Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Pilihan.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Reyhan tumbuh menjadi anak yang sangat lucu dan membuat siapapun yang melihatnya, merasa langsung jatuh cinta dengan semua tingkahnya. Tak hanya Sakha tapi ilham pun sama, sehari tak melihat bayi kecil itu, rasa rindu selalu melesak ke dalam hatinya.


Seperti pagi ini, ilham sengaja datang pagi-pagi sekali hanya untuk melihat bayi itu, ilham tak berani mendekat. Bahkan sampai saat ini, dirinya masih sanggup melihat anaknya itu dari kejauhan. Hanum tak sekalipun melarang saat dirinya ingin berjumpa dengan anak lelakinya itu. Tapi rasa bersalah yang terus membayang, membuatnya ragu walau untuk sekedar menyapa.


Bu Surti yang melihat ilham dari kejauhan sedikit merasa iba, bahkan untuk melihat anaknya sendiri saja harus kucing-kucingan seperti itu.


"Num?" panggil sang Ibu.


"Ya, ada apa Bu?"


"Apa kamu gak kasihan sama ilham?"


"Kasihan kenapa Bu?" Hanum sedikit bingung saat mendapatkan pertanyaan itu dari sang Ibu, yang pasalnya tak pernah sekalipun membicarakan mantan suaminya itu.


"Lihatlah!" Tunjuk Bu Surti dengan dagunya.


Hanum melihat arah yang ditunjuk sang Ibu, Hanum melihat dari kejauhan dan melihat ilham yang tengah memperhatikan mereka.


"Mungkin dia rindu sama anaknya?"


"Lalu Hanum harus bagaimana Bu? Hanum tak pernah sekalipun melarangnya untuk datang kalau ingin bertemu dengan reyhan."


"Bicaralah sekali-kali dengannya, gak enak juga kalau sampai dilihat orang?"


"Bukankah Hanum sudah pernah bilang dulu sama Ibu, kalau Hanum tak ingin punya ikatan lagi dengan mas ilham, walaupun untuk alasan anak!" ucapan tegas Hanum tak bisa lagi di bantah lagi oleh Ibunya, tapi melihat ilham yang seperti itu sedikit mengusik hati kecilnya.


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, tapi Ibu harap hatimu sedikit melunak Nak. Walaupun Ibu tak menginginkan kalian untuk bersama, tapi pikirkan lagi anakmu nantinya?"


Hanum mendesahkan nafasnya berat, bukan niat Hanum untuk bersikap kejam. Tapi dirinya pun sudah tidak mempunyai pilihan lagi. Jalan ini lebih baik daripada nanti harus terluka untuk yang kesekian kalinya.


***

__ADS_1


Ilham kembali setelah puas melihat anaknya, walaupun dari kejauhan tapi itu sedikit mengobati rasanya rindunya. Selain melihat foto yang selalu ibunya kirimkan, setidaknya sedikit melihat bagaimana keadaan putra semata wayangnya itu, bisa memberikan kepuasan tersendiri untuknya.


Ilham sampai di kantor saat hari mulai siang. Setelah memeriksakan keadaan amel dan dokter bisa menjamin kesembuhannya walaupun cuma sedikit. Ilham bisa bernapas lega, setidaknya dirinya tak selalu berada didalam rumah. Dengan alasan pergi ke kantor, Ilham juga bisa sedikit mengobati rindu untuk bertemu dengan buah hatinya walaupun hanya dari kejauhan.


Tok … tok … tok.


Suara ketukan pintu terdengar, saat Ilham baru saja mendudukan diri di kursi yang biasa ia gunakan.


"Masuk?"


"Pagi Pak, saya kesini untuk menyampaikan pesan kalau Bapak sudah di tunggu di ruangan pak suryo sekarang?" lapor Adit yang kini menjadi sekretaris nya setelah amel berhenti bekerja.


"Ada apa Dit?" tanya Ilham.


"Kalau itu saya kurang tahu Pak?"


"Ya sudah kamu keluar dulu saja, lima menit lagi saya kesana!"


"Baik, Pak!" Adit pun keluar, setelah menyampaikan pesan dari direktur utama pemilik utama perusahaan tempatnya bekerja.


Ilham membenahi jas yang tengah dipakainya, sebelum ia datang menemui sang ayah. Semoga pembicaraan kali ini tak akan menyulut amarah satu sama lainnya.


"Pagi Pa?" ucap Ilham saat dirinya masuk kedalam ruang kerja orang tuanya.


"Pagi Ham, apa kabarmu?" Pak Suryo sedikit berbasa-basi sebelum perbincangan yang mungkin akan berakhir sama dengan yang terakhir kalinya.


"Aku baik ada apa Pa?"


"Duduklah dulu?" pinta Pak Suryo.


Ilham pun menuruti permintaan ayahnya, dia duduk sambil menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya tersebut.


"Bagaimana kabar anakmu, sudahkah kamu bertemu dengannya?"

__ADS_1


Ilham menggeleng, "Untuk bertemu belum Pa, tapi kalau melihat dari kejauhan! Ilham sering melakukan nya!"


"Kenapa?"


"Ilham belum sanggup untuk lebih dekat dengannya. Ilham takut setelah dekat nanti, Ilham tak akan sanggup jika harus tak melihatnya!"


"Tapi kamu kan ayahnya dan Hanum pun tak mempermasalahkan jika kamu ingin bertemu dengan anakmu?"


"Ilham tahu Pa, karena itu Ilham tak sanggup untuk lebih dekat dengannya. Mengingat Ilham dulu sering menyakiti hati ibunya!"


Hhh, Pak Suryo menarik nafas lelah. "Lalu bagaimana dengan ucapan Papa yang kemarin?"


"Pa, Ilham mohon untuk kali ini saja biar Ilham berjalan dengan pilihan Ilham sendiri!"


Pak Suryo menggebrak meja kerjanya marah. "Pilihan yang seperti apa, pilihan yang akan membuat kamu menderita selamanya itu maksudmu? Cukup pilihanmu dulu yang menikah lagi demi anak, sampai menyakiti istri sebaik Hanum. Dan pilihanmu juga yang kini membuatmu menyesal, karena kehilangan anak dan juga istri yang baik!"


"Itu kesalahan Ilham Pa, karena itu Ilham tak akan mengulangi untuk yang kedua kalinya."


"Apa yang kau harapkan dari istrimu yang sekarang, selain rasa lelah karena mengurusi istri yang mulai hilang kewarasan?" tanya Pak Suryo sarkas.


"Pa …?" Protes Ilham tak percaya mendengar ucapan orang tuanya ini.


"Dengan apa lagi Papa harus menyakinkan mu Ham, setidaknya pandanglah ibu yang telah melahirkanmu. Seandainya kamu tak bisa rujuk dengan Hanum, setidaknya carilah wanita lain yang akan meneruskan garis keturunan kita. Setidaknya yang akan menjaga dan merawatmu saat tua nanti! Papa sama mama sudah mulai tua, tak akan sanggup jika harus terus menunggu." Pak Suryo sedikit merendahkan suaranya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul, saat mengingat nasib anak lelaki semata wayangnya ini.


Melihat orang tuanya mulai putus asa, Ilham sedikit mengalah untuk membuat kedua orang tuanya tenang dan tak menyinggung untuk mencari istri lagi.


"Ilham akan pikirkan kembali Pa, tapi Ilham juga tak bisa berjanji. Karena saat ini amel pun tengah menjalani terapi untuk kesembuhannya dan jika amel bisa sembuh Ilham pun ragu jika harus menikah lagi! Anggap saja apa yang sekarang Ilham jalani, sebagai buah dari kesalahan yang pernah Ilham lakukan dulu. Anggap saja semua ini karma untukku Pa" putusnya lelah.


Pak Suryo mulai lelah menasehati anak satu-satunya ini, "Terserah apa maumu tapi sekali lagi tolong pikirkan kami yang sudah mulai tua ini." desahnya lelah.


Ilham tak bergeming, jauh didalam lubuk hatinya ia juga ingin bahagia bersama dengan anak-anaknya nanti. Tapi kesalahan masa lalunya membuatnya berpikir lagi jika harus memulai sesuatu yang baru.


Ilham tak ingin mengabaikan istri yang kini membutuhkan dukungannya, setidaknya itu yang bisa Ilham lakukan. Dengan bertahan walaupun menyakitkan dan sebagai bentuk penebusan semua kesalahannya.

__ADS_1


***


__ADS_2