
Tiga hari setelah pertengkaran itu, Ilham tak menunjukan batang hidungnya sama sekali. Ia menghilang bak ditelan bumi.
Jangankan telepon, berkirim pesan pun rasanya enggan. Begitu juga dengan Hanum, rasa kecewa yang sempat hadir di hatinya membuat ia sedikit mengeraskan hati.
Tok … tok … tok
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam." ucap Hanum sembari membuka pintu.
"Sayang, Mama kangen sama kamu." ucap Bu Suryo setelah Hanum membukakan pintu untuk nya.
"Mama."
"Kamu kok kaget gitu lihat Mama, kenapa?"
"Gak apa-apa Ma, ini kejutan buat Hanum. Mama udah lama gak main kesini."
"Mama sibuk banget sayang, papa mu bolak-balik ke luar kota karena urusan pekerjaan, jadi ya mama harus nemenin." ucap Bu Suryo menjelaskan.
"Mama pasti capek, istirahat dulu Ma Hanum bikin minuman untuk Mama." ucap Hanum seraya bangkit menuju dapur untuk membuat minuman.
"Ilham kerja Num?"
Hanum yang sedang membuat minuman, terdiam untuk beberapa saat.
Sampai ucapan Bu Suryo kembali mengingatkan dirinya kalau Ilham sudah tidak pulang selama tiga hari setelah pertengkaran itu.
"Mas Ilham kerja Ma, sekarang pasti lagi di kantor." ucap Hanum memberi alasan.
Bu Suryo terlihat menghembuskan nafas nya kasar, hufff. "Kamu gak sedang berbohong sama Mama kan Num?" tanya Bu Suryo, setelah Hanum sampai di depan nya dan meletakkan minum di atas meja.
"Hanum gak bohong sama Mama kok!" ucap Hanum tegas.
"Kalau kamu gak bohong, berarti kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama, ya kan?" tebak Bu Suryo
"Mama kenapa, kok nanya nya gitu? Hanum sudah anggap Mama seperti ibu kandung Hanum, kenapa Hanum harus berbohong sama Mama."
Setelah menarik nafas panjang akhirnya, Bu Suryo mengatakan sesuatu yang membuat Hanum menggeleng tak percaya.
"Mama kesini selain kangen sama kamu, Mama juga ingin tau kemana Ilham. Ilham sudah ijin dari kantor selama tiga hari dan selama tiga hari juga pekerjaan yang ada di kantor jadi berantakan, mana Ilham juga tidak bisa di hubungi."
Hanum yang mendengar penjelasan dari Mama mertuanya sedikit terkejut, pasalnya dia sama sekali tidak tahu kemana Ilham pergi.
Selama pernikahan, Ilham tak pernah sekalipun tak memberi kabar padanya, kemana pun Ilham pergi ia pasti tau tapi sekarang. Hanum sama sekali tak mengenal lagi seperti apa suaminya sekarang.
"Maaf Ma, Hanum juga tidak tau kemana Mas Ilham pergi." ucap Hanum sendu.
"Kamu lagi bertengkar dengan Ilham Num?"
__ADS_1
Hanum menganggukan kepalanya, "Tapi ini sudah berlalu Ma, kami sekarang baik-baik saja." ucap Hanum menenangkan mertuanya.
"Kalau kalian baik-baik saja tidak mungkin Ilham pergi tidak memberimu kabar Num! apa lagi ini sudah tiga hari." geram Bu Suryo.
"Ini pasti gara-gara ular betina itu," lanjutnya.
"Astaghfirullah Ma, gak baik berburuk sangka sama orang lain dan ular yang Mama maksud siapa?"
"Kamu ini terlalu polos Num!" gemas Bu Suryo. "Siapa lagi ular yang ada disini kalau bukan si Amel itu."
"Mama gak boleh begitu, Amel juga istri Mas Ilham Ma! mereka menikah sah secara agama."
"Tapi Num, menikah dengan orang yang sudah mempunyai istri apakah itu bagus, sebutan apa yang pantas untuk perempuan seperti itu?" ucap Bu Suryo menggebu.
"Hanum ikhlas Ma, Hanum baik-baik saja selama Mas Ilham bahagia." ucap Hanum sendu.
Mendengar ucapan Hanum, tak terasa air mata Bu Suryo menetes, "Kamu menantu yang baik, bukan menantu tapi anak Mama yang paling baik, Mama sangat menyayangi kamu Num melebihi sayang Mama sama anak kandung Mama sendiri." ucap Bu Suryo sambil terisak-isak menahan tangis.
"Hanum juga sayang sama Mama." ucap Hanum seraya memeluk ibu mertuanya.
***
Di tempat lain, dua orang yang masih bergelut di atas ranjang baru saja menyelesaikan pertempuran panasnya.
Keduanya sama-sama menarik nafas, lelah yang mereka rasakan tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan, kenikmatan yang bahkan di lakukan berkali-kali pun tak akan sebanding.
"Kita liburan sudah tiga hari lho Mas, kita masih mau disini atau lanjut jalan-jalan lagi?" ucap Amel manja.
"Mas?" panggil Amel manja.
Ilham menatap wajah Amel, yang masih dipenuhi peluh akibat permainan panas mereka tadi.
"Kamu mau nya gimana?" tanya Ilham seraya menyelipkan anak rambut yang menutupi mata istrinya itu.
"Aku sih maunya jalan-jalan lagi, belum puas rasanya. Selama liburan ini Mas sibuk mengurungku di dalam kamar." rajuk Amel.
Ilham yang melihat Amel merajuk, seketika memberikan sedikit ******* di bibir wanita itu.
"Oke kita jalan-jalan."
Amel yang mendengar ucapan Ilham sontak berteriak kegirangan, "Bener ya Mas?" tanyanya sambil memeluk Ilham erat.
Tanpa Amel sadari, selimut yang membungkus tubuhnya kembali jatuh dan kesempatan itu tidak di sia-sia kan oleh Ilham, permainan panas itu kembali mereka ulangi.
Satu jam telah berlalu, saat Ilham selesai membersihkan dirinya dari peluh yang memenuhi seluruh tubuh, dan aroma sabun itu menguar, memanjakan setiap orang yang mencium harumnya.
Ilham masih menunggu Amel yang masih membersihkan dirinya, dan saat mengaktifkan ponselnya Ilham melihat banyak panggilan, juga pesan yang masuk dalam ponsel miliknya.
Ya Ilham sengaja mematikan daya ponselnya karena ia ingin liburannya kali ini tidak ada yang mengganggu, selain untuk menenangkan diri dari amarah yang kadang masih muncul saat mengingat pertengkarannya bersama dengan Hanum.
__ADS_1
Ia juga ingin tau apakah Hanum masih merindukannya, seandainya dirinya tak memberi kabar.
***
Tiga hari yang lalu saat ia selesai bergulat dengan Amel, dengan posisi Amel yang masih memeluk tubuhnya.
"Mas kita kan belum pergi bulan madu setelah kita menikah?" ucap Amel sembari memainkan jari nya di dada Ilham.
Ilham yang mendapat perlakuan seperti itu sedikit merasakan geli, "Hmm, jadi kamu mau bulan madu?"
"Iya, Mas aku juga pengen seperti istri-istri yang lain, merasakan bulan madu bersama suaminya!"
"Ya sudah kamu mau kemana?"
"Ke Bandung saja ya, tempatnya gak jauh kok yang penting bisa sama kamu?"
"Ok, besok kamu bersiaplah kita akan pergi." ucap Ilham menginterupsi.
"Tapi gimana sama kantor Mas?"
"Papa masih di luar kota, gak masalah kalau kita pergi selama beberapa hari, nanti aku akan meminta ijin ke kantor."
"Baiklah Mas, aku mencintaimu." ucap Amel seraya memberikan ciuman di pipi Ilham.
"Hmm." Ilham hanya menjawab dengan gumaman.
***
Ilham terkejut, saat ia mulai mengaktifkan ponsel banyak telpon dan juga pesan dari Papa dan Mama nya terlebih telepon yang datang dari kantor. Tapi sebanyak panggilan dan pesan itu, tak satupun yang datang dari Hanum istrinya.
"Apa kamu masih marah sama Mas, sayang?" tanya Ilham dalam hati.
Walaupun Ilham bersenang-senang dengan Amel tak sekalipun ia tak mengingat Hanum, bahkan apapun yang Ilham lakukan hanya Hanum yang ada di dalam pikirannya.
"Mas, kok ngelamun kenapa?" tanya Amel.
"Hmm, nggak ini Mas baru dapat pesan dari Papa, sepertinya liburan kita sudah harus selesai. Karena Papa memintaku untuk datang sekarang."
"Ap … paa kok bisa sih Mas? bukan nya kamu bilang papa masih di luar kota, kok sudah ada di kantor?" tanya Amel tak percaya.
"Mas juga tidak tahu, sebaiknya kita beresin semua baju lalu kita pulang."
"Terus jalan-jalan nya gimana? Aku kan belum belanja Mas." ucap Amel geram.
"Nanti kamu belanja saja di jakarta ya, Mas kasih uang nya oke? jangan marah lagi ya?" bujuk Ilham sambil mencium kening Amel.
Walaupun masih kesal karena rencana nya untuk jalan-jalan dan berbelanja gagal, tapi mau tidak mau Amel tetap menurut dengan Ilham, mengesampingkan ego demi merebut hati Ilham sepenuhnya.
Dan dengan langkah gontai, Amel mengikuti langkah Ilham untuk pulang kembali ke Jakarta.
__ADS_1
***