
"Kamu dari mana Mas?" tanya Amel saat mendapati Ilham pulang sedikit larut.
Ilham yang dalam keadaan tidak baik-baik saja, sedikit malas menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Ilham melenggang meninggalkan Amel yang masih mematung menunggu jawaban dari suaminya.
"Mas?" panggil Amel seraya mengejar langkah kaki suaminya yang mulai menjauh dan masuk kedalam kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Amel mencekal pergelangan tangan suaminya. "Mas, tunggu aku sedang bertanya?"
Ilham membalikan badan dan menatap Amel dalam, "Aku lelah, tolong biarkan aku mandi dulu setelah itu bertanyalah sepuas hatimu!" ucap Ilham seraya menyentak kasar tangan Amel yang masih memegang tangannya.
"Kamu berubah Mas!" ucap Amel sendu.
Ilham tak menggubris ucapan Amel, ia tetap melangkah menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan dan juga pikirannya.
Ilham termenung memikirkan percakapannya dengan sang mantan istri tadi pagi.
"Kenapa kamu gak mau menerima bantuan dariku!" ucap Ilham seraya memukul air yang berjatuhan dari shower yang mengalir di atas kepalanya.
Walaupun merasa kesal atas sikap Ilham yang dirasa mulai dingin, Amel tetap melakukan kewajibannya, menyiapkan baju ganti dan menyiapkan teh hangat untuk suaminya agar lebih santai.
Amel keluar dari kamar, menyiapkan makanan untuk sang suami walaupun nanti makanan itu gak dimakan, yang penting dirinya sudah melakukan kewajibannya sebagai istri.
Ilham keluar dari kamar membawa cangkir teh yang telah kosong, "Terima kasih untuk teh nya?" ucap Ilham sambil tersenyum.
"Mas mau makan dulu!" ucap Amel menawari.
"Aku belum lapar, sebentar lagi ya!"
"Mas?" panggil Amel sebelum Ilham pergi meninggalkan meja makan.
"Hm, apa?"
"Aku mau bicara?"
"Ayo kita bicara!"
Ilham berjalan ke ruang tamu yang ada di depan, ia mendudukkan dirinya, di susul Amel yang juga duduk di samping tubuhnya.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Ilham.
"Mas kenapa kamu berubah sekarang?"
__ADS_1
Ilham menautkan kedua alisnya heran. "Berubah bagaimana?"
"Kamu sekarang lebih cuek sama aku, bahkan kamu mulai menghindariku sekarang?"
"Aku gak begitu, hanya akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor dan aku harus sering bolak-balik untuk meeting di luar dan itu sudah cukup membuat aku kelelahan." ucap Ilham memberi penjelasan.
"Oh." jawab Amel. "Tapi kamu gak lagi marah sama aku kan Mas?" tanya nya lagi.
"Kenapa aku harus marah, kamu lagi hamil pikirkan saja dirimu dan kandunganmu. Jangan sampai pikiran buruk mu itu, membuat anak yang ada di dalam kandunganmu jadi bermasalah."
"Maaf aku hanya merasa Mas sedikit berbeda, apa mungkin cuma perasaanku saja?"
"Hm, itu hanya perasaanmu saja. Hormon ibu hamil kan memang suka berubah-ubah."
Amel menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ilham, mungkin memang benar kalau dirinya sedang terpengaruh oleh hormon kehamilannya. Hingga pikiran buruk itu selalu datang di dalam kepalanya.
"Mas, aku boleh bertanya lagi?"
"Kamu mau tanya apa lagi?"
"Kapan pernikahan kita akan diurus, bukan nya lebih cepat lebih baik?" tanya Amel hati-hati.
Ilham menarik nafasnya lelah, ia lupa jika ia belum menyiapkan alasan untuk menunda pengesahan pernikahan nya dengan Amel.
"Ya sudah tapi jangan terlalu lama ya Mas? aku takut kalau nanti perutku semakin membesar dan pernikahan kita belum sah secara negara, aku takut orang-orang akan menghinaku!"
"Hm, aku janji gak lama lagi ya?"
Amel mengangguk mendengar janji yang Ilham katakan, setidaknya itu sedikit mengurangi beban yang ada di dalam hatinya dan ketakutannya yang sedikit berlebihan.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat begitu juga dengan yang Hanum rasakan, kehamilannya yang semakin nampak dan juga usaha yang dulu dirintis bersama sang ibu. Kini mulai menampakan hasil, Hanum tidak lagi berjualan di depan rumah tempat tinggal mereka. Tapi dari usaha itu kini Hanum telah bisa menyewa sebuah ruko yang terletak tidak jauh dari daerah perkantoran yang cukup ramai.
"Gimana Mbak sama ruko nya?" tanya Ardi yang kini juga ikut tinggal di ruko yang kakaknya sewa.
"Bagus, semoga rezeki kita semakin lancar setelah pindah kemari ya?" ucap Hanum.
"Aamiin." ucap Ardi dan Ibu nya bersamaan.
"Ardi, setelah ini kamu mau kuliah dimana?" tanya Hanum.
__ADS_1
"Entah, apa Ardi gak usah kuliah aja ya Mbak biar bisa bantuin Mbak?" jawab Ardi.
"Kamu gak boleh ngomong begitu Ardi, Mbak masih sanggup untuk menyekolahkan kamu sampai perguruan tinggi, lalu kenapa kamu malah berpikir untuk tidak lanjut kuliah?"
"Kebutuhan Mbak lebih banyak karena sebentar lagi Mbak juga mau melahirkan dan itu butuh biaya yang tidak sedikit lho Mbak!"
"Lalu kenapa, Mbak masih ada tabungan dan Mas Ilham juga masih memberi Mbak uang untuk keperluan saat melahirkan nanti andai terjadi sesuatu!"
"Mbak masih menerima uang dari Mas ilham?" tanya Ardi.
"Hm, mau bagaimana lagi! Mas ilham memaksa Mbak untuk menerima nya, daripada nanti malah jadi ribet! Kamu tahu bagaimana sifat mantan kakak ipar mu itu kan?"
Ardi menangguk paham, mantan kakak iparnya itu sangat baik, walaupun sedikit memaksa dan Ardi gak heran jika akhirnya sang kakak menerima pemberian dari mantan suaminya itu, hanya demi anak yang kini sedang dikandung Hanum.
"Mbak pernah memakai uang dari mas ilham?"
Hanum menggeleng, "Belum sekalipun belum pernah!" ucap Hanum.
"Kenapa?" tanya Ardi.
"Mbak masih sanggup untuk memberikan yang terbaik untuk anak Mbak sendiri Ar, jadi untuk apa? Mbak menerima hanya sekedar menghargai bentuk dari tanggung jawab yang sering mas ilham katakan."
Ingatan Hanum kembali dimana Ilham kembali mendatanginya hanya untuk memberikan uang yang sama jumlahnya dari sang istri untuk mantan istri. Berkali-kali Hanum menolak tapi berkali-kali juga ilham selalu datang hanya untuk memaksakan kehendaknya.
Hanum merasa lelah, kalau setiap pagi selalu melihat ilham yang menunggu di depan rumahnya dan itu yang akhirnya membuat Hanum menerima, bentuk dari sebuah pertanggungjawaban yang sering Ilham katakan.
"Mbak?" panggil Ardi yang sempat melihat Hanum kembali melamun.
"Eh iya apa Ar?" tanya Hanum yang sedikit gelagapan.
"Mbak mikirin apa sih?" tanya Ardi.
"Nggak ada, Mbak hanya sedikit mengingat kenangan masa lalu!" ucap Hanum sembari tersenyum.
"Hm, ya sudah ayo kita masuk dan melihat ruko sebelum kita pindah esok hari?" ajak Ardi yang kini tengah menarik tangan sang kakak.
Hanum tersenyum dan mengikuti langkah Ardi, yang membawanya masuk untuk melihat ruko yang disewanya.
Hanum tersenyum puas, sambil meraba perutnya yang kini semakin terlihat membuncit. " Semoga ini menjadi rezeki kita ya sayang?" ucap Hanum seraya mengelus sayang perutnya.
Bu Surti yang melihat Hanum tersenyum, sedikit meneteskan air mata. Bu Surti tak mendekat ia hanya melihat bagaimana usaha yang di bangun putrinya mulai berkembang sedikit demi sedikit, hingga mampu merubah hidup mereka. "Semoga doa, usaha dan kesabaranmu bisa menjadi berkah untuk mu anakku?" doa Bu Surti dalam hati sambil melihat kedua anaknya yang nampak bahagia melihat-lihat isi dalam ruko.
__ADS_1
****