
Ilham masih terpaku, hingga suara lantang yang tiba-tiba terdengar membuyarkan lamunannya.
"Kamu itu masih anak kecil gak perlu ikut campur urusan orang dewasa!"
"Dewasa seperti apa yang Anda maksud?" tanya Ardi.
"Ini urusan mantan istri dengan suamiku seharusnya kamu sebagai adik tahu diri dan cepat menyingkir agar urusan ini cepat selesai." ucap Amel sarkas.
"Sebelum menjadi mantan istri suami anda, dia terlebih dahulu lahir menjadi kakakku. Lantas siapa anda berani sekali mengatakan itu?" tanya Ardi dengan sarkas.
"Memang ya, anak kalau gak berpendidikan ucapan nya selalu saja sembarangan." maki Amel.
"Lalu bedanya dengan anda apa? Saya memang dari keluarga yang tidak mampu, tapi pendidikan yang saya dapat sudah lebih dari cukup untuk membedakan mana yang baik dan benar, mana yang boleh dan yang tidak boleh. Sedangkan anda yang mengaku berpendidikan, nyatanya tak lebih dari seorang pencuri, pendidikan mana yang mengajarkan untuk mencuri yang bukan miliknya. Merampas yang bukan miliknya, hingga sang pemilik sah yang harus mengalah."
"Kamu … !" ucap Amel geram.
Hanum yang melihat Ardi terbawa emosi, seketika memegang tangan nya, ia menggeleng. "Cukup, hem?"
Ardi yang ingin berbicara pun seketika menutup mulutnya, Ilham pun tak tinggal diam dia menarik Amel untuk menjauh. "Cukup kamu tunggu aku di mobil!" gertak Ilham.
"Kok aku, terus kamu mau ngapain! mau rujuk lagi sama hanum?"
"Demi Tuhan …! hentikan pikiran buruk mu itu. Aku baru saja menjatuhkan talak untuk nya dari sisi mana kamu lihat aku ingin rujuk kembali padanya? aku hanya ingin memberikan barang yang kebetulan ketinggalan dirumah." ucap Ilham frustasi.
"Baiklah dan jangan lama-lama aku menunggu!" ucap Amel mewanti-wanti.
Ilham bergegas kembali menemui Hanum, sebelum mantan istrinya itu pulang dan tak akan pernah bisa ia temui lagi.
Ardi kembali mengajak Hanum berjalan, tapi sakit kepala yang datang kembali secara tiba-tiba membuatnya limbung seketika. Ardi yang tak siap menerima tubuh sang kakak ikut jatuh walaupun tidak benar-benar jatuh, karena tangannya yang sigap menyangga tubuhnya dan tubuh sang kakak.
Ilham yang melihat Hanum pingsan sedikit berlari menghampiri, begitupun juga dengan kedua orang tua Ilham, yang tak sengaja melihat kejadian tersebut.
"Hanum kenapa Ar?" tanya Ilham panik.
"Entah Mas, aku juga gak tau tiba-tiba saja mbak hanum jatuh pingsan!" jawab Ardi yang tak kalah panik dari Ilham.
Pak Suryo yang melihat hanum pingsan, segera menyuruh Ilham membawa hanum ke rumah sakit menggunakan mobilnya.
Ilham bergegas mengangkat hanum tapi Ardi lebih dulu bersuara, "Biar aku saja Mas, aku kuat?" ucap Ardi, mengambil alih tubuh kakaknya.
__ADS_1
Ilham pun melepas tangannya dari tubuh hanum dan Ardi bergegas membawa Hanum naik ke mobil Pak Suryo.
"Hanum kenapa Pa?" tanya Bu Suryo.
"Entah Ma, lebih baik kita bawa kerumah sakit sekarang takut terjadi apa-apa?" ucap Pak Suryo sambil mengemudikan kendaraan beroda empat nya, meninggalkan parkiran gedung pengadilan.
Ilham tergesa-gesa masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya dengan terburu-buru, hingga suara Amel yang bertanya membuat Ilham kembali tersadar dari rasa cemas yang menyelimuti hatinya.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Amel.
Ilham terkejut ia lupa bahwa istri keduanya juga ada disampingnya. "Aku antar kamu pulang dulu ya, setelah itu aku mau ke kantor sebentar!" ucap Ilham berbohong.
"Lho bukannya kamu ngambil cuti hari ini?"
"Hm, tapi aku lupa ada berkas yang belum di tanda tangani dan aku baru saja ditelpon untuk itu!"
"Oh, ya sudah kalau begitu." ucap Amel tanpa curiga.
Ilham menghembuskan napas lega, setidaknya dirinya berbohong untuk kebaikan, ia tak mungkin membawa Amel untuk bertemu Hanum yang sekarang ada di rumah sakit.
Setengah jam kemudian, mobil yang di kendarai Ilham sampai di pekarangan rumah Amel. "Sudah sampai kamu gapapa kan di rumah dulu, nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang."
"Iya, ya sudah aku pergi ya?" pamit Ilham. Setelah berpamitan Ilham menelpon kedua orang tuanya menanyakan dimana Hanum di bawa.
Setelah mendapat jawaban dari mamanya, Ilham bergegas menuju kesana dengan perasaan cemas yang luar biasa.
Sesampainya dirumah sakit Ilham berlari mencari kamar di mana hanum di rawat. Ilham melihat kedua orang tua dan adik ipar nya berdiri di depan kamar rawat, menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan mantan istrinya.
"Bagaimana keadaan hanum Ma?" tanya Ilham cemas.
Bu Suryo menggeleng, "Dokter nya belum keluar Ham, jadi Mama belum tahu!" ucap Bu Suryo.
Tapi tak lama menunggu, dokter keluar bersama dengan perawat dan bertanya, "Keluarga pasien siapa?"
Ardi berjalan dan menjawab, "Saya adiknya dok, gimana keadaan kakak saya?" tanya Ardi khawatir.
"Pasien baik-baik saja, hanya sedikit stres jadi mempengaruhi daya tahan tubuhnya! ditambah kehamilan yang masih muda, menyebabkan badannya cepat lelah dan itu yang membuatnya pingsan."
Ilham dan semua yang mendengar kabar kehamilan hanum, bagai disambar petir di siang bolong. Bahkan Ilham pun tak sanggup untuk berkata-kata, lidahnya kelu! kenapa disaat semuanya berakhir ada kehidupan baru yang hadir di tengah polemik kehidupannya.
__ADS_1
Ilham tidak tahu harus bersikap bagaimana, kebahagiaan yang selama lima tahun ditunggu! akhirnya datang juga dan sayangnya ia datang disaat yang sangat tidak tepat.
Saat bahtera rumah tangga nya kandas, ia datang sebagai penawar di tengah kegersangan. Ilham menangis menyesali keputusannya yang menceraikan hanum, keputusannya yang menikah lagi dan sekarang membuatnya kehilangan harta yang paling dia dambakan selama lima tahun pernikahan nya.
Bu Suryo memeluk Ilham, dirinya juga merasa bersalah saat meminta Ilham untuk melepaskan Hanum. Seandainya ia tahu kalau Hanum akan memberikan cucu yang selama ini diharapkan. Tak mungkin ia rela kalau Hanum yang harus di lepas, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kini Ilham hidup dengan penyesalan yang luar biasa! cintanya, istrinya dan kini anaknya satu-persatu di renggut dari hidupnya karena kekhilafan nya.
Ilham terisak lirih, hancur sudah hidupnya sekarang. Apakah ini karma untuknya? karena telah membuat wanita yang begitu sholeha menderita hidup bersamanya. Sampai-sampai Tuhan pun tak memberikan yang selama ini ia harapkan, hingga perpisahan itu datang dan hal luar biasa pun turut andil masuk kedalamnya, bersama dengan perpisahannya dengan sang istri.
Saat tengah menyesali nasib nya, Bu Surti datang tergopoh-gopoh menanyakan keadaan putri semata wayangnya. "Mbak mu dimana Ardi?" tanya Bu Surti panik.
"Ada di dalam Bu, mbak gapapa hanya sedikit kelelahan saja." jawab Ardi.
"Alhamdulillah!" ucap Bu Surti lega.
Setelah mendapat telpon dari Ardi yang memberitahu bahwa sang kakak pingsan, Bu Surti merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, rasa takut tiba-tiba menyusup di dalam hatinya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati, Apakah anaknya tertekan dan tidak bisa menerima kenyataan hingga membuatnya pingsan, atau hal lain yang membebani hatinya? hingga bukan kabar baik yang ia terima, tapi malah kabar Hanum pingsan yang Bu Surti dengar dari anak lelakinya itu.
Bu Surti menatap sekitar, saat menyadari ada sang mantan menantu yang tengah terisak di sudut ruangan.
"Apa yang terjadi Ar? tanya Bu Surti setelah melihat Ilham menangis.
Ardi menggeleng, "Nanti Ibu juga akan tahu!" ucap Ardi.
Bu Suryo yang melihat mantan besan nya bingung, segera menghampiri. "Besan!" panggil Bu Suryo.
"Eh, Bu maaf saya tidak sadar kalau ada Ibu juga disini!" ucap Bu Surti.
"Gapapa, kita berada disini karena hanum. Bu saya ingin minta maaf?"
"Maaf untuk apa?" tanya Bu Surti.
"Maaf telah membuat anak perempuanmu satu-satunya harus menderita saat menikah dengan anakku!"
Bu Surti mengangguk, "Itu sudah menjadi jalan hidup hanum Bu, saya tidak menyalahkan siapapun. Mungkin takdir jodoh hanum dengan ilham, memang cukup sampai disini saja." ucap Bu Surti bijak.
"Terima kasih untuk tidak menghakimi kami, sebagai orang tua yang telah lalai mendidik anak, sehingga dia mampu untuk menyakiti wanita sebaik hanum."
"Tidak apa-apa Bu, lupakan saja. Hanum juga sudah bahagia dengan hidupnya sekarang."
Bu Suryo mengangguk, dia sangat bersyukur punya mantan besan yang sangat bijak seperti ini. Mungkin jika besan nya itu orang lain, mereka pasti akan memakai dirinya yang tidak becus mendidik anak. Sehingga sang anak mampu untuk menyakiti hati dan perasaan orang lain.
__ADS_1
***