Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Extra Part1.


__ADS_3

Dua puluh tahun kemudian.


Seorang laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter. Tengah berdiri, sambil memandang sebuah gundukan, yang bertuliskan nama Ilham Mahendra. Dia menatap gundukan itu dengan tatapan tak terbaca, kacamata hitam yang menutupi mata nya mampu mengaburkan setitik air yang menetes di sela mata tajamnya.


Ditangan kanannya, masih memegang sebuah mainan yang dulu sangat ia inginkan. Bahkan ia masih ingat, bagaimana ia merengek meminta mainan itu kepada sang ibu. Hingga suara laki-laki yang selalu bertemu dengannya dan yang selalu ia panggil ayah. Mengatakan akan membelikan mainan itu suatu hari nanti. "Ayah akan membelikan mainan itu nanti ya, Rey?" ucapnya kala itu.


"Ayah janji?"


"Ya, Ayah janji karena itu. Tunggu Ayah pulang ya sayang? Nanti pasti Ayah bawakan mainan yang seperti itu untuk Reyhan!" jawabnya sambil mengacak rambut kecil Reyhan.


Dengan riang anak kecil itu berteriak, dan memberitahu sang Ibu. Jika ayahnya akan memberikan mainan itu untuknya. "Tapi Ayah mau temana?"


"Ayah akan pergi sebentar, setelah itu kembali lagi. Reyhan tunggu Ayah ya, Ayah janji akan kembali dengan membawa semua mainan yang Reyhan mau?"


"Em, Eyhan janji. Eyhan pasti tungguin Ayah!" jawab Reyhan dengan bahasa cadel nya.


Dan janji itu hanya tinggal janji. Selama menunggu, hampir setiap hari Reyhan bertanya kapan sang ayah akan pulang? Hari berganti hari hingga bulan berganti bulan, tapi kabar kepastian pulangnya sang ayah, tak pernah ia dengar lagi.


Hingga rasa rindu yang semakin menumpuk, membuatnya selalu sakit-sakitan. Sampai suatu hari, Ibunya datang bersama dengan lelaki yang selalu ia panggil papa dan semenjak itu pula, bayangan sosok ayah yang selalu ia rindukan, berganti dengan sosok papa yang baru. Yang selalu ada untuknya kapanpun itu.


Reyhan menyeka air matanya, saat ingatan kilas balik masa kecilnya, kembali hadir dan menari di pikirannya. Reyhan sedikit berjongkok, hanya untuk mengusap batu nisan yang bertuliskan nama sang Ayah. "Reyhan datang, Ayah!" ucapnya lirih. "Maaf jika ini sudah sangat terlambat, maaf Reyhan baru tahu setelah sekian lama. Dan terima kasih untuk mainannya, ini sangat bagus, walaupun kini Reyhan sudah tak memainkannya lagi."


Saat sedang duduk berjongkok di antara gundukan malam sang ayah, bahunya di remas pelan oleh tangan tua, yang kini juga tengah berdiri di belakangnya.


Reyhan mendongak dan tersenyum, "Nenek?"

__ADS_1


"Kamu sudah lama disini, Nak?" tanya nya lirih.


"Lumayan lama, Nek!"


"Apa kamu merindukannya?" tanyanya sambil menatap lurus, ke arah batu nisan yang tengah di pegang Reyhan.


Reyhan mengangguk dan mengucapkan kata, "Iya, aku merindukannya. Walaupun aku tahu ini sudah sangat terlambat!"


"Kamu tahu?" tanyanya. "Tiada hari sedikitpun, di dalam hidupnya selain memikirkanmu, berharap bisa datang dan memelukmu. Sambil mengucapkan kata maaf. Bahkan disaat hembusan nafas terakhirnya, hanya kamu dan namamu yang selalu diucapkannya?" ucapnya dengan nada yang bergetar menahan sesak, saat kilas balik kematian anaknya kembali hadir di ingatan tuanya.


"Maaf, Nenek!" ucap Reyhan lirih.


Bu Suryo tersenyum, "Ini bukan salahmu, Nak? Memang sudah menjadi jalan takdirnya Ilham seperti itu. Mungkin itu sudah menjadi bagian, dari apa yang sudah ia tanam dulu!"


Reyhan berdiri dan memeluk sang Nenek yang sudah mulai renta itu. "Nenek kesini mau bertemu dengan kakek?"


Akhirnya Reyhan beralih ke sisi sebelah kiri dari makam ayahnya.


Disitu ada sebuah makam yang bertuliskan nama Suryo Mahendra, nama dari sang kakek yang juga sudah pergi meninggalkan dunia ini.


"Kamu tahu, Nak? Saat Ayahmu meninggalkan Nenek sendiri. Saat itu dunia Nenek berasa runtuh dan hancur, tapi saat itu Nenek masih sanggup untuk bertahan. Dan setahun setelah kepergian Ayahmu. Ternyata Kakekmu juga ikut pergi, meninggalkan Nenek sendirian didunia ini." Ceritanya sambil mengusap air mata, yang kembali hadir saat mengingat kepergian dua orang yang paling di cintai di hidupnya itu.


"Saat itu Nenek berfikir, mungkin jika Nenek ikut pergi bersama Kakekmu, Nenek tidak akan sendirian lagi. Tapi saat mengingat, wasiat yang ditinggalkan Ayah dan Kakekmu. Nenek putuskan untuk kembali hidup hanya untuk menunggumu!" ucapnya sambil menatap wajah sang cucu.


"Kamu tahu? Wajahmu ini mengingatkan Nenek pada Ayahmu. Kamu memiliki mata yang sama dan paras yang sama pula. Ah Nenek jadi semakin merindukannya!" ucapnya lirih.

__ADS_1


"Sekarang sudah ada Reyhan, Nek. Jika Nenek rindu, Reyhan akan selalu ada untuk Nenek, menemani Nenek selalu!" ucap Reyhan sambil menggenggam tangan tua sang Nenek.


Bu Suryo tersenyum, "Ayo kita pulang, Nenek sudah memasak makanan kesukaanmu?" ajaknya sambil tertatih, saat tubuh tua itu mencoba untuk berdiri.


"Iya, Reyhan akan pulang bersama Nenek, sebelum Reyhan berangkat ke kantor nanti?"


Keduanya berjalan beriringan, menuju mobil yang sudah menunggu di parkiran. "Mas Reyhan?" sapa Aditnya.


"Jangan panggil Mas, om! Reyhan saja?" jawab Reyhan sambil tersenyum.


"Baik, Mas. Eh Rey!"


Reyhan tersenyum, sambil membimbing sang Nenek masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh Aditya. "Nenek bareng sama om Adit ya? Nanti Reyhan nyusul bawa mobil sendiri?"


"Iya, Nenek tunggu di rumah ya Nak?"


"Iya, aku sayang Nenek?" ucap Reyhan sambil mencium pipi kanan sang nenek.


"Om Adit, titip Nenek ya dan terima kasih. Sudah menjaga dan selalu ada untuk Nenek selama ini?" ucap Reyhan tulus.


"Sama-sama Mas, eh Rey. Bu Suryo sudah saya anggap seperti ibu kandung saya sendiri jadi sudah seharusnya saya menjaga dan merawatnya." jawab Adit dengan tulus.


"Makasih, Om. Kalau begitu sampai jumpa di rumah nenek?" ucap Reyhan sambil berjalan ke arah mobilnya, yang terparkir tidak jauh dari mobil sang nenek.


Hari ini, untuk pertama kalinya Reyhan datang berkunjung ke makam sang Ayah, yang telah lama di lupakannya. Bukan lupa tepatnya, tapi kenyataan yang baru diketahui nya. Yang membawanya datang hanya untuk sekedar, melihat dan mendoakan sang ayah agar tenang di alam sana.

__ADS_1


****


Yeyyy ini hanya extra part ya kak,๐Ÿ˜Š jadi tidak ada lanjutannya dan extra part ini akan disambung untuk kilas balik saat meninggalnya Ilham. Jadi hanya ada 2 kalau gak 3 bab khusus extra part ini. Dan untuk kisah Reyhan sendiri akan ditulis dengan judul yang berbeda tapi masih lama karena saya mau hiatus fokus untuk lahiran. Kisah Reyhan akan ditulis dengan Judul Senja Yang Tenggelam dan untuk spoiler nya bisa di baca di beranda aku. Terima kasih dan Happy Reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2