Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Bulan Madu 2.


__ADS_3

Keesokan paginya, "Gimana udah siap semua?" tanya Sakha saat melihat Hanum turun dari tangga menggendong Reyhan.


"Sudah Bang, kita langsung berangkat atau mau mampir dulu ke rumah mama sama ibu?"


"Langsung saja, Abang sudah nelpon mama sama ibu kok. Kalau kita akan pergi berbulan madu!"


Hanum mengangguk, "Ya udah yuk jalan, sini Reyhan sama Papa?" ucap Sakha sambil meraih Reyhan dalam gendongan Hanum.


Reyhan yang tahu akan diajak pergi, terlihat lebih ceria dari biasanya. Bahkan saat dirinya berpindah gendongan pun, senyum dan celotehannya tak berhenti.


"Abang gak bawa mobil sendiri ya?" tanya Hanum saat melihat sopir yang biasa mengantar dirinya juga ikut masuk kedalam mobil.


Sakha menggeleng, "Untuk sekarang Abang gak nyetir sendiri, pengen duduk bertiga sama kalian aja!" jawab Sakha enteng.


Mobil melaju membelah pagi sebelum kepadatan kota dimulai, saat mobil yang mereka kendarai masuk ke jalan tol yang menunjukan arah bandara, Hanum menoleh melihat Sakha bingung. Pasalnya lelaki yang ada di sampingnya ini tak mengatakan akan pergi kemana, untuk bulan madu mereka.


"Kita mau kemana, Bang? Kok masuk tol arah bandara?"


Sakha tersenyum sambil menatap Hanum dan berbisik. "Rahasia!"


Hanum menganga tak percaya, saat mendengar ucapan suaminya itu. Sakha yang melihat Hanum membuka bibirnya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sakha mengecup pelan bibir Hanum yang masih terbuka, disertai dengan sedikit *******. Hingga tepukan di dada Sakha membuatnya menyudahi ciuman singkat itu.


Hanum menepuk pelan dada Sakha, saat dirasa pasokan udara di dalam paru-paru nya mulai menipis. Wajahnya merah padam karena malu, saat menyadari tak hanya mereka yang ada di dalam mobil tapi ada juga sang sopir yang pura-pura tak melihat aktivitas majikannya itu.


"Abang, malu ih!" ucap Hanum sambil menepuk lengan Sakha.


Sakha tertawa melihat Hanum yang malu-malu, hingga rona merah itu kembali hadir menghiasi wajah cantiknya. "Kamu tambah cantik kalau lagi malu-malu begitu. Bikin Abang makin cinta sama kamu?" bisik Sakha pelan.


Hanum semakin merona mendengar godaan Sakha, suaminya ini memang pandai sekali menggoda saat sedang bersama dengan dirinya.


Sesampainya di bandara, Hanum turun terlebih dahulu sambil menunggu semua koper nya di turunkan dari bagasi mobil.


"Kita mau kemana sebenarnya Bang?" tanya Hanum yang masih penasaran, akan di bawa kemana oleh sang suami.


Sakha menggenggam tangan Hanum dan membawanya sambil berbisik, "Jepang."


"Hah, Jepang Bang? tanya Hanum sambil membuka lebar mulutnya saking terkejutnya.


Sakha yang gemas dengan tingkah istrinya ini hanya terkekeh pelan, " Jangan lebar-lebar nanti Abang cium lagi mau?"


Hanum langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya, Hanum terkejut pasalnya sang suami tak pernah membicarakan ini sebelumnya dan kejutan yang diberikannya ini, sukses membuatnya berdecak takjub.


"Ayo jalan, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat?" ajak Sakha, sambil terus menggenggam tangan kanan Hanum dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia pakai untuk menggendong Reyhan.


Hanum mengikuti langkah kaki sang suami dan berusaha mengimbanginya. Setiap langkah yang Hanum lewati hari ini, hanya ada kebahagiaan di dalamnya. Perhatian Sakha, kasih sayangnya membuat Hanum mulai bisa melupakan masa lalu nya.


Di tempat yang sama.

__ADS_1


Dari arah pintu keluar, nampak dua orang yang sedang bergandengan tangan. Keduanya sibuk memastikan bawaannya, takut kalau ada yg tertinggal. Walaupun seandainya ada yang tertinggal pun, bukan masalah besar untuk Ilham! Karena ia bisa dengan mudah membelinya kembali, tapi sesuatu yang ia bawa kali ini benar-benar istimewa, karena Ilham sengaja membeli ini hanya untuk putra semata wayangnya.


Senyum ceria sentiasa tersungging di bibir Ilham, saat membayangkan wajah bahagia sang anak, saat menerima hadiah yang sengaja ia belikan.


"Kamu bahagia banget ya Mas?" tanya Amel saat melihat Ilham yang begitu bersemangat, saat memeriksa semua barang-barangnya.


"Hm, hari ini kita pulang setelah hampir satu tahun berada di negri orang. Jujur aku rindu dengan semua yang ada disini, terutama dengan mama dan papa terlebih dengan pekerjaanku. Kamu tahu kan selama menemani mu berobat, aku mengerjakan semua pekerjaanku lewat komputer dan itu sungguh membuatku bosan." ucap Ilham.


"Jadi, apa kamu menyesal telah menemaniku Mas?" tanya Amel sambil memandang Ilham sendu.


"Astaga, kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Ilham sambil menangkupkan kedua tangannya diwajah sang istri.


"Entahlah, aku hanya merasa seperti itu?" jawab Amel gamang.


"Kamu harus percaya sama aku, apapun yang aku lakukan semuanya untukmu. Karena aku kamu jadi seperti ini, jadi biarkan aku menebus semuanya kembali untuk membuatmu bahagia. Jadi tolong jangan pernah berpikir seperti itu lagi, oke?" pinta Ilham lembut.


Amel mengangguk, "Janji jangan pernah tinggalkan aku ya Mas?"


"Hmm!" jawab Ilham sambil menarik Amel dalam rengkuhannya.


Setelah berpelukan, Ilham mengajak Amel untuk segera pulang. Setelah semua barang-barang nya selesai di cek dan tidak ada yang tertinggal maupun berkurang.


"Kita mau langsung pulang kerumah apa mau kerumah mama sama papa dulu?" tanya Ilham saat taksi yang dikendarainya keluar dari bandara.


"Pulang ke rumah kita aja ya, aku ingin istirahat sebentar sebelum ketemu dengan mama dan papa, Mas!"


Tak butuh waktu yang lama untuk Ilham sampai ke rumahnya, jarak bandara dan rumah nya yang lumayan jauh tak membuatnya kelelahan, dikarenakan jalanan yang masih lengang di pagi hari.


Sesampainya di rumah, Ilham dan Amel di sambut oleh Bi Tari yang masih bekerja untuk mengurus rumah mereka selama mereka tak ada.


"Assalamu'alaikum?" ucap Amel dan Ilham bersamaan.


Tak lama suara pintu yang terbuka, membuat sang penunggu rumah terkejut, pasalnya kedua majikannya ini tak pernah memberitahu kalau akan pulang.


"Waalaikumsalam, Pak, Bu! Ibu apa kabar semakin cantik saja?" ucap bi Tari haru. Pasalnya semenjak bi Tari bekerja, belum pernah ia melihat Amel secantik ini.


"Alhamdulillah kami baik Bi!" jawab Ilham saat melihat Amel hanya membisu dan menatap asisten rumah tangga nya dengan alis yang bertaut.


"Kamu pasti bingung kan dia siapa, nanti aku jelasin ya? Sekarang kita masuk dulu yuk, katanya kamu lelah?" ajak Ilham yang melihat raut kebingungan di wajah istrinya.


Amel pun mengangguk dan mengikuti Ilham masuk kedalam kamar mereka. "Bi bawa semua koper kami kedalam ya, saya mau istirahat dulu di kamar!" ucap Ilham sebelum meninggalkan bi Tari sendirian dengan segala kebingungan nya.


"B-baik Pak!" ucap bi Tari sambil menarik semua barang bawaan Ilham kedalam rumah.


"Dia siapa Mas?" tanya Amel sesaat setelah sampai di dalam kamar.


"Namanya bi Tari, dia dulu yang merawat kamu saat emosi kamu tidak stabil. Kamu tidak mengingatnya?" tanya Ilham balik.

__ADS_1


Amel menggeleng pelan. "Ya sudah gapapa sekarang kita istirahat dulu ya, nanti aku kenalkan lagi biar kamu gak bingung, oke?" ucap Ilham sambil membawa Amel duduk di atas ranjang mereka.


****


Setelah menempuh waktu yang cukup lama, kini Hanum dan Sakha tiba di Tokyo. Ibu Kota Negara Jepang. Sakha memilih negara Jepang karena mempunyai destinasi wisata yang sangat bagus, untuk pengantin lama rasa baru seperti mereka, terlebih di Tokyo banyak tempat yang sangat bagus untuk keluarga kecilnya menghabiskan waktu bersama-sama.


Setelah melakukan reservasi sebelumnya di hotel, yang akan menjadi tempatnya membuat kenangan baru. Kini Sakha dan Hanum sudah mulai masuk dan mulai mengistirahatkan tubuh mereka.


"Hotel nya bagus ya Bang?" ucap Hanum saat melihat pemandangan yang langsung mengarah ke pusat kota.


Sakha yang baru saja meletakkan Reyhan yang tertidur, langsung menyusul Hanum dengan berdiri dibelakangnya dan memeluk Hanum dengan mesra.


"Kamu suka gak?" tanya Sakha sambil menaruh dagunya di pundak Hanum.


Hanum mengangguk, "Suka banget Bang, pemandangannya sangat indah!" jawab Hanum masih dengan perasaan takjub.


"Alhamdulillah kalau kamu suka, jadi rencana Abang buat kejutan untuk kamu jadi gak sia-sia!" ucap Sakha sambil mencuri ciuman di pipi Hanum.


Hanum berbalik dan menatap Sakha lembut, "Terima kasih ya Bang, kejutan ini tak akan pernah Hanum lupakan seumur hidup Hanum. Terima kasih sudah hadir dan membawa kebahagiaan untuk hidup Hanum?" ucap Hanum sambil berjinjit mencium lembut bibir Sakha.


Sakha yang terkejut karena tingkah Hanum, jadi sedikit terdiam saat kecupan lembut itu membelai bibirnya.


Dengan wajah yang merona Hanum berbalik dan hendak pergi. Tapi dengan cepat Sakha meraih tangan Hanum, sebelum istrinya itu benar-benar menjauhinya.


"Mau kemana?" tanya Sakha sambil tersenyum geli, melihat tingkah istrinya yang masih saja malu-malu kucing.


"H-hanum mau mandi Bang, gerah?" jawab Hanum sambil tergagap.


"O ya, padahal kamar ini dingin lho kok kamu gerah? Habis berbuat gak mau tanggung jawab ya?" ucap Sakha menggoda.


Hanum yang masih malu, makin bertambah malu setelah di goda Sakha seperti itu. "M-mana ada begitu Bang?"


Sakha terkekeh, "Ya sudah ayo?" ajak Sakha.


Hanum terkejut, "A-ayo kemana Bang?" seketika perasaan Hanum jadi tidak enak, saat Sakha mengatakan ayo.


"Katanya kamu gerah, ayo kita mandi kebetulan Abang juga gerah?"


"Hah โ€ฆ?" belum sempat Hanum berucap, Sakha lebih dulu menggendong Hanum ala bridal style dan masuk kedalam kamar mandi.


"Mumpung Reyhan belum bangun!" ucap Sakha sambil mengedipkan sebelah matanya.


Hanum pun hanya bisa pasrah saat sang suami mengajaknya untuk mandi, yang dalam artian tak hanya sekedar mandi. Sejenak Hanum merutuki bibirnya, saat mengucapkan kata mandi dan bisa dipastikan mandi kali ini akan jadi mandi yang paling lama dalam hidupnya.


****


Jangan di bayangkan adegan mandi nya ya kak, saya ndak kuat bikinnya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ

__ADS_1


Terima kasih & Happy Reading ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2