
Seminggu setelah kepindahannya ke ruko baru, rumah makan itu terlihat lebih ramai! selain karena tempatnya yang dekat dengan perkantoran, masakan yang tersaji pun sesuai dengan selera pembeli.
Hanum memasak sendiri semua menu makanan yang dibantu oleh sang ibu. Hanum juga yang melayani pembeli saat dirinya belum menemukan orang yang bisa membantunya.
Lelah itu terkadang datang, saat rumah makannya ramai pembeli tapi senyum itu juga datang, saat semua masakan yang dia masak habis tak tersisa.
Rumah makan Hanum hanya buka antara jam tujuh pagi sampai jam empat sore, disaat jam kantor selesai rumah makan juga tutup. Mengingat pembeli hanya ramai di saat jam istirahat kantor saja.
"Num, apa tidak sebaiknya kita mencari orang yang mau membantu kita disini?" tanya Bu Surti saat berkumpul dengan anak-anaknya.
"Hanum juga mau nya begitu Bu, tapi siapa yang mau?"
"Siapa ya, Ibu juga bingung Num?"
"Anaknya pak rusdi aja Bu, yang tinggal gak jauh dari rumah kita!" jawab Ardi.
"Lho bukan nya anak pak rusdi itu masih sekolah ya Ar?" tanya Bu Surti.
"Iya tapi cuma sampai sekolah menengah pertama saja, soalnya ibu nya gak sanggup kalau sampai sekolah atas."
"Kamu tahu dari mana?" tanya Hanum penasaran.
"Dari bu sardi, kemarin pas kita pindahan bu sardi sempat nanya kalau ada lowongan buat anaknya!"
"Kenapa kamu baru bilang Ardi? ucap Hanum gemas.
"Kan kakak gak nanya!" jawab Ardi sambil tertawa.
"Ya sudah itu aja dulu ya Num, buat bantu-bantu sementara nanti, kalau kamu sudah lahiran kita nyari orang lagi, biar kamu bisa membagi waktu sama anak kamu?"
"Hanum terserah sama Ibu saja."
Bu Surti mengangguk, "Ya sudah besok Ibu pulang dan ke rumah bu sardi untuk lebih jelasnya. Dan sekarang ayo kita tidur, sudah terlalu malam ini?" ajak Bu Surti.
Ardi dan Hanum mengiyakan ajakan Ibu nya. Ruko yang disewa Hanum terdiri dari dua lantai, lantai atas bisa digunakan untuk tempat tinggal karena luas dan yang di lantai bawah terdiri dari satu kamar dan ada sekat pembatas untuk dapur dan untuk nya jualan.
Hanum memilih untuk tidur di kamar yang ada di bawah, mengingat kehamilannya yang memasuki usia tujuh bulan, membuat Hanum sedikit kesusahan jika harus naik turun tangga.
Kehamilan Hanum dan amel hanya berbeda lima minggu, jika sekarang kehamilan Hanum memasuki usia tujuh bulan, berarti kehamilan amel juga memasuki usia delapan bulan.
***
Di tempat lain, Ilham mulai merasakan sakit kepala disaat ia mendapati rumah sang mantan istri sudah kosong saat ia berkunjung kesana!
Ilham memijat pangkal hidungnya, demi mengurai sakit yang selalu datang dan disaat bersamaan muncul Amel yang membawakan gelas berisi teh.
__ADS_1
"Mas kamu sudah di rumah?" tanyanya lembut.
Ilham membuang wajahnya saat melihat kedatangan Amel. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya ketus.
"Mas aku istri kamu kenapa aku gak boleh kesini?" tanya nya sendu.
"Hhh, istri kamu bilang sejak kapan?" tanya nya sinis.
"Kamu kenapa bicara begitu Mas, aku istrimu dan sedang mengandung anakmu, kenapa kamu jadi berubah begini?"
"Yakin itu anakku?" tanya Ilham sinis.
"Kamu meragukan aku Mas?"
"Ya!"
"K-kenapa Mas aku gak pernah bohong sama kamu!"
"Ya kamu gak bohong sama aku tapi kamu menipuku, katakan siapa ayah dari anakmu itu?" tanya Ilham yang kembali tersulut emosi.
"Kamu gila Mas! ini anak kamu, kamu lupa di malam pertama kita kalau aku masih perawan!"
Ilham terdiam, memang Ilham akui saat melakukan itu istrinya ini masih perawan tapi bukti chat dan apa yang sempat ia dengan antara dirinya dengan entah siapa yang membahas anak itu, Ilham jadi meragukan anak yang ada di kandungan istrinya ini.
"Apa kita perlu tes DNA Mas untuk membuktikan kalau anak ini anakmu?" tanya Amel yang mulai gerah melihat keraguan di hati Ilham.
"Ya kita lakukan saat anak itu lahir! dan sampai anak itu lahir kita tidur terpisah jadi keluarlah aku ingin istirahat." usir Ilham halus.
"Kamu tega Mas?" ucap Amel yang mulai tersedu-sedu.
"Keluarlah aku ingin istirahat!" ulang Ilham.
Amel merasa kesal ia keluar dengan sedikit menghentikan kakinya. Dan meninggalkan ruang kerja Ilham disertai debaman pintu yang cukup kencang.
***
Dua bulan yang lalu.
"Mas kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Amel.
"Seperti biasa, kenapa?" tanya Ilham.
"Sekarang kan aku sudah gak kerja, apa boleh kalau aku nanti pergi sebentar untuk mencari keperluan bayi kita?"
"Hmm, apa gak nunggu aku libur saja?"
__ADS_1
"Kamu libur juga masih sibuk, takut nanti gak keburu milih-milihnya!"
"Ya sudah kamu mau pergi kapan?" tanya Ilham memastikan.
"Paling nanti agak siangan!"
"Ya sudah nanti kabari saja ya, kalau sempat nanti Mas jemput pulangnya?"
Amel tersenyum bahagia, "Iya nanti aku kabari!" ucap Amel sembari mencium bibir suaminya.
Ilham pun menyambut ungkapan terima kasih Amel dengan begitu lembut, hingga nafas nya ikut memburu saat pagutan itu terlepas.
"Ya sudah aku berangkat ya, kamu nanti hati-hati di jalan dan jangan lupa kabari aku!" pesan Ilham.
Seiring berjalannya waktu, kini Ilham mampu menerima perpisahannya dengan Hanum, walaupun rasa tak pernah rela itu masih sering merasuk kedalam lubuk hatinya.
Terlebih saat Hanum mulai mau menerima rasa tanggung jawabnya, akan buah hati yang sekian lama ditunggu kehadirannya.
***
Ilham bekerja dengan begitu semangat, saat mengingat dirinya akan ikut menemani sang istri berbelanja, bukan tanpa maksud Ilham melakukan itu. Dirinya hanya sedang bersiap, saat nanti harus berbelanja juga untuk anak yang kini sedang dikandung mantan istrinya.
Saat tiba waktunya nanti, Ilham sendiri yang akan memilih pakaian apa dan warna apa yang cocok untuk anaknya bersama dengan Hanum.
Hingga waktu menunjukan jam istirahat kantornya, Ilham bergegas mengambil jas kerja dan berangkat ke mall tempat Amel berbelanja.
Saat Ilham sampai di tempat yang dituju, ia berulang kali menghubungi ponsel Amel tapi belum ada jawaban.
Hingga rasa lapar itu datang menyapa lebih cepat dan membuat Ilham memilih untuk makan siang terlebih dulu sebelum bertemu dengan Amel.
Ilham naik ke lantai atas tempat semua makanan tersedia, saat ia masuk ke sebuah restoran, matanya tak sengaja menangkap sosok yang dari tadi ia tunggu! tapi saat ingin mendekat ia melihat istrinya itu berbicara dengan seorang laki-laki yang Ilham tak tau siapa karena posisi lelaki yang membelakangi dirinya.
Ilham sengaja mengambil duduk yang tidak jauh dari tempat duduk istrinya, sambil mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Perasaan Ilham tiba-tiba tidak enak, saat mendengar suara lelaki yang kini menyebut kalau anak yang dikandung Amel adalah anaknya.
Bagai disambar petir di siang hari, saat Ilham mendengar ucapan lelaki yang tidak diketahui wajah dan namanya itu.
Rasa marah langsung menguasai hati Ilham, ia merasa tertipu dengan semuanya, dan tanpa terasa Ilham mengepalkan kedua tangannya.
Ilham memilih pergi membawa rasa marah yang ada di hatinya, hingga menghilangkan rasa lapar yang dari tadi ia rasakan.
****
Segini dulu ya kak, besok lanjut lagi jangan lupa, like sama komen nya๐คญ biar othor tetap waras๐๐๐
Happy Reading ๐
__ADS_1