Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Drama 1


__ADS_3

Ilham memutuskan untuk pulang lebih awal, setelah semua pekerjaannya selesai. Ia tak sabar ingin memberitahu Hanum, tentang kehamilan amel. Sekaligus mengambil keputusan untuk hidup mereka kedepan nya.


Ilham hanya berharap kalau Hanum bisa mengerti dan menyetujui, seandainya dirinya menikahi amel secara sah secara negara bukan cuma agama.


Ilham mengambil kunci mobil dan bergegas pulang setelah semua pekerjaan nya selesai. Berjalan bukan tapi tepat nya berlari. Ilham sedikit berlari untuk sampai ketempat dimana mobilnya terparkir.


Setelah mengatur nafas, Ilham melajukan mobilnya keluar area parkir. Membelah jalanan Ibu Kota yang mulai padat di saat jam pulang kantor.


Tiga puluh menit dilewati Ilham dengan perasaan tak menentu antara takut dan bimbang. Ia takut jika Hanum menolak permintaannya tapi ia juga bimbang jika harus melepaskan salah satu nya.


Pikiran itu terus berkecamuk dalam benak nya, hingga tak terasa kendaraan beroda empat itu telah membawanya pulang sampai dirumah.


Sesampainya di rumah, masih dengan perasaan yang sulit digambarkan. Ilham melangkah masuk kedalam dan matanya langsung bersitatap dengan mata cantik istrinya.


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikum salam!" jawab Hanum yang melihat suaminya berdiri di antara pintu rumah."


"Lho, Mas kok sudah pulang?"


"Hm, pekerjaan selesai lebih cepat jadi aku bisa pulang lebih awal!"


"Kalau begitu, Mas istirahat saja dulu! sebentar lagi Hanum siapkan makan!" ucap Hanum sembari melangkahkan kaki menuju dapur.


"Tunggu dulu Dek!" panggil Ilham.


Hanum berbalik menatap Ilham bingung, "Kenapa Mas?"


"Ada yang ingin ku bicarakan sama kamu!" jawab Ilham sambil menahan debar dalam dadanya.


Alis Hanum bertaut, hatinya bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan suaminya itu. Hingga raut tak sabar jelas tercetak di wajahnya.


"Baiklah kita bicara, tapi alangkah baiknya kalau Mas Ilham membersihkan diri dulu habis itu makan dan setelah itu kita bicara karena ada yang Hanum ingin katakan sama Mas juga." ucap Hanum sambil berlalu melanjutkan pekerjaan nya.


Ilham meneguk kasar saliva nya, hatinya semakin tak menentu. Tiba-tiba ada perasaan takut yang masuk dan menggoyahkan niat nya.


Ilham kembali masuk kedalam kamar dan duduk disisi tempat tidurnya, pikiran nya jauh menerawang seandainya nanti tidak ada pilihan lagi, apa yang akan dia pilih. Pertanyaan itu terus berputar-putar di pikiran nya seperti kaset yang rusak.


***


"Jadi apa yang kamu inginkan Rio?" tanya Amel frustasi.


"Gak ada."

__ADS_1


"Lalu kalau gak ada kenapa kamu selalu menggangguku?"


Rio tersenyum licik, "Menikmati wajah panik mu itu, sekarang menjadi hobi baruku!" ucap Rio sambil tertawa.


"Kamu gila!" umpat Amel.


"Aku gila juga karena mu sayang, seandainya dulu kamu gak berkhianat, mungkin sekarang hidupmu bahagia denganku!"


"Itu sudah menjadi masa lalu Rio, kenapa kamu masih belum bisa melupakan nya?"


"Bagaimana aku bisa lupa, jika orang yang pertama aku cinta itu kamu. Yang mampu merubahku dulu juga kamu dan yang juga menghianatiku paling parah itu juga kamu." ucap Rio dengan menahan emosi.


"Berkali-kali pun aku sudah meminta maaf padamu, sekarang pun aku memohon lagi padamu. Tolong maafkan aku!" ucap Amel sambil berlinang air mata.


"Seandainya maaf mu itu mampu merubah segalanya, maka kembalilah padaku?" ucap Rio.


"Itu tidak mungkin Rio, aku sudah punya kehidupan baru dengan orang yang baru!"


"Orang baru yang kau rebut dari wanita lain? apa kelebihannya Ilham yang aku tak punya, kita sama! bahkan aku lebih mencintaimu."


"Maafkan aku! sekali lagi aku minta maaf, aku harap ini menjadi pertemuan terakhir kita dan setelah ini tidak ada pertemuan yang lain lagi. Biarkan aku pergi!" ucap Amel sembari berdiri dan pergi meninggalkan Rio sendirian.


"Semua tak akan semudah itu Amel, ini baru awal dan kamu akan merasakan akhir yang pahit nanti nya." ucap Rio sambil mengepalkan tangan nya.


***


"Dek!" panggil Ilham. "Ada yang ingin Mas bicarakan, ini kabar bahagia untuk kita?"


"Bicaralah Mas aku mendengarkan!"


"A … amel sedang mengandung!!"


Terkejut, Hanum sungguh terkejut saat mendengar madunya sedang mengandung anak dari suaminya.


"Benarkah Mas, Alhamdulillah!" ucap Hanum penuh syukur. "Selamat ya Mas!"


Ilham mengangguk, "Kamu gak marah?" tanya Ilham.


"Kenapa aku harus marah, itu kan impian mu Mas dan akhirnya Allah mengabulkan doa-doa kita!"


"Ya Mas sangat bahagia, akhirnya akan ada yang memanggil Mas dengan sebutan Ayah. Tapi ada yang Mas ingin sampaikan selain kabar bahagia ini Dek!"


"Hm, apa Mas katakan saja?"

__ADS_1


"Amel meminta untuk menikah sah secara negara Dek!" ucap Ilham dengan bergetar.


"Kenapa, apa alasannya?"


"Amel gak ingin anak kita nanti digunjingkan di masyarakat, karena ibu nya hanya istri siri!"


Hanum menatap suaminya dalam, "Anak kita, bahkan anak itu sudah mempunyai gelar di hati suaminya." ucap Hanum dalam hati.


"Lalu mau Mas apa?"


"Aku ingin menikahi amel kembali secara sah, baik agama maupun negara." ucap Ilham mantap.


"Lalu aku?"


Ilham terpaku, saat pertanyaan itu meluncur dari bibir ranum istrinya.


"K-kamu tentu saja masih istriku, istri pertamaku sayang!" ucap Ilham.


"Aku istri pertama dan dia istri kedua, begitu?"


Ilham mengangguk kan kepala nya berat. Suasana menjadi aneh saat pembahasan istri kedua itu dimulai.


"Berapa waktu yang Mas bisa bagi untuk kami nanti, seandainya Amel menjadi istri sah yang kedua?"


"Sama seperti saat ini sayang, kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Ilham heran.


"Sama?" Hanum tersenyum mengejek.


"Untuk saat ini saja dirimu tak bisa adil Mas dengan statusnya yang istri siri dan saat pernikahan kalian di sah kan secara negara, apa jadinya pernikahan kita? kenapa tidak kamu ceraikan aku saja?" ucap Hanum dengan memandang tegas suaminya.


"K-kamu kenapa bisa bicara seperti itu, bahkan waktuku lebih banyak bersamamu daripada bersamanya!" ucap Ilham geram.


"Waktumu banyak bersama ku, karena rasa bersalah mu telah menuduhku berselingkuh, apakah sebelum itu kamu pernah membagi waktumu untukku, bahkan untuk menjemput ku saja kamu selalu lupa jika sudah bersamanya?" ucap Hanum yang meluapkan semua perasaan nya.


Bibir Ilham terkunci saat ingin mengelak dari ucapan Hanum, "Aku harap kamu mengerti Dek?"


"Mengerti!!" sinis Hanum. "Sejak kapan aku tidak mengerti dirimu Mas, bahkan saat kau meminta ijin untuk menikah lagi. Walaupun aku tak mengijinkan kamu tetap menikahinya kan? apa pernah sekali saja dirimu memikirkan sakitnya jadi aku, tidak kan? tidak hanya ragamu, perhatianmu bahkan sekarang pun cintamu sudah terbagi untuknya kan?" tanya Hanum berapi-api.


Ilham tertegun sejak kapan istrinya ini mulai berubah, "Kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Aku hanya lelah Mas, aku tak sanggup mempertahankan apa yang memang sudah tak mampu ku pertahankan lagi. Jika keinginanmu untuk menikah lagi dengan nya secara negara, lebih baik kamu ceraikan saja aku!" ucap Hanum sebelum pergi meninggalkan Ilham sendirian.


Lagi lagi Ilham terpaku, Hanum nya kini telah jauh berubah, bukan lagi wanita lembut yang menurut semua ucapan suami. "Apa aku telah merubahmu begitu banyak hingga sikap mu pun berubah padaku?" tanya Ilham dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2