Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Rayhan Mahendra.


__ADS_3

Tangis bayi itu berhenti saat Sakha mulai mengumandangkan adzan. Mata Sakha berkaca-kaca, saat bayi yang baru saja di adzani nya itu menggeliat di pangkuannya. Senyum itu kembali merekah dibibir Sakha, harapannya untuk menggendong bayi tercapai hari ini.


Setelah Sakha selesai, kini gantian Bu Surti dan Ardi yang juga ikut terharu melihat bayi mungil yang sudah lama ditunggu kehadirannya.


"Anak mbak hanum ganteng ya Bu?" ucap Ardi sambil mencolek hidung bayi mungil tersebut.


"Iya mirip sekali dengan bapaknya!" Bu Surti menjawab ucapan Ardi spontan, sebelum ia benar-benar sadar atas ucapannya itu.


Sakha terlihat kikuk saat Bu Surti membahas mantan suami dari anak perempuannya itu. Hingga senggolan Ardi tepat di lengan si Ibu membuat Bu Surti seketika meralat ucapannya.


"Eh," Bu Surti tergagap. "Maksud Ibu dia lebih mirip ke hanum, lihatlah matanya apalagi bulu matanya yang terlihat lebih lentik daripada punya hanum!"


Sakha pun tersenyum dan melihat arah yang tadi di ucapkan Bu Surti, memang benar bayi ini sangat mungil dan mempunyai bulu mata yang panjang.


Saat ketiganya masih mengagumi makhluk kecil itu, perawat datang dan ingin mengambil bayi yang sudah selesai di adzan kan itu.


"Sudah Pak?" pertanyaan Suster yang ramah membuat mereka bertiga berpaling.


"Sudah Sus!" jawab Sakha sama ramahnya.


"Kalau begitu bayi nya saya ambil dulu ya Pak, untuk dibersihkan sebelum nanti diberikan kepada ibunya untuk di susui."


Sakha mengangguk dan menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut. "Lalu bagaimana dengan ibu nya Sus?"


"Ibu nya sudah bisa dijenguk nanti setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya Pak, tapi sebelum itu tolong dibersihkan dulu registrasinya terlebih dulu."


"Baik, saya yang akan menyelesaikannya!" jawab Sakha.


Sakha berjalan ke arah loket pembayaran tapi sebelum benar-benar pergi. Ardi lebih dulu memanggil dirinya. "Bang tunggu?"


Sakha berbalik dan menunggu Ardi yang kini tengah menyusul dirinya. "Kenapa?" tanyanya saat Ardi sudah ada didepan matanya.


"Biar Ardi saja Bang, yang membayar biaya persalinan mbak hanum?"


Sakha tersenyum, "Sudah gapapa biar Abang saja, anggap ini bagian dari kerjasama ya?" jawab Sakha sambil melanjutkan keperluannya.


"T-tapi Bang?" Belum selesai Ardi berbicara Sakha sudah terlebih dulu melakukan pembayaran itu. Ada rasa tak enak pasalnya Sakha hanya orang yang bekerja sama dengan kakaknya bukan suami dari kakaknya.


***


Ditempat lain.


Ilham merasakan perasaan gelisah yang teramat dalam, perasaan bahagia dan juga takut disaat yang bersamaan. Ilham sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi, karena sampai saat ini pun dirinya masih berada dirumah. Masih setia menunggu istri keduanya yang tadi kembali mengamuk, saat ibu mertuanya datang menjenguk.


Ilham menghela nafasnya panjang, guna mengurangi sesak yang terus timbul didalam hatinya. Ilham mengingat kembali percakapannya dengan sang ibu mertua yang tadi datang berkunjung ke rumahnya.


"Bagaimana kalau amel kita bawa keluar negri untuk pengobatan?" Obrolan yang tak sengaja diutarakan sang Ibu mertua, setelah melihat amel yang kembali mengamuk.


Ilham terlihat sedang berpikir, menimbang saran dari Ibu mertuanya itu. "Apa mungkin bisa ya Bu?" tanya Ilham balik.


"Aku rasa bisa di sana ada dokter yang berkompeten yang jelas lebih baik dari disini. Sebelum depresi amel menjadi lebih parah!"


"T-tapi …!"


"Kamu gak perlu mikirin biayanya Ham, biar semua Ibu yang tanggung! Yang penting kamu selalu ada untuk amel saja, Ibu sudah sangat senang!"

__ADS_1


"Bukan masalah biaya Bu?" jawab Ilham ragu.


"Lalu apa?"


"Banyak pekerjaan Ilham yang tertunda semenjak kecelakaan itu, jadi Ilham belum berani mengambil keputusan?" Ilham sedikit memberi alasan.


"Kalau begitu cepatlah selesaikan, nanti Ibu akan bicara langsung sama Pak Suryo untuk meminta ijinnya."


Ilham hanya mengangguk saja, Ilham belum benar-benar berpikir akan pergi. Mengingat ia juga masih ada yang perlu diselesaikan antara dirinya dan mantan istrinya. Ah apa kabarnya mantan istrinya itu sekarang?


Lamunannya terputus saat suara dering dari ponsel miliknya berbunyi dengan sangat keras.


Kring … kring … kring.


"Halo, assalamualaikum Ma?"


"Waalaikumsalam Ham!" jawab Bu Suryo dari seberang sana.


"Ada apa Ma, tumben nelpon Ilham?"


"Gak ada Mama hanya ingin bertanya, apa kamu sudah tahu kalau hanum sudah melahirkan?"


Ilham terkejut mendengar pertanyaan mama nya, pasalnya sampai saat ini dirinya pun tidak tahu menahu tentang semua itu. "Nggak Ma, Ilham belum tahu kalau hanum sudah melahirkan!" jawab Ilham jujur.


"Ya sudah kalau begitu! Ham…?" Bu Suryo sedikit menjeda kalimatnya.


"Hm, kenapa Ma?"


"Apa kamu gak mau melihat anak kamu Ham?"


"Hm, kita bertemu disana ya nanti?"


"Hm, kalau begitu Ilham bersiap dulu!"


"Ya sudah Mama juga akan bersiap, kalau begitu Mama matikan dulu telponnya!"


Tut.


Ilham masih terpaku, walaupun obrolan itu sudah di matikan. Ada perasaan haru yang kini menyusup di dalam hatinya, saat mengetahui anaknya sudah lahir didunia.


Ilham bergegas menyambar kunci mobil, tapi sebelum dirinya pergi dia lebih dulu memanggil Bi Tari untuk berpamitan.


"Bi?" panggil Ilham saat melihat wanita paruh baya itu keluar dari dapur.


"Iya, Pak ada apa?"


"Saya mau ada keperluan, ibu masih tidurkan?"


"Iya Pak ibu masih tidur, kemungkinan sore baru bangun!"


Ilham ingat saat istrinya tadi mengamuk, dokter sempat datang untuk memberikan obat penenang sebelum emosi amel bertambah parah.


"Hm, ya sudah tapi nanti kalau ibu nanya saya kemana? Jawab saja kalau saya ada urusan di kantor ya?" pesan Ilham.


"Baik Pak, tapi nanti Bapak makan dirumah atau diluar?"

__ADS_1


"Hm, kemungkinan diluar! Kamu masak buat ibu saja ya? Kalau begitu saya pergi dulu!"


Bi Tari mengantarkan majikannya sampai depan rumah, sebelum ia menutup pintu. Ilham pun bergegas melajukan kendaraan roda empat nya, menuju rumah sakit yang tadi sempat dikatakan ibunya.


Perasaan Ilham campur aduk antara bahagia juga sedih. Ia bahagia anak yang selama ini diharapkan akhirnya lahir kedunia tapi ia juga sedih saat anak yang lainnya malah pergi meninggalkan dunia juga dirinya.


***


Bu Surti masuk, setelah perawat memberitahu kalau hanum sudah di pindahkan ke ruang rawat. "Assalamualaikum Num?"


"Waalaikumsalam, Bu!"


"Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Bu Surti lembut.


"Hanum baik Bu, Alhamdulillah."


"Syukurlah kalau begitu, selamat ya Nak? Akhirnya semua doa-doamu di ijabah sama Allah. Anakmu lahir dengan selamat dan sehat."


"Iya Bu, Hanum sangat bahagia! Akhirnya apa yang selama ini Hanum harapkan sudah menjadi kenyataan!" ucap Hanum dengan linangan air mata.


"Ibu sudah melihat anakku?" tanya Hanum bersemangat.


"Sudah, tadi juga sudah di adzani sama nak sakha!"


"Kok bang sakha Bu?" tanya Hanum heran.


"Iya tadi suster berpikir kalau sakha itu ayahnya, jadi langsung memberikan anakmu padanya untuk di adzani sebelum suster membersihkannya!"


"Hanum jadi merepotkan bang sakha ya Bu?" tanya Hanum sendu.


Tapi Bu Surti menggeleng, "Sakha ikhlas melakukannya Num, dia juga tampak sangat bahagia saat menggendong anakmu tadi!"


"Benarkah Bu? Kalau begitu Hanum akan mengucapkan terima kasih sama bang sakha jika bertemu nanti!"


"Iya kamu harus melakukannya!"


Saat sedang mengobrol, suster datang membawa bayi Hanum yang sudah dibersihkan. Di belakangnya nampak sakha yang juga ikut masuk kedalam ruangan di mana Hanum dirawat.


"Ibu ini bayinya?" ucap Suster sambil menyerahkan bayi mungil itu kepangkuan Hanum.


"Terima kasih Sus?"


Suster mengangguk, sebelum berlalu meninggalkan keluarga yang sedang diliputi kebahagiaan.


"Hai?" sapa Sakha saat Hanum melihat dirinya, yang sedang asik memperhatikan bayi mungil yang ada di pangkuan Hanum.


"Abang terima kasih banyak, karena sudah membantu Hanum sampai disini?" ucap Hanum tulus.


"Hm, Sama-sama aku bahagia melakukannya!" jawab Sakha sumringah.


Sesaat Hanum dan Sakha berpandangan, sebelum suara Bu Surti yang memecah perhatian keduanya. "Anak tampan ini kamu beri nama siapa Num?"


Hanum menatap bayi yang ada di pangkuannya ini sambil berkata. "Namanya Reyhan Mahendra." ucap Hanum disertai senyuman bahagia.


****

__ADS_1


Welcome baby R 😘


__ADS_2