
Kreekk.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, senyum itu tampak mengembang, saat melihat wajah tampan lelaki yang baru masuk kedalam kamar.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Ilham berjalan mendekat dan mencium pucuk kepala sang istri.
"Aku sudah lebih baik Mas. Terima kasih sudah selalu ada untukku?"
"Hmm, aku berharap kalau kamu bisa lekas sembuh dan maafkan semua kesalahanku selama ini ya? Jika aku pernah membuatmu terluka dulu!"
"Aku sudah memaafkanmu Mas dan aku juga minta maaf jika kini aku bukan lagi istri yang sempurna untuk mu?"
"Hm, kita bisa mulai lagi dari awal setelah pengobatan mu selesai. Oke? Dan besok juga jadwal terakhirmu kan?"
"Iya Mas aku juga sudah tak sabar untuk memulai lagi dari awal bareng sama kamu?"
Ilham memeluk erat tubuh Amel, Ilham merasa kalau semuanya akan kembali baik-baik saja. Ilham juga sudah mulai tak sabar untuk segera kembali ke tanah air. Waktu tujuh bulan yang dihabiskan di negara orang, membuatnya rindu pada putra semata wayangnya. Rindu akan senyum dan suara kecilnya yang memanggil ayah.
Selama tinggal di negara orang tak satu hari pun Ilham tak merindukan lelaki kecil itu. Tawanya, senyumannya dan panggilan yang selalu membuatnya bersemangat untuk menjalani hari selama menemani istrinya melakukan perawatan.
Tapi jarak dan perbedaan waktu, membuat komunikasinya dengan pangeran kecilnya itu terganggu. Awal-awal tinggal disini Ilham sering berkomunikasi tapi lambat laun karena jadwal terapi Amel yang berubah-ubah membuatnya selalu tak punya waktu hanya untuk menanyakan kabarnya.
Ilham menarik nafas lelah saat kerinduan itu semakin bertumpuk di dalam hatinya. "Kamu oke Mas?" tanya Amel saat melihat Ilham menarik nafas lelah.
"Hmm, hanya sedikit tidak sabar melihat kamu segera sembuh!" jawab Ilham memberi alasan.
Amel tersenyum lebar, "Terima kasih udah bertahan sama aku ya Mas? Makasih juga karena tak pernah menyerah sekalipun kamu ingin menyerah!"
Ilham tersenyum dan semakin memeluk Amel erat. "Terima kasih juga sudah mau sembuh untuk hidupmu yang lebih baik?"
"Hidup kita Mas!" ralat Amel.
"Ya hidup kita."
Ilham semakin memeluk Amel erat, entah hanya perasaannya saja atau memang ini sudah akan menjadi takdirnya. Ilham mulai merasakan perasaan tak enak yang pelan-pelan menyusup kedalam hatinya. Tapi sebisa mungkin Ilham menepis semua rasa itu, agar dirinya tetap berpikir baik-baik saja.
***
Ditempat lain.
"Bagaimana ini Bu? Reyhan makin panas badannya dan terus memanggil Mas ilham!" ucap Hanum sambil terisak pelan.
"Kamu udah coba hubungin ilham Num?" tanya Bu Surti cemas.
"Sudah berkali-kali Bu, tapi gak pernah tersambung. Reyhan ingin mendengar suaranya Bu?" Luruh sudah air mata yang mati-matian Hanum tahan saat melihat anak semata wayang nya semakin lemas.
Bu Surti tak kalah khawatir, "Kamu coba telpon Ardi Num, siapa tahu dia sudah kembali dari Bogor?"
__ADS_1
Hanum bergegas menekan nomor ponsel Ardi, tapi hanya nada sambung nya yang terdengar dan setelah lama tak ada jawaban dari seberang sana.
"Telpon Ardi gak di angkat Bu, mungkin masih sibuk sama kuliahnya?"
Bu Surti menarik nafasnya lelah, seharusnya ia tidak memberi izin Ardi untuk ikut bimbingan dari kampusnya yang diadakan di Bogor kalau tahu akan seperti ini.
"Jadi gimana ini Bu?" Hanum makin terisak membayangkan keadaan Reyhan.
"Coba kamu telpon sakha Num, siapa tahu dia gak lagi sibuk?"
Hanum yang sama sekali tak terpikirkan dengan sakha. Karena pagi ini sakha bilang kalau ada rapat penting di kantornya dan kemungkinan datang setelah rapat selesai. "Tapi bang sakha sedang rapat Bu, Hanum tak ingin mengganggunya?"
"Kamu coba telpon dulu siapa tahu rapatnya sudah selesai?"
Hanum mengangguk walaupun ragu, tapi jika harus menunggu malam Hanum tak yakin Reyhan bisa bertahan. Bukannya Hanum tak bisa untuk berangkat ke rumah sakit sendiri. Tapi dalam keadaan panik Hanum suka salah dalam melakukan semuanya dan itu yang membuat Bu Surti khawatir kalau malah ada apa-apa di jalan nanti.
Dengan rasa tak enak hati, Hanum menekan panggilan ke nomor sakha dan tak butuh waktu lama panggilan itu langsung dijawab oleh sang empu nomor.
"Assalamualaikum Han, ada apa?"
Suara Sakha yang lembut langsung meruntuhkan pertahanan Hanum untuk tidak menangis. "A-abang β¦!"
Sakha yang sedang di dalam ruang meeting seketika berdiri saat mendengar suara tangis Hanum. Dan memberikan instruksi kepada asisten nya untuk menjeda rapat sebentar. Sakha melangkahkan kaki nya keluar ruang rapat. "Kamu kenapa kok nangis Han?" tanya Sakha yang mulai khawatir.
Sambil terisak Hanum berkata, "Reyhan demam Bang dan gak turun-turun walaupun sudah diberi obat. Hanum takut Bang?"
"Masih di rumah Bang, Han�" Belum selesai Hanum berbicara Sakha sudah lebih dulu menyela. "Aku kesana kamu siap-siap ya? Aku tutup dulu teleponnya?"
Hanum belum sempat menjawab tapi bunyi telpon yang di tutup membuatnya mengerjap tak percaya.
"Gimana Num?" tanya Bu Surti yang masih khawatir.
"Bang Sakha mau kemari Bu, Hanum siap-siap dulu takut nya Reyhan di rawat lagi seperti dulu?" jawab Hanum sambil bergegas masuk kamar dan mempersiapkan semua kebutuhan Reyhan.
Tak lama setelah itu Sakha datang dengan nafas terengah-engah. "Reyhan dimana Bu?" tanya Sakha saat melihat Bu Surti yang berdiri tak jauh darinya.
"Di kamar Nak, kamu bisa mengantar mereka ke rumah sakit?"
Sakha mengangguk dan bergegas masuk kedalam kamar Hanum. "Hai jagoan, kamu sakit ya?" sapa Sakha saat melihat Reyhan terbaring lemah.
Reyhan yang baru berumur empat tahun, sedikit tersenyum melihat laki-laki yang kini duduk disampingnya. "Ayah β¦?" panggilnya lirih.
"Hm ini Papa bukan ayah, Reyhan ke dokter sama Papa ya?" bujuk Sakha.
"Eyhan nau ayah?" jawabnya dengan suara cadel.
Hanum terisak melihat Reyhan yang terus memanggil ayahnya. Dalam hati Hanum kini tumbuh penyesalan, seandainya dulu dirinya tak memberikan ilham kesempatan untuk dekat dengan anaknya. Mungkin kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi. Reyhan tak akan sesakit ini merindukan ayahnya. Hanum masih menangis, hingga suara Sakha yang mencoba membujuk Reyhan sedikit mengobati luka hatinya.
__ADS_1
"Ya udah sekarang Reyhan sama Papa dulu ya, nanti kita telpon ayah saat sampai di rumah sakit, hem?" bujuk Sakha lembut.
Reyhan yang memang sudah lemas hanya mengangguk dan Sakha tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan langsung menggendong Reyhan keluar di ikuti Hanum dari belakang.
"Bu kami kerumah sakit dulu ya?" pamit Hanum.
"Iya jangan lupa kabari Ibu ya Num, nanti Ibu menyusul kesana setelah pekerjaan di sini selesai."
Hanum mengangguk dan bergegas menyusul Sakha yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil bersama dengan Reyhan.
Tak butuh waktu lama, untuk sampai di rumah sakit yang belakangan menjadi tempatnya bolak-balik karena kondisi Reyhan yang kadang suka drop karena merindukan ilham.
"Reyhan sakit lagi Bun?" tanya dokter Sarah yang sekarang biasa menangani Reyhan.
"Iya Dok drop lagi!" jawab Hanum sendu.
"Ya sudah kita infus dulu ya Bun, sepertinya Reyhan sedikit dehidrasi. Apa makan sama minumnya berkurang Bun?" tanya dokter memastikan.
"Akhir-akhir ini Reyhan gak mau makan Dok dan begitu juga dengan minum ataupun susunya!"
Dokter Sarah menarik nafas panjang, "Reyhan sakit karena merindukan ayahnya dan itu membuatnya tidak ingin makan ataupun minum. Anak usia segini memang sering tantrum Bun, saat keinginannya tidak dipenuhi tapi tolong di usahakan jangan sampai drop seperti ini lagi. Dampaknya akan buruk untuk kesehatan Reyhan kedepannya nanti." ucap dokter Sarah setelah memberi infusan di tangan mungil Reyhan.
"Baik Dok, terima kasih!"
"Sama-sama kalau begitu saya pamit dulu ya? Akan ada suster yang nanti memantau kondisi Reyhan!"
Hanum mengangguk saat dokter Sarah berjalan melewatinya. Dan saat itu juga air mata Hanum kembali luruh. "Maafkan Mama Nak?" ucap Hanum sambil terisak.
Sakha yang melihat semuanya tak kuasa menahan kesedihan, dengan langkah pelan Sakha berdiri disamping Hanum. "Sudah saatnya kita memberikan keluarga yang utuh untuk Reyhan, Han?"
Hanum mendongak menatap Sakha, "Maksud Abang β¦?"
"Menikahlah denganku, buat keluarga baru denganku dan buat Reyhan bahagia. Aku mungkin tak akan pernah bisa menggantikan ilham karena dia ayah kandung Reyhan, tapi aku juga mampu membuat Reyhan bahagia dan memiliki keluarga yang lengkap. Kalau kamu menikah denganku, aku akan ada dua puluh empat jam bersama dengan Reyhan dan aku yakin aku mampu mengisi kekosongan yang Reyhan rasakan!"
Hanum terdiam mendengar ucapan Sakha, tapi semua yang diucapkan Sakha benar adanya. Hanum tak harus selalu mengorbankan perasaan Reyhan yang terus-terusan merindukan ilham. Sudah saat nya Hanum berjalan kedepan demi kesehatan dan mental Reyhan nantinya.
Melihat Hanum yang terus diam, Sakha sedikit gemas. "Tolong kamu pikirkan sekali lagi, bukan untuk kita tapi untuk Reyhan. Aku sakit saat melihatnya terbaring seperti ini.
Kamu lupa aku yang menggendong nya saat pertama lahir dan aku pula yang mengadzaninya dan mulai saat itu Reyhan sudah kuanggap seperti anakku sendiri."
"Beri aku waktu berpikir lagi ya Bang? Tunggu sampai malam ini, besok Hanum akan memberi jawaban sama Abang!"
Sakha menarik nafasnya panjang, seandainya bisa memaksa mungkin Sakha akan melakukan itu, tapi sekali lagi dirinya harus mengalah demi perasaannya kepada Hanum. Dan demi kenyamanannya sendiri, karena hubungan yang dilandasi dengan keterpaksaan tak akan berakhir baik untuk keduanya.
***
Sampai sini dulu ya kak, sebenarnya mau bikin dua bab langsung end tapi banyak yang gak sabarπππ€ maaf kan author yang suka kehilangan ilham ini ya kak. Mood orang hamil suka kabur-kaburan. π€ Terima kasih dan Happy Reading πππ
__ADS_1