Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Meminta Kesempatan.


__ADS_3

Pikiran Sakha menerawang jauh saat kilas balik masa lalunya yang kembali hadir, yang sengaja ia ungkit kembali. Saat wanita yang kini tengah duduk di depannya sedikit mempertanyakannya walaupun tidak secara langsung.


"Aku bukan laki-laki yang baik Han, tapi aku selalu berusaha menjadi lebih baik untukmu nanti. Masa lalu ku mungkin buruk buatmu tapi semua itu sudah berlalu!"


Hanum menggelengkan kepalanya, "Itu tidak buruk Bang, dikhianati memang menyakitkan aku pun pernah mengalaminya dan bodohnya aku memilih untuk bertahan tanpa mampu untuk melawan. Berharap kalau semua akan kembali baik-baik saja, walaupun pada akhirnya aku memilih untuk menyerah!"


"Laki-laki dan perempuan memiliki pemikiran yang berbeda saat menghadapi pengkhianatan. Begitu pun dengan Abang, Abang memilih pergi saat mendapati istri Abang berselingkuh itu pun sudah baik Bang. Hanum mengerti perasaan Abang!"


Sakha terharu mendengar ucapan Hanum, wanita yang kini tengah mencuri hatinya ini sangat bijak dan dewasa tak salah kalau Sakha menjatuhkan hati padanya.


"Ehm, jadi gimana Han tentang permintaan Abang yang kemarin sempat Abang katakan?"


Hanum menunduk tersipu saat mengingat kembali pernyataan cinta Sakha beberapa hari lalu. "Boleh Hanum pikirkan lagi gak Bang?"


"Kenapa, kamu belum siap ya?"


Hanum mengangguk, "Hanum masih butuh waktu Bang, tak mudah untukku untuk membuka hati untuk orang yang baru!"


"Baiklah, kalau kamu memang membutuhkan waktu. Aku percaya kalau kamu memang sudah ditakdirkan untukku, Allah pasti selalu punya jalan untukku, mendapatkan hatimu!"


Hanum semakin tersipu mendengar ucapan Sakha, "InsyaAllah ya Bang, semoga saja!" Hanum tidak menampik semua yang diharapkan Sakha tapi Hanum juga belum mampu untuk mengiyakan permintaannya. Bayang-bayang kegagalan itu masih membekas, Hanum hanya sedikit takut jika nanti akan mengalami hal yang sama lagi.


***


Setelah acara selesai, Hanum memilih untuk kembali pulang, bersama dengan keluarganya sebelum ilham sampai di rumahnya lebih dulu.


Hanum pamit kepada orang tua Sakha yang masih duduk menemani tamu sekaligus teman-teman Sakha. "Bu, Hanum pamit pulang dulu ya?"


"Lho kok buru-buru, mana reyhan mama belum puas mengajaknya bermain?" ucap Bu Ani sambil mencari-cari reyhan.


"Reyhan sudah pulang lebih dulu Bu, tadi sempet rewel!" jawab Hanum memberi alasan karena tak mungkin kalau Reyhan pulang bersama dengan ilham.


"Ya sudah tapi kamu pulang diantar Sakha kan?" tanya Bu Ani yang sedikit kecewa karena tak melihat Reyhan.


"Hanum pulang bareng sama Ardi Bu, bang Sakha masih sibuk dengan tamunya!"


"Oh, ya sudah kamu hati-hati ya sayang. Nanti kita ketemu lagi?"


Hanum pun mengangguk dan mencium takzim tangan ibu yang sudah membesarkan Sakha dengan penuh kasih sayang, hingga membuatnya menjadi lelaki yang hebat seperti saat ini.


Hanum berjalan beriringan dengan Ardi, "Reyhan pulang bareng mas ilham Mbak?" ucap Ardi memastikan.

__ADS_1


"Iya, mas ilham ingin membawa reyhan jalan-jalan bersama dengan ibunya?"


"Oh, Mbak gak takut Reyhan dibawa kabur mas ilham?"


"Mas ilham itu ayahnya Ar, Mbak percaya kalau mas ilham tak akan menyakiti reyhan. Tadi mas ilham juga sudah minta ijin sama Mbak kalau mau mengajak reyhan jalan-jalan sebelum dirinya pergi keluar negeri!"


"Trus Mbak percaya?"


Hanum mengangguk samar, "Mbak hanya mencoba memberinya kesempatan terakhir Ar sebelum semuanya terlambat!"


Ardi pun mengangguk dan tak lagi bertanya, kakaknya ini pasti tahu apa yang terbaik untuk dirinya dan anak semata wayangnya. Walaupun tanpa mas ilham pun mereka akan tetap baik-baik saja.


Hanum bersiap membuka pintu mobil, tapi suara Sakha yang memanggilnya membuat Hanum mengurungkan niatnya.


"Han, tunggu?" ucap Sakha sambil terengah-engah.


"Ada apa Bang?" Hanum sedikit heran melihat Sakha yang sedikit kelelahan.


"Kamu pulang aku antar saja ya?"


"Hanum pulang sama Ardi saja Bang, gak enak tamunya masih banyak!" ucap Hanum.


"Padahal Abang pengen nganterin kamu Han?"


Sakha menarik nafasnya panjang, menetralkan deru yang masih tersisa di sela-sela ucapannya.


"Ya sudah tapi nanti kabari ya kalau sudah sampai rumah?"


Hanum mengangguk lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya. "Hati-hati ya Han?" pesan Sakha, sebelum mobil yang dikemudikan Ardi meninggalkan parkiran.


"Mas Sakha baik ya Mbak?" tanya Ardi memecah keheningan yang ada di dalam mobil.


"Hm."


"Kok cuma hm aja Mbak, gak ada komentar lain gitu?" pancing Ardi.


"Komentar apa, bang Sakha memang baikkan?" tanya Hanum balik.


"Ah Mbak gak asyik?" ucap Ardi yang kembali memanyunkan bibirnya.


"Sudah kamu nyetir yang bener jangan mulai bergosip, Mbak ngantuk mau istirahat sebentar aja?" ucap Hanum sambil menyandarkan kepalanya dan menutup matanya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Ardi sudah sampai di pelataran ruko yang menjadi tempat tinggal sekaligus tempatnya mencari rizki. "Mbak kita sudah sampai!" ucap Ardi sambil membangunkan Hanum yang masih terlelap.


Hanum pun terbangun saat mendengar suara Ardi. "Kita sudah sampai ya Ar?" tanya Hanum.


"Iya ayo masuk?"


Hanum mengedarkan pandangannya sesaat setelah turun dari mobil. Tapi dirinya tak melihat ada mobil ilham. "Apa mas ilham belum sampai ya?" monolog Hanum dalam hati.


"Mbak ayo masuk kok malah diem disitu, kesambet lho ntar?" canda Ardi.


Hanum pun bergegas mengikuti Ardi masuk kedalam ruko. Suasana nampak sepi karena untuk hari ini. Hanum sengaja menutup rumah makannya bukan tanpa sebab, walaupun pegawai nya sudah banyak tapi Hanum masih belum sanggup untuk melepasnya sendiri, bukannya tak percaya tapi Hanum lebih menjaga agar saat dirinya pergi pegawai nya tak akan kerepotan dan punya waktu untuk istirahat.


"Assalamualaikum?" ucap Ardi bersamaan dengan Hanum.


"Waalaikumsalam!" jawab Bu Surti dari arah dalam.


Hanum sedikit terkejut melihat Ibunya ada dirumah, setahu Hanum Ibunya ikut pergi bersama dengan ilham. "Lho Ibu gak ikut mas ilham tadi?"


"Iya tapi Ibu mendadak sakit kepala, jadi Ibu minta untuk di antar pulang lebih dulu!"


"Terus Reyhan gimana Bu?" tanya Hanum yang mulai khawatir.


"Nanti habis magrib mereka akan pulang Num, kamu jangan khawatir, lebih baik kamu istirahat dulu?"


Hanum menuruti apa yang diucapkan Ibunya, Hanum lantas pergi kekamar untuk sekedar membersihkan diri dan mengistirahatkan badannya yang mulai lelah, karena acara pembukaan restoran yang benar-benar menyita energinya tersebut.


Selesai membersihkan diri, ponsel yang ada di nakas dekat tempat tidurnya berbunyi. Hanum bergegas mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo Assalamu'alaikum Mas?"


"Waalaikumsalam, Num. Maaf baru ngasih kabar nanti aku bawa pulang Reyhan habis magrib ya? Sekarang kami masih ada di tempat hiburan!"


"Oh, ya sudah tapi Reyhan gak rewel kan Mas?"


"Alhamdulillah nggak nanti ku kirimin fotonya ya, sekarang aku mau nemenin dia main lagi!"


"Oke deh, makasih ya Mas?"


"Oke, aku tutup dulu ya, Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Tak lama setelah telpon terputus, Hanum mendapat pesan berupa foto seperti yang tadi di janjikan ilham. Disitu nampak Reyhan tertawa saat sedang bermain mandi bola bersama dengan ilham. Hanum menatap foto dengan perasaan tak menentu. Seandainya dulu ilham bisa sedikit lebih bersabar mungkin semuanya tak akan jadi seperti ini. Hanum tak sekalipun menyesali perpisahannya, Hanum hanya sedikit menyesali kenapa harus anaknya yang menjadi korban dari keegoisan kedua orang tuanya.


****


__ADS_2