Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Permohonan


__ADS_3

"Hanum … !!!" teriak Ilham. "Kamu menyebut dirimu istri sah! gelar istri pertama itu yang kamu banggakan, iya? jangan bangga dengan status dan gelar mu itu. Seandainya kata talak itu keluar dari mulutku, kamu bukan siapa-siapa di hidupku jadi apa yang kamu banggakan?"


"Menyesal bahkan aku akan sangat menyesal jika masih mempertahankan nya."


Kata-kata Ilham terus berputar di kepalanya, berulang dan terus mengulang dengan kata dan kalimat yang sama.


Hanum masih terpaku, hingga pandangan wanita itu terlihat kosong! bukan hanya pandangannya tapi kini hatinya pun mulai kosong.


Pak Suryo menarik Ilham untuk menjauh, ia khawatir jika emosi Ilham akan membuat Hanum lebih terluka.


Pak Suryo membawa Ilham untuk duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Hanum yang juga dibawa Bu Suryo duduk tepat berada di depan nya.


Sedangkan Amel, dia sibuk mengekor kemana kedua mertuanya, membawa suami dan kakak madunya itu pergi.


"Ilham tahan emosi kamu?" hardik Pak Suryo.


Masih dengan nafas yang memburu ilham menyugar rambutnya ke belakang. Amarah itu masih bergumul di hatinya tatkala mendengar Hanum menyebut istri keduanya sebagai pencuri.


"Apa yang membuatmu begitu marah, hingga tanpa kamu sadari Hanum terluka karena kata-katamu?"


Pandangan ilham beralih menatap Hanum, sedangkan yang ditatap hanya membisu dengan pandangan yang kosong lurus menatap kedepan.


Tiba-tiba hati ilham mencelos ngilu, melihat wanita yang mengisi harinya tampak tak bersemangat, tak sedih ataupun menangis.


Matanya masih setia menatap ke depan, tapi entah dengan apa yang dia pikirkan dan itu benar-benar mengusik hati Ilham.


"Apa yang tadi kamu katakan Ilham? apa Papa pernah mengajarimu untuk bersikap seperti itu terhadap istrimu?" tanya Pak Suryo menahan amarah.


"Tak pantas seorang laki-laki menghardik istri nya di depan banyak orang apalagi membuatnya malu sampai seperti itu!" lanjutnya.


"Jika memang ada yang kamu gak suka, tegurlah baik-baik jangan seperti itu Ilham, kamu itu kepala rumah tangga." imbuh Pak Suryo.


Ilham membisu ucapan Papa nya bagai tamparan untuknya, terlebih saat melihat Hanum hanya diam mematung seperti itu, membuat nyeri di hati Ilham semakin menjadi.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Bu Suryo.

__ADS_1


Hanum menatap ibu mertuanya dan berkata, "Hanum pikir Mama sudah tahu, makanya kami dikumpulkan di sini. Terlebih ada Amel juga!"


Dengan heran Bu Suryo bertanya, "Tahu apa Num, Mama sama sekali tak mengerti?"


Hanum menarik nafas panjang sebelum mengatakan pembicaraan nya dengan sang suami semalam. "Amel sedang mengandung Ma!" ucap Hanum datar.


Bu Suryo terkejut, ia memandang Ilham dan Amel bergantian dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya. "Benarkah!! tapi Mama sama sekali tidak tahu sayang!" ucap Bu Suryo.


"Hanum pikir Mama dan Papa sudah tahu, karena itu mengumpulkan kami bertiga. Dan juga tentang keinginan Mas Ilham yang akan menikahi Amel secara sah, baik agama maupun negara."


Mendengar itu baik Bu Suryo dan Pak Suryo benar-benar terkejut, Ilham belum membicarakan apapun dengan nya, tentang niatnya untuk menikah kembali dengan istri sirinya!


"Hanum!!" panggil Ilham.


Hanum menatap Ilham datar saat suara laki-laki itu memanggilnya.


"Jelaskan Ham!" ucap Pak Suryo.


Akhirnya Ilham dengan terpaksa menjelaskan semua nya kepada kedua orang tuanya, tentang niat nya untuk menikah kembali dengan Amel, tanpa membuat Hanum dan dirinya bercerai.


Ilham ingin membuka mulutnya untuk menjawab ucapan orang tuanya tapi sebelum kata-katanya keluar, Hanum lebih dulu berbicara.


"Bantu Hanum melepaskan pernikahan ini Pa, Hanum tidak sanggup menjalaninya lagi!" ucap Hanum diiringi isak tangis yang mulai merebak memenuhi ruangan yang mereka tempati.


Hanum menangis pilu, menyakitkan hati setiap yang mendengar bahkan Bu Suryo juga tak kuasa menahan air matanya.


"Bantu Hanum Pa, Hanum mohon. Hanum benar-benar tersiksa saat ini. Biarkan Hanum menentukan masa depan Hanum sendiri Pa tanpa pernikahan ini, pernikahan ini bagaikan neraka yang membunuh Hanum secara perlahan." isak Hanum semakin pilu.


Bu Suryo memeluk Hanum yang menangis tergugu. Ilham menatapnya dengan rasa sakit yang teramat dalam, "Apakah pernikahan kita menjadi neraka untuk mu selama ini? maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa melepasmu!" ucap Ilham tiba-tiba.


Semua yang ada di ruangan terkejut mendengar ucapan Ilham. "Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Ilham?" ucap Bu Suryo tak percaya. "Kamu membuat Hanum seperti ini, lihat lah betapa kurusnya badan hanum sekarang. Apa kamu masih tidak mengerti jika hidup bersamamu itu menyakitkan untuk Hanum!" lanjutnya.


"Apa Mama menginginkan kami berpisah?" tanya Ilham gamang sambil menatap Ibunya.


"Ya, setelah melihat Hanum seperti ini lebih baik kalau kalian berpisah saja, biarkan Hanum menjalani hidupnya dengan bahagia tanpa dirimu dan pernikahan kalian."

__ADS_1


"Tapi bagaimana Ilham menjalani hidup Ilham tanpa Hanum Ma?"


"Seharusnya itu kamu pikirkan sebelum kamu menikah lagi dan sekarang semua sudah terlambat, lepaskan Hanum sekarang! kalau kamu tidak bisa, biar Mama dan Papa yang akan melakukannya."


"Tap … ii, Ma!" belum selesai Ilham berbicara Hanum lebih dulu berucap.


"Aku tunggu surat panggilan cerainya Mas, tolong kamu saja yang urus. Bukan nya aku tidak bisa mengurusnya, tapi aku masih memberimu muka untuk tidak malu dan menjaga nama baikmu." ucap Hanum sebelum keluar dari rumah mertuanya.


"Hanum lelah Ma, Pa! Hanum ingin pulang dulu." ucap Hanum berpamitan.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya?"


"Iya Ma."


"Tunggu!" ucap Ilham menahan langkah Hanum. "Aku akan mengantarmu pulang!"


"Aku bisa sendiri Mas!"


"Ijinkan aku, jika ini untuk yang terakhir kali sebelum aku melepaskan kamu." ucap Ilham sendu.


Akhirnya Hanum mengiyakan permintaan Ilham, benar mungkin ini kebersamaan mereka untuk yang terakhir kali, sebelum perceraian itu benar-benar memisahkan mereka.


Hanum berjalan dan masuk kedalam mobil suaminya, disusul dengan ilham yang juga masuk di sisi kemudi. Tak lama mobil akan berjalan Amel datang dan memanggil suaminya.


"Mas, kamu mau kemana?"


Ilham membuka jendela kaca mobilnya, "Aku mau mengantar Hanum pulang dulu?"


"Kamu nanti balik kesini lagi gak, aku gak mungkin pulang sendiri kan?" tanya Amel.


"Hm, aku pasti kembali lagi nanti kamu tunggu saja ya?"


Sekali lagi hati Hanum mencelos, bahkan untuk mengantarnya pulang saja Ilham harus meminta ijin sama madunya. Ironis bukan!


Hanum memalingkan wajah, saat tanpa sengaja Ilham melihatnya. Dan mobil kembali berjalan membelah jalanan Ibu Kota. Jarak terasa lambat saat kebisuan menghiasi suasana didalam mobil yang ditumpangi mereka berdua.

__ADS_1


***


__ADS_2