
Rio mengikuti langkah kaki Ilham yang membawanya keluar dari area rumah sakit, menuju area parkir yang lumayan sepi. Sesampainya disana tanpa basa basi, Ilham kembali melayangkan pukulan nya tepat di perut Rio.
"Sudah puas?" tanya Rio sambil memegang perutnya yang sedikit nyeri.
Ilham menggeleng, giginya masih gemeletuk menahan kesal dan amarah yang sudah sampai di ujung kepalanya.
"Kalau belum silahkan pukul lagi, siapa tahu dengan caramu memukulku bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku!"
Ilham tertawa sinis. "Mengurangi rasa bersalah kamu bilang? Bahkan pukulanku tak akan cukup untuk menebus semua kesalahanmu!"
"Aku tahu aku salah tapi aku tak pernah berniat untuk membuatnya jadi seperti itu!"
"Gara-gara kebohonganmu, aku kehilangan anakku. Gara-gara kamu aku meragukan istri dan anakku dan gara-gara kamu juga sekarang istriku tak sadarkan diri."
Rio tertawa, "Apa kamu pikir ini semua karena kesalahanku? Apa kamu sedikitpun tak merasa kalau semua ini juga karena dirimu sendiri? Kalau kamu benar mencintai anak dan istrimu, seharusnya kamu tak pernah meragukannya, terlepas itu benar atau salah."
Ilham terdiam lidahnya kelu, rasanya ia ingin membantah tapi faktanya memang benar dirinya pun ikut andil dalam kehilangan anak dan kesakitan istrinya sekarang.
"Tapi kalau kau tidak membohongi ku tidak mungkin aku melakukan itu semua!!!" teriak Ilham.
"Aku melakukan itu memang sengaja, tapi aku tak pernah berfikir akan sampai seperti ini!" sesal Rio. "Aku hanya ingin Amel merasakan sakit nya perasaan ditinggalkan dicampakan!"
"Apa maksudmu?" Ilham bertanya dengan bingung, karena sama sekali tak mengerti maksud dari ucapan temannya ini.
"Sebelum menikah denganmu amel itu masih kekasihku, kami masih berstatus sepasang kekasih." jawab Rio dengan jujur.
Ilham terkejut mendengar kejujuran Rio. Bagaimana mungkin? "Kamu bohongkan, mana mungkin dia kekasihmu. Sedangkan saat aku menikahinya dia bilang dia tak punya keluarga apalagi pacar?"
"Kamu lupa dulu saat kita kuliah, aku pernah bercerita kalau aku jatuh cinta pada seorang gadis biasa. Dan gadis itu dia Amelia yang sekarang menjadi istrimu?" ucap Rio sambil menatap Ilham dengan sendu.
__ADS_1
"Karena kedua orang tuaku, aku terpaksa meninggalkan nya untuk membuat nya tetap baik-baik saja. Dan aku juga setiap bulan selalu memberikannya uang, untuk kuliah dan untuk kebutuhan sehari-harinya tapi saat aku kembali, kenyataan pahit yang aku terima kalau kamu sudah menikahinya. Kamu bisa bayangkan rasanya jadi aku?"
Ilham jatuh terduduk mendengar kenyataan yang sebenarnya dari sahabatnya ini, dirinya sama sekali tak tahu menahu tentang masa lalu istri keduanya itu. Dan bodohnya dirinya tak juga mencari tahu! Yang ada dipikiran Ilham dulu, dirinya akan segera mempunyai anak jika dirinya dan amel menikah.
Ilham menyugar rambutnya kebelakang pikiran nya seketika menjadi buntu. Apa ada fakta lain selain ini? Pertanyaan itu melintas di pikirannya. "Lalu kenapa kamu bisa bilang kalau itu anakmu? Maksudku bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu kepada amel?"
Rio akhirnya menceritakan kejadian yang dilakukannya dalam usaha membuat amel menderita. Rio menceritakan dari awal pertemuannya dengan amel, setelah ia kembali ke Indonesia dan usahanya untuk membuat hidup amel tersiksa sebagai balasan karena telah meninggalkannya.
"Jadi saat di kantorku itu, kamu sudah mengenali kalau dia adalah kekasihmu dan juga istriku?" tanya Ilham sembari memandang Rio.
Rio pun mengangguk membenarkan pertanyaan Ilham. "Kenapa kamu tidak jujur dari awal seandainya aku tahu…."
"Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu, hem?" tanya Rio sambil membuang wajahnya. "Apa kamu akan menceraikan nya dan memberikannya padaku? Sementara aku sendiri tahu, kamu menikahinya karena menginginkan seorang anak bukan dan karena itu kamu malah menyakiti istri sahmu yang sudah menemani dirimu dari nol?"
Ucapan Rio memukul telak kesadaran Ilham, tangis hanum, doa hanum dan kesakitan yang selama ini ia berikan kepada mantan istrinya kembali lagi hadir di ingatannya. "Apa ini karma untukku?" tanya Ilham dengan air mata.
Kilasan perbuatannya kembali berputar di ingatannya, membuka kembali kenangan lama yang berusaha ia pendam. Ilham baru menyadari jika apa yang kini ia terima adalah buah dari perbuatannya.
Ilham semakin sesenggukan, ia berusaha menahan air mata itu. Tapi sialnya air mata itu tak bisa berhenti mengalir. Saat air mata hanum, kesedihannya kembali hadir di ingatan Ilham.
Rio yang sudah mengutarakan apa yang ada di hatinya, memilih untuk pergi meninggalkan Ilham yang tengah menangisi nasibnya.
***
Amel mengerjapkan kedua matanya, silau dari lampu yang ada di ruang rawatnya sedikit mengganggu penglihatannya. Amel masih berusaha mengingat apa yang sudah terjadi, tapi saat ingatan itu berkumpul seketika ia menangis. "Anakku, dimana anakku?" gumamnya lirih.
"Kamu sudah bangun Mel?" tanya Hanum yang saat ini sedang menjaga Amel, dikarenakan mantan mertuanya pergi untuk makan sebelum menitipkan Amel kepada Hanum.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Amel dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Mama menitipkan kamu sebelum pergi makan dengan papa!" jawab Hanum lembut.
"Dimana anakku, kenapa dia tak ada di perutku? Dia belum waktunya lahir?"
Hanum menunduk, pandangannya berpindah melihat sakha yang masih setia berdiri di belakang nya.
Sakha menggelengkan kepalanya tanda untuk tidak memberi tahu kenyataan yang sebenarnya.
"Jawab Mbak dimana anakku?" tanya Amel dengan sedikit berteriak.
"Kamu yang tenang Mel, kamu baru aja sadar! Jangan sampai kamu drop lagi!" ucap Hanum pelan.
"Aku gak butuh perhatian kamu Mbak, dimana anakku?"
"Anak kamu, em …!" Hanum ragu untuk mengatakan yang sejujurnya karena ia takut kalau Amel akan lebih terluka jika mengetahui keadaan anaknya.
"Apa Mbak? Tolong bicara yang jelas!"
Hanum masih terdiam karena tidak sanggup mengucapkan yang sebenarnya, hingga tanpa Hanum sadari Amel sudah mencabut selang infus nya dan mencoba berdiri. Karena keadaannya yang belum stabil, Amel tak sengaja menabrak Hanum yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
Hanum yang terkejut tak sempat menghindar dan disaat yang bersamaan Ilham pun masuk kedalam ruangan dimana Amel dirawat.
Ilham dengan cepat menangkap tubuh Amel yang nyaris jatuh dan ia sama sekali tak memperhatikan Hanum yang juga ikut jatuh. Tapi Sakha yang selalu ada disamping Hanum, lebih dulu menangkap tubuh Hanum sebelum benar-benar menyentuh lantai.
"Kamu gapapa, Han?" tanya Sakha dengan raut wajah khawatir.
Tapi lagi-lagi Hanum hanya melihat pemandangan yang ada di depannya, hatinya sedikit sakit melihat betapa pedulinya Ilham dengan istrinya. Hanum sedikit mengeratkan kedua tangannya. Lalu menatap Sakha. "Aku baik-baik saja Bang, untung ada Abang!" ucap Hanum tulus.
"Hm." jawab Sakha sambil membawa Hanum berdiri. Ilham yang baru menyadari kalau Hanum pun juga hampir terjatuh sedikit merasakan sakit hati. Lagi-lagi dirinya tak ada saat mantan istrinya itu hampir terluka untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
****