
Dua puluh tahun yang lalu.
Prangg.
Suara gelas yang jatuh membuat Ardi terkejut, dengan langkah tergesa-gesa. Ia menghampiri sang ibu yang masih mematung dengan pandangan kosong.
"Ada apa Bu?" tanya Ardi sedikit panik, melihat wajah sang Ibu yang sedikit memucat.
Bu Surti menatap nanar wajah sang anak yang kini tengah berdiri di depannya. Air mata itu turun tanpa bisa dicegah, rasa menyesal itu perlahan masuk kedalam hatinya.
Saat ia mendengar kalau mantan menantunya itu sudah tiada. Karena sebuah kecelakaan yang dialaminya.
"Bu?" panggil Ardi lagi. "Ibu gapapa kan, jangan bikin Ardi takut Bu. Ibu kenapa?"
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Ardi mendekat dan menyentuh lengan tua sang Ibu.
Bu Surti tersadar dan menangis, "I-ilham, Ar. Ilham sudah tidak ada lagi?"
"Maksudnya Ibu, apa?"
Bu Surti sedikit terisak saat mencoba menjelaskan apa yang tengah terjadi.
"Ibu mendapat kabar kalau Ilham sudah meninggal Ar!" ucap bu Surti dengan sedikit terbata-bata.
"A-apa, Mas Ilham meninggal Bu! Kapan?" ucap Ardi yang sama terkejutnya saat mendengar berita kematian sang mantan ipar.
Bu Surti jatuh terduduk sambil menangis, "Ini salah Ibu, Ar! Ini salah Ibu!" ucapnya parau.
Ardi duduk di samping sang Ibu, "Bagaimana ini bisa menjadi kesalahan Ibu, sedangkan kita tidak tahu apa-apa, Bu!" ucap Ardi yang berusaha membuat Ibu nya tenang.
"Dan Ibu dapat kabar dari siapa?" tanya Ardi lagi.
Sambil terisak bu Surti menceritakan bagaimana ia tahu kalau sang mantan menantu sudah tiada. Dan dengan air mata yang masih mengalir, bu Surti juga menceritakan bagaimana itu bisa menjadi salahnya.
Flashback.
__ADS_1
Dering suara ponsel yang tak henti membuat bi Surti mengurungkan niat nya untuk mengambil air minum, rasa haus yang sejak tadi ia tahan, terpaksa kembali ia tahan saat nama sang mantan besan kembali terpampang di layar ponselnya.
Dengan perasaan berat bu Surti menjawab panggilan telpon dari mantan besannya itu. Walaupun kejadian sebelumnya sudah membuatnya merasa sesak jika terus di ingat. Pembaca ingat kan perdebatan terakhir mereka.
"Hal โฆo." Belum selesai bu Surti memberi salam. Suara dari seberang telpon membuatnya terkejut luar biasa.
"Terima kasih, usahamu untuk tak mempertemukan anakku dengan putranya akhirnya terkabul. Puas sekarang kamu? Karena dirimu sekarang anakku pergi dengan membawa semua kerinduan yang ada di dalam hatinya! Gara-gara keegoisan mu anakku mati dengan membawa luka dalam hatinya! Aku harap suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hal yang sama yang ku alami sekarang!" ucap bu Suryo sebelum menutup telponnya.
Mendengar sumpah serapah dari sang mantan besan, membuat badan bi Surti melemas seketika. Hingga gelas yang ia pegang ikut jatuh dan pecah bersamaan dengan air mata yang turun dari mata tua nya.
Flashback off.
"Ibu salah Ar, ibu salah!" isak bu Surti pelan.
Ardi memeluk sang Ibu dan memberinya ketenangan. "Ini bukan salah Ibu, niat kita hanya tidak ingin mbak Hanum ataupun Reyhan tersakiti saat mas Ilham memutuskan untuk kembali. Jadi tenangkan diri Ibu ya, anggap saja ini seperti musibah?"
Bu Surti masih menangis saat Ardi mencoba untuk menenangkannya. "Nanti kita kesana ya Bu, untuk takziah melihat mas Ilham untuk yang terakhir kalinya?"
***
Bu Suryo masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pikirannya jauh melayang, saat ia mengingat kembali ucapan sang dokter sebelum ia jatuh pingsan.
Hatinya! Tidak lebih tepatnya dunianya hancur. Saat ia berharap mendapatkan kabar baik yang selama ini ditunggu setelah kecelakaan sang anak. Tapi malah kabar duka yang kini ia Terima.
Harapannya untuk melihat anaknya hidup, kini terkubur bersama dengan jasad sang anak itu sendiri. Isakan itu terdengar seperti sayatan, pelan tapi menghujam tepat di hati yang mendengar.
Pak Suryo yang juga tengah menunggu sang istri siuman, sedikit mencelos saat ia mendapati istrinya seperti orang yang kehilangan arah.
Pandangan matanya kosong, dengan sisa air mata yang belum sepenuhnya berhenti mengalir. Dengan lembut Pak Suryo menyentuh tangan sang istri.
"Ma, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?" Bu Suryo menatap nanar wajah sang suami sebelum ia kembali menangis. "Apa aku terlihat baik-baik saja Pa?" Pertanyaan pilu itu terlontar dari bibir bu Suryo.
Pak Suryo menunduk tajam, hatinya juga hancur dunianya juga runtuh tapi untuk menunjukan semua itu ia tidak sanggup. Berusaha berdiri dan terlihat kuat untuk sang istri itu yang saat ini ia lakukan. "Ma?" Panggil Pak Suryo pelan. "Ikhlaskan ya, mungkin dengan begini, Ilham akan tenang disana. Ilham sudah tidak merasakan sakit lagi dan pastinya dia bisa bahagia sekarang?"
Mendengar ucapan sang suami sakit hati yang dirasakan Bu Suryo semakin menjadi, "Ini semua gara-gara bu Surti, seandainya ia tak menghalangi Ilham untuk bertemu dengan Reyhan. Mungkin Ilham ku masih disini Pa!" Isaknya lebih keras.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan orang lain, Ma?" ucap Pak Suryo yang tidak setuju dengan perkataan sang istri. "Ingat, segala sesuatu yang terjadi itu sudah menjadi takdir dari Allah kita harus ikhlas Ma!"
Bu Suryo semakin terisak mendengar ucapan sang suami. Rasa sesak itu masih terasa menghimpit di dadanya. Saat bu Suryo masih tenggelam dalam luka karena kehilangan, pintu ruang rawatnya dibuka dari luar dan menampakkan wajah Aditya.
"Permisi Pak, maaf mengganggu sebentar?" ucap Aditya sambil melangkahkan kaki nya untuk masuk lebih dalam.
"Ada apa Dit?" tanya pak Suryo lirih.
"Jenazah mas Ilham sudah dimandikan, dokter bertanya apakah langsung dibawa pulang atau langsung di kuburkan?" jawab Aditya dengan menunduk.
Mendengar ucapan Aditya, Bu Suryo kembali menangis. "Bawa pulang dulu Dit, aku ingin bersama dengan putra ku untuk yang terakhir kali. Sebelum aku benar-benar kehilangannya."
Aditya menangguk dan langsung pergi menjalankan perintah dari majikannya itu.
"M โฆma!" Belum sempat Pak Suryo mengatakan sepatah kata, tangan bu Suryo lebih dulu terangkat, menandakan kalau keputusannya sudah benar.
"Untuk kali ini, tolong biarkan seperti ini Pa! Aku hanya ingin melihat anakku untuk yang terakhir kali, sebelum mataku tertutup untuk menyusulnya nanti."
Pak Suryo mengangguk dalam diam, bahkan semangat nya pun ikut menguap bersama dengan perkataan sang istri.
***
Rumah bercat putih yang biasanya sepi kini tampak ramai, banyak orang yang datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.
Kematian Ilham membawa dampak yang begitu besar untuk semuanya, tak terkecuali. Baik dari keluarganya sendiri ataupun orang lain.
Begitu juga dengan Hanum, di usia kehamilan yang sudah mendekati hari lahir. Ia mendapatkan berita kematian Ilham yang membuatnya terkejut. Sakha yang juga mendapatkan kabar itu pun ikut terkejut, mengingat selama ini sang mantan suami dari istrinya itu tinggal jauh dari negara ini. Dan kabar kematian nya yang mendadak banyak membuatnya berpikir.
"Kamu ingin kesana?" tanya Sakha saat melihat Hanum hanya mematung memandang ponsel di tangannya.
Hanum melihat Sakha dan mengangguk dengan ragu, "Apa boleh?"
Sakha mengangguk mantap, "Bersiaplah kita akan pulang, hem?"
Hanum tersenyum dan mengangguk. Ia lantas bergegas untuk bisa kembali ke Jakarta untuk menenangkan sang ibu dan juga untuk bertemu dengan mantan suaminya untuk yang terakhir kali.
__ADS_1
****
Akhirnya extra part yang kedua ke tulis juga, maaf ya kalau tulisannya tidak sesuai dengan yang kalian harapkan. Sekali lagi maaf dan Terima kasih. Happy Reading ๐๐๐