Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Firasat.


__ADS_3

Ilham melihat Amel yang telah tertidur pulas, dengan perlahan dirinya bangkit dari pembaringan dan berjalan keluar kamar.


"Bi Tari?" panggil Ilham saat melihat asisten rumah tangganya itu tengah membereskan koper yang tadi di bawanya.


"Iya Pak!" jawab bi Tari sembari berjalan menghampiri Ilham.


"Semua bawaan saya tadi sudah dibawa masuk Bi?"


"Sudah Pak, semua saya taruh di ruang tamu tapi saya gak berani buka untuk membereskan isinya?"


"Oh gapapa Bi, bereskan saja koper yang berwarna hitam itu, isinya baju dan yang koper satu nya biarkan saja. Nanti saya yang akan bereskan sendiri!" ucap Ilham memberi tahu.


"Baik Pak, kalau begitu kopernya saya bawa ke belakang dulu!" pamitnya sambil membawa koper yang diperintahkan Ilham.


Ilham berjalan membawa koper yang satunya dan memasukkannya ke bagasi dalam mobilnya, sebelum Amel tahu. Dan besok rencananya ia akan memberikan koper yang berisi semua mainan itu untuk Reyhan.


Ilham tersenyum membayangkan, wajah bahagia Reyhan saat ia memberikan hadiah yang jauh-jauh ia bawa dari negara tetangga. Rasa tak sabar itu membuat nya ingin segera pergi menemui anak tersayangnya itu.


"Mas?"


Ilham terkejut melihat Amel yang berdiri di belakang nya, saat Ilham berencana untuk langsung pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Amel lagi saat panggilannya tak dijawab oleh Ilham.


Ilham pun berjalan sambil tersenyum, menyembunyikan rasa gugup yang sempat hadir saat Amel memanggilnya tadi.


"Gak kemana-mana sayang, hanya ingin memanaskan mobil saja. Sudah lama kita pergi, jadi mas hanya ingin tahu apa mobilnya baik-baik saja!"


Amel mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh, kirain kamu mau pergi!"


"Nanti aku memang mau, pergi tapi tidak sekarang!"

__ADS_1


"Pergi kemana, bukankah kita baru sampai. Apa kamu gak capek Mas?" tanya Amel penuh selidik.


"Aku ingin kerumah mama sama papa, gak enak kan kita udah pergi lama tapi pas datang malah gak kesana, apalagi kita pulang gak ngasih kabar. Mereka kan juga cemas sama kamu?" jawab Ilham sambil mengusap kepala Amel.


"Hm tapi jangan hari ini ya Mas? Gak tahu kenapa, pas aku bangun tidur gak lihat kamu perasaanku jadi gak enak!"


"Iya, gak hari ini. Mas juga lelah mau istirahat dulu, besok mungkin Mas akan kesana, kamu mau ikut?" tawar Ilham.


Amel menggeleng pelan, "Aku belum siap ketemu mama sama papa Mas, mungkin setelah aku benar-benar sembuh aku akan kesana!"


"Oke kita tunggu kamu siap ya? Nah sekarang kita istirahat lagi, kamu udah lapar belum?" tanya Ilham sembari membawa Amel masuk kedalam rumah.


"Aku belum lapar Mas, nanti saja ya?"


"Baiklah kalau begitu Mas mau mandi dulu, habis itu kita istirahat lagi!" ucap Ilham sembari membawa sang istri masuk kedalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Amel langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Dan Ilham juga bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhnya yang dirasa mulai lengket karena keringat.


Amel memandang Ilham dengan sendu, entah kenapa tapi perasaannya sungguh tak menentu? Saat terbangun pertama kali dan melihat sisi ranjang nya kosong, Amel langsung panik saat tidak melihat Ilham. "Ada apa dengan hatiku?" ucap Amel sembari memegang dadanya sendiri.


Karena terlalu lama bergulat dengan pikirannya sendiri, Amel sampai tak menyadari kalau sang suami telah selesai membersihkan diri. Aroma sabun yang menguar saat Ilham membuka pintu, membuat Amel menghentikan pikiran buruk yang dari tadi membayangi dirinya.


"Kok ngalamun?" tanya Ilham saat melihat sang istri hanya diam dan memandang dirinya.


Amel menggeleng, "Aku gak ngalamun kok Mas?"


"Lalu apa ini namanya, diam-diam sambil lihatin Mas kaya gitu?" goda Ilham.


Ilham berjalan ke sisi ranjang yang kosong, setelah mengeringkan rambutnya yang basah. "Ada apa hem?"


Amel masih menggeleng, "Gak ada apa-apa Mas, aku hanya merindukanmu saja?" ucap Amel pelan.

__ADS_1


Melihat Amel yang sedikit tersipu, membuat Ilham terkekeh, "Tumben lho bilang rindu?"


Amel mencebik saat Ilham menggoda dirinya, "Emang gak boleh ya rindu sama suami sendiri?"


Ilham terbahak mendengar nada manja dari istrinya itu, "Lho kenapa gak boleh, boleh banget malah. Mas juga rindu sama kamu? Ehm emang udah boleh ya?" tanya Ilham ragu-ragu.


Amel yang tahu maksud Ilham pun mengangguk, "Boleh Mas, kata dokter kan juga gapapa. Itu gak akan buat aku sakit kok!" kekeh Amel saat melihat keraguan dalam diri Ilham.


Saat mendengar ucapan Amel, Ilham menyunggingkan senyumnya. Tak dipungkiri semenjak Amel sakit dan sempat depresi, Ilham benar-benar menahan keinginannya itu, menunggu sampai sang istri sembuh dan bisa melakukannya dengan baik.


Dan kesempatan yang hadir saat ini tak akan Ilham sia-sia kan lagi. Anggap saja ini sebagai balasannya karena sudah menunggu lama, hanya untuk menyalurkan hasrat yang lama terpendam.


Ilham mencium lembut bibir sang istri, secara perlahan untuk mengembalikan rasa yang pernah hilang. Amel yang juga merasakan perasaan rindu, menyambut hangat ciuman sang suami.


Pelan tapi pasti ciuman lembut itu semakin menuntut, tangan Ilham pun tak hanya diam. Tangannya mulai menyusup kedalam baju yang dipakai sang istri, meremas apa yang bisa disentuh. Gelenyar rasa itu memenuhi diri Amel yang memang telah lama tak merasakan penyatuan di dalam dirinya.


Tak butuh waktu lama kini keduanya bergelung dalam nikmat rasa cinta. Saling mencumbu dan menyalurkan rindu yang semakin menggebu. Nafas keduanya mulai tak beraturan, saat hentakan dan pacuan itu semakin cepat terasa, hingga jeritan panjang yang keluar dari bibir Amel menyudahi aktivitas yang mereka lakukan.


Ilham berguling ke sisi Amel, tangannya membenarkan letak rambut yang berantakan saat pergulatan mereka. Ilham mencium kening Amel lama dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih istriku!" ucapnya sebelum menutup mata dan tertidur karena rasa lelah.


Amel meraba wajah Ilham yang terlihat sangat kelelahan. "Terima kasih sudah menjadi suami yang paling baik untukku dan maaf belum bisa jadi istri yang benar-benar baik untukmu Mas?" ucap Amel sambil berbisik.


Amel bangkit dari pembaringan dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sisa percintaannya dengan sang suami membuat seluruh tubuh Amel terasa lengket, karena itu sebelum dirinya ikut sang suami masuk ke alam mimpi, Amel ingin membersihkan dirinya terlebih dulu.


Amel selesai dengan cepat dan bergegas merebahkan diri di samping sang suami yang lebih dulu masuk ke alam mimpi.


Sebelum Amel benar-benar menutup mata, Amel memandang Ilham yang tertidur dengan nyenyak dengan perasaan yang entah dia sendiri tak tahu. Ada rasa takut kehilangan yang sangat besar di dalam hatinya, rasa yang selalu membuat nya kehilangan diri dan akalnya. "Semoga ini hanya perasaanku saja ya Mas?" bisik Amel sebelum menutup mata dan ikut tertidur di sisi Ilham.


***

__ADS_1


Sudah siap menuju ending kak, maaf kalau tidak sesuai sama ekspetasi kalian ya kakπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


Happy ReadingπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2