Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Gugurnya Daun Sidrat Al-Muntaha


__ADS_3

Hanum, kini tengah menikmati rasa manis dari luka yang sebelumnya ia rasakan. Berbeda dengan apa yang kini tengah Ilham rasakan, karma buruk tengah mengintai manusia lain yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya.


Ilham masih tergolek lemah tak sadarkan diri, setelah sebelumnya sempat sadar dan sempat menitipkan pesan terakhirnya, untuk sang buah hati tercinta.


Tiga jam sebelumnya.


"Reyhan?" panggil Ilham lirih.


Suster yang saat itu sedang berjaga untuk memantau kondisi Ilham, sempat tertegun. Saat pasien yang dikatakan koma, mulai memanggil lirih sebuah nama.


Dengan terburu-buru, sang suster memanggil dokter yang saat itu bertugas untuk memantau kondisi nya juga. "Dok, pasien mulai sadar?" ucap sang suster memberi tahu.


Dengan langkah tergesa-gesa, dokter Andre pun segera memeriksa kondisi Ilham yang tiba-tiba membaik dengan begitu cepat.


"Pak Ilham sudah sadar?" tanya dokter Andre, untuk memastikan keadaannya.


Ilham mengangguk sambil meminta tolong, "Dokter, bisa tolong bawa ponsel saya kemari?"


Sang dokter pun mengiyakan permintaan Ilham, sambil memberikan ponsel yang ia minta.


Cukup lama Ilham berusaha menghubungi nomor ponsel mantan istrinya, tapi lagi-lagi jawaban operator mematahkan harapannya.


Ilham beralih ke mode rekam, sebelum nanti dirinya kehilangan kesadaran kembali.


"Untuk anakku Reyhan, maafkan ayah Nak. Maaf jika ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu, maaf jika selama ini ayah hanya bisa menyakitimu tanpa sedikitpun memikirkan kebahagiaanmu. Maaf jika ayah terlambat datang untuk menemuimu! Ayah sangat mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, maaf jika setelah ini ayah malah pergi meninggalkan dirimu, tanpa sedikitpun memberi penjelasan untuk semua kesalahan yang pernah ayah lakukan. Tetaplah bahagia dengan ibumu dan maafkan semua kesalahan ayahmu ini. Ayah percaya, jika suatu saat nanti kamu sudah dewasa dan mengerti, ayah harap kamu akan memaafkan semua kesalahan yang pernah ayah lakukan. Tetaplah menjadi anak ayah yang baik dan tampan, sejauh apapun kamu melangkah nanti, Ayah akan selalu berdoa agar kamu selalu bahagia." Ilham terbatuk saat ingin mengakhiri rekaman suaranya.


Dokter Andre tak kuasa menahan air matanya, sambil terbatuk-batuk. Ilham memberikan rekaman suaranya kepada sang dokter dan menitipkan pesan. "Tolong sampaikan kepada orang tua ku, Dok. Aku titipkan ini untuk yang terakhir kali, karena aku merasa tak lagi sanggup untuk bertahan."


"Pak Ilham pasti sembuh, kita periksa lagi!"


Ilham menggeleng pelan, "Saya rasa semuanya sudah selesai, Dok! Boleh saya minta kertas dan pena untuk yang terakhir kali?" tanya Ilham penuh harap.


Dokter Andre pun memberikan kertas kosong untuk Ilham, sampai tangan lemah itu menuliskan sebuah kata perpisahan untuk sang istri.


"Untuk Amel istriku. Maaf jika selama ini aku belum bisa jadi suami yang baik untuk mu? Maaf jika kali ini aku kembali mengingkari janjiku, untuk selalu ada untukmu. Maaf jika aku belum bisa membuatmu bahagia, melihatmu kembali sehat sudah membuatku puas, setidaknya kamu akan baik-baik saja setelah aku pergi. Maaf karena pernah membuat luka, yang begitu dalam di hatimu. Aku mencintaimu walaupun tak sebesar aku mencintai nya dulu, hiduplah dengan bahagia. Bukalah kehidupanmu yang baru dengan penuh warna. Sekali lagi, maafkan aku."


Selesai menuliskan kata terakhirnya, tangan Ilham jatuh terkulai. Dokter yang melihat Ilham kembali tak sadarkan diri. Buru-buru memberi pertolongan pertama, untuk menyelamatkannya.


Saat daun Sidrat Al-Muntaha, yang bertuliskan namanya di pohon Arsy mulai gugur. Saat itulah tugas nya di dunia telah selesai. Begitu juga dengan Ilham, saat usahanya untuk menjadi lebih baik untuk anak dan istrinya telah selesai. Ia dengan ikhlas pergi meninggalkan dunianya. Meninggalkan istri, yang sudah ia penuhi tanggung jawabnya dan juga meninggalkan anak yang begitu dicintainya.


Mungkin jika Allah masih memberinya waktu, untuk hidup yang lebih lama. Mungkin saat ini ia akan berjuang, untuk bertemu dengan sang anak hanya untuk meminta maaf atas semua kesalahannya.


***


Setelah tiga jam berlalu, dokter Andre keluar dengan wajah yang begitu muram, sedikit harapan yang tadinya ia upayakan bisa, ternyata sia-sia. Dengan wajah lelah dan penuh dengan penyesalan, ia keluar dari ruangan, dimana nama Ilham hanya tinggal nama saja.


Pak Suryo bangkit dari duduknya, saat melihat pintu dimana anaknya berada mulai terbuka. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"


Dokter Andre menarik nafasnya berat, dengan pelan ia mulai menjelaskan. "Maafkan saya, Pak? Anak Bapak, pak Ilham sudah tiada!"

__ADS_1


Pak Suryo mematung mendengar ucapan sang dokter, nyawanya serasa ditarik dari raganya. Sakit itu yang pertama kali ia rasakan, sebelum pekikan dari istrinya yang lemas tak sadarkan diri, menyadarkan ia kembali.


Bu Ratna menahan bobot tubuh Bu Suryo sebelum ia jatuh, saat mendengar kalau anak semata wayangnya itu telah tiada.


Aditya yang melihat majikan nya tak sadarkan diri, mulai memanggil petugas medis untuk membantu membawa bu Suryo untuk dirawat.


Sedangkan ia masih berdiri disisi Pak Suryo, untuk sekedar berjaga jika majikannya ini butuh bantuan.


"Bukankah sebelumnya Ilham masih baik-baik saja, Dok? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?" tanya Pak Suryo dengan bibir yang bergetar, menahan tangis.


"Tadi Pak Ilham sempat bangun dan memberikan pesan terakhirnya, saya pikir itu sebuah keajaiban. Tapi tiba-tiba Pak Ilham kembali tak sadarkan diri dan mulai menghembuskan nafas terakhirnya saat saya masih berusaha membuatnya tetap sadar."


Akhirnya Pak Suryo melemah, seharusnya ia tak pergi untuk sekedar mencari tahu dimana Reyhan berada, seharusnya ia masih disini untuk sekedar menemani saat terakhir anaknya.


Pertahanan nya kembali runtuh, air mata itu deras mengalir dari kedua mata tuanya. "Anakku?!" lirih nya sambil tersedu-sedu.


***


Amel menatap kosong, tubuh lelaki yang di dorong keluar dari dalam ruangan. Dunianya seketika hancur, harapannya untuk merajut masa depan bersama sang suami hancur seketika. Bersamaan dengan jasad yang ditutupi kain berwarna putih itu.


Amel berjalan mendekati tubuh Ilham sebelum dibawa untuk dimandikan. "Mas?" panggilnya lirih, sambil membuka penutup wajahnya.


"Kenapa kamu diam, kamu gak suka lihat aku ya? Kita udah gak ketemu selama seminggu, apa kamu gak rindu sama aku?" bisiknya.


"Aku merindukanmu, Mas! Setiap malam aku selalu nungguin kamu pulang. Kamu udah janji sama aku lho, buat ngajakin aku jalan-jalan. Kamu juga udah janji mau nemenin aku sampai tua bersama. Tapi kenapa kamu malah tidur disini, Mas? Ayo kita pulang, Mas! Aku janji akan jadi istri yang baik buat kamu, aku janji akan sembuh dan buat kamu bahagia walaupun cuma berdua denganku. Ayo Mas kita pulang?" Melihat Ilham hanya diam dalam tidurnya, air mata Amel luruh semakin deras. "Kamu jahat, Mas?" tangisnya pecah, rasa sesak itu benar-benar menyesakan dadanya. Sampai Amel kehilangan kesadarannya.


Bu Ratna, tergugu melihat anaknya menangis sampai tak sadarkan diri. Ia pun dengan langkah cepat di bantu Aditya, membawa Amel untuk diperiksa, ledakan emosi yang begitu kuat membuat Bu Ratna takut, jika Amel akan kembali depresi seperti sebelumnya.


***


"A-ayah …?" lirih Reyhan.


Hanum yang mendengar anak lelakinya mengigau segera mendekati dan membangunkan nya.


"Sayang bangun, Nak?"


Reyhan mengerjapkan matanya, "Mama?"


"Iya sayang, kamu mimpi ya? Kamu mimpi apa, Nak?" tanya Hanum lembut.


Reyhan menggeleng pelan, "aku tidak tahu, Ma!


Hanum menyentuh kening Reyhan, panasnya sudah turun setelah kembali dari rumah sakit tadi. "Reyhan mau apa, Nak?"


Reyhan menggeleng pelan, "Ma, boleh gak telpon nenek? Reyhan rindu sama nenek!"


"Boleh sayang, sebentar Mama ambil ponsel dulu ya?"


Reyhan mengangguk dan tak lama setelah itu, Hanum datang dengan membawa ponsel yang sudah terhubung dengan Ibu nya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, sayang?" sapa Bu Surti dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Nenek?" panggil Reyhan penuh semangat.


Hanum tersenyum melihat bagaimana bersemangat nya, sang anak saat berbicara dengan sang Ibu dan adiknya itu.


Tawa itu kembali hadir di wajah sang putra, Hanum berharap setelah ini anaknya tak akan sakit lagi.


Selesai bertelepon ria, Reyhan memberikan ponsel yang tadi ia pakai kepada Mamanya. "Sudah telponnya?" tanya Hanum sambil mengacak rambut sang anak.


"Sudah Ma, sekarang Reyhan lapar dan ingin makan!"


Hanum tersenyum sambil mengangguk, "iya sebentar mama ambilkan ya?"


***


Ditempat lain.


"Ibu gak bilang sama mbak Hanum, kalau mas Ilham ingin ketemu sama Reyhan?" tanya Ardi sesaat setelah telpon itu mati.


"Untuk apa, Ar? Mereka sudah bahagia dengan hidupnya masing-masing tanpa harus tahu kabar satu sama lainnya!"


Ardi menarik nafasnya berat, "Aku hanya sedikit kasihan saja Bu, sama mas Ilham. Kalau dia benar-benar merindukan Reyhan apa kita gak merasa bersalah, karena tidak memberi tahu dimana Reyhan berada?"


"Biarkan saja, Ar! Nasi sudah menjadi bubur, apa yang kita tanam itu yang kita tuai begitu juga sebaliknya. Ibu hanya membuat Ilham sedikit sadar dengan semua sikapnya itu!"


Ardi terdiam mendengar ucapan Ibu nya, walaupun ia setuju dengan apa yang dipikirkan orang tua nya itu. Tapi hati kecilnya memiliki rasa bersalah, walaupun cuma sedikit.


***


Amel masih terdiam tanpa kata di samping makam suaminya, ingin rasanya ia ikut dikubur bersama dengan sang suami agar ia tak merasa sendiri lagi.


Tapi isi surat yang Ilham tinggalkan, membuat nya tetap untuk bertahan. "Kenapa, Mas?" tanyanya lirih, sambil mengusap batu nisan sang suami.


"Kenapa kamu milih sendirian disini, daripada bersama denganku? Apa aku bisa hidup tanpamu, Mas?"


Bu Ratna menghampiri Amel dan meremas bahunya pelan, "Ayo kita pulang, Nak?"


Amel menggeleng, "Aku ingin disini, Bu. Mas Ilham pasti sendirian dan kedinginan disini, aku gak mau ninggalin mas Ilham sendiri, Bu!"


"Amel?" Bu Ratna mendesah pasrah, melihat keras kepala anaknya ini.


"Ilham sudah tenang disana, Mel. Ilham sudah bahagia dan tidak merasakan sakit lagi. Ibu harap kamu juga seperti itu, ingat apa yang ditulis Ilham? Ilham ingin kamu bahagia Mel dengan caramu sendiri?"


"Bagaimana aku bisa bahagia, Bu? Jika kebahagiaan ku itu hanya dengan Mas Ilham, bagaimana aku bisa bahagia jika kebahagiaan ku diambil paksa dariku?" ucap Amel sambil memandang sang Ibu.


Bu Ratna hanya diam, sambil menatap putri semata wayang nya itu. Dirinya pun tak bisa berkata apa-apa. Melihat anaknya begitu terpuruk, setelah kehilangan anak dan kini ia kembali dihadapkan dengan kenyataan kalau suaminya juga pergi meninggalkan nya sendirian. Bu Ratna hanya bisa berharap semoga anaknya tak akan mengalami depresi lagi pasca kehilangan untuk yang kesekian kalinya.


Selesai.

__ADS_1


Hallo kak, maaf jika end dari cerita ini tidak sesuai dengan ekspetasi kalian, karena memang ending nya seperti ini, Doa kan saja semoga ada extra part untuk selanjutnya πŸ™πŸ™πŸ™ Terima kasih buat yang udah ngikutin cerita ini dari awal


Sekali lagi Terima kasih dan Happy ReadingπŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜Š


__ADS_2