Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Awal Hidup Baru


__ADS_3

Keesokan paginya, Hanum bangun dengan keadaan yang lebih segar. Rona cerah nampak di wajahnya cantiknya. Hanum menghampiri sang ibu, yang sedang memasak sarapan pagi untuk mereka.


"Selamat pagi Bu?" sapa Hanum.


"Pagi juga Nak, kamu sudah bangun?"


"Iya Bu, sudah! Ibu masak apa?"


"Adikmu minta di bikini nasi goreng Num jadi Ibu masakin. Kamu mau makan apa?"


"Hanum makan apa aja Bu!" ucap Hanum. "Bu boleh Hanum bantuin masaknya?"


"Tidak usah kamu duduk aja, biar Ibu yang masak. Ingat kamu lagi hamil muda jangan terlalu lelah gak baik buat kandungan kamu!" ucap Bu Surti menasehati.


"Hanum gak capek kok Bu!"


"Sudah Hanum biar Ibu saja ya?"


Akhirnya Hanum hanya melihat, saat sang Ibu sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Bu?" panggil Hanum.


Bu Surti hanya menoleh sebentar, "Kenapa Num?"


"Hanum ingin bekerja lagi seperti dulu, apa boleh?" tanyanya ragu.


Bu Surti menghentikan sejenak aktivitas memasaknya dan kini menatap Hanum dengan heran.


"Kenapa kamu mau bekerja Num?"


"Hanum hanya sedang memikirkan masa depan anak Hanum bu, uang tabungan Hanum selama menikah mulai berkurang sedikit demi sedikit, Hanum hanya takut jika hanun tidak bekerja, anak Hanum nanti bagaimana?"


"Kan masih ada Ibu! biar Ibu saja yang bekerja kamu dirumah jaga baik-baik kandungan kamu!"


"T-tapi Bu."


Bu Surti melangkah mendekati Hanum yang tengah duduk dengan raut wajah yang terlihat sedih, sambil mengusap kepalanya Bu Surti berkata, "Selama Ibu masih sanggup memberimu makan dan tidak membiarkanmu kekurangan, InsyaAllah pasti ada jalannya. Percaya sama Gusti Allah Nak!" ucap Bu Surti.


Hanum tersedu-sedu mendengar ucapan Ibu nya, betapa rapuhnya Hanum seandainya orang yang disayang tak ada disampingnya untuk sekedar memberi semangat.


***

__ADS_1


Ilham sudah bersiap dengan setelan baju kerja, yang sudah lengkap dengan jas yang kini disampirkan di lengan sebelah kirinya. Ilham tengah menatap wanita yang kini meringkuk diatas tempat tidur.


Kepalanya menggeleng pelan, jika itu Hanum ia pasti sudah merasakan harumnya bau masakan dan segelas kopi, yang akan menemaninya menunggu sarapan selesai.


Lagi-lagi Ilham membandingkan dua wanita yang sangat jauh berbeda. Apa yang dulu Ilham lihat dari wanita yang sedang tidur di depannya ini, hingga dia bisa menyakiti Hanum demi dirinya.


Ilham mengusap kepalanya yang tidak sakit, demi mengurangi tekanan yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


"Amel … mel?" panggil Ilham.


Amel yang masih merasakan berat saat membuka mata, hanya menggeliat sambil bergumam, "Hmm."


"Kamu gak buat sarapan aku mau berangkat ke kantor?" tanya Ilham.


Amel terjengkit, "Ya ampun Mas jam berapa ini?" tanyanya balik.


"Udah jam setengah tujuh pagi!"


"Kok kamu gak bangunin aku sih Mas, aku kan harus kerja juga!"


"Lho kamu memang belum resign?" tanya Ilham bingung.


"Belum Mas, aku belum bisa resign sekarang. Nanti yang bantuin kamu gak ada lagi!" ucapnya.


"Aku tahu Mas, aku akan resign kalau kamu udah jadiin aku istri sah!"


"Lho kok begitu?"


"Hm, aku gak mau kalau nanti aku resign terus kamu nyari sekretaris baru. Nanti kamu jatuh cinta lagi sama dia?"


"Astaga Amel, dapat pikiran dari mana kamu, kalau aku nanti selingkuh?" tanya Ilham geram.


"Bukan Mas, aku hanya mengantisipasi biar kejadian antara kamu dan aku gak akan terulang lagi."


Ilham geram mendengar ucapan Amel, apa katanya? mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi kembali! Ilham tak habis pikir bagaimana istrinya punya pikiran seperti itu.


Ilham yang merasa harga dirinya terinjak-injak, karena kesalahan nya yang kembali diungkit Amel, seketika mengepalkan tangannya.


"Baiklah lakukan saja apa yang kamu mau!" ucapnya sembari meninggalkan Amel yang masih mematung menatap kepergian Ilham.


"Tunggu, Mas!" panggil Amel.

__ADS_1


Seakan menulikan pendengarannya, Ilham melangkahkan kaki nya lebih cepat untuk pergi meninggalkan Amel yang masih terus memanggil namanya.


Ilham melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, walaupun ada amarah yang masuk kedalam hatinya, tapi kewarasan tetap ia pertahankan. Ilham tak ingin hanya karena menuruti amarah nya ia sampai kehilangan nyawanya.


Mobil yang dikendarai Ilham masuk ke area parkir yang ada di kantor. Masih dengan perasaan yang sedikit kacau, dirinya masuk dan mulai mengerjakan tugas yang menumpuk sejak dirinya mengambil cuti untuk perceraian nya dengan Hanum dulu.


***


Ardi berdehem, saat melihat Ibu dan kakak nya yang nampak sedang bersedih. "Ehem."


Hanum menghapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi mulusnya dan memberikan sedikit senyuman saat melihat Ardi.


Ardi duduk dan bersimpuh di dekat kaki kakaknya, "Apapun yang akan terjadi nanti, Mbak hanya perlu percaya, ada aku dan Ibu yang akan terus ada di samping Mbak Hanum baik suka maupun duka. Jadi jangan selalu sedih ya Mbak!" ucap Ardi.


Hanum tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih!"


Ardi dan Bu Surti sama-sama tersenyum, saat melihat Hanum tersenyum.


"Jadi Bu apakah sarapan nya sudah selesai, Ardi mau berangkat sekolah nih?"


Bu Surti terkekeh, saat melihat anak lelaki nya merajuk, "Sudah ayo kita makan, setelah itu baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ajak Bu Surti.


Sarapan pagi itu di warnai dengan haru dan juga bahagia, Hanum kembali menemukan semangat nya yang sempat hilang saat tahu bahwa keluarga nya tak akan pernah meninggalkan dirinya.


Selesai sarapan, Ardi berangkat ke sekolah. Dan Hanum masih sibuk berbincang dengan sang Ibu mengenai apa yang akan dia lakukan untuk masa depannya dan juga anaknya.


"Bu usaha apa ya, yang kira-kira bisa kita lakukan untuk menyambung hidup. Ibu tidak mungkin terus bekerja di rumah orang kan?"


"Ibu juga berpikir seperti itu Nak! tapi usaha apa? Ibu hanya bisa memasak dan kamu pun juga sama!"


Saat sama-sama sedang memikirkan usaha apa yang bagus untuk dilakukan, yang bisa dikerjakan dirumah dan juga tidak terlalu melelahkan untuknya yang baru hamil di trimester pertama. Hanum terpikir untuk membuka warung makan sederhana, di depan rumah yang mereka tinggali, selain dekat dengan jalan raya! di tempat nya belum ada yang menjual makanan matang, siap makan.


"Bu bagaimana kalau kita membuka warung makan di depan rumah? tanya Hanum.


"Tapi apa laku Num?" tanya Ibu balik.


"InsyaAllah kita usaha dulu aja Bu, nanti kalau gak laku kita pikirkan usaha lain!" ucap Hanum bersemangat.


"Baiklah besok kita belanja ya dan kita coba mulai dulu. Siapa tahu ini bisa menjadi rejeki kita nantinya?" ucap Bu Surti antusias.


"Iya Bu, InsyaAllah ya!

__ADS_1


Hanum mulai merencanakan masa depan nya bersama dengan keluarga kecil mereka, tak ada kata menyerah untuk hidup yang baru saja dimulai dengan harapan baru semoga ini bisa menjadi langkahnya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik bersama anak dan keluarga kecilnya.


***


__ADS_2