
Meninggalkan ilham yang tengah menikmati keterpurukan nya, kini Hanum sedang menikmati hari bahagia didalam hidupnya. Hari dimana kebahagiaan itu datang bagaikan air yang terus mengalir tanpa henti.
Usaha yang di bangunnya sedikit demi sedikit mulai menampakan hasil, usaha yang dulunya kecil kini beranjak lebih maju dari yang sebelumnya. Pegawainya pun kini bertambah! tak hanya Ani anak dari pak sardi yang kemarin membantunya, tapi kini juga ada Ana dan juga Ayu dua bersaudara yang juga sama-sama putus sekolah karena terkendala biaya.
Ardi juga kadang-kadang membantu saat jadwal kuliahnya tidak begitu sibuk, sekedar hanya untuk meringankan beban yang ditanggung kakaknya.
Hanum tidak hanya membuka rumah makan, tapi kini juga merambah dunia catering yang bisa dipesan kapan saja. Contoh nya hari ini. Hanum menerima pesanan untuk acara khitan anak dari tetangganya yang dulu, walaupun untung nya tidak banyak Hanum selalu bersyukur semoga dengan semua ini Allah akan membukakan jalan yang lebih baik untuk dirinya dan juga keluarganya.
Jam makan siang kantor telah usai, disaat orang-orang mulai pergi satu persatu. Ardi datang membawa sepeda motornya untuk membawa semua makanan yang telah dipesan ke rumah pelanggan. Dan semua itu tak luput dari perhatian Doni, seorang karyawan yang bekerja di perusahaan yang tidak jauh dari rumah makan Hanum.
Doni berdehem, "Ehem, Mbak Hanum bikin catering juga?" tanya nya saat melihat banyak box yang siap untuk dikirim.
Hanum yang sedang berdiri pun, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diucapkan pelanggan setianya itu.
"Iya mas, baru mencoba soalnya dari kemarin banyak yang tanya bisa untuk catering tidak? jadi ya bismillah aja!" ucap Hanum.
"Oh, kalau begitu saya juga bisa dong kalau mau pesan untuk catering?"
"Untuk siapa Mas?" tanya Hanum.
"Untuk di kantor, kebetulan catering yang bekerja sama dengan perusahaan kami sudah habis kontrak dan sudah tidak diperpanjang lagi. Jadi kalau Mbak Hanum bersedia, nanti akan saya ajukan proposal nya, gimana?" tanya Doni.
"Wah Alhamdulillah kalau begitu Mas, siapa tahu menjadi jalan saya untuk lebih berkembang lagi?" ucap Hanum penuh syukur.
"Ya sudah besok saya kabari lagi ya Mbak, mm apa boleh saya minta no telpon nya, siapa tahu bos di kantor setuju jadi nanti bisa langsung menghubungi Mbak Hanum?"
"Boleh Mas dengan senang hati." ucap Hanum sembari mengangsurkan kartu namanya.
"Ya sudah kalau begitu saya balik ke kantor dulu ya Mbak?" pamit Doni.
"Iya Mas terima kasih sebelumnya!"
"Iya, Sama-sama Mbak."
Doni keluar dari tempat makan Hanum, bersama dengan Rani yang dari tadi cuma melihat temannya itu berbicara dengan sang pemilik warung.
"Kamu yakin mau rekomendasi warung makan sama bos kita?" tanya Rani.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Nggak aja cuma sedikit heran aja! sejak kapan kamu perhatiin orang apalagi sampai merekomendasikan sama pak bos?"
"Aku hanya sedikit kasihan lihatnya jualan, masak dan berjualan dengan keadaan hamil besar, tapi sedikitpun tak pernah mengeluh bahkan senyuman yang selalu aku lihat di wajahnya!"
"Cie kamu suka ya sama Mbak hanum?" goda Rani.
"Emang boleh ya kalau suka sama Mbak Hanum?" tanya Doni balik.
__ADS_1
"Yee, aku mana tahu. Tapi selama kita makan disana, aku juga belum pernah melihat suaminya Mbak Hanum. Yang sering terlihat hanya adik, ibu dan karyawan nya aja!" jawab Rani sambil berpikir.
"Hm, iya ya!" ucap Doni sambil berpikir, "Hhh, ya sudahlah kenapa kita jadi ngomongin orang!" lanjut Doni.
Rani yang sadar langsung tertawa terbahak-bahak. "Tapi kamu suka kan?" godanya lagi.
"Aku suka nya sama kamu tapi kamu gak peka!" jawab Doni sambil berlalu.
Rani yang mendengar ucapan Doni seketika mematung, "Woii dasar gak waras!"
***
Ilham kini mulai sibuk dengan dunianya sendiri, kerja pulang lalu mengunci diri di ruang kerjanya. Ilham tenggelam dalam penyesalan dan kekecewaan. Rumah tangga yang dulunya harmonis kini hambar, tak ada tegur sapa di antara dirinya dan sang istri.
Amel selalu berusaha untuk kembali mengambil hati sang suami, tapi nihil semuanya sia-sia, karena Ilham benar-benar menutup diri darinya.
Ponsel di meja Ilham berdering, saat ia melihat siapa yang menghubunginya Ilham segera mengangkat telponnya.
"Bagaimana kalian menemukan sesuatu?" tanya Ilham dengan tak sabar.
"Sudah bos, bu hanum sekarang tinggal di ruko x tak jauh dari pusat perkantoran!" jawab orang di seberang sana.
"Oke terima kasih, sisa pembayarannya akan saya transfer setelah ini!" ucap Ilham.
"Baik bos terima kasih!"
Ilham mematikan telpon nya, saat orang suruhannya sudah menemukan dimana Hanum berada. "Akhirnya aku menemukanmu sayang!" ucap Ilham sambil menatap foto pernikahan nya dulu dengan Hanum.
***
Tok โฆ tok โฆ tok
"Masuk?" ucap sang empu ruangan.
"Selamat pagi Pak?" sapa Doni.
"Pagi, ada apa Don?" ucap sang bos, yang kini menatap pegawai yang ada di depannya ini.
"Saya mau mengajukan proposal tentang catering yang kemarin Bapak minta?"
"Oh, kamu sudah menemukan catering yang cocok Don. Bagaimana dengan masakannya?"
"Sangat enak Pak, hampir semua karyawan kita makan disana saat jam makan siang, selain enak harga nya juga terjangkau untuk kami!" ucap Doni antusias.
"Kamu kelihatannya suka makan disana?"
"Hehehe, iya Pak soalnya enak!" ucap Doni malu-malu.
__ADS_1
"Enak apa enak?" gurau bosnya.
"Enak Pak asli, dijamin kalau bapak senggang boleh kita kesana untuk sekedar mencicipi rasanya?" ajak Doni.
"Hmm, nanti saja! coba kamu bawakan saat kamu makan siang, jika nanti memang enak aku sendiri yang akan kesana untuk bertemu dengan pemiliknya."
"Baik Pak siap laksanakan!"
"Ya sudah kamu kembali lagi sana dan untuk proposalnya besok saja saya tanda tangani setelah mencoba makanannya nanti." ucap sang bos.
"Baik Pak kalau begitu saya pamit dulu?" ucap Doni sambil meninggalkan sang empu ruangan.
Doni kembali ke ruangannya disusul Rani yang tiba-tiba sudah ada di belakang tubuhnya. "Gimana diterima ga proposalnya?" tanya Rani antusias.
"Astaga Rani bisa gak kalau gak bikin kaget?" ucap Doni sambil mengelus dadanya.
Rani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe, maaf gak sengaja!"
"Belum, tapi pak bos bilang mau mencicipi dulu makananan baru bisa memberi keputusan."
"Oh begitu, yasudah ayo kita makan?" ajak Rani.
"Kok makan sih?" tanya Doni bingung.
"Iya lah makan ini sudah jam berapa, udah waktunya istirahat siang!"
Doni melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya, "Oh iya, ayo kita makan?"
Doni dan Rani bersama-sama meninggalkan ruangannya untuk istirahat dan makan bersama di rumah makan Hanum.
***
Hanum masih sibuk di dapur, membuat bumbu untuk setiap masakan nya, hingga panggilan dari Ayu mengalihkan sejenak perhatian nya.
"Mbak Hanum didepan ada yang nyari?" katanya.
"Nyariin aku, siapa Yu?"
"Nggak tahu Mbak, dia cuma bilang kalau Mbak udah kenal lama dengannya!"
Hanum sedikit berpikir, tak ingin rasa penasarannya makin bertambah, Hanum memutuskan untuk keluar dan menemui orang yang mengaku kenal dengannya.
Sesampainya di depan, Hanum sedikit terkejut melihat mantan suaminya duduk sambil menatap ponsel miliknya, hingga suara sapaan Hanum mengubah arah pandangnya.
"M-mas kamu disini?"
Ilham tersenyum menatap Hanum, terlebih melihat perutnya yang semakin membesar. Ada rasa rindu yang begitu menggebu, hingga tanpa sadar Ilham mendekat dan bertanya, "Apa kabarmu?"
__ADS_1
***
Done dua bab ya kak, sesuai janji saya kemarin dan tunggu bab yang lebih menarik lainnya. Happy Reading ๐๐ค๐