapi bagaimana bisa dia juga anakku?"


Hanum menarik nafas nya panjang, "Aku tahu Mas dan aku juga tak mengingkari itu. Tapi hari ini kamu telah menjatuhkan talak mu untukku, jadi anak ini murni tanggung jawabku sekarang!"


"Ijinkan aku bertanggung jawab Num?"


Hanum menggeleng pelan, "Dengan apa Mas akan bertanggung jawab?" tanyanya lembut.


"Kita rujuk kembali, aku yakin kita pasti bisa membesarkannya bersama-sama!"


Hanum tersenyum samar, "Bagaimana caranya Mas?" tanyanya lagi.


Lidah Ilham mendadak kelu, bagaimana caranya? bahkan dirinya pun belum memikirkan sampai ke arah sana, yang sekarang ada di pikiran Ilham bagaimana istri dan anak yang selama ini ditunggu-tunggu bisa kembali lagi ke dalam pelukannya.


Hanum masih tersenyum melihat kebingungan Ilham, "Kita tidak mungkin bisa bersama lagi Mas! sekuat apapun kamu berusaha, ingat masih ada hati lain yang perlu kamu jaga. Terlebih dia juga sedang mengandung darah dagingmu sendiri."


"Tap … pi."


Ilham seketika menangis sesenggukan, betapa mulia hati wanita yang ada di depan nya ini. Kenapa penyesalan ini datang begitu terlambat, seandainya saja semua drama ini tak pernah ada, mungkin dirinya akan hidup dengan bahagia, bersama istri dan calon anak yang begitu dicintainya.


Semua yang ada di dalam ruangan sangat terharu, dengan semua yang diucapkan Hanum, betapa mulia hati wanita yang pernah tersakiti ini. Hingga dia memilih untuk membesarkan anaknya sendirian, daripada harus menyakiti hati wanita lain.


"Tapi ijinkan aku untuk tetap bertanggung jawab walaupun kita sudah tidak bersama lagi!" pinta Ilham


"Iya num, biarkan Ilham untuk bertanggung jawab sekali saja!" ucap Bu Suryo, yang ikut memohon kepada Hanum.


"Ijinkan aku untuk membiayai hidupmu dan anak yang ada di kandungan mu, setidaknya itu akan mengurangi sedikit rasa bersalahku karena telah membuatmu menderita."


"Baiklah Mas, jika itu sudah menjadi keinginanmu aku tidak akan menghalangi niatmu itu."


Ilham tersenyum samar, setidaknya dirinya masih bisa menebus kesalahannya sedikit demi sedikit dan mengurangi rasa bersalah yang terus merongrong hatinya.


Bu Surti menepuk pelan punggung tangan Hanum, memberi sedikit kekuatan kalau dirinya tidak sendirian dalam menghadapi semua cobaan yang Allah berikan.


***


Ruang rawat Hanum nampak sepi, menyisakan Bu Surti dan juga Ardi yang masih setia menunggu seseorang yang kini tengah tertidur pulas.

__ADS_1


Suasana nampak hening hingga suara lenguhan yang memecah keheningan. Hanum mengerjapkan kedua matanya, saat lampu kamar yang ditempatinya tampak lebih terang membias matanya.


"Ibu belum tidur?" tanya Hanum.


"Sudah, Ibu sudah tidur dan ini juga baru bangun!"


Hanum mengangguk, "Bu?"


"Hmm."


"Hanum bisa gak ya bu menjalani semuanya ini?"


Bu Surti menatap Hanum sendu, "Masih ada Ibu yang akan terus mendukung kamu, yang akan terus menemanimu membesarkan anak-anakmu nanti!"


Hanum terharu mendengar ucapan ibunya, "Terima kasih ya Bu dan maafkan Hanum yang selalu menyusahkan Ibu."


"Kamu anak Ibu mana mungkin menyusahkan, yang penting sekarang pikirkan dirimu dan anak yang ada di dalam kandunganmu, hem?"


"Iya Bu, terima kasih."


***


Di tempat lain, Amel mondar-mandir menunggu kepulangan sang suami yang tak kunjung datang. Janji nya hanya sebentar tapi ditunggu sampai malam, sang suami tak kunjung menampakan diri.


Gelisah, itu yang kini Amel rasakan, perasaannya sedikit takut. Takut kalau sang suami kembali meminta rujuk kepada sang mantan istri. Bukan tanpa sebab, Amel tahu dengan pasti, kalau sang suami masih begitu mencintai mantan istrinya.


Disaat Amel mulai putus asa dalam menunggu, pintu rumah diketuk dengan sangat kencang dan dengan terburu-buru ia menghampiri dan membuka pintu rumahnya.


Amel terkejut saat mendapati Ilham pulang dalam keadaan mabuk dan di samping nya ada Rio yang tengah tersenyum sinis menatap dirinya.


"M-Mas, kamu kok jadi begini? apa yang sudah kamu lakuin Rio sama suamiku?"


"Kenapa kamu tanya sama aku? tanyakan sendiri sama suami kamu. Yang jelas aku sudah berbaik hati dengan mengantarkannya kemari, bukannya berterima kasih malah menuduhku!" ucap Rio sinis.


"Oke, terima kasih dan sekarang kamu bisa pulang!" usir Amel.


"Jadi kamu ngusir aku? oke tapi nanti aku pasti kembali lagi saat suami kamu gak ada!" kekeh Rio.


Rio pergi meninggalkan rumah Amel dengan seringaian di wajahnya. "Cepat atau lambat aku pasti akan membuatmu menangis Amel, itu janjiku!" ucap Rio dalam hati.


Amel menutup pintu dan membawa ilham masuk kedalam kamar mereka, melepas sepatu dan baju yang ilham pakai supaya bau alkohol itu sedikit menghilang.


"Kamu kenapa jadi begini Mas?" tanya Amel sendu.


Ilham menggeliat dan menyebut satu nama dalam tidurnya, "Hanum."


Hati Amel mencelos, bahkan di dalam tidur sang suami pun masih menyebut nama mantan istrinya.

__ADS_1


"Sampai kapan kita seperti ini Mas, sampai kapan kamu bisa melupakan mbak hanum dan memulai lagi denganku? aku mencintaimu sama seperti mbak hanum mencintaimu bahkan cintaku lebih besar dari pada cintanya. Aku mohon lupakan lah dia dan kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Yang hanya ada kamu, aku dan anak kita!" ucap Amel sembari menyeka wajah suaminya.


****


__ADS_2