
Ilham memacu kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia tak sabar untuk segera pulang, menemui istri yang sudah tiga hari ia tinggalkan tanpa kabar.
Jarak antara rumah dan kantor, yang biasa nya butuh waktu dua jam untuk sampai, kini hanya memakan waktu satu setengah jam. Dan kini Ilham sudah berdiri, di depan rumah bercat biru yang sudah menjadi rumahnya selama lima tahun terakhir.
Ilham masuk menggunakan kunci cadangan, ia sengaja tidak memberi kabar karena ingin memberi kejutan kepada Hanum.
Saat Ilham masuk, pintu kamar nya tidak tertutup dengan sempurna. Sehingga dia bisa dengan mudah melihat apa yang sedang istrinya itu lakukan.
Untuk sejenak Ilham tertegun melihat istrinya. Wanita soleha dan sebaik itu berkali-kali ia lukai hati dan perasaan nya. Tanpa pernah mau mendengar pembelaannya.
Ilham duduk di sisi ranjang tempat tidur, diam tanpa melakukan apa-apa. Melihat bagaimana istrinya melakukan kewajiban nya.
Hanum terkejut mendapati Ilham duduk dan menatap nya dalam. Mata mereka sekilas bertemu saling memandang dalam diam, mencerna apa yang sudah berubah di antara mereka.
Sampai suara teguran Hanum membuyarkan lamunan Ilham.
"Mas baru pulang?"
"Iya, maaf tidak memberi kabar."
Hanum berdiri dan merapikan alat sholat yang tadi ia gunakan untuk lebih dekat dengan sang Pencipta.
Lalu ia berjalan dan mencium takzim tangan suaminya. "Sudah makan Mas?"
Ilham menggeleng samar dan menjawab, "Belum."
"Mandi lah, akan ku siapkan makanan untuk mu, kamu pasti lapar!" ucap Hanum seraya melangkahkan kaki meninggalkan Ilham yang masih terpaku akan sikap datar istrinya.
Ilham menatap saat punggung cantik istrinya itu mulai hilang dari pandangannya.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba mencubit hatinya, saat ia pulang bukan sapaan manis dan sikap manja istrinya yang ia dapat. Tapi sikap datar yang cenderung lebih dingin yang Ilham rasakan.
Sejahat itukah ia, sampai-sampai wanita yang begitu perhatian, lembut dan manja berubah menjadi wanita yang dingin.
Ilham melangkahkan kakinya menuju kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Mengingat ia begitu terburu-buru dan peluh membasahi bajunya, saat ia berlari pulang ingin menemui Hanum.
Hanum telah selesai menyiapkan makanan, bersamaan dengan keluarnya Ilham dari kamar dengan tampilan yang lebih segar.
"Mau makan sekarang Mas?" tanya Hanum.
"Kamu sudah makan belum?" bukan nya menjawab pertanyaan Hanum, Ilham kembali memberikan pertanyaan kepada Hanum.
"Aku hari ini puasa Mas!"
"Oh, kalau begitu Mas makan nanti saja sama kamu." ucap Ilham.
"Ya sudah kalau begitu aku simpan dulu semua makanan nya." ucap Hanum sembari merapikan makanan yang ada di meja makan.
Tapi saat Hanum ingin berbalik, dengan sigap Ilham menahan tangan nya.
"Tunggu Dek, kamu masih marah sama Mas?"
__ADS_1
Hanum tersenyum, memberikan sedikit gelengan kepala menandakan kalau dia sudah tidak marah lagi.
"Kalau kamu sudah tidak marah kenapa kamu berubah? kamu menjadi lebih diam dari terakhir kali bertemu?"
"Mas ingat kapan kita terakhir bertemu?"
Ilham mengangguk, "Tiga hari yang lalu." ucapnya.
"Itu sudah berlalu Mas dan aku baik-baik saja sekarang, aku diam bukan karena marah. Aku hanya lelah itu saja." ucap Hanum memberi alasan.
Ilham menarik tangan Hanum untuk lebih dekat dengan nya, membawa tubuh mungil itu masuk dalam dekapannya.
Ilham berulang kali mengucapkan kata maaf, "Maaf … maafkan aku?"
Hanum yang mulai terenyuh mendengar permintaan maaf Ilham, hanya mengangguk, menahan agar air mata nya tak kembali turun.
"Aku sudah memaafkan mu Mas."
"Terima kasih sayang."
***
Amel terbangun saat hari sudah mulai gelap, cahaya temaram yang masuk lewat celah kamarnya menyadarkan dirinya, kalau ia sudah tertidur cukup lama.
Amel bangun sambil memijat pusing kepala nya. Tangisan yang tidak berhenti tadi siang, kini menyisakan sakit pada kepalanya.
Dengan langkah gontai Amel berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk membersihkan diri dari sisa-sisa tangis dan kekacauan akibat dari ulahnya sendiri.
Amel terduduk di bawah guyuran air, ia kembali menangis, "Apa yang harus aku lakukan?" tanya nya.
Cukup lama Amel berada di dalam kamar mandi, sampai suara dering dari gawai nya menyudahi aktivitas mandinya.
Dengan hanya memakai handuk Amel berjalan keluar dari kamar mandi, melihat saat gawai nya berhenti berkedip dan mulai berdering kembali.
Amel meraih dan melihat siapa yang menghubunginya saat ia lagi mandi.
"Mas Ilham?" saat Amel ingin meletakan kembali gawai nya deringan kembali terdengar.
"Halo Mas?" sapa Amel.
"Kamu kemana kenapa baru diangkat telponnya?"
"Aku lagi mandi tadi, kenapa Mas kangen ya?" goda Amel.
"Iya Mas kangen sama kamu!"
Amel yang mendengar ucapan Ilham, merasa sangat bahagia akhirnya suaminya tak kaku lagi seperti sebelumnya.
"Mas kesini kalau kangen sama Amel."
"Mau nya juga begitu tapi kasian Hanum, hari ini kan jatahnya Mas menemani Hanum."
__ADS_1
"Ya sudah jangan bilang kangen kalau begitu." rajuk Amel.
"Jangan marah sayang, nanti cantiknya hilang lho?"
"Kalau cantik ku hilang Mas masih cinta gak sama Amel?"
Pertanyaan yang tiba-tiba dari Amel membuat Ilham salah tingkah. Cinta apa benar ia sudah jatuh cinta dengan Amel, mengingat ia selalu bahagia saat bersama dengan wanita itu.
Wanita yang baru dua bulan ia nikahi, wanita yang baru saja menjungkir-balikan hatinya. Wanita yang memenuhi semua hasratnya. Apakah ia sudah jatuh cinta?
"Mas, kok diam sih?"
"Eh, iya apa tadi maaf Mas melamun?" ucap Ilham dari seberang sana.
"Ya sudah lupakan saja, kalau begitu Amel pake baju dulu ya Mas. Sekalian Amel mau istirahat, Amel lelah." ucapnya.
"Hmm, ya sudah kamu istirahat ya sayang? Mas tutup dulu telponnya." ucap Ilham mengakhiri obrolan nya.
Klik.
Saat telpon itu diakhiri, ada hati yang mencelos perih. Cintanya sekarang benar-benar sudah terbagi bukan hanya raganya saja. Hanum sempat berpikir naif kalau cinta Ilham hanya untuk dirinya saja.
Mengingat kebersamaan nya yang cukup lama, tapi Hanum juga lupa jika cinta itu bisa hadir pada siapa saja yang mampu memberikan segalanya.
Kristal bening itu meluncur tanpa diberi aba-aba. Seakan ia tahu pedih hati sangat empunya dan hanya air mata yang mampu mengurangi sedikit sesak dalam dada.
Hanum bergegas meninggalkan depan pintu kamarnya, niat hati ingin memanggil sang suami untuk makan, tapi malah kata-kata rayuan yang Hanum dengar untuk madu nya.
Ilham berbalik setelah mematikan teleponnya, ia merasa seseorang sedang memperhatikan nya tapi ia tak melihat siapapun di dalam kamarnya.
Ilham keluar dari kamar dengan wajah yang lebih bahagia dari sebelumnya, ia mengambil tempat duduk di meja makan.
Menatap semua masakan istrinya dengan wajah yang bahagia.
"Ada apa Mas? Kamu terlihat sangat bahagia?" tanya Hanum.
"Iya aku bahagia akhirnya bisa merasakan kembali masakan mu, sayang." ucapnya sumringah.
Hanum tersenyum kecut mendapati kebohongan Ilham, "Kalau begitu makan yang banyak Mas, takutnya nanti Hanum tidak bisa memasak lagi untukmu."
Ilham yang tengah menikmati makanan nya sedikit tersedak, "Uhuk, apa maksudmu Dek?"
Hanum tersenyum, "Istri Mas kan dua, jadi kalau Mas gak makan disini pasti makan disana dan kalau sudah disana kan Mas gak makan masakan Hanum." ucap Hanum memberi alasan.
Selera makan Ilham menguap seketika, dan tiba-tiba muncul rasa takut dalam dirinya saat Hanum berkata seperti itu, apa maksudnya?
Apakah Hanum akan meninggalkan dirinya suatu hari nanti, apakah ia sanggup jika itu terjadi? banyak pertanyaan di dalam benak Ilham.
Ilham menatap Hanum yang masih menikmati makanan nya dengan perasaan dan tatapan takut seolah akan ditinggalkan seorang Hanum.
****
__ADS_1