
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Pak!" ucapnya menjeda kalimat. "Tapi Tuhan berkehendak lain, seperti yang saya bilang harapan untuk hidupnya sangat tipis dan saya hanya bisa berbicara, semoga Bapak sekeluarga bisa ikhlas menerima!"
Perkataan dokter Ramli terus berputar di kepala Ilham, dirinya menolak semua itu. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa? Pertanyaan itu terus muncul dalam benaknya. Air mata itu tak berhenti mengalir, kini dengan pasrah Ilham berjalan masuk kedalam ruangan dimana anaknya sudah tertidur lelap.
Ilham mendekat, peralatan medis yang tadinya terpasang di badan sang anak kini sudah terlepas semua. Ilham menangis sesenggukan, "Maafkan Papa Nak! Kenapa kamu malah pergi meninggalkan Papa? Apa sebegitu bencinya kamu hingga tak ingin hidup bersama dengan Papa, apa karena selama ini Papa selalu meragukanmu hingga kau pun marah dan memilih pergi selamanya!" suara Ilham makin terdengar parau, menyayat hati yang mendengarnya.
Ditempat lain. Rio sedang asik menikmati makanan nya saat berita kecelakaan yang menimpa ilham santer terdengar. Terlebih saat Rio melihat bagaimana amel diangkat untuk dimasukan ke dalam ambulan.
Ada rasa tercubit nyeri saat melihat mantan kekasihnya itu tergolek tak berdaya dan bersimbah darah. Rio segera mengambil gawainya dan mencoba menghubungi nomor telpon ilham, tapi nihil tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Rio berinisiatif untuk langsung datang ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, pemandangan memilukan yang Rio dapatkan, saat melihat ilham benar-benar terpuruk atas berita kematian anaknya. Ada rasa bersalah dalam diri Rio saat tahu anak yang dikandung mantan istrinya itu tak selamat.
Bukan tanpa sebab Rio merasa bersalah, karena dirinya pun ikut andil dalam kesakitan yang kini tengah dialami keduanya.
Flashback
"Kamu gila ya, apa yang kamu katakan sama mas ilham tentang anak ini?" sembur Amel saat melihat Rio tengah duduk di ruang kerjanya.
Ya setelah pertengkarannya dengan ilham, yang kini tengah meragukan anak yang Amel kandung. Kini Amel mendatangi Rio di perusahaannya untuk memperjelas semuanya.
"Aku apa yang aku lakukan?" tanya Rio yang pura-pura tak tahu.
"Kamu … ! geram Amel. "Lalu, kalau bukan kamu terus siapa? Kamu jangan keterlaluan Rio!" lanjutnya marah.
"Aku keterlaluan, kapan? Apa saat kita tidur bersama waktu itu?" Asal kamu tahu, walaupun aku ingin melakukannya, tapi aku masih bisa menahan diriku untuk tidak melakukan itu." ucap Rio tegas.
"Jadi waktu itu?"
"Ya kita tidak melakukan apa-apa dan soal kamu yang tidak memakai baju! Kamu bisa tanyakan langsung sama pegawai hotel tempat kita menginap. Aku menipumu waktu itu karena aku ingin memberikan sedikit pelajaran untukmu dan jika ilham meragukanmu berarti itu salahmu sendiri. Kenapa kamu jadi menyalahkan aku?"
Amel terkejut mendengar ucapan Rio, ternyata perasaannya selama ini benar, bahwa dia sama sekali tidak melakukan itu bersama dengan Rio dan anak yang kini ia kandung benar anak suaminya.
"Jika, ilham meragukan anakmu berarti ilham tidak benar-benar mencintaimu. Kenapa kamu harus terlihat bodoh Amel…?" Perkataan Rio memang benar adanya, jika suaminya saja sanggup meragukan darah dagingnya sendiri, lantas bagaimana dengan dirinya yang selama ini menemani bahkan telah memberikannya seorang anak.
"Sudahlah jangan terlalu bodoh, kamu masih bisa pergi dari ilham sebelum penyesalan itu datang. Dan aku akan dengan senang hati menerimamu kembali, aku akan menganggap anak yang kamu kandung seperti anakku sendiri." ucap Rio sembari berjalan menghampiri Amel yang masih mematung di depan meja kerja Rio.
Amel menatap Rio, "Kamu orang yang baik, jika aku masih sendiri tentu dengan senang hati aku akan menerimamu tapi…!" Amel menarik nafasnya panjang guna mengurangi sesak yang kini ia rasakan. "Ini sudah menjadi pilihanku, dari awal pun aku sudah memilih jalan ini. Jika memang nasib rumah tanggaku akan kandas, aku memilih untuk tak menyusahkanmu!" ucap Amel disertai senyuman.
__ADS_1
"Kamu sungguh keras kepala, Lia?"
"Biarkan aku dengan keras kepalaku ini dan jika suatu hari nanti aku terluka karena pilihanku. Mungkin itu sudah menjadi karmaku." ucap Amel sembari meninggalkan Rio yang masih termenung sendiri.
Flashback off.
Rio celingukan mencari keberadaan Amel. Bahkan sampai saat ini dirinya belum melihat, apakah perempuan yang pernah menjadi bagian dari hatinya itu baik-baik saja.
Rio bertanya, saat melihat suster yang baru keluar dari ruang dimana anak ilham berada. "Sus maaf saya mau bertanya boleh?"
"Oh iya boleh Pak."
"Pasien yang tadi pagi kecelakaan sekarang dirawat dimana ya?"
"Oh, pasien atas nama ibu amel ya Pak, istri dari pak ilham?"
"Iya Sus, kira-kira bagaimana keadaannya?"
"Bu amel sampai saat ini belum siuman, setelah operasi kemarin Pak dan beliau sekarang masih ditempatkan di ruang ICU rumah sakit!"
"Untuk saat ini belum bisa Pak! Nanti setelah pasien sadar baru bisa untuk dikunjungi. Dan untuk sekarang hanya keluarga saja yang bisa datang untuk menjenguk pasien!"
"Hmm, kalau begitu terima kasih untuk informasi nya Sus?"
Rio menghela nafasnya, tak dipungkiri ada rasa takut yang tiba-tiba masuk kedalam hatinya. Rio merasa sedikit bersalah pada mantan pacarnya itu. Walaupun sakit hati yang ditinggalkan untuk dirinya juga tidak bisa dianggap enteng.
Akhirnya dengan desah nafas kecewa, Rio berbalik untuk meninggalkan rumah sakit sebelum kedatangannya di ketahui orang lain. Tapi suara seseorang yang sangat jelas memanggil namanya membuatnya kembali berpaling.
"Rio …?"
Rio bersikap seperti biasa seolah-olah tak ada satupun yang terjadi. "Kamu ngapain disini?" tanyanya. "Jangan bilang hanya sekedar lewat ya?" ucapnya kemudian.
"Yang bener aja bro, masa kerumah sakit sekedar lewat!" jawab Rio jengah.
"Lalu apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku tadi ingin menjenguk teman yang sedang sakit, ternyata dia sudah pulang!" jawab Rio berbohong.
__ADS_1
"Oh, kamu kenal kan dengan ilham?" tanya Sakha.
"Ilham?"
"Iya ilham mahendra, bukankah dia teman kuliahmu ya kalau gak salah?" tanyanya memastikan.
Rio mengangguk, "Hm, memangnya kenapa dengan ilham?" tanya Rio balik.
"Dia dan istrinya kecelakaan, anak yang tengah dikandung istrinya meninggal dan kini istrinya juga sedang tak sadarkan diri setelah operasi!"
"Hm, dimana dia sekarang? Sepertinya aku harus menemuinya untuk sekedar berbela sungkawa!"
"Ayo aku antar?"
Sakha dan Rio berjalan beriringan menuju ruangan dimana ilham dan yang lainnya sedang berkumpul, menunggu jenazah bayi mungil tak berdosa tersebut.
Ilham terlihat sangat terpukul, hingga kedatangan Rio pun sama sekali tak dilihatnya. "Yang sabar ya bro?" ucap Rio saat melihat ilham yang tengah bersandar di dinding rumah sakit.
"Terima kasih!" ucapnya lemas. "Kamu tahu dari mana aku disini?
"Aku tak sengaja tadi, habis menjenguk teman yang sedang sakit juga?"
"Oh."
"Tapi seperti nya aku gak bisa lama, soalnya masih ada urusan yang belum selesai. Besok aku datang lagi ya?" pamit Rio.
"Hm, terima kasih Rio?"
Rio tersenyum dan mengangguk, setelahnya ia pamit kepada kedua orang tua ilham dan juga Sakha.
"Gue cabut dulu ya, besok gue datang lagi?" ucap Rio saat melihat Sakha.
"Hm, oke!"
Rio tak sanggup berlama-lama di dekat ilham bukan karena benci, tapi rasa sakit hatinya terasa bertambah saat melihat ilham. Terlebih sekarang wanita yang pernah dicintainya sedang tak sadarkan diri. Rio hanya berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak dan menyalahkan ilham.
***
__ADS_1