
"M-Mas Ilham!"
"Apa kabar?" tanya Ilham sembari memandang perut buncit Hanum.
"Aku baik Mas, kamu sendiri?"
Ilham menggeleng samar, "Seperti yang kamu lihat, aku sedikit berantakan!" jawab Ilham disertai kekehan.
"Masuk Mas, mau minum apa?" tanya Hanum.
"Apa saja!"
"Sebentar ya?" ucap Hanum sambil berlalu meninggalkan Ilham yang tengah duduk di kursi yang biasa dipakai pelanggan makan.
"Maaf ya Mas seadanya!" ucap Hanum sembari mengangsurkan segelas teh hangat di depan meja tempat Ilham duduk.
"Iya, gapapa!" jawab Ilham sambil menikmati teh yang dibawa mantan istrinya.
"Rasanya tidak berubah, masih sama dengan yang dulu!" gumam Ilham.
Hanum yang mendengar Ilham bergumam tidak jelas, sedikit bertanya, "Maaf Mas …?"
"Ah bukan apa-apa!" jawab Ilham. "Sejak kapan kamu pindah kemari Dek?"
"Sudah lama Mas, Hanum pindah kemari dan iya Mas tahu aku disini dari siapa?" tanya Hanum penasaran.
"Aku tak sengaja meeting di sekitar sini dan melihat teman merekomendasikan rumah makan ini dan saat aku tiba aku melihat Ardi keluar jadi ku pikir kalau kamu yang tinggal disini!" ucap Ilham berbohong.
"Oh." jawab Hanum.
"Gimana kabar kamu dan anak kita?" ucap Ilham sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh perut Hanum.
Tapi Hanum yang kaget dengan tindakan Ilham, seketika memundurkan badannya. "A … aku baik Mas, anakku juga baik!" ucap Hanum tergagap.
"Maaf, aku hanya penasaran bagaimana dia tumbuh di dalam situ?" kekeh Ilham.
"Iya Mas aku tahu, tapi kita sudah bukan muhrim. Haram untuk kita bersentuhan walaupun ada anakmu di dalam sini!" ucap Hanum sambil meraba perutnya.
"Iya aku tahu, maaf ya! aku hanya sedikit rindu dengannya?" kata Ilham, "Aku juga merindukanmu!" lanjutnya dalam hati.
"Mas sudah makan?" tanya Hanum mengalihkan perhatian Ilham.
"Belum, akhir-akhir ini aku sedikit susah makan!"
"Kenapa?"
"Entah, mungkin karena terlalu banyak pekerjaan jadi mulai malas untuk makan!" jawab Ilham asal.
"Oh ya sudah Hanum ambilkan makanan dulu ya?"
Hanum pergi meninggalkan Ilham yang masih menatap dirinya, Ilham tersenyum kecut saat menyadari ada yang hilang dari dirinya dan juga saat melihat perhatian Hanum mulai susah ia dapatkan kembali.
Hanum datang dengan membawa sepiring makanan kesukaan sang mantan suami, "Ini Mas dimakan dulu!"
Ilham tersenyum menerima makanan yang diberikan Hanum, "Kamu masih ingat apa yang aku suka Dek?"
Hanum terkejut, ia baru sadar kalau ia tanpa sengaja memberikan makanan yang Ilham suka. Bukan mengingat, tapi karena pernah terbiasa dulu melayani sang suami dan tanpa sadar kebiasaan itu masih melekat, walaupun sudah tidak bersama lagi.
Hanum hanya tersenyum menanggapi ucapan Ilham. Tak lama Ayu datang memanggil Hanum. "Mbak di cari sama Mas Doni?" bisiknya lirih.
__ADS_1
Walaupun Ayu sudah berbisik lirih, Ilham masih dapat mendengar ucapannya, bukan tanpa sebab karena Hanum masih duduk di dekatnya, jadi ucapan yang seperti bisikan itu, jelas sekali terdengar di telinga Ilham.
"Ya sudah nanti aku kesana!" ucap Hanum.
Setelahnya, Ayu pergi meninggalkan Hanum dan temannya yang sedang makan.
"Aku tinggal sebentar ya Mas?"
Ilham tersenyum mengiyakan, setelah Hanum pergi Ilham membanting sendok yang ada di tangannya dengan geram, Doni? siapa Doni nama itu tak pernah ia dengar sebelumnya, bahkan orang yang selama ini disuruh pun tak pernah membicarakan ada yang sedang mendekati Hanum.
Ilham yang juga penasaran, sedikit membalikan badan untuk melihat siapa doni, yang kini sedang di temui mantan istrinya itu.
Hanum berjalan menghampiri Doni dan Rani yang telah selesai menikmati makan siangnya.
"Ada apa Mas, katanya nyariin saya?" tanya Hanum saat sampai di depan mereka.
"Duduk dulu Mbak, biar enak ngomongnya!" kekeh Doni.
Hanum pun duduk menghadap Doni dan Rani dan kembali bertanya, "Ada apa Mas?"
"Ini Mbak yang seperti kemarin saya bilang. Saya sudah mengajukan proposal untuk catering kepada pak bos, dan pak bos belum bisa menandatangani, kalau belum mencoba makanannya?" ucap Doni ragu-ragu.
"Oh begitu, saya kira ada apa Mas?" kekeh Hanum.
Eh, Doni dan Rani sama-sama terbengong melihat reaksi Hanum yang sama sekali gak marah.
"Mbak Hanum gak marah?" tanya Doni.
"Lho, kenapa harus marah?" tanya Hanum balik.
"Saya pikir Mbak Hanum akan marah karena janji saya yang tidak sesuai!" ucap Doni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"MasyaAllah Mbak Hanum bijak sekali!" ucap Rani yang bangga dengan pemikiran Hanum.
"Alhamdulillah!" jawab Hanum.
"Ya sudah kalau begitu, nanti saya minta dibikinkan satu bungkus ya Mbak, buat bos saya?"
"Boleh Mas, bos nya suka makan apa?"
"Apa aja Mbak bos saya gak pemilih kalau soal makanan, hanya jodoh saja dia yang pemilih, soalnya sampai sekarang belum menikah!" kekeh Doni.
"Hust!" ucap Rani sambil menyikut perut Doni.
Hanum yang melihat tingkah mereka hanya tertawa. Dan semua itu tak luput dari perhatian Ilham, ada rasa cemburu saat Hanum tersenyum bahkan tertawa dengan orang lain, terlebih itu laki-laki yang sama sekali tak ia kenal.
Ilham berdiri dan berjalan menghampiri Hanum yang masih tertawa, hingga suara deheman menghentikan tawanya.
"Ehem, Dek aku pulang dulu ya?" pamit Ilham.
"Lho, makannya sudah Mas?" tanya Hanum.
"Iya sudah, aku masih ada urusan di kantor jadi gak bisa lama-lama tapi aku janji akan sering kesini?" ucapnya.
"Hmm, tapi sebaiknya jangan sering-sering Mas gak enak sama istrimu?"
"Dia gak masalah kok, kamu yang tenang ya? jangan mikir yang aneh-aneh. Pikirkan aja anak kita ini, nanti aku kesini lagi kalau gak sibuk!" ucap Ilham.
Ilham sengaja menegaskan kata anak kita, supaya yang mencoba mendekati Hanum sadar diri, jika Hanum masih menjadi miliknya walaupun dengan status yang berbeda.
__ADS_1
"Ya sudah maaf Hanum gak bisa mengantar Mas?" ucap Hanum.
"Hm gapapa aku bisa sendiri. Aku pulang ya, Assalamualaikum!" pamit Ilham.
"Waalaikumsalam."
Tak lama Ilham pergi Ardi datang dan bertanya, "Ngapain dia kesini lagi Mbak?"
Hanum hanya mengangkat kedua bahunya, tanda kalau dirinya pun tak tahu kenapa Ilham kembali mencari dirinya.
"Ingat kalau diajak balikan sama dia jangan mau, masih banyak yang lain yang lebih baik dari dirinya!" ucap Ardi menasehati.
Hanum mencubit perut adiknya, hingga membuat Ardi menjerit kesakitan. "Kok aku di cubit Mbak?" tanyanya.
Hanum hanya tersenyum dan berbisik, "Besok-besok kalau mau ngomong begitu, lihat kanan kiri dulu ada orang gak, biar gak ada yang salah paham."
Ardi menatap kedua orang yang kini sedang memperhatikannya, "Hehehe, maaf Mbak keceplosan!" ucap Ardi sambil berlari meninggalkan kakak dan pelanggannya yang dari tadi memperhatikannya.
"Maaf ya Mas Doni, Mbak Rani. Adik saya memang suka begitu?" ucap Hanum.
"Iya Mbak gapapa, adiknya lucu!" kekeh Rani.
"Yang tadi itu suami Mbak Hanum ya?" tanya Doni.
"Iya Mas mantan suami tepatnya. Kalau begitu sebentar saya buatkan pesanan untuk bos nya ya?" ucap Hanum sembari meninggalkan keduanya, ia sengaja mengalihkan pembicaraan, supaya dirinya tidak di tanya lagi tentang kehidupan masa lalunya.
Selesai membuat pesanan, Hanum kembali dan memberikan kepada Doni. "Ini Mas!"
Doni menerima pemberian Hanum dan bertanya, "Jadi semua nya berapa Mbak?"
"Untuk hari ini gratis Mas, anggap saja sebagai contoh makanan yang nanti untuk catering!" jawab Hanum lembut.
"Jangan Mbak, nanti rugi lho?" ucap Doni dan Rani bersamaan.
"InsyaAllah nggak Mas, saya malah bersyukur seandainya nanti bosnya suka dan jadi berlangganan kan saya juga yang untung." ucap Hanum.
"MasyaAllah Mbak, terima kasih kalau begitu saya pamit lagi ya mau kembali ke kantor!"
"Baik, Mas terima kasih kembali."
Doni dan Rani pamit meninggalkan rumah makan Hanum. "Mbak Hanum baik banget ya Don?" ucap Rani.
"Iya, aku jadi gak sabar buat ngasih ini sama pak bos. Siapa tahu beliau suka dan langsung tanda tangani proposalnya!" ucap Doni bersemangat.
"Aamiin." jawab Rani.
***
"Hallo." jawaban dari seberang sana.
"Aku gak mau tahu, kamu selidiki mantan istriku dekat dengan siapa saja. Setelah itu laporkan padaku!" ucap Ilham sambil mengeratkan pegangannya pada kemudi mobil.
"Baik Pak, siap laksanakan."
Ilham mematikan sambungan telponnya, saat anak buah yang disuruh telah menyanggupi perintahnya. Dirinya lantas pergi meninggalkan parkiran rumah makan Hanum, dengan rasa penasaran yang membuncah.
***
Sebentar lagi masuk konflik yang kedua ya kak, harap bersabar dan jangan lupa like sama komennya😊🙏
__ADS_1