Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Melahirkan.


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak kejadian terakhir di rumah sakit. Amel terus meminta pulang, padahal kondisinya masih harus terus dipantau karena depresi kecil yang ia alami.


Amel hanya berdiam diri sambil memandangi foto usg bayinya dulu, terkadang ia tertawa kadang juga menangis. Ilham sedih melihat perubahan yang dialami istrinya tapi Ilham selalu mencoba bersabar dan terus mengusahakan, agar istrinya kembali sehat. Walaupun kata dokter kecil kemungkinan.


Ilham mengusap wajahnya kasar, sudah dua bulan juga sejak insiden terakhir. Dirinya belum sama sekali bertemu dengan mantan istrinya, apa kabarnya sekarang? Pertanyaan itu selalu muncul di pikirannya.


Saat Ilham sedang termenung, ketukan pintu di ruang kerjanya mengalihkan pikirannya untuk sejenak.


Tok … tok … tok.


"Masuk!" Bi Tari masuk kedalam ruang kerja Ilham dengan membawakan secangkir kopi sesuai yang tadi majikannya minta.


"Kopinya Pak?" ucap Bi Tari sambil mengangsurkan secangkir kopi tak jauh dari meja Ilham.


"Hm, makasih Bi?"


"Sama-sama tuan!" Bi Tari bergegas keluar setelah mengantarkan kopi untuk Ilham, tapi sebelum tangannya membuka pintu. Suara Ilham lebih dulu memanggilnya.


"Ibu sudah makan, Bi?"


"Ibu belum mau makan Pak, sekarang pun ibu masih di dalam kamar belum mau keluar dan saya tidak berani untuk memanggil beliau!"


"Hm, ya sudah nanti biar saya saja yang nemenin ibu makan!"


"Baik Pak kalau begitu saya pamit dulu."


Ilham mengangguk, semenjak keadaan Amel yang tidak baik-baik saja. Ilham sengaja menyewa orang untuk membantu pekerjaan rumah tangganya, untuk bersih-bersih rumah dan juga untuk memasak. Karena Amel sendiri belum bisa untuk melakukan semua itu.


Ilham mendesahkan nafas frustasi, disaat seperti ini. Ingatannya jatuh pada mantan istrinya itu, dulu saat beban pekerjaan begitu menyita pikirannya. Hanum akan dengan senang hati membuatkan kopi dan juga cemilan, terkadang ia juga akan memijit pelan bahunya, untuk menghilangkan penat walaupun cuma sebentar.


Perhatian kecil dan manis itu masih kembali membayangi pikirannya. Ilham beranjak dari kursi tempatnya menyelesaikan pekerjaan. Kaki nya melangkah menuju kamar dimana istrinya sedang mengurung diri.


Ilham membuka pintu kamar dan pemandangan pertama kali yang ia lihat, membuat hatinya teriris pilu. Ilham melihat istrinya itu sedang memakaikan baju bayi yang dulu sempat dibelinya, ke sebuah boneka bayi, yang diambilnya dari rumah sakit.


Ilham masuk dan mengusap kepala istrinya itu, "Kamu sudah makan?" tanya Ilham saat setelah ia mendaratkan tubuhnya di samping istrinya itu.


Amel menggeleng, "Aku belum lapar Mas, nanti saja ya?"


"Tapi nanti kamu lapar, kalau sakit bagaimana hem?"


Amel menatap wajah teduh suaminya lalu mengangguk, "Baiklah aku mau makan!"

__ADS_1


Ilham tersenyum melihat istrinya mau makan. Ingatannya menerawang saat kejadian di rumah sakit dan kejadian sesudahnya. Setelah kejadian pertengkaran itu, Amel benar-benar kehilangan dirinya, menurut dokter guncangan yang dialaminya saat ini akibat dari depresi yang bertumpuk dan saat dirinya sudah tidak sanggup menerima kenyataan, pikirannya membentuk dunianya sendiri. Yang dimana hanya ada anaknya dan juga suaminya.


Amel melupakan semua kesakitan nya dan membuat dunia yang hanya ada dirinya, anak dan suaminya, sikapnya terkadang seperti orang normal lainnya. Tapi saat ia keluar dan melihat anak-anak kecil, ia seketika histeris dan merebut anak tersebut.


Pernah satu kejadian di saat Amel baru kembali dari rumah sakit, Ilham tak sengaja meninggalkan Amel sendirian, dikarenakan Ilham harus menjawab panggilan dari kantornya. Tapi tak berselang lama, terdengar suara tangis anak kecil dan keributan tak jauh dari rumahnya. Karena penasaran Ilham pun mendatangi keramaian tersebut dan alangkah terkejutnya ia, saat melihat Amel tengah menarik tangan anak kecil itu dan berteriak kalau itu anaknya.


Ilham malu dan juga takut, jika istrinya akan melukai anak orang lain. Dengan lembut dan sabar Ilham menyakinkan kalau anak itu bukan anaknya dan anaknya kini tengah menunggu di dalam rumah. Amel pun menurut dan sejak saat itu, Ilham mencari orang yang bisa mengawasi istri dan membersihkan rumah. Disaat Ilham tidak ada karena harus pergi bekerja.


***


Jam makan siang, rumah makan Hanum selalu ramai seperti biasa. Banyak pesanan tak hanya untuk makan di tempat, tapi juga pesanan untuk catering. Dan bertepatan dengan hari ini juga, kerja sama antara Hanum dan Sakha berkembang lebih jauh! Tak hanya catering untuk kantornya, tapi Sakha juga menawarkan kerja sama untuk membuka restoran bersama.


Dan niat baik itu disambut hangat oleh hanum dan orang tuanya. Terlebih Ardi yang sangat bersemangat tentang kerja sama ini.


Perusahaan Sakha tidak hanya bergerak di bidang perhotelan saja, tapi juga di bidang kuliner yang baru saja dikembangkannya.


Sakha menawarkan kerja sama, dengan dirinya yang akan menjadi pemasok modal utama sedangkan Hanum yang menjalankan usahanya. Awalnya Hanum ragu, jika ia akan mampu menjalankan kerjasama ini, tapi dukungan yang diberikan oleh ibu dan adiknya membuat Hanum kembali bersemangat, terlebih ada Sakha yang akan tetap mengawasi jalannya usaha.


Saat Sakha dan Hanum sedang membahas kerjasama, Hanum merasakan sakit di perutnya. Sakit yang kadang datang dan pergi. Hanum berpikir jika sakitnya ini mungkin karena ia terlalu lelah memasak. Tapi saat sakit yang kini datang secara terus menerus membuat Hanum merintih kesakitan. Dan itu semua tak luput dari perhatian Sakha yang tengah duduk di depannya.


"Ughh …!" rintih Hanum.


"Kamu kenapa Han?" Sakha beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Hanum yang tengah merintih kesakitan.


Sakha sedikit panik, "Kita ke rumah sakit ya? Jangan-jangan kamu mau melahirkan?!"


"Perkiraan masih seminggu lagi Bang! Aku istirahat dulu mungkin aku kelelahan." ucap Hanum lemas. Tapi belum sempat Hanum berdiri, dari pangkal paha nya keluar cairan bening yang mulai mengalir.


"Han kamu kenapa?" Sakha panik luar biasa saat melihat cairan itu keluar dengan begitu derasnya.


Bu Surti yang mendengar suara Sakha langsung berjalan keluar dan betapa terkejutnya ia, saat melihat air ketuban Hanum sudah pecah. Bu Surti tergopoh-gopoh mendekati Hanum." Ya ampun Num kamu mau melahirkan, Nak Sakha tolong bawa Hanum kerumah sakit ya?"


Sakha mengangguk dan langsung menggendong Hanum menuju mobil nya.


Bu Surti kembali masuk dan memanggil Ardi. Ardi yang sedang membantu melayani pembeli seketika datang menghampiri sang Ibu.


"Ada apa Bu?" tanya Ardi saat melihat Bu Surti panik.


"Kakakmu mau melahirkan itu lho Ar, ayo kita kerumah sakit?"


"Hah yang benar? lalu dimana mbak hanum Bu?" tanya Ardi yang juga ikut panik.

__ADS_1


"Udah sama Sakha kamu buruan nyusul, Ibu akan mempersiapkan barang-barang Hanum dulu."


Ardi pun mengangguk dan langsung berlari masuk kedalam mobil Sakha. "Ayo Bang?"


"Ibu mana Ar?" Sakha bertanya pasalnya ia tak melihat bu surti bersama Ardi.


"Ibu nanti nyusul Bang katanya, soalnya mau nyiapin barang-barang mbak Hanum dulu."


"Ya sudah ayo kita berangkat kasian Hanum sudah kesakitan seperti itu!"


Sakha memacu mobilnya dengan begitu cepat, rasa takut dan cemas masuk kedalam hatinya saat melihat wajah pucat Hanum.


Tak butuh waktu lama, Sakha sudah sampai di pelataran rumah sakit yang tidak jauh dari tempat Hanum.


Sakha berlari membuka pintu belakang mobilnya dan langsung menggendong Hanum masuk. Sakha berteriak-teriak panik memanggil pegawai rumah sakit.


Para perawat yang selalu siap di meja resepsionis, bergegas mengambil brangkar untuk membawa Hanum masuk kedalam ruang bersalin.


Sakha ikut mendorong Hanum, tapi saat sampai di ruang bersalin, ia berhenti dan suster yang melihatnya ragu langsung menyuruhnya untuk ikut masuk menemani Hanum. "Bapak ikut masuk saja menemani istrinya?


Sakha bimbang, walaupun dalam hati ia ingin sekali menemani Hanum melewati rasa sakitnya. Tapi sekali lagi Sakha bukan siapa-siapa dan itu juga tidak diperbolehkan.


Suster masih menunggu Sakha masuk, tapi Ardi yang melihat kebimbangan Sakha langsung berkata. "Kakak saya takut darah Sus, nanti malah pingsan di dalam bukannya bantuin malah ngerepotin nanti!"


Suster akhirnya paham dan meninggalkan Sakha juga Ardi diluar ruangan. "Makasih ya Ar, untung ada kamu yang menjelaskan!"


"Sama-sama Bang, malah aku yang makasih karena Abang ada disaat yang sangat dibutuhkan."


Sakha mondar-mandir di depan ruang bersalin, Bu Surti datang dengan tergesa-gesa, setelah sebelumnya Ardi memberitahu dimana Hanum akan melahirkan.


"Bagaimana Ar, apa sudah lahir?" tanya Bu Surti dengan nafas yang tidak beraturan.


Sakha pun menghampiri Bu Surti. "Ibu duduk dulu, Hanum masih di dalam ruang bersalin Bu! Doakan saja semoga anaknya cepat lahir."


Bu Surti duduk di samping Ardi dan Sakha kembali mondar-mandir hatinya tak tenang, bibirnya terus memohon supaya Hanum bisa melahirkan dengan selamat.


Tak lama menunggu, suara tangis bayi terdengar sangat keras. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, ucapan syukur juga terus terucap dari bibir ketiganya.


Suster keluar dari ruang bersalin dengan membawa bayi Hanum, bayi dengan jenis kelamin laki-laki itu menangis dengan keras. "Ini Pak anaknya, silahkan di Adzanin dulu!" ucap Perawat setelah menyerahkan bayi itu kepada Sakha.


Sakha menatap Bu Surti dan Ardi tapi keduanya mengangguk secara bersamaan. Mereka mengizinkan Sakha, untuk mengenalkan Tuhan-nya pada bayi mungil tersebut.

__ADS_1


Dengan rasa haru Sakha melafazkan adzan di telinga bayi mungil itu, air matanya tak berhenti menetes. Rasa haru dan sayang yang tiba-tiba merasuk kedalam hatinya. Membuatnya berjanji akan selalu membuat bahagia anak dan ibunya kelak.


***


__ADS_2