Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Cinta Lama Bersemi Kembali


__ADS_3

Ilham mulai mengumpulkan kesadarannya, kepalanya masih berdenyut dan terasa sakit disebabkan benturan saat kecelakaan itu. Tapi untungnya saat terjadi kecelakaan Ilham masih menggunakan sabuk pengaman jadi benturan yang ia dapatkan tidak terlalu parah.


Saat kesadarannya mulai terkumpul, Ilham terkejut melihat Amel yang banyak mengeluarkan darah, tidak hanya dari kepala tapi juga dari kedua kakinya.


Ilham seketika panik dan langsung keluar dari mobilnya, Ilham berteriak meminta pertolongan. Banyak orang disekitar yang menyaksikan kecelakaan itu lalu berkumpul untuk memberikan pertolongan.


"Tolong Pak, istri saya ada di dalam!" ucap Ilham kepada salah satu warga yang ada disitu.


Seorang warga yang tidak diketahui namanya pun, segera membantu dengan menelpon rumah sakit terdekat untuk segera mengirimkan ambulans.


Tak lama menunggu, ambulan dari rumah sakit pun datang, Ilham menangis saat melihat tubuh istri keduanya itu, mulai berlumuran darah. "Maafkan aku!" ucap Ilham. Saat tubuh Amel diambil alih untuk dibawa kerumah sakit.


Ilham pun ikut dibawa ke rumah sakit untuk mengobati luka yang ada di kepalanya.


Rumah Sakit Citra Harapan seketika ramai, saat mobil ambulan yang membawa Amel dan Ilham masuk. Amel didorong langsung ke ruang UGD rumah sakit dan Ilham langsung ditangani oleh dokter tak jauh dari ruang dimana Amel berada.


"Ada luka lain Pak selain di kepala?" tanya suster.


"Tidak Sus, hanya sedikit nyeri saja di seluruh badan!" jawab Ilham. "Bagaimana dengan istri saya Sus?"


"Istri Bapak sedang ditangani di ruang ugd, berdoa saja Pak semoga ibu dan bayi nya selamat!"


Ilham menunduk kilas balik pertengkaran nya dengan Amel kembali muncul hingga kecelakaan itu terjadi. Ilham sungguh menyesali semuanya, seharusnya ia berhenti saat Amel memintanya. Tapi rasa marah yang ada didalam hatinya seakan memintanya untuk mengabaikan semuanya.


Tanpa terasa air mata itu luruh dengan sendirinya, saat Ilham benar-benar menyesali keadaannya. Kedua orang tua Ilham datang dengan tergesa-gesa dengan banyak kekhawatiran yang jelas terlihat. "Ilham?" panggil Bu Suryo.


Ilham menengok saat mendengar suara Ibu nya. "Mama!" panggil Ilham.


"Kamu baik-baik saja, Nak? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Bu Suryo panik.


"Ilham juga gak tau Ma, semuanya terjadi begitu cepat!" ucap Ilham yang mulai tergugu.


"Amel bagaimana?" tanya Pak Suryo.


"Ilham gak tahu Pah, dokter belum keluar dari sana?" tunjuk Ilham.


Tak lama menunggu dokter pun keluar dan menghampiri Ilham dan keluarganya.


"Suami korban ada?" tanya dokter.

__ADS_1


"Saya suaminya Dok?" jawab Ilham.


"Begini Pak keadaan pasien sangat kritis, dan anak yang dikandungannya harus segera dioperasi! Tapi mengingat kandungannya masih terlalu muda, saya takut terjadi kelahiran prematur. Karena usianya yang belum cukup?" ucap dokter memberi penjelasan.


"Lalu saya harus bagaimana Dok?" tanya Ilham pasrah.


"Berdoa saja dan pilih salah satu Pak, antara si Ibu atau anaknya? Karena resiko untuk hidup keduanya sangat tipis!"


Ilham jatuh tersungkur, "Kenapa jadi begini!" ucap Ilham sesenggukan.


"Bapak harus menandatangani berkas untuk operasi nya dulu, sebelum kami mengambil tindakan?"


"Biar saya saja Dok!" ucap Pak Suryo saat melihat Ilham lemas.


"Boleh Pak, silahkan kami akan menyiapkan ruang operasinya!"


Sebelum dokter pergi Ilham sempat menarik jas yang dipakai sang dokter. "Saya minta tolong, kalau bisa tolong selamatkan keduanya Dok, saya mohon!" ucap Ilham memelas.


"InsyaAllah saya usahakan Pak! Tapi kembali lagi berdoa, semoga dua-duanya selamat." ucap sang dokter.


"Terima kasih, eng!"


"Panggil saja Ramli!"


Dokter Ramli pun tersenyum dan langsung masuk kembali ke ruang operasi untuk melakukan tindakan.


"Kamu yang sabar, Ham!" ucap Bu Suryo sambil mengelus punggung anaknya itu.


Ilham terisak di pangkuan Ibu nya, "Ilham takut Ma!"


"Berdoa Nak semoga anak dan istrimu selamat!"


Ilham mengangguk, berat yang ia rasakan saat cobaan itu datang berurutan menghampirinya.


Tak lama Pak Suryo kembali menghampiri anak dan istrinya yang sedang menunggu menantunya di operasi. "Bagaimana Pah?" tanya Bu Suryo saat melihat suaminya datang.


"Sudah Papa urus ma, kita tunggu saja proses operasinya semoga Amel dan bayinya baik-baik saja!" ucap Pak Suryo menenangkan.


Pak Suryo menatap Ilham yang kini sedang bersandar di pangkuan sang Ibu, "Kamu sebaiknya juga dirawat Ham! Papa takut ada luka lain, selain yang ada di kepalamu?"

__ADS_1


Ilham menggeleng, "Tidak Pa, aku baik-baik saja!"


"Tapi setidaknya kamu mendapatkan perawatan juga, badanmu kelihatan lemas!"


Ilham masih menggeleng, "Aku disini saja Pa, sampai operasinya selesai!"


Pak Suryo ingin bersuara lagi, tapi melihat sang istri yang menggelengkan kepala. Terpaksa niatnya ia hentikan. Akhirnya mereka sama-sama duduk di depan ruang operasi sambil menunggu Amel.


***


"Jadi gimana tentang kerja sama kita Han?" tanya Sakha yang kembali memecah keheningan.


"Bukankah sudah di tanda tangani Bang! Semoga nanti abang gak kecewa ya sama Hanum!"


"Sepertinya nggak! Karena Abang saja langsung suka pas pertama kali mencicipi masakanmu!" ucap Sakha sambil tersenyum. "Tapi sayang, pas Abang mau kesini untuk langsung bertemu dengan pemiliknya. Kantor cabang Abang yang ada di luar kota ada sedikit masalah, jadi Abang baru bisa kesini sekarang!"


"Iya Bang, mas doni sudah menjelaskan waktu itu! Tapi gapapa kok Bang sama saja!"


"Hmm, Han …!" Sakha sedikit menjeda kalimatnya, ada rasa canggung saat ia ingin bertanya tentang apa yang barusan terjadi. Tapi rasa penasaran yang sudah berkumpul di dalam hatinya sedikit susah untuk diabaikan.


"Kenapa Bang?" tanya Hanum yang sedikit melihat keraguan dalam ucapan Sakha.


"Apa Abang boleh bertanya satu hal?"


"Abang ingin bertanya apa?"


"Apa benar yang tadi Abang dengar, kalau kamu dan maaf, suami kamu sudah bercerai?" tanya Sakha ragu-ragu.


"Abang sudah dengar banyak ya?" bukan nya menjawab pertanyaan Sakha tapi Hanum malah kembali bertanya, tentang apa yang di dengar Sakha.


Sakha mengangguk, "Hmm, tapi Abang gak ada maksud untuk menguping. Hanya saja saat Abang sampai, Abang melihat kamu dan wanita itu bertengkar!"


Hanum mengangguk, "Iya Bang, sudah lama Hanum bercerai!" jawab Hanum sambil menunduk.


"Maafkan Abang ya Han, kalau pertanyaan Abang malah menyakiti kamu!" ucap Sakha penuh penyesalan.


"Hanum gapapa Bang, itu sudah menjadi masa lalu untuk Hanum jadi lupakan saja ya?" pinta Hanum sendu.


"Hmm." Sakha sedikit menyunggingkan senyum. Perasaannya tiba-tiba menghangat, mengetahui kalau Hanum sudah berpisah dengan suaminya. Sakha bukan bahagia karena Hanum menderita, tapi Sakha bahagia karena kini ia punya alasan untuk kembali memperjuangkan perasaannya yang sempat ia kubur dulu.

__ADS_1


Tak ada lagi alasan untuk Sakha menyerah, setelah ia susah payah mematikan hatinya dulu. Kini Sakha akan berjuang kembali, demi merebut hati wanita yang telah lama bersemayam di dalam hatinya itu.


****


__ADS_2