Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Kejujuran Sakha.


__ADS_3

"Apa kabar Mas Sakha, lama kita tak bertemu?" ucap seorang wanita yang kini tengah berjalan menghampiri Hanum dan juga Sakha.


Mata Sakha menyipit memandang sinis, sosok yang baru saja menyapanya. Buku tangan Sakha mengepal, setiap mengingat masa lalu bersama wanita ini.


"Kamu, untuk apa kamu datang kesini?" ucap Sakha sedikit ketus.


Hanum yang mendengar suara Sakha yang tidak ramah, sontak memalingkan wajah seakan bertanya ada apa?


Wanita itu tersenyum, "Apa aku tidak boleh hadir? Aku kesini untuk melihat laki-laki yang katanya tidak bisa hidup tanpaku?" kekehnya "Dan aku kesini untuk menghadiri acara pembukaan restoran yang akan dibuka untuk umum. Dan saat ini aku datang di acara pembukaannya?"


"Tapi seingatku, aku tidak mengundang dirimu?" ucap Sakha sarkas.


"Tapi aku datang bersama dengan pasanganku lho Mas!" ucapnya memberitahu.


Sakha yang ingin kembali menjawab ucapan wanita ini, seketika bungkam saat Hanum memegang tangannya. "Boleh Ka, silahkan di cicipi dulu siapa tahu nanti suka sama hidangan yang ada disini?"


"Terima kasih, oh iya kamu siapanya Sakha?" tanyanya.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Sakha yang kembali ketus.


Hanum mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Aku Hanum rekan kerja Bang Sakha."


"Oh, aku Andini mantan istrinya Sakha." ucap wanita yang bernama Andini sambil menjabat tangan Hanum.


Hanum terkejut saat mendengar pengakuan wanita yang berdiri di depannya ini, wanita cantik dan terlihat anggun ini tak lain adalah mantan istri, dari lelaki yang kini tengah berdiri di sampingnya.


Hanum menatap Sakha sebelum tersenyum sambil menarik tangannya. "Silahkan di nikmati Kak, saya akan menyapa tamu yang lain." ucap Hanum meninggalkan keduanya yang masih saling menatap dalam benci.


"Tunggu aku Han?" ucap Sakha saat menyadari Hanum beranjak dari sisinya.


Andini tersenyum licik, walaupun tak dikatakan tapi Andini tahu saat melihat raut wajah kecewa wanita yang bernama Hanum itu.


"Nikmati itu Mas, tunggu sampai aku merebutmu kembali ke sisiku setelah mencampakkanku begitu saja!"


Hanum berjalan cepat untuk menghindari Sakha, perasaan Hanum berubah tak menentu saat mendengar wanita itu memperkenalkan diri sebagai, mantan istri dari lelaki yang belum lama memintanya untuk bersama dengannya.


Kecewa tentu saja, ternyata selama ini Sakha membohongi dirinya. Hanum selalu berpikir kenapa lelaki matang seperti Sakha masih betah dengan kesendiriannya ternyata ada alasannya, dan bodohnya Hanum sama sekali tak tahu menahu dengan kehidupan Sakha.


Sakha sedikit kebingungan mencari Hanum, pasalnya wanita itu tak nampak di manapun. Hanum pun yang sedang menghindari Sakha tak sengaja bertabrakan dengan Ilham yang juga datang ke acara tersebut sebagai wakil dari ayahnya.


"Num?" panggil Ilham sambil menarik tangannya.

__ADS_1


Hanum mendongak, "Mas kamu disini?" tanya Hanum yang sedikit terkejut melihat Ilham yang tengah berdiri di depannya.


"Iya, aku kesini sama mama. Wakilin perusahaan soalnya papa lagi ada di luar kota."


"Oh lalu mama kemana Mas?" tanya Hanum, pasalnya Hanum tak melihat keberadaan mantan mertuanya itu.


"Ada tadi lihat Reyhan jadi langsung nyamperin, aku terkejut karena kamu juga bawa Reyhan kemari!"


"Kalau gak kubawa, Reyhan sama siapa dong Mas dirumah?"


Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe, iya Mas lupa! Oh iya Num, boleh gak kalau nanti Reyhan aku bawa dulu?"


"Bawa?"


"Hm, aku pengen menghabiskan waktu bersama dengan nya sebelum aku pergi nanti!"


"Memangnya Mas jadi ke luar negri?"


"Sebenarnya Mas ragu tapi mau bagaimana lagi itu sudah jadi kehendak ibu mertua dan aku mau tak mau harus ikut, karena itu sudah menjadi tanggung jawabku kan?"


Hanum mengangguk, "Aku harap setelah ini amel bisa sembuh ya Mas?"


"Makasih untuk doa nya ya Num dan maaf kalau selama ini Mas sudah sering membuatmu menangis?"


Saat Hanum masih berbicara dengan Ilham, Sakha datang dengan nafas yang tidak beraturan. "Kamu disini?" tanya Sakha saat melihat Hanum.


Hanum menarik nafasnya panjang, usahanya untuk menghindari Sakha malah akhirnya ditemukan lagi olehnya.


"Iya Bang, aku sedang berbincang sama Mas Ilham."


Ilham yang melihat keduanya seperti ada masalah, segera menghindar. "Oh ya Num, aku pergi dulu ya mau nyari mama sama Reyhan."


"Oh, iya Mas hati-hati!"


"Hm, iya Sakha selamat ya atas pembukaan restoran baru nya semoga semakin sukses?"


"Makasih Ham, nikmati waktumu?"


"Hm, nanti aku kabari lagi ya Num kalau begitu aku pamit dulu?" Ilham melangkahkan kaki nya menjauh, berada diantara keduanya membuat Ilham sedikit sesak. Harapannya pun sudah pupus seiring berjalannya waktu, kini Ilham hanya bisa berdoa semoga mantan istrinya itu bisa bahagia walau tanpa dirinya.


Hanum ingin kembali melangkah tapi cekalan di pergelangan tangannya, menghentikan langkah kakinya. "Ada yang perlu kita bicarakan, Han?" ucap Sakha lirih.

__ADS_1


"Bicara apa Bang, aku rasa itu semua tidak perlu lagi?"


"Tolong biarkan aku menjelaskan semuanya?" pinta Sakha memelas. "Tolong beri aku kesempatan, oke?" lanjutnya.


Hanum pun mengangguk, "Kita bicara dimana Bang?"


"Ayo?" Sakha menarik tangan Hanum menuju belakang restoran yang didesain asri, karena di halaman belakangnya ini terdapat gazebo untuk keluarga. Sesampainya disana Sakha mendudukan Hanum disalah satu gazebo dan Sakha pun duduk tak jauh dari Hanum.


"Kamu marah sama aku?" Pertanyaan Sakha yang tiba-tiba membuat Hanum tertegun.


Marah? Benarkah dirinya marah saat tahu Sakha pernah menikah dan dirinya sama sekali tak tahu. Hanum berdehem, mencoba mencairkan suasana.


"Aku gak marah Bang?" jawabnya asal, pasalnya Hanum pun tak mengerti dengan hatinya sekarang.


"Yakin gak marah? Lalu kenapa menghindariku?"


"A-aku haus Bang jadi tadi mau minum bukan mau menghindari kamu?"


Sakha terkekeh, "Aku malah senang kalau kamu marah, itu tandanya aku sudah ada di hati kamu?"


Hanum pun merona mendengar ucapan Sakha, tanpa Hanum sadari mungkin apa yang dikatakan Sakha itu benar, secara tak sengaja Sakha sudah menempati sedikit dari hatinya.


"Sebelumnya aku sudah ingin jujur tentang diriku padamu, Han. Tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, karena jujur saja ini tak mudah untukku sendiri. Setelah sekian lama aku berusaha untuk melupakannya, tapi harus kembali ku ingat kenangan yang begitu menyakitkan."


Hanum mendengar dengan seksama apa yang akan Sakha coba ungkapkan.


"Aku harap setelah mendengar pengakuan ku nanti, kamu tak akan berubah pikiran untuk menerimaku dalam hidupmu?" harap Sakha.


"Apa ada hubungannya dengan masa lalumu Bang? Apa segitu pahitnya sampai dirimu meragukanku?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Hanum, membuat lidah Sakha kelu. Hanya gelengan kepala yang mampu Sakha berikan.


"Masa laluku memang pahit Han. Karena itu aku sempat trauma dan tak ingin mengulangi lagi. Sampai aku bertemu denganmu dan itu mengubah semua yang ada dihidupku. Kamu percaya, aku jatuh cinta padamu dari awal kita bertemu jauh sebelum aku tahu kalau kamu sudah menikah."


Hanum terkejut mendengar pengakuan Sakha tentang cintanya. Selama mengenal Sakha, Hanum hanya melihat laki-laki yang sedikit menutup diri. Bahkan soal dirinya saja Hanum tak terlalu tahu, sampai tadi ada wanita yang mengaku sebagai mantan istrinya.


"Aku dulu sangat bersemangat saat melihatmu yang begitu menyayangi anak-anak di panti asuhan. Sikap lembutmu membuatku jatuh cinta, hingga tanpa sadar selalu ku sebut namamu di setiap doa ku. Aku berharap jika nanti kamu yang akan menjadi jodoh terakhir ku. Tapi harapanku pupus saat aku tahu kamu sudah menikah dan punya suami, ada rasa kecewa didalam hatiku, tapi aku sadar jika itu mungkin sudah menjadi takdirku." Sakha menarik nafasnya panjang sebelum mengutarakan semua perasaannya.


"Hingga aku memilih untuk pergi jauh setelah mengantar dirimu pulang dulu. Hingga pertemuan tak sengaja kita, saat aku melihatmu hampir terjatuh, waktu kamu bertengkar dengan madumu dulu. Dan tanpa aku sadari perasaan itu kembali dan semakin bersemi saat aku tahu kalau kamu sudah berpisah dengan Ilham."


"Aku jatuh cinta padamu itu nyata, dan aku berharap bisa bersanding denganmu itu juga nyata. Tapi saat aku mengingat masa laluku yang tak lebih baik darimu. Aku ingin jujur supaya tidak ada lagi yang mengganjal di hati dan masa depan kita nanti. Sampai tadi kamu bertemu dengannya, Andini. Dia mantan istriku."


***

__ADS_1


Jelas ya gaes, Sakha itu duda. Duren tepatnya soalnya gak punya anak gimana Sakha bisa cerai sama Andini kita lihat besok lagi. othor mau mulung dulu jangan lupa besok vote ya ๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Happy Reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2