
Ilham bergegas masuk ke dalam mobilnya, nafasnya memburu kesal marah dan cemburu berbaur jadi satu. Seandainya batasan itu bisa ia langgar, mungkin saat ini bukan kedamaian lagi yang tercipta, tapi amarah dan saling melukai antara dirinya dan juga sakha.
Sekeras apapun Ilham mencoba melupakan perasaannya, tapi sekeras itu juga perasaan itu semakin dalam dan tak mau hilang.
Ilham memukul setir kemudinya demi mengurangi sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Dengan menarik nafas yang panjang, kini ia melajukan mobil ke arah pulang. Bayang-bayang kebersamaan dan juga senyum yang hadir di bibir cantik mantan istrinya itu, masih melintas di pikirannya. Dan sayangnya senyum yang Ilham lihat, bukan untuknya lagi. Tapi sudah untuk lelaki lain yang kini tengah mendekati mantan istrinya itu.
Masih dengan perasaan geram dan rasa cemburu yang berlebih. Tanpa Ilham sadari, jika kini ia tengah berhenti di sebuah rumah yang sudah lama tak pernah ia kunjungi lagi. Semenjak perpisahannya dulu, semenjak nyawa rumah ini pergi bersama dengan cinta dan juga hidupnya.
Ilham mendesahkan nafas berat, sejenak ia menutup mata saat mengingat kenangannya akan rumah yang kini ada di depan matanya.
Ilham memilih untuk turun dan beristirahat sebentar, rumah ini selalu tampak bersih walaupun tak pernah ia tinggali lagi, semenjak ia memutuskan untuk tinggal bersama dengan istri keduanya dirumah yang lain.
Ilham selalu rajin menyuruh orang untuk selalu membersihkan rumah, takut jika suatu saat Hanum akan kembali dan menempati rumah ini. Walau bagaimanapun, ada hak Hanum juga di rumah yang mereka bangun dari awal bersama.
Ilham masuk dan memandang setiap sudut rumah, tak ada satupun yang berubah, kecuali sentuhan tangan dari pemilik aslinya yang kini tengah berbahagia di luar sana.
Ilham masuk kedalam kamar untuk sekedar menyegarkan diri dan berganti pakaian. Tapi bayang-bayang percintaannya yang panas bersama mantan istrinya itu, kembali membangkitkan rindu yang telah lama ia pendam. Tak ingin terus larut dalam kenangan, Ilham memutuskan untuk langsung mandi dan beristirahat sebelum kembali ke rumah sakit, menjaga istri keduanya yang kini tengah terluka.
Ilham keluar dengan tubuh yang lebih segar, saat ia hendak mengistirahatkan badannya. Ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya berbunyi. Tertera jelas siapa yang kini tengah menghubunginya.
"Rumah sakit?" gumam Ilham yang penuh dengan pertanyaan. Tak ingin berlama-lama Ilham segera menjawab telpon tersebut.
"H-halo!" belum sempat Ilham mengucapkan satu kata. Ilham lebih dulu dibuat terkejut oleh orang yang berbicara di seberang sana.
"A-apa?? Baiklah saya segera kesana!" Ilham lantas menyambar kunci mobil yang tergeletak tak jauh dari tempatnya menerima panggilan.
Dengan wajah yang panik dan juga terburu-buru, Ilham sampai melupakan kalau dirinya bahkan belum sekalipun beristirahat.
Ilham menginjak pedal gasnya kencang, telpon dari rumah sakit cukup membuatnya kepikiran dan cemas. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, bagaimana bisa istrinya saat sadar dari pingsannya malah mengamuk tak jelas di ruang rawatnya.
Rumah sakit.
Amel mulai menggerak-gerakan kedua matanya, saat samar suara wanita yang pernah ada di hidupnya dulu mulai terdengar. Jarak bertahun tak bertemu tak sekalipun menghapus kenangannya bersama dengan wanita itu. Walaupun samar tapi Amel masih sanggup mengenali kalau itu suara ibu kandungnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaan anak saya Dok?" Bu Ratna bertanya saat Dokter berkunjung ke ruang anaknya.
"Sejauh ini masih kami pantau Bu, tapi untuk keadaan pasca operasi akan kami lakukan pengecekan kembali, mengingat operasi pengangkatan rahim ibu amel kemarin sedikit bermasalah karena benturan yang cukup keras."
Ratna menutup mulutnya tak percaya bahkan kabar yang dulu dia terima tak menjelaskan hal seperti ini. Yang Ratna tahu, anaknya hanya kehilangan anak yang dikandungnya tapi tidak dengan kandungannya.
"Berarti anak saya tidak akan pernah punya anak lagi, Dok?" tanya Bu Ratna takut.
"Kurang lebih seperti itu Bu, setelahnya kami akan melakukan pengecekan lagi. Untuk benar-benar memastikan keadaan dan kesembuhan pasien."
Bagai disambar petir, hal pertama yang Amel dengar setelah ia siuman adalah dirinya yang tak mungkin bisa punya anak lagi. "Tidak mungkin kan itu Dok?" tanya Amel setelah ia mengumpulkan kesadarannya.
Dokter yang tengah berbincang dengan Bu Ratna sedikit terkejut dan seketika menoleh memastikan kalau pasien benar-benar telah sadar.
"Em, nanti kita bicarakan lagi ya Bu Amel. Untuk sekarang Ibu fokus untuk sembuh dulu."
"Tidakkk!!! Saya ingin dengar Dok, apa yang sebenarnya terjadi dengan saya?" Amel sedikit histeris saat bertanya kepada Dokter yang kini tengah merawatnya.
"Hahaha Dokter bercanda kan tadi, itu semua tidak benarkan Dok?" tanya Amel dengan sedikit putus asa.
Amel menangis histeris, setelah berita kematian anaknya. Kini ia mendengar dari Dokter, kalau ia pun sudah tak memiliki kesempatan untuk memiliki anak kembali.
Tapi tangisan itu terhenti saat pandangannya jatuh pada seorang wanita yang berdiri di sisi sang Dokter
Amel melayangkan pandangan ke arah wanita yang kini tengah menatapnya dengan iba. "Untuk apa Ibu kemari? Apa untuk melihat aku sudah mati atau belum?" tanya Amel sarkas.
Ratna menggelengkan kepalanya, menampik apa yang Amel ucapkan. "Bukan Nak, Ibu kemari karena merindukanmu!"
Amel tersenyum sinis. "Rindu Ibu bilang, setelah bertahun-tahun Ibu membuangku sekarang Ibu datang disaat aku terpuruk dan sakit seperti ini? Apa Ibu bahagia melihatku seperti ini?"
Ratna mencoba mendekat untuk menenangkan Amel tapi guncangan yang ia dapatkan benar-benar membuat pikirannya tak seperti sebelumnya.
Sakit akibat penolakan ilham lalu berita kematian anaknya dan sekarang Amel harus kehilangan rahimnya. Itu sudah menjadi pukulan telak untuk mentalnya.
__ADS_1
Amel berteriak ia juga meraung tak jelas. Hingga dokter pun sedikit kewalahan saat mencoba menenangkan Amel. Hingga menghubungi ilham menjadi satu-satunya pilihan yang Dokter ambil.
***
Sesampainya di rumah sakit, Ilham bergegas dan berlari menuju ruangan di mana istrinya itu dirawat.
Sesampainya di ruangan Amel, Ilham terkejut mendapati istrinya sedang dicekal kedua tangan dan kakinya. Spontan Ilham murka, saat melihat istrinya itu tengah meronta-ronta.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ilham geram.
Amel yang mendengar suara suaminya seketika menangis lebih kencang. "M-mas tolong aku?" isaknya memilukan.
Ilham pun mendekat dan memeluk istrinya, "Kamu sudah sadar, hem?"
Amel semakin terisak di pelukan Ilham. "Bisa jelaskan apa yang kalian lakukan kepada istri saya?" tanya Ilham sambil menatap setiap petugas yang ada di ruangan tersebut.
"Tadi ibu Amel sedikit histeris Pak saat mendengar kondisinya?"
Ilham tertegun, "Bagaimana istri saya bisa tahu, bukankah sudah saya larang untuk memberitahunya?"
Ratna maju kedepan menghalangi saat Dokter ingin menjelaskan. "Maafkan Ibu Nak, saat Amel belum bangun Ibu sempat menanyakan kondisinya dan saat dokter menjelaskan ternyata Amel mendengar semuanya. Ibu minta maaf!" ucapnya tulus.
Ilham menggeram marah. Seandainya ia tak meninggalkan istrinya sendirian, dengan seorang wanita yang baru saja mengaku sebagai ibu. Tak mungkin istrinya akan terguncang seperti ini.
"Mas anak kita sudah tiada dan aku juga tak akan pernah bisa punya anak lagi. Apa kamu akan pergi meninggalkan ku sama seperti mbak hanum?" tanya Amel disela-sela tangisnya.
Ilham menggeleng lemah, "Seandainya Mas ninggalin aku, aku lebih baik mati saja!"
Ilham terkejut mendengar ucapan Amel, tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan istrinya ini. Karena mau seperti apapun, dirinya juga berperan dalam kesakitan istrinya sekarang.
Tak lama setelah mengucapkan kata itu Amel kembali pingsan, guncangan itu jelas terlihat dan itu membuat Ilham sedikit khawatir akan kondisi mental istrinya itu.
****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, like komen dan rate ya kak, gift juga boleh. Tapi jangan di boom like ya takut meleduk saya nya. ๐
Terima kasih dan happy reading ๐๐๐