Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Setitik Penyesalan


__ADS_3

Hanum berdiri didepan pintu sudah lima belas menit, sejak kedatangannya dari rumah ilham. Tangan nya ragu hanya sekedar untuk mengetuk pintu.


Tok … tok … tok


Hanum memberanikan diri, memasang wajah baik-baik saja seolah-olah tak pernah ada yang terjadi di dalam hidupnya.


Ketukan pertama sunyi, tak ada jawaban dari dalam rumah. Tapi saat Hanum ingin kembali mengetuk pintu, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam dan menampilkan sosok yang selama ini menjadi tumpuannya.


"Ibu!" lirih Hanum.


Bu Surti menatap Hanum dengan nanar, badan anak perempuan satu-satunya itu terlihat lebih kurus! dari terakhir mereka bertemu dan di tangan kanan nya membawa sebuah koper yang berukuran besar. Hati wanita tua itu mencelos, kenapa anak perempuan nya menjadi seperti ini sekarang dan tanpa disadari air mata itu turun dengan sendirinya tanpa bisa dicegah.


Bi Surti merentangkan tangannya, menyambut hari kedatangan anak perempuan satu-satunya itu disertai isak tangis yang tertahan.


Hanum sedikit terkejut melihat ibu nya, tapi tak ingin menunda untuk menumpahkan tangis. Hanum menyambut pelukan sang ibu dengan air mata yang mulai mengalir.


"Ma … afkan Ibu Nak, maaf!" ucap Bu Surti terbata.


Hanum tergugu, "Kenapa Ibu meminta maaf?" tanya Hanum.


"Seandainya dulu ibu tidak menyetujui saat ilham meminangmu, mungkin nasibmu tidak akan menjadi seperti ini!"


"Ini bukan salah Ibu, ini sudah menjadi jalan hidup Hanum bu!" ucap Hanum lirih.


Bu Surti mengurai pelukannya dan membawa Hanum masuk kedalam rumah mereka. Ardi yang melihat semua itu hanya diam sambil mengeratkan kedua tangan nya.


Ardi juga merasa bersalah seandainya dulu apa yang ia lihat, sewaktu berbelanja dengan teman nya, ia bicarakan dengan sang kakak mungkin nasib kakak nya tidak akan seperti ini.


Tapi kembali lagi nasi sudah menjadi bubur, sekeras apapun ia berusaha kalau Allah sudah menentukan takdirnya, itu tidak akan bisa diubah.


Bu Surti menatap Hanum, "Lalu apa rencana mu Nak?" tanya Bu Surti.


Hanum menggeleng, "Belum ada Bu, bolehkan Hanum menghabiskan masa iddah disini Bu?"


"Kamu bicara apa, ini juga rumahmu Nak!"


"Hanum ingin menunggu surat cerai dan masa iddah selesai Bu. Setelah itu Hanum akan mencari pekerjaan untuk mencari kesibukan, supaya Hanum tidak terus berlarut dalam kesedihan."


"Iya, begitu juga baik. Kalau statusmu sudah jelas tak akan ada gunjingan nanti di masyarakat Nak." ucap Bu Surti.


"Iya, Bu dan untuk sementara Hanum akan membantu di panti asuhan saja Bu, membantu mengurus anak-anak yang ada disana!"

__ADS_1


"Lakukan apa yang membuatmu bahagia, Ibu pasti mendukung semuanya." ucap Bu Surti memberi dukungan. "Sekarang kamu istirahat saja dulu, kamarmu sudah Ibu bersihkan."


"Terima kasih Bu, kalau begitu Hanum istirahat dulu ya?"


Saat Hanum ingin beranjak, Ardi muncul dengan tiba-tiba dan menarik koper yang di akan di bawa kakak nya.


"Ardi!"


"Koper ini pasti berat Mbak, biar Ardi saja yang bawa!" ucap nya tanpa melihat Hanum.


Hanum terenyuh, adiknya sudah mulai besar sekarang. Hanum tau kalau Ardi juga pasti tersakiti melihat kakak nya diperlakukan seperti ini. Tapi melihatnya yang sangat sabar membuat Hanum, menitikan air mata.


Hanum mengekor Ardi sambil berkata, "Tidak ada pertanyaan untuk Mbak, Ar?"


Sesampainya di dalam kamar, Ardi menoleh dan menatap sang kakak. "Tidak ada, aku hanya ingin Mbak bahagia apapun keputusan yang sudah Mbak buat." ucapnya sembari melangkah keluar.


Hanum terharu, adiknya ternyata mengerti tanpa harus ia jelaskan dan itu membuat pekerjaan dalam hatinya sedikit berkurang. Hanum sempat berpikir kalau ibu dan adiknya akan marah dan memberondong nya dengan banyak pertanyaan, tapi saat sampai hingga Hanum ingin beristirahat, kedua orang yang paling disayang itu memberinya kebebasan untuk bercerita tanpa diminta.


Ardi berjalan ke ruang tamu, untuk bertemu dengan sang ibu yang diam-diam masih menangis, setelah kakaknya masuk kedalam kamar.


"Bu!" tegur Ardi.


Sang ibu menoleh dan menatap anak laki-laki nya itu. "Mbak mu sudah istirahat Ar?" tanya Bu Surti.


"Kalau begitu kamu juga istirahat saja, Ibu masih mau duduk disini."


"Ardi akan menemani Ibu disini!" Ardi duduk di samping Ibu nya dan memberi pelukan erat di tubuh yang sudah menua itu.


"Bagaimana nasib kakakmu sekarang Ar?" tanya Bu Surti di sela-sela tangisnya.


"Mbak Hanum wanita yang kuat Bu jadi jangan khawatir ya, aku janji akan membuat Mbak Hanum dan Ibu bahagia."


"Hm, lakukan semua yang terbaik untuk kakakmu Ar, hanya kita yang dia punya saat ini." ucap Bu Surti.


***


Setelah meminta kelengkapan berkas perceraiannya tadi pagi, Ilham bergegas menuju kantor pengadilan untuk memproses perceraiannya dengan sang istri.


Ilham melihat pesan yang dikirim sang istri, ah tepatnya mantan istri. Mata nya kembali memanas saat membaca apa yang mantan istrinya itu tulis. "Aku pamit Mas, jaga dirimu. Maaf jika selama menjadi istri, aku belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu! jika ada waktu pulanglah. Aku masih menyiapkan makanan kesukaanmu sebagai bentuk bakti terakhirku."


Membaca setiap kalimat yang mantan istrinya tulis, membuat air mata Ilham terus menetes penyesalan itu, mulai masuk dan hinggap di hatinya.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat seorang ilham menangis di depan kantor pengadilan agama. Dan kini ia menyesali kebodohan yang telah ia lakukan di dalam hidupnya.


Hingga suara dering ponsel membuatnya terperanjat dan sedikit menghapus sisa air mata yang masih menetes dari kedua matanya.


Nama istri kedua memenuhi layar ponsel yang ia pegang. Dengan berat hati ilham mengangkat telpon itu.


"Mas kamu dimana?"


"Kenapa?" jawab Ilham.


"Kamu gak ke kantor hari ini mejamu masih rapi?"


"Aku masih dirumah mama, hari ini aku ijin untuk tidak masuk kantor!" jawab Ilham.


"Lalu aku bagaimana, kamu sudah dua hari ini lho Mas mengabaikanku, sejak pertemuan terakhir di rumah mama?"


"Maaf tapi bisakah kita bahas lain kali, kepala ku sakit untuk saat ini."


"Pulanglah sekali-kali, aku dan anak ini merindukanmu?"


Ilham menyerah, saat pembicaraan berakhir dengan anak yang kembali disebut, hati Ilham kembali luluh. "Baiklah besok aku pulang, sekarang kamu dirumah sendiri dulu ya? aku masih ada urusan dengan mama yang belum selesai." ucap Ilham mengakhiri telponnya.


"Hm, ya sudah kalau begitu tapi janji besok kamu pulang ya?"


"Iya."


Klik


Sambungan terputus, Ilham kembali berjalan dengan gontai menuju mobilnya, yang berada di parkiran gedung pengadilan.


Ilham ingin kembali ke rumah orang tuanya untuk sementara, sebelum memutuskan untuk tinggal selamanya bersama dengan Amel. Tapi mobil yang dikendarai nya tak sengaja berbelok dan masuk kedalam area perumahan dimana ia dan Hanum tinggal.


Mobil berhenti pas di depan rumah mereka dulu. Ilham mendesah lelah, "Kenapa malah kesini!" ucapnya pasrah.


Akhirnya Ilham memutuskan untuk masuk, sudah terlanjur sampai kalau harus berputar arah untuk kembali kerumah orang tuanya, akan memakan waktu yang lama dikarenakan kemacetan yang sebentar lagi akan dimulai, mengingat ini hari menjelang weekend.


Rumah terasa sepi, saat Ilham menginjakkan kakinya di teras rumah. Dulu selalu ada sapaan dan pelukan yang menyambut, saat dirinya kembali pulang setelah bekerja seharian.


Kata-kata manja dari istri yang paling di cinta, kembali memenuhi imajinasinya. Seolah-olah itu tetap berada ditempatnya. Ilham kembali berjalan dan menemukan makanan yang sudah terhidang di meja makan, disertai sebuah catatan. "Makanlah kalau kamu pulang, kalau sudah basi buang saja, masih ada di kulkas dan tinggal di panaskan lagi."


Air mata Ilham kembali merebak, masih se perhatian itu mantan istrinya hingga saat ia pergi pun masih memikirkan dirinya.

__ADS_1


Ilham duduk dan makan, dengan air mata yang terus mengalir mengingat betapa bodoh dirinya, telah membuat istri yang begitu baik pergi dari hidupnya.


***


__ADS_2