
Ilham menginjak pedal gas nya dengan kecepatan rata-rata, suasana jalan yang tidak begitu ramai tak membuat Ilham terburu-buru, hari ini dia tak langsung pergi ke kantor seperti yang tadi dia katakan pada Hanum, tapi berputar arah ke area perumahan di mana istri siri nya tinggal.
Bukan karena apa atau bagaimana, Ilham hanya merasa bersalah saat pagi tadi meninggalkan Amel begitu saja tanpa berpamitan, padahal semalam adalah malam panas nya mereka berdua dan meninggalkan Amel begitu saja, Ilham takut akan melukai perasaan nya, karena itu disini lah Ilham, berdiri di depan pintu rumah istri nya.
Tok … tok … tok
Amel yang baru selesai mandi, langsung keluar membuka pintu dengan masih menggunakan handuk yang melilit tubuh nya.
Ilham yang melihat penampilan Amel, sontak meneguk saliva nya malam panas yang dilewati nya semalam kembali melintas di pikiran nya dan membuat sesuatu dalam dirinya meronta ingin di puaskan kembali.
Amel memasang wajah cemberut sebelum masuk kedalam rumah, "Kenapa Mas kemari?" tanya Amel sarkas.
Glukk, terdengar Ilham meneguk salivanya. "Kok kenapa, Kamu gak suka Mas datang?"
"Ya aneh saja tadi pagi terburu-buru sampai gak ingat untuk pamit, sekarang Mas kembali lagi, Mas pikir aku perempuan apaan selesai berhubungan bisa kamu tinggal sendirian."
"Karena itu sekarang Mas datang, maaf ya Mas hanya belum terbiasa saja," ucap Ilham.
"Hmm."
"Udah dong jangan marah!" rayu Ilham.
"Ya udah aku gak akan marah tapi sebagai ganti nya, kita jalan-jalan ya?"
"Lho bukannya hari ini kamu ke kantor?" tanya Ilham sambil mendekati Amel yang sedang memilih baju.
"Aku sudah ijin untuk libur sehari Mas."
"Hmm," ucap Ilham sambil memeluk Amel dari belakang.
Amel yang tak siap mendapat pelukan dari Ilham sontak terkejut, "Mas."
"Hmm."
"Mas mau apa?" tanya Amel yang sontak membalikan badan menatap Ilham. Amel tertegun menatap mata Ilham yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
"Aku menginginkanmu," ucap Ilham serak karena memendam hasrat nya.
"Tap … tapi Mas." belum sempat Amel berbicara Ilham lebih dulu membungkam bibirnya ******* lembut tapi menuntut, seakan-akan dirinya tak pernah terpuaskan.
Amel yang tak siap, hanya bisa memukul pelan dada Ilham, meminta ciuman itu dilepaskan. Dan saat ciuman itu terlepas, Amel menghirup semua udara yang ada di sekitar nya memenuhi pasokan oksigen yang sempat hilang saat
Ilham menciumnya dengan ganas barusan.
"Aku menginginkan mu," serak Ilham.
__ADS_1
Amel tersenyum puas, saat Ilham sendiri yang datang padanya dan meminta untuk dipuaskan, tingkat kepercayaan dirinya melambung tinggi, karena dia yakin setelah ini Ilham akan benar-benar bertekuk lutut di bawah kaki nya.
Bak gayung bersambut, pagi itu Ilham dan Amel mengulang lagi peristiwa seperti malam-malam kemarin, saling mendesah menyebut nama satu sama lain nya, menyalurkan hasrat yang terpendam dengan sejuta kenikmatan.
Setelah satu jam lama nya bergelut dengan peluh, Ilham menyudahi aktivitas nya, lelah tapi juga nikmat yang dia rasakan tak sebanding dengan kebohongan pada istrinya yang lain. Masih dengan nafas yang tak beraturan Ilham membopong Amel ke kamar mandi untuk saling membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Ilham duduk bersandar di sofa kamar tidur mereka, sambil menunggu Amel selesai membersihkan diri, Ilham sedikit memijit pelipisnya pusing kini yang dia rasakan. Ck … terdengar suara decakan lidahnya.
Banyak panggilan dari nomor ponsel Hanum dan juga dari kantor tak luput papa nya juga menelpon, "Kenapa aku bisa seceroboh ini," umpat Ilham. Ya Ilham lupa memberi kabar kalau dia tak bisa datang ke kantor, terlalu dibutakan dengan nafsu sehingga dia lupa akan kewajiban nya.
Tak lama terdengar suara ponselnya berdering, terpampang jelas nama bidadari hati nya Hanum.
Kring … kring … kring
Hingga dering ketiga Ilham baru menjawab telfon dari istrinya.
"Hallo, assalamualaikum," terdengar suara salam dari ujung sana.
"Waalaikumsalam sayang, ada apa?"
"Mas lagi dimana?"
"Mas lagi dijalan sayang, sebentar lagi sampai kantor ada apa?" tanya Ilham lagi.
"Lho kok masih di jalan Mas, bukannya udah berangkat dari tadi pagi?"
"Oh, nggak ada Mas! Hanum cuma mau ngasih tau tadi papa nelfon nanyain Mas kok sampe sekarang belum sampai di kantor apa lagi sakit!" ucap Hanum.
"Ya udah gapapa nanti Mas sendiri yang bicara sama papa ya, kamu tenang aja," ucap Ilham.
"Ya sudah kalau begitu, Hanum tutup dulu ya Mas sekalian Hanum mau ijin hari ini Hanum mau pergi kerumah ibu."
"Oh ya sudah kamu mau Mas antar atau berangkat sendiri naik taksi?"
"Hanum di jemput sama Ardi Mas, ini juga lagi nunggu Ardi tadi mau ijin pas Mas Ilham berangkat tapi Hanum lupa."
"Ya sudah kamu hati-hati ya, jangan terlalu capek, Mas ga mau sampai kamu sakit," ucap Ilham khawatir.
"InsyaAllah, Mas."
"I love you sayang, Mas masuk ke kantor dulu ya."
"Iya Mas, semangat kerjanya."
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Klik
Suara telfon dimatikan dari ujung sana, berbarengan dengan itu amel keluar dari kamar mandi, setelah sebelumnya mendengar percakapan Ilham dan Hanum.
"Romantis banget ya Mas," sindir Amel.
"Hmm," terdengar suara gumaman Ilham.
"Kamu kan dari awal sudah tahu Mel, mau bagaimana pun Hanum tetap yang pertama buatku jadi bersikap mesra ataupun romantis itu sudah wajarkan?" ucap Ilham mendekat.
"Tapi aku juga istrimu Mas, kamu mesramu padaku kalau ada mau nya saja."
"Hahahahaha," Ilham tergelak mendengar ucapan Amel.
"Kok Mas malah ketawa sih?" sungut Amel kesal.
"Gimana Mas gak mau ketawa kamu kan dari awal juga sudah tau kalau kita menikah karena aku menginginkan anak, bukan? dan karena itu juga kan kamu setuju walaupun menjadi yang kedua."
Amel mengepalkan kedua tangan nya, "Jadi Mas berpikir aku sebagai alat untuk Mas punya anak gitu, setelah nanti anak itu ada dan lahir Mas mau membuangku begitu saja?" tanya Amel dengan berurai air mata.
Sejenak Ilham terdiam, melihat Amel menangis sesenggukan. "Bukan begitu maksudku Mel, kamu masih akan tetap menjadi istriku ibu dari anak-anak ku, tapi Hanum yang nanti akan lebih banyak waktu bersama dengan ku dan anak kita." ucap Ilham
"Kok begitu aku yang nanti mengandung dan melahirkan Mas, kenapa mbak Hanum yang merawatnya, ini tidak adil."
"Tidak adil yang bagaimana Mel, bahkan menikah denganmu dan lebih banyak waktu denganmu saja aku sudah tidak adil dengan Hanum, lalu adil yang bagaimana yang kamu inginkan?"
Amel tak melanjutkan perdebatan nya dengan Ilham ia memilih untuk diam, hanya air matanya yang berbicara. Dan Ilham yang melihat Amel menangis merasa tidak tega dengannya.
"Sudah jangan menangis katanya mau jalan-jalan, hemm?" Ilham memeluk Amel yang masih sesenggukan.
"Ga mau udah ga mau jalan-jalan," rajuk Amel.
"Katanya kamu mau membeli kalung berlian yang kemarin kamu lihat di pusat perbelanjaan sewaktu kita belanja bersama."
Seulas senyum terbit di bibir Amel saat Ilham mengingatkan nya tentang kalung itu. Ya Amel begitu tertarik saat melihat kalung itu, tapi saat ia akan pergi membelinya Ilham buru-buru mengajaknya pulang.
"Tapi Mas yang beliin ya?"
Ilham mengangguk, mengiyakan keinginan Amel.
"Baiklah aku bersiap-siap dulu ya Mas." ucap Amel sumringah.
"Hmm, Mas tunggu di luar ya sekalian mau nelpon kantor kalau Mas ijin ga masuk hari ini." ucap Ilham sambil berlalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Amel bahagia, walaupun hati Ilham belum seutuhnya menjadi miliknya tapi suatu saat nanti dia pasti bisa menggeser Hanum jauh dari hati dan juga hidup Ilham, itu janji Amel dalam hati.
***