Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Pov Ilham


__ADS_3

Menikah dengan orang yang paling dicintai itu sebuah anugrah bagiku, gadis cantik berhidung mancung, baik, juga sholeha. Siapa juga yang tak akan bangga bisa memiliki wanita yang diidamkan setiap lelaki, dan aku salah satunya.


Menikah dengan Hanum tak segampang yang kupikirkan, penolakan dari kedua orang tua ku menjadi tantangan tersendiri yang sebisa mungkin harus ku menang kan.


Tepat dua bulan setelah lamaran ku dulu, kini aku benar-benar bersanding dengan pujaan hatiku, kalau ditanya apakah aku bahagia? ya tentu jawaban nya aku sangat bahagia, bisa bersanding dengan belahan jiwa, mengarungi kisah cinta yang halal dalam bentuk rumah tangga.


Lima tahun usia pernikahan kami, selama menikah tak pernah sekalipun aku mengeluh, Hanum istri yang sangat baik, tau apa yang ku butuhkan, tanpa sekalipun ku ucapkan. Hanum sempurna buatku bahkan kedua orang tua ku yang dulu nya tak begitu menyetujui pernikahan ini, sekarang malah mereka yang paling menyayangi Hanum seolah-olah Hanum lah anak mereka dan bukan diriku.


Pernikahan kami berjalan baik-baik saja sampai suatu hari, aku yang dengan sangat sadar menyakiti perasaan nya, dengan kata-kata yang sampai sekarang menjadi luka di hatinya.


Dua bulan lalu tepatnya, saat aku dengan jelas mengatakan akan menikah lagi dengan seseorang yang sedikit mencuri hatiku, Hanum ku menangis terisak, "Sejak kapan Mas?" itu yang dia tanyakan. Lidahku kelu, hatiku sakit melihat wanita yang ku cintai menangis dan yang paling kubenci akulah penyebab tangisan nya itu.


Tiga bulan sebelum pengakuan ku, aku bertemu dengannya. Amelia gadis manis dan ceria, dia salah satu karyawan magang di tempat ku, pembawaan nya yang supel dan cepat akrab membuat kami dekat, walaupun aku atasannya saat di kantor, tapi sifat ceria nya menular pada semua orang, termasuk diriku.


Karena sering nya kita bertemu dan berinteraksi lama-kelamaan rasa itu muncul seiring berjalan nya waktu, untuk sesaat aku terlena hingga bisikan setan itu begitu merdu terdengar di telinga ku, berbisik terus menerus untuk berbuat lebih jauh.


Hingga keputusan untuk menikah lagi, ku utarakan pada belahan hatiku! awalnya Hanum tak lantas setuju tapi saat ku katakan aku ingin mempunyai seorang anak, akhirnya Hanum luluh juga, karena itu adalah kelemahannya dan aku sekali lagi menyakitinya.

__ADS_1


Flashback


"Mas kita nikah udah lima tahun kok aku belum hamil juga ya?" tanyanya suatu hari saat kita sedang menikmati waktu santai berdua.


"Memang nya kenapa sayang? apa mama bertanya itu padamu."


"Bukan begitu, aku hanya merasa kurang lengkap karena sampai saat ini hal yang paling kita tunggu tak kunjung hadir." ucap nya sendu.


"Jangan cemas, percaya saja sama yang diatas bukankah dokter berkata semuanya sehat dan baik-baik saja jadi apa yang kamu khawatirkan." ujarku menenangkan.


"Aku hanya takut Mas."


"Aku takut Mas akan ninggalin aku suatu hari nanti, karena kekuranganku ini. Dan jika suatu saat nanti karena kekurangan ku ini mas ingin berpaling, setidaknya tolong Mas beritahu aku, biar aku kuat jika harus berpisah denganmu." ucapnya berair mata.


"Lihat mata Mas, gimana bisa Mas ninggalin Kamu saat yang ada di dalam mata dan hati Mas hanya kamu Sayang. Mas janji sama Kamu kalau Mas gak akan pernah ninggalin Kamu apapun keadaannya."


Seulas senyum terbit di kedua sudut bibir Hanum, rasa bahagia itu membuncah dalam dirinya, Hanum mengangguk dan langsung memeluk Ilham, "Terima kasih Mas."

__ADS_1


Ilham mengelus lembut rambut nya, sambil mengecup kepalanya dan menunjukan bahwa hanya Hanum yang tetap akan menempati tahta tertinggi di dalam hatinya.


Flashback off


Ilham tersadar, saat lamunan bersama Hanum yang tiba-tiba muncul mengingatkan betapa brengseknya nya dia saat ini, disaat ia pernah berjanji untuk selalu menjadikan Hanum satu-satunya tapi kini malah mengkhianati nya.


Ilham menyugar rambutnya kasar, hatinya berteriak marah pada dirinya sendiri, suami macam apa dia ini, "Argghhh, sialan." umpat nya marah.


Sebenarnya Ilham sanggup untuk menunggu, toh dokter berkata kalau mereka berdua sehat dan baik-baik saja. Hanya saja saat Ilham melihat story teman-temannya yang baru menikah dan langsung punya anak, hati Ilham tercubit nyeri, ia iri melihat kebahagian mereka, yang saat lelah bekerja ada suara anak yang memanggil ayah, ada yang memberi pelukan saat kembali ke rumah, ada yang bermanja-manja di pangkuannya tapi seakan ia lupa bahwa ada hati dan janji yang tak boleh diingkari apapun alasannya.


Tapi saat godaan itu datang, Ilham terlena dan mulai menyakiti sebuah hati yang bergelar istri, mementingkan ego demi kepuasan dan keinginan diri sendiri.


Ibarat gayung bersambut, Amelia gadis manis yang sedikit memikat hatinya, menyambut uluran tangan nya menerima walau hanya menjadi istri kedua.


Pernikahan siri pun ia laksanakan demi memburu keinginan nya untuk mempunyai seorang anak, memaksa hati lain untuk menerima walau penuh dengan air mata.


Ingin menyesal pun rasanya sudah sangat terlambat, saat Ilham sudah meneguk manisnya madu cinta bersama istri kedua nya, rasa haus akan belaian yang belum ia dapat dari istri pertamanya, membuat Ilham ingin terus mengulangi bersama istri keduanya.

__ADS_1


Dan akhirnya, kebohongan demi kebohongan Ilham ucapkan demi untuk bisa terus bersama dengan Amelia, walaupun harus menyakiti hati Hanum untuk sesaat ia rela.


***


__ADS_2