Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Rasa Haru.


__ADS_3

Ilham memarkirkan kendaraannya asal saat dirinya sampai di depan rumah. Ilham bergegas masuk kedalam rumah mencari keberadaan istri keduanya itu, saat sampai di dalam rumah dirinya dikejutkan saat melihat ibu mertuanya yang ternyata lebih dulu menunggunya.


"Kamu dari mana saja Ham? Sampai istri hilang saja kamu tidak tahu?" ucapan sarkas yang Ratna tunjukan saat melihat kedatangan Ilham.


"Ilham ada urusan Ma, jadi Ilham menitipkan amel sama bi Tari sebentar!" jawab Ilham membela diri.


Bi Tari muncul setelah mendengar perdebatan mertua dan menantu tersebut. "T-tuan?" suara Bi Tari terdengar cemas dan sedikit takut.


"Gimana Bi udah ketemu belum?" tanya Ilham tak sabaran.


Bi Tari menggeleng, "Belum Pak, saya sudah keliling mencari ibu tapi belum juga ketemu?"


Ilham menyugar kasar rambutnya. "Kemana kamu mel?" gumam Ilham.


"Mama sudah menyuruh orang untuk mencarinya tapi belum juga ketemu, kamu tahu kira-kira amel pergi kemana?"


Ilham pun menggeleng, "Ilham pun gak tau Ma! Karena amel tak pernah sekalipun keluar dari rumah."


Saat sama-sama sedang berpikir, Ilham tiba-tiba teringat satu tempat yang pernah didatangi istrinya itu. Dan tanpa berkata-kata, Ilham kembali mengambil kunci mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan rumah.


Bahkan dirinya tak sempat untuk sekedar berpamitan dengan ibu mertuanya.


Ilham melajukan kendaraannya dengan sangat pelan, saat hampir sampai di tempat yang ia tuju. Dan sesuai dengan perkiraannya, kalau sang istri benar ada disana.


Ilham langsung turun dari mobilnya, saat orang yang dicari sedang duduk menatap anak-anak yang tengah bermain.


"Kamu ngapain, hem?" tanya Ilham lembut, saat menyadari kalau wanita yang kini tengah dicarinya sedang tersenyum melihat tingkah polah anak-anak.


Amel berpaling dan menatap Ilham, "Anak kita pasti sedang lucu-lucu nya ya Mas, kalau saja dia masih hidup?"


Pertanyaan Amel membuat Ilham terkejut, pasalnya Amel selama ini berusaha melupakan kejadian itu dan mengurung dirinya dalam kesadaran yang lain.


"Kamu ingat sayang?" tanya Ilham dengan penuh harap, tapi sekali lagi harapannya tinggal harapan, saat melihat Amel kembali menangis dan menjerit.


Ilham menarik Amel dalam rengkuhannya, sambil membisikan kalimat penenang, yang akhirnya membuat Amel sedikit merasa tenang, sebelum Ilham menuntun dan membawanya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Amel masih diam dan termenung sendiri, tak jarang ia tiba-tiba histeris memanggil anaknya yang telah tiada. Hingga mobil yang dilajukan Ilham sampai dan masuk ke pekarangan rumah.


Dirumah sudah ada ibu mertua dan juga dokter, yang tadi sempat dihubungi Ilham untuk datang ke rumahnya, setelah sebelumnya Ilham menceritakan keadaan sang istri.


Dokter dengan sigap menyuntikan obat penenang ke tubuh Amel, guna membuatnya tidur untuk beberapa waktu.


Setelah selesai dokter berjalan keluar diikuti oleh Ilham dan ibu mertuanya.


"Dok ada yang ingin saya tanyakan?" ucap Ilham saat melihat sang dokter mulai membereskan barang dan hendak pulang.


"Boleh Pak!" Dokter mempersilahkan Ilham untuk bertanya.


"Sebelum saya menemukan istri saya tadi, dia sempat berbicara layaknya orang normal biasa. Apa itu tanda kalau istri saya bisa cepat sembuh?"


Ratna yang mendengar pertanyaan Ilham sedikit terkejut dan bahagia, kalau seandainya nanti anaknya bisa sembuh dan normal seperti wanita lainnya.


"Itu bisa jadi Pak, tapi sekali lagi harus dibawa ke dokter dan psikiater untuk lebih memastikan."


"Kalau begitu, nanti saya akan membuat janji ketemu dengan psikiater yang Anda rekomendasikan!"


Bi Tari mengantar dokter sampai di depan rumah, Ilham dan ibu mertuanya bernapas lega. Mengetahui kemungkinan, kalau Amel bisa sembuh dan hidup normal seperti semula.


"Apa yang kamu ucapkan itu benar Ham?"


Ilham mengangguk, membenarkan kalau ucapannya tadi itu benar adanya. "Semoga Amel bisa sembuh ya Ma?" ucap Ilham.


"Iya, semoga bisa Ham? Setelah itu biarkan dia bahagia setelah apa yang dilewatinya selama ini."


Ilham mengangguk. Ada harapan yang kini dipegang teguh oleh dirinya, semoga semua usahanya tak jadi sia-sia dan semoga juga Amel lekas sembuh agar hidupnya lebih bahagia.


***


"Kamu sudah siap?" tanya Sakha sambil membawa tas keperluan bayi.


"Sudah Bang, tapi kenapa Abang yang jemput. Ardi kemana?" Hanum bertanya, saat melihat Sakha sudah ada di ruangannya dan menunggu dirinya.

__ADS_1


"Tadi Ardi minta tolong sama Abang, kalau dia gak bisa jemput kamu karena tugas kuliah yang mendadak!"


Hanum sedikit memanyunkan bibirnya, saat mendengar alasan yang diucapkan Sakha. Dan adiknya itu benar-benar, bagaimana mungkin saat kakaknya akan keluar dari rumah sakit, adiknya malah sibuk dengan tugasnya.


Sakha terkekeh melihat sikap Hanum yang tengah merajuk. "Sudah tidak apa-apa, Abang gak repot kok untuk sekedar menjemput Hanum?" ucap Sakha saat menyadari apa yang sedang dipikirkan wanita itu.


"Benar Abang gak kerepotan karena harus menjemput Hanum?"


Sakha pun mengangguk, "Ayo ibu dan reyhan sudah menunggu?"


Hanum pun bergegas bangkit dan berjalan beriringan dengan Sakha. Orang yang tidak tahu, pasti akan mengira kalau mereka itu pasangan yang harmonis. Terlebih sifat Sakha yang sangat melindungi dan menjaga Hanum. Membuat orang merasa iri dan berandai-andai kalau mempunyai lelaki seperti Sakha, yang bisa selalu menjaga dan selalu siap kapanpun dan apapun keadaannya.


Hanum mendatangi sang ibu yang tengah menunggu sambil menggendong cucu pertamanya, "Ayo Bu kita pulang!"


Bu Surti mengangguk dan berjalan bersebelahan dengan Hanum. Tapi saat sampai di depan rumah sakit, Hanum teringat kalau dirinya belum membayar biaya persalinan dan biaya rawat nya selama dirumah sakit.


Hanum pun berbalik tapi disaat yang bersamaan Sakha memanggil dirinya. "Kamu mau kemana Han?"


"Hanum lupa belum membayar biaya rumah sakit, Bang!"


Sakha tertawa melihat Hanum. Dan Hanum yang merasa tidak lucu langsung bertanya. "Kok Abang ketawa?"


"Gimana gak mau ketawa, kamu lucu masa udah mau keluar dari rumah sakit baru ingat kalau belum bayar!" jawab Sakha masih dengan ketawanya.


"Kan Hanum lupa Bang!"


"Ya sudah kalau lupa mending dilupain aja sekalian." gurau Sakha.


Bu Surti pun ikut tertawa melihat tingkah anak perempuannya itu. "Sudah di bayar sama Nak Sakha Num. Jadi kita tinggal pulang!" ucap Bu Surti yang memahami kebingungan Hanum.


Hanum pun menatap Sakha tak percaya, tapi anggukan yang diterimanya mengatakan kalau ibu nya benar. "Kok bisa Bang? Yah Hanum berhutang lagi dong sama Abang?"


Sakha terkekeh, "Bukan hutang, anggap saja hadiah kerjasama kita yang baru dimulai dan anggap juga hadiah untuk kelahiran Reyhan!"


Hanum terharu dengan jawaban Sakha, orang yang berbulan-bulan lalu dikenalnya lewat sebuah panti asuhan. Kini malah yang membantunya di segala hal dan dalam keadaan apapun, selalu ada untuknya. Jauh didalam lubuk hatinya, Hanum selalu bersyukur dan selalu berdoa semoga lelaki yang ada di depannya ini, kelak akan mendapatkan jodoh yang luar biasa baik untuk menemani dalam hidupnya.

__ADS_1


****


__ADS_2