Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Lampu Hijau.


__ADS_3

Ilham masih terdiam di samping ranjang dimana Amel tengah tertidur, setelah sebelumnya ia pingsan setelah mendengar kenyataan yang Ilham ucapkan. Ada sedikit rasa sesak melihat Amel yang berteriak histeris seperti itu. Kesakitan karena kehilangan itu jelas nampak di setiap tangisnya.


Ilham menyugar rambutnya, pusing itu yang kini ia rasakan! Kenyataan bahwa Amel tak sanggup mendengar berita kehilangan anaknya saja sudah membuatnya tak sadarkan diri apalagi kalau sampai Amel tahu keadaan tubuhnya yang sudah tak sempurna seperti wanita lain.


Ilham menarik nafasnya panjang, guna mengurangi sesak yang kini hinggap di hatinya. Hingga ketukan pintu kamar rawat membuatnya memalingkan wajah.


Tok … tok … tok


Ilham beranjak bangkit membuka pintu dan mendapati seorang wanita paruh baya yang kini tengah menatapnya bingung. "Maaf ini benar ruang rawat amelia?"


"Benar, maaf Ibu siapa?" tanya Ilham yang sedikit kebingungan karena wanita yang ada di depannya ini tau nama istrinya.


"Oh, apa saya boleh masuk?" tanyanya ramah.


Ilham yang masih bingung, sampai lupa mempersilahkan wanita paruh baya ini untuk masuk kedalam. Dan dengan sedikit kikuk Ilham mempersilahkannya masuk.


"Boleh Bu, mari silahkan?" ajak Ilham dengan sopan.


Sesampainya di dalam, wanita paruh baya ini terkejut dan menutup mulutnya tak percaya! Saat melihat perempuan yang selama ini ia cari, tengah tergolek tak sadarkan diri di atas tempat tidur.


"A-amelia!" panggilnya pelan.


Air mata itu perlahan turun tanpa bisa dicegah, penyesalan karena pernah menelantarkan dirinya kembali muncul di dalam ingatannya. Seandainya berita kecelakaan itu tidak santer terdengar. Mungkin sampai saat ini dirinya tak akan pernah bisa menemukan anak perempuan satu-satunya ini.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya nya dengan bibir yang bergetar menahan tangis.


"Kami kecelakaan saat akan pulang ke rumah Bu!" jawab Ilham sendu. "Dan Ibu siapa, maaf?"


"Aku Ratna Sari, Ibu kandung dadi Amelia Ratna Sari!" ucap Ibu Amel memperkenalkan diri dan membuat Ilham terdiam seketika, saat tahu wanita yang kini berdiri di depannya adalah Ibu mertuanya.


"T-tapi Amel tak pernah cerita kalah keluarga nya masih ada, bahkan saat saya menikahinya?" ucap Ilham ragu karena selama ini istrinya tak pernah sekalipun membicarakan kedua orang tuanya.


Ratna menganggukan kepala, ia paham tak mungkin anak perempuan semata wayangnya ini, akan mengakui dirinya yang telah membuangnya bertahun-tahun lalu.


"Bolehkah saya disini untuk menemaninya?"


"Boleh Bu kalau begitu saya tinggal sebentar untuk mengganti baju, karena semenjak kecelakaan saya belum beranjak dari sisinya."


Bu Ratna menganggukan kepalanya pelan, "Pergilah biar aku yang gantian menjaganya!"

__ADS_1


Ilham beranjak pergi meninggalkan ibu dan anak itu sendirian, Ilham berpikir semua akan baik-baik saja karena yang menjaga ibu kandungnya sendiri. Tapi Ilham tak akan pernah tahu, bahwa setelah ini kemalangan baru akan menimpa hidupnya dengan meninggalkan istri dan ibu kandungnya.


***


"Selamat pagi Han?" sapa Sakha yang kini sudah ada di depan rumah makannya.


"Pagi juga Bang!" jawab Hanum yang sedikit terkejut mendapati Sakha yang kini tengah datang menemuinya.


Dengan cengirannya yang khas, Sakha melenggang dan duduk di samping Hanum yang tengah menghitung belanjaan.


"Abang tumben pagi-pagi sudah kesini ada apa?"


"Aku lapar, belum sarapan apa kamu sudah mulai masak?"


Hanum terkekeh mana mungkin pagi-pagi seperti ini dirinya sudah memasak, sedangkan rumah makannya saja buka dari jam sepuluh pagi. Alhasil hanya gelengan yang Sakha dapat.


"Yah, belum ya?" tanyanya lemas.


"Abang lapar, memangnya Abang belum sarapan dari rumah?" tanya Hanum polos.


Sakha menggeleng, "Aku gak pulang semalam. Pekerjaan ku menumpuk jadi aku lembur dan tidur di kantor!"


"Maaf ya Bang!" cicit Hanum pelan.


"Kok kamu yang minta maaf?" tanya Sakha heran.


"Mungkin gara-gara Abang nemenin Hanum ke rumah sakit, yang membuat pekerjaan Abang jadi banyak?"


Sakha menggeleng dan tersenyum geli melihat Hanum yang sedikit takut! "Bukan karena itu Han, pekerjaan direktur kan memang banyak jadi kamu gak perlu merasa bersalah seperti itu?" ucap Sakha menenangkan.


Hanum masih menunduk merasa bersalah. "Ya sudah kalau kamu masih merasa bersalah! Mending kamu buatin aku sarapan biar kerja ku makin semangat dan pekerjaanku cepat selesai."


Hanum menatap Sakha dan mengangguk dengan cepat, "Abang mau makan apa, Hanum buatkan?"


"Apa aja pasti aku makan!" jawab Sakha dengan tersenyum.


Hanum bergegas bangkit dan berjalan ke dapur untuk membuat sarapan untuk Sakha.


***

__ADS_1


Ilham masuk kedalam mobilnya untuk pulang. Selain untuk menyegarkan diri dan berganti pakaian, Ilham juga ingin melihat keadaan Hanum setelah kemarin ia sedikit mengacuhkannya.


Ilham bergegas menginjak pedal gasnya dan melaju membelah jalan raya, dirinya ingin sampai ke tempat Hanum terlebih dulu sebelum pulang untuk menyegarkan diri.


Tak butuh waktu lama, karena saat pagi. Kemacetan belum begitu ramai hingga membuat Ilham sampai lebih cepat.


Ilham memarkirkan mobil nya jauh dari tempat Hanum berada, ia tak mau niatnya yang hanya ingin melihat diketahui Hanum. Bukan tanpa sebab, Ilham masih malu jika harus bertatap muka dengan mantan istrinya itu setelah kejadian tak mengenakan kemarin.


Ilham berjalan mendekat ke arah rumah makan Hanum, tapi alangkah terkejutnya Ilham, saat melihat Sakha yang tersenyum manis ke arah Hanum yang tengah berjalan sambil membawakan makanan.


"Ini Bang sarapannya?" ucap hanum sambil meletakan sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap.


"Wah nasi goreng nya enak nih kayaknya!" ucap Sakha takjub.


"Makan aja dulu Bang, siapa tahu Abang suka!"


Tak menunggu waktu lama, Sakha langsung memulai memakannya dengan lahap. Tak sia-sia ia bangun pagi dan bersiap ke tempat Hanum. Walaupun sempat diteriaki oleh ibunya karena melewatkan sarapan pagi. Sambil makan Sakha mengucapkan maaf dalam hati untuk ibunya dan kebohongan nya tadi.


Hanum yang melihat Sakha makan dengan lahap dan sedikit tersenyum. Membuat Hanum juga ikut menyunggingkan senyum dan semua itu tak luput dari perhatian Ilham. Hati Ilham mencelos nyeri, wanita itu kini sudah mulai jauh darinya dan dari genggamannya.


Ada rasa tak rela saat senyum yang dulu selalu menghiasi paginya, kini beralih kepada orang lain. Tanpa terasa Ilham mulai mengeratkan kepalan tangannya. Tapi dirinya juga tak mampu melakukan apa-apa hingga tanpa sadar, air mata itu kembali menetes.


Ilham buru-buru menyeka air matanya dan berlalu dari tempat dan pemandangan yang menyesakkan hatinya itu. Sebelum Hanum melihatnya rapuh seperti itu.


Saat Ilham berbalik pergi, Hanum pun berbalik menatap luar. Hanum merasa ada yang tengah memperhatikan dirinya tapi saat melihat keluar ia tak melihat ada siapapun disana.


"Kamu kenapa?" tanya Sakha yang melihat Hanum bolak-balik melihat keluar.


"Nggak ada Bang, mungkin hanya perasaanku saja."


"Nasi goreng nya enak banget, boleh gak kalau setiap hari aku minta dibuatkan nasi goreng?"


Hanum terkekeh pelan, "Boleh Abang kalau bang setiap hari kesini!"


Merasa mendapatkan lampu hijau dari Hanum, Sakha tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan wanita yang sudah setahun ini mengisi hatinya ini.


***


Jangan lupa like komen sama vote ya kak, mumpung hari senin🤭 Terima kasih and Happy Reading 😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2