
Sebulan setelah pertengkaran itu, Ilham dan Hanum hidup bagai dua orang asing yang sama sekali tak pernah saling kenal.
Di luar, orang masih melihat kemesraan mereka, tapi saat di dalam! hidup mereka bagaikan di neraka. Hanum masih bertahan dengan sikap dinginnya dan Ilham pun sama.
Hanum masih melayani Ilham sebagaimana mestinya, itu semata-mata karena kewajibannya sebagai seorang istri. Sebelum kata talak yang dijanjikan Ilham terucap dari bibirnya. Kata yang akan melepaskan dirinya dari belenggu yang semakin menggerogoti hatinya.
Ilham merasakan sakit, setiap melihat sikap dingin Hanum kepadanya. Tapi ia pun tak dapat melakukan apa-apa, seandainya ia mau sangat mudah bagi Ilham untuk melepas Hanum dari sisinya.
Tapi Ilham tak akan melakukan itu, hatinya masih sangat mencintai istrinya itu, walaupun cara yang digunakan sangat salah di mata Hanum.
Tapi itu cara Ilham mengikat Hanum untuk terus berada di sisi nya, walaupun penolakan selalu Hanum perlihatkan, tapi tak sedikitpun mengurangi keinginan nya untuk melepas Hanum.
Seperti pagi ini, dimeja makan layak nya seperti kuburan. Dua orang yang saling duduk berhadapan, tapi tak kunjung ada suara yang terdengar. Dua-duanya seakan bisu menahan diri hanya untuk menyapa.
Hanum tahu dosa baginya, karena telah mengabaikan suaminya! tapi luka yang terakhir dia dapatkan, tak mampu lagi menutupi sifat baik Ilham selama menjadi suaminya.
Ilham makan seperti biasa, setidaknya istrinya masih mau memasak makanan untuk dirinya, walaupun kebisuan yang kini ia dapatkan.
Tak ada lagi kata manja, ucapan selamat pagi ataupun selamat jalan yang keluar dari bibir Hanum, saat ia akan mengawali hari nya untuk bekerja.
***
Sesampainya di kantor, Ilham disambut dengan senyum manis sang istri kedua.
Ilham nampak heran, untuk pertama kalinya Amel tidak marah setelah hampir sebulan lamanya, Ilham jarang memiliki waktu berdua dengan dirinya.
Terakhir ia bersama dengan sang istri, jauh sebelum pertengkarannya dengan istri pertamanya. Setelah itu Ilham lebih suka menyibukan diri dengan setumpuk pekerjaan yang ada di kantor.
"Pagi Pak?" sapa Amel ramah.
"Pagi juga." jawab Ilham.
Amel mengikuti Ilham, berjalan masuk kedalam ruangan kantornya. Setelah Ilham mendudukan diri di kursi ke bangganya, Amel datang mendekat dan ikut duduk di pangkuan Ilham.
"Mas!"
"Hmm."
"Kamu sekarang jarang berada dirumah, menghabiskan waktu denganku. Mas udah mulai bosan ya?" tanya Amel sembari memainkan jari tangan nya di dada Ilham.
Ilham melenguh, tak dipungkiri sentuhan Amel mampu membangkitkan sesuatu dalam dirinya, yang sudah lama terpendam.
Ilham meraih tangan Amel yang masih asik bermain di dada Ilham. "Jangan di sini!" pinta Ilham.
"Kamu gak rindu sama aku Mas?" ucap Amel sendu.
__ADS_1
Lidah Ilham kelu! ingin sekali ia menjawab tidak tapi, sudut hatinya berkata lain. Bohong kalau dia bilang tidak, sedangkan hanya lewat sentuhan Amel saja sudah mampu membangkitkan gairah Ilham yang sudah lama terpendam. Semenjak pertengkarannya dengan Hanum.
Amel menatap Ilham heran, karena Ilham tak kunjung menjawab pertanyaan dari Amel. "Ma … as!" rengek Amel.
"Hm."
"Kamu kok diem aja sih Mas?"
"Kamu tadi tanya apa?" ulang Ilham.
"Ih, kamu begitu!" rengek Amel.
"Maaf sayang, akhir-akhir ini aku banyak sekali pekerjaan dan itu benar-benar menyita seluruh waktu dan juga pikiranku! Kamu ngerti kan?" bujuk Ilham.
Amel masih mengerucutkan bibirnya kesal dan Ilham yang tak tahan melihat Amel merajuk seketika mencium dan ******* pelan bibirnya.
Setelah ciuman panas itu, keduanya menyudahi saat dirasa pasokan udara di sekitar mereka mulai menipis.
Keduanya terengah, dan saling menempelkan dahi. Nafsu mulai menguasai keduanya, sebelum kelewat batas. Ilham menyudahi dengan membuang muka ke arah luar.
"Nanti pulang ke rumah ya Mas, ada yang ingin kutunjukkan!" ucap Amel sembari berdiri merapikan baju nya yang sedikit berantakan.
"Apa itu sayang?" tanya Ilham penasaran.
"Kejutan." bisik Amel tepat di telinga Ilham.
"Ya sudah aku kembali ke meja ku dulu ya Mas?" pamit Amel sembari mencium pipi Ilham.
"Hm."
***
Di tempat lain, Hanum berdiri mematung menatap dirinya di depan cermin, badannya semakin hari nampak semakin kurus. Tak ada raut wajah yang bersinar di sana, yang ada hanya mendung yang terus bergelanyut di wajah cantik itu.
Hanum membereskan sebagian baju-bajunya, memasukan rapi kedalam koper yang tersimpan di ujung lemari bajunya.
Ia hanya bersiap, jika suatu hari nanti saat kata talak itu jatuh, ia sudah sangat siap untuk pergi jauh dari hidup Ilham. Tanpa punya keinginan untuk kembali.
Selesai merapikan semuanya, Hanum tertegun saat menatap foto pernikahan nya dengan Ilham dulu.
Wajah bahagia itu terlihat jelas di sana, senyum nya juga senyum sang suami yang menggambarkan kebahagiaan yang seakan tidak akan pernah hilang. Tapi kini, senyum itu tak lagi menghiasi wajahnya maupun wajah sang suami.
Hanum kembali tergugu, saat kenangan manisnya dulu kembali menari di pelupuk matanya. Mengingatkan ia dengan cinta Ilham yang begitu besar untuknya dulu.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Hanum menutup foto itu, memasukan nya di dalam tumpukan baju yang ada di dalam kopernya.
__ADS_1
Anggaplah Hanum bodoh, karena masih menyimpan kenangan menyakitkan itu dan memasukkannya diantara barang pribadinya. Tapi sepahit kenangan itu! dulu ia juga pernah manis dan mengisi hidup Hanum selama lima tahun terakhir, sebelum datangnya badai yang menghancurkan rumah tangganya.
***
Waktu menunjukan pukul lima sore, sesuai janjinya tadi kini Ilham bersiap untuk pulang ke rumah Amel.
Dan Amel sudah menunggu di tempat parkir yang jarang sekali dilewati orang, demi menunggu Ilham dan pulang bersama nya.
Tak lama menunggu, Ilham datang dan langsung mengajak Amel untuk masuk kedalam mobil.
"Kamu mau ngasih kejutan apa?" tanya Ilham sembari menginjak pedal gas dan meninggalkan tempat parkir menuju rumahnya bersama dengan Amel.
"Namanya kejutan Mas, ya nanti dirumah aku ngasih tahu nya."
"Hmm, oke kita pulang."
Perjalanan dari kantor sampai di rumah Amel tak membutuhkan waktu lama. Waktu setengah jam dilalui kedua nya dengan sangat cepat. Disaat kondisi jalanan juga tidak macet.
Ilham memarkirkan mobil di garasi rumah Amel. Dan keduanya masuk kedalam rumah dengan perasaan tak tentu. Ilham yang deg-degan dengan apa yang akan di tunjukan Amel dan Amel pun demikian, saat kejutan yang dimaksud ini, akan mampu mengubah keadaan dirinya kelak atau malah sebaliknya.
"Duduk Mas aku bikinin minum dulu mau?" tawar Amel.
"Hm."
"Mau yang panas apa dingin?" tanya Amel lagi sebelum beranjak ke dapur.
"Dingin aja, biar gak gerah pas dapet kejutan nanti." kekeh Ilham.
"Kejutannya gak bikin panas kok Mas, malah bikin seneng." ucap Amel setengah berteriak, karena jarak antara dapur dan ruang tamu sedikit jauh.
Amel kembali, dengan membawa dua gelas minuman dingin yang tersedia di dalam kulkasnya.
Setelah meletakan minuman dingin untuk Ilham, Amel kembali beranjak untuk mengambil kejutan yang dimaksud dirinya tadi.
Amel berdiri di depan Ilham dan memberikan sebuah kotak yang terbuat dari beludru.
Ilham yang bingung, hanya menerima tanpa tahu apa maksudnya.
"Buka lah Mas!" ucap Amel dengan rona bahagia.
Ilham yang melihat kebahagiaan tercetak di wajah Amel, seketika mengerutkan dahinya.
"Ayo buka aja Mas, jangan bingung begitu." ulang Amel.
Akhirnya dengan perasaan berdebar, Ilham membuka kotak yang ada di tangannya. Dan seketika matanya membulat sempurna, menatap benda yang ada di tangannya dengan takjub.
__ADS_1
****