Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Kritis.


__ADS_3

Brrakkk.


Suara benturan mobil yang dikendarai Ilham, sedikit memekakkan telinga. Samar-samar, Ilham masih bisa merasakan darah yang mulai mengalir dari kepalanya dan Ilham masih bisa mendengar bunyi klakson yang terus bersahutan, hingga kesadarannya mulai menghilang.


Adit yang ditugaskan oleh pak Suryo untuk mengikuti Ilham pun, tampak kaget saat mobil yang dikendarai oleh anak majikannya itu terlibat kecelakaan. Adit berlari menghampiri Ilham, yang mulai tak sadarkan diri di dalam mobilnya.


Dengan cepat ia menelpon rumah sakit, untuk segera dibawakan ambulan dan tak lupa ia langsung mengabari pak Suryo, tentang kecelakaan yang dialami oleh Ilham putra semata wayangnya.


Ilham segera dilarikan ke rumah sakit, sesaat setelah petugas medis itu datang. Adit masih setia di sampingnya, dengan terus mengikuti mobil ambulan itu sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Ilham langsung dibawa ke ruang unit gawat darurat, untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Adit masih menunggu di depan ruang UGD, tak lama menunggu! Dari arah depan muncul pak Suryo beserta istrinya, yang dengan panik menanyakan keadaan putra mereka.


"Bagaimana keadaanya Dit?" tanya Pak Suryo.


"Saya juga kurang tahu Pak, dokter masih ada di dalam untuk menangani mas Ilham. "


"Kenapa bisa terjadi kejadian ini Dit?" tanya bu Suryo pilu.


"Adit juga gak tahu Bu, kejadiannya berlangsung sangat cepat dan truk yang berbelok itu, juga mengalami nasib yang sama seperti mas Ilham."


Pak Suryo menghembuskan nafasnya kasar, apalagi yang akan terjadi setelah ini. Kejadian yang terus menerus mengikis dan meremukan hati anaknya itu. Apa akan terus berlanjut? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu! Karena sesungguhnya hanya Dia yang mampu melakukan semuanya tanpa bisa diduga.


Bu Suryo jatuh terduduk saat mendengar ucapan Adit, air mata itu tak mampu lagi ia bendung. Kenapa nasib buruk selalu mengikuti sang anak, saat binar kebahagiaan itu mulai tampak di depan mata.


"Apa yang harus kita lakukan Pa?" tanya Bu Suryo lirih.


"Entah Ma, kita pasrahkan semua nya sama yang di Atas, semoga Ilham baik-baik saja." jawab Pak Suryo sambil membimbing istrinya untuk bangkit.


Tak lama seorang dokter keluar dari dalam ruang UGD dan menghampiri keluarga Ilham, yang kini tengah menunggu.


"Keluarga Pak Ilham?"


Pak Suryo bergegas menghampiri sang dokter, saat nama anaknya disebut. "Saya orang tuanya dok, bagaimana keadaan anak saya?"


"Oh iya Pak, perkenalkan saya dokter Andre yang menangani anak Bapak. Ada yang ingin saya sampaikan boleh?"

__ADS_1


"Silahkan dokter?"


"Begini Pak, kecelakaan yang dialami Pak Ilham cukup serius! Ada luka di kepala, dada dan kakinya. Untuk sejauh ini kami belum bisa menyimpulkan sebelum melakukan operasi. Karena itu saya minta bapak, untuk segera melengkapi prosedur operasi nya, supaya kami bisa cepat melakukan tindakan."


"Tapi setelah operasi apa anak saya akan baik-baik saja Dok?" tanya Pak Suryo khawatir.


"Saya belum bisa memastikan Pak, apa cedera di kepalanya parah, jika parah kemungkinan pasien akan mengalami amnesia. Itu kemungkinan kecilnya tapi bisa jadi lebih parah!" terangnya.


"Lebih parah? Maksudnya Dok saya tidak mengerti?"


"Yang saya maksud lebih parah, bisa jadi pasien akan koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Jika ternyata luka di kepalanya parah Pak!"


Pak Suryo memegang dadanya, ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyeruak di dalam jantungnya. Di usia yang sudah menginjak masa tua, kesehatan nya sedikit demi sedikit juga sudah mulai berkurang. Terlebih saat mendengar berita seperti ini, beban yang ia rasakan semakin terasa berat untuk ia tanggung seorang diri.


"Pa …!!" pekik Bu Suryo. Saat melihat sang suami sedikit terhuyung kebelakang.


Adit dengan sigap menahan tubuh tua majikannya itu. "Bapak tidak apa-apa?" tanya Adit, yang juga ikut khawatir melihat kondisi dari majikannya itu.


Pak Suryo mengangguk lemah, sambil menatap sang dokter yang berdiri di depannya. "Lakukan apa saja yang terbaik untuk anak saya Dok, saya akan segera melakukan semuanya secepatnya!


Pak Suryo menarik nafasnya panjang, untuk mengurangi sesak yang muncul di dadanya. "Dit?" panggil Pak Suryo lirih.


"Saya Pak?"


"Tolong kamu persiapkan semuanya untuk operasi Ilham. Saya sudah tidak sanggup jika melakukannya." ucapnya lirih.


"Baik Pak, saya akan menyelesaikan semua prosedur nya terlebih dulu. Dan nanti saya akan kembali lagi!" pamit Adit, sebelum meninggalkan sang majikan yang hanya menatap dengan pandangan kosong.


Untuk pertama kali dalam hidup Pak Suryo, ia merasakan ketakutan yang teramat dalam. Anak semata wayangnya sedang mempertaruhkan hidup dan matinya didalam ruang operasi. Air mata itu luruh sendiri tanpa bisa ia cegah lagi.


"Pa, kita harus gimana? Mama belum sanggup jika harus kehilangan Ilham Pa!" tangis bu Suryo pecah saat itu juga, saat teringat dengan ucapan sang dokter.


"Kita berdoa saja, Ma. Semoga Ilham masih berada dalam lindungan-Nya." jawab Pak Suryo sambil mengusap punggung sang istri yang masih menangis sesenggukan.


***


"Sayang, kamu lagi bikin apa?" tanya Sakha saat melihat Hanum yang masih berkutat di dapur, sambil membuat adonan yang Sakha sendiri tak paham itu apa?

__ADS_1


Hanum masih sibuk mengaduk adonan, saat Sakha tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya ke perut Hanum.


"Lagi coba bikin kue Bang!" jawab Hanum tanpa menatap Sakha.


"Kue?"


Hanum mengangguk pelan, membenarkan ucapan Sakha. "Kue untuk apa sayang, kita kan bisa beli aja!" ucap Sakha sambil mencium pipi Hanum.


"Ini Reyhan yang minta Bang, gak tahu kenapa tapi hari ini dia minta kue!"


"Oh, terus kapan selesainya ini?" tanya Sakha sambil menunjuk apa yang tengah dikerjakan Hanum.


"Sebentar lagi selesai, Bang. Ini aku lagi rapihin, kenapa?"


"Aku kangen sama kamu?" bisik Sakha lirih.


Hanum menghentikan sejenak aktivitas nya, sebelum menatap Sakha heran. "Bukankah kita setiap hari ketemu Bang, kok kangen?"


Sakha menepuk kepalanya pelan, ia lupa kalau istrinya ini kadang sedikit polos untuk hal yang satu itu. "Kangen pengen dimanja sama kamu yank?"


"Hah, emang Abang Reyhan yang masih minta dimanja!" kekeh Hanum.


Sakha menggigit ujung hidung Hanum dengan gemas, polos istrinya ini masih belum hilang. Padahal dirinya sudah sudah memberi petunjuk, dengan terus mengusap pinggang rampingnya itu.


"Geli Abang!" kekeh Hanum.


Sakha yang memang sudah sangat merindukan sang istri, tak ingin menunggu sampai apa yang dikerjakan istrinya itu selesai. Tanpa mendapatkan persetujuan dari sang istri, Sakha langsung mengangkat tubuh mungil dan menggendongnya ala bridal style.


"Abang …!" pekik Hanum yang terkejut dengan sikap Sakha. "Itu nanti gosong kue nya, Bang?"


"Mbak tolong lanjutin apa yang ibu buat ya? Dan kalau sudah selesai kamu rapihin aja. Saya masih ada urusan sama Ibu?" ucap Sakha sambil berlalu, dengan Hanum yang masih berada di gendongannya.


Sang asisten yang mendengar perintah majikannya hanya mengangguk dan mengulum senyum malu, saat dengan jelas melihat kemesraan mereka, yang terpampang nyata di depan matanya.


Hanum yang baru menyadari saat melihat sang asisten rumah tangganya tersenyum, ia langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Sakha. Malu itu yang kini tengah Hanum rasakan, suaminya ini selalu memberi warna di setiap hari yang Hanum lewati. Entah tersipu malu atau merona, setiap mendengar ungkapan cinta yang tak pernah berhenti dari bibir Sakha. Yang pasti untuk saat ini, Hanum benar-benar merasakan kebahagian dalam rumah tangganya.


****

__ADS_1


__ADS_2