Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Masa Lalu Sakha


__ADS_3

Sakha menatap Hanum lama, setelah dirinya mengungkapkan perasaannya, kini Hanum hanya terdiam. "Apa jawabanmu Han?"


Hanum sedikit tergagap, saat mendengar pertanyaan Sakha. Tentang perasaannya, "Hanum bingung Bang, ini terlalu mendadak untuk Hanum. Bahkan Hanum tak pernah memikirkan ini sebelumnya."


Sakha menarik nafasnya panjang, "Baiklah kamu bisa pikirkan dulu baik-baik. Aku tidak akan memaksa seandainya kamu memang tidak menginginkannya, tapi aku harap sekali saja tolong lihat aku sebagai lelaki yang mencintaimu!"


Hanum mengangguk, "Hanum akan pikirkan lagi Bang, maaf jika untuk saat ini Hanum belum berfikir untuk lebih jauh."


"Baiklah tapi aku harap nanti, setelah acara peresmian restoran yang baru. Kamu sudah memiliki jawaban untukku?" ucap Sakha penuh harap.


Hanum hanya mengangguk, setelah itu Sakha kembali melajukan kendaraannya pulang kerumah Hanum. Sesampainya disana Sakha maupun Hanum terkejut saat melihat kehadiran Ilham.


Sakha turun terlebih dulu dan memutari kendaraannya, membuka pintu belakang dan langsung menggendong Reyhan yang masih terlelap.


Ilham menyambut kedatangan Hanum tanpa menghiraukan keberadaan Sakha. Ilham mengulurkan tangan mencoba meraih Reyhan yang masih berada di gendongan Sakha.


Sakha bergeming melihat uluran tangan Ilham, hingga suara Hanum yang lebih dulu berbicara membuatnya menurunkan tangannya.


"Biar Bang Sakha saja Mas yang membawa masuk Reyhan, kasian Reyhan masih tidur!"


Sakha tersenyum smirk, melihat Hanum lebih memilih dirinya daripada mantan suaminya itu. Dengan sangat terpaksa akhirnya Ilham hanya mengikuti mereka masuk dan meletakkan Reyhan di tempat tidurnya.


Sakha mengecup sayang kepala Reyhan sebelum dirinya melangkah keluar, "Aku tunggu jawabanmu Han dan aku sangat berharap kamu bisa memberikan jawaban yang tepat." bisik Sakha sebelum meninggalkan Hanum dan berjalan keluar.


Walaupun Ilham tak mendengar apa yang dibicarakan Sakha dan mantan istrinya itu, tapi saat melihat rona di wajah Hanum, Ilham sedikit mengepalkan kedua tangannya.


"Aku pamit balik ke kantor lagi ya, jangan lupa sama permintaanku?" ucap Sakha sebelum dirinya benar-benar meninggalkan tempat Hanum.


Ada rasa puas didalam hati Sakha, saat beban yang selama ini bersemayam di dalam hatinya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Beban menahan perasaan yang selama ini dia tahan. Beban yang selama ini membuatnya seperti orang yang kehilangan akal dan juga pikiran.


Sakha melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan hampir jam lima sore, seandainya ia balik ke kantor pasti akan merepotkan, mengingat jam yang sudah menunjukan waktu untuk pulang dari kantor.


Akhirnya Sakha memilih pulang untuk bertemu dengan ibunya dan sedikit menceritakan Hanum sebelum dirinya melamar Hanum nantinya. Kalau seandainya jawaban dari wanita itu iya.


***


Hanum keluar menemui Ilham yang masih setia menunggunya, "Ada perlu apa Mas?" tanya Hanum saat dirinya tepat berada didepan Ilham.


"Maaf!" jawab Ilham pelan.

__ADS_1


"Maaf untuk apa?"


"Maaf atas kejadian tadi?"


Hanum diam tak menanggapi ucapan Ilham, hatinya mulai bimbang apa yang sebenarnya mantan suaminya ini inginkan. Saat ingin dekat ia dekat, saat ingin jauh dia pergi begitu saja dan melupakan semua janjinya.


Melihat diamnya Hanum, Ilham merasa sangat bersalah. "Aku benar-benar minta maaf Num? Bukan maksudku untuk mengabaikan Reyhan tapi saat aku ingin kemari. Aku mendapatkan telpon kalau Amel harus dibawa kerumah sakit karena keadaannya yang kembali histeris. Jujur Mas juga bingung, saat Mas lihat waktu yang masih lama jadi Mas berangkat untuk mengantar Amel. Tapi Mas juga tidak tahu kalau waktu berjalan dengan begitu cepat, hingga Mas lupa harus mengantar Reyhan untuk imunisasi juga." ucap Ilham penuh penyesalan.


Hanum masih tak bergeming mendengar ucapan Ilham. Tapi rasa penasarannya membuatnya bertanya, "Apa yang terjadi dengan amel Mas, kenapa dia menyebut kalau reyhan itu anaknya?"


"Amel mengalami depresi berat setelah kematian anaknya dan juga pasca dia tahu, kalau dia tak akan pernah bisa mengandung lagi." ucap Ilham sendu.


Hanum menutup mulutnya tak percaya, apa yang baru saja ia dengar. Kabar ini sungguh membuatnya terkejut, pasalnya setelah kejadian terakhir, Hanum benar-benar menutup akses apapun mengenai mantan suami dan istrinya itu. Hingga kabar seperti ini pun Hanum sama sekali tak mengetahui.


"Aku turut berduka Mas, aku tak tahu kalau Amel sampai seperti itu. Maaf?"


Ilham menggeleng, "Ini bukan salahmu, mungkin ini sudah menjadi bagian dari karma ku karena pernah menyakitimu dulu."


Hanul bersimpati, "Jangan salahkan dirimu Mas, aku sudah memaafkan dirimu jauh sebelum kamu meminta maaf padaku." ucap Hanum bijak.


"Terima kasih karena sudah memaafkan ku, seandainya nanti aku harus pergi setidaknya aku lega karena kamu sudah mau memaafkan ku?"


Ilham mengangguk, "Iya, rencananya dalam dua bulan kedepan Mas akan pergi keluar negeri. Rumah sakit sudah tak mampu untuk menyembuhkan Amel dan ibu mertua berharap Amel bisa berobat keluar negeri, agar dirinya bisa cepat sembuh. Maafkan aku ya Num dan aku juga minta ijin untuk lebih dekat dengan Reyhan sebelum kepergianku nanti?" pinta Ilham memelas.


Hanum mengangguk, "Boleh Mas, tapi maaf aku tak bisa menemani saat dirimu disini dengan Reyhan. Gunakan waktumu hanya untuk Reyhan saja."


"Terima kasih Num, seandainya nanti aku benar-benar pergi setidaknya aku masih punya kenangan bersama Reyhan!"


***


Sakha sampai dirumah, bibirnya masih terus menyunggingkan senyum bahagia. Hingga suara teguran sang Ibu membuatnya sedikit tersipu. "Kamu kenapa Mas, kok senyum-senyum sendiri begitu?"


Sakha masih menyunggingkan senyum dan menghampiri sang ibu sambil mengecup pipi kirinya. "Sakha lagi bahagia, Ma!"


"Iya kah, bahagia dalam hal apa? Kalau Mama boleh tahu?"


"Tapi janji setelah Sakha cerita Mama gak akan marah?"


"Kapan Mama pernah marah sama kamu, bahkan saat kamu mengambil keputusan yang salah dalam hidupmu saja. Mama tak mengatakan apapun." jawab Bu Ani.

__ADS_1


Sakha lantas mendudukan dirinya di samping sang Ibu dan memeluknya erat, saat ucapan sang Ibu yang tak sengaja membuka sedikit kenangan buruknya dulu.


"Maafin Sakha ya Ma, karena dulu pernah salah dalam mengambil keputusan, hingga membuat Mama terluka?"


Bu Ani mengelus pelan tangan anak laki-lakinya yang masih erat memeluk dirinya. "Mama sudah maafkan, jauh sebelum kamu minta maaf Kha!"


"Mama memang Ibu yang terbaik?" ucap Sakha sambil mencium pipi Ibu yang paling disayanginya itu.


"Jadi kamu mau cerita apa masih mau manja-manjaan sama Mama, Kha?"


Sakha pun menggeser badannya, "Mau cerita dong, Ma. Tapi Sakha masih bingung mulai dari mana?"


"Dari mana saja, Mama akan jadi pendengar yang baik untukmu!"


Dengan menarik nafas yang panjang Sakha menceritakan awal pertemuannya dengan Hanum dan kecewanya dia saat tahu Hanum sudah menikah. Sampai usahanya yang pergi untuk melupakan Hanum. Hingga takdir yang tak sengaja mempertemukan dirinya dan hanum, dalam keadaan yang luar biasa, hingga kedekatannya saat ini dengan anaknya dan perceraian Hanum dengan suaminya. Semua itu tak luput diceritakan oleh Sakha.


Ibunya masih setia mendengarkan, hingga pertanyaan Sakha membuatnya harus menjawab semuanya. "Aku salah gak Ma, kalau aku minta jawaban darinya secepat mungkin. Karena jujur saja melihatnya yang masih dekat dengan mantan suaminya membuatku terus menahan cemburu?"


"Kalau kamu sudah menyatakan perasaanmu, ya sudah tunggu saja. Tidak mudah Kha, untuk perempuan membuka hati lagi setelah disakiti seperti itu, apalagi sekarang dia mempunyai anak dari mantan suaminya. Kamu yang sabar, kalau Hanum sudah menjadi jodohmu, sejauh apapun dia pergi, dia akan tetap kembali padamu nanti."


Sakha mengangguk mendengar nasehat Ibunya. "Tapi Mama setuju kan seandainya Sakha melamar Hanum nanti?"


Bu Ani tersenyum, "Apapun yang sudah menjadi pilihan kamu, Mama akan Terima. Tapi apa kamu sudah menceritakan masa lalu kamu padanya. Jangan sampai saat kamu sudah menjalani semuanya, tapi dia tidak tahu apapun tentangmu dan malah akan jadi bumerang untukmu sendiri di kemudian hari."


Sakha menepuk kepalanya, "Aku lupa Ma, karena terlalu fokus padanya aku lupa menceritakan masa lalu ku sendiri!"


"Jujurlah padanya, ceritakan dirimu apa adanya. Seandainya nanti dia ikhlas menerima, Mama yakin masa depanmu akan lebih baik dari masa lalumu."


Sakha memeluk Mama nya erat, "Makasih Ma, semoga Hanum bisa menerima aku juga ya Ma. Besok aku akan bicara sama Hanum!"


"Hm, sekarang pergilah istirahat, sebelum makan malam!"


"Hm, Sakha keatas dulu ya Ma?"


Bu Ani mengangguk, Sakha pun melangkah kan kaki nya menuju kamarnya, dirinya bertekad untuk jujur tentang masa lalunya. Semoga setelah dirinya jujur, Hanum akan menerimanya dengan tulus. Karena jika harus berpisah lagi dengan nya Sakha tak akan pernah sanggup.


***


Kira-kira apa ya masa lalu Sakha?🤭

__ADS_1


Aku bikin panjang lagi ya kak. Happy Reading😊🙏


__ADS_2