
"Aaaaa." jerit Amel saat badan nya mulai limbung.
Ilham yang masih berjalan dengan perasaan kesal! seketika berhenti saat mendengar teriakan Amel.
Ilham berbalik dan mendapati Amel, setengah terjatuh kalau tidak di tangkap seseorang yang dengan sigap menahan tubuhnya.
Amel terkejut saat melihat siapa yang kini tengah menolong dirinya.
"Lain kali hati-hati!" ucap Ardi sambil melepas pegangan tangannya yang melingkar di pinggang Amel.
Amel terdiam tak mengatakan sepatah katapun, sampai Ardi melangkah jauh meninggalkan dirinya yang masih terkejut.
Ilham berjalan menghampiri Amel yang masih terkejut, "Kamu gapapa?" tanya Ilham khawatir.
"Iya Mas gapapa, cuma sedikit terkejut saja!"
"Ya sudah ayo?" ajak Ilham seraya menggandeng tangan Amel untuk berjalan bersama.
***
Diluar pelataran rumah sakit Hanum menunggu Ardi dengan perasaan tak menentu, "Apa mungkin Ardi tersesat ya Bu, saat mengambil obat?" tanya Hanum pada Ibunya.
"Iya, ya kok lama dari tadi belum selesai?"
Hanum dan ibunya sedikit mengkhawatirkan Ardi yang kemungkinan tersesat, rumah sakit yang Hanum tempati kemarin lumayan besar untuk ukuran rumah sakit yang ada di daerah Jakarta.
Tapi tak lama setelah obrolan itu, Ardi datang dengan membawa obat yang ada di tangannya.
"Kamu kok lama banget Ar?" tanya Ibu.
"Kamu tersesat?" lanjut Hanum.
Ardi yang melihat wajah panik kedua wanitanya ini, hanya tersenyum samar. "Aku gak tersesat Mbak, tapi memang antrian nya lumayan panjang! jadi yah harus terima kenyataan kalau adik tertampan mu ini, harus mengantri dan membiarkan gadis-gadis melihat wajah tampan ku ini secara gratis!" kekeh Ardi.
"Huu, kamu terlalu kepedean banget sih Ar?" sorak Hanum.
"Kakak ku tersayang, aku ini laki-laki wajib hukumnya untuk pede! biar makin nampak jelas ketampanan ku ini!"
"Iya Mbak percaya." jawab Hanum yang disertai kekehan dari bibirnya.
"Kok Mbak belum pulang sih?" tanya Ardi setelah ia sadar kakak dan ibu nya itu masih duduk di area parkir.
"Kan nunggu kamu Ardi!" jawab Hanum.
"Ya ampun Mbak gak usah di tunggu juga kali, Ardi pasti pulang."
__ADS_1
"Bukan begitu Ar, kalau pulang nya barengan kan lebih enak biar gak sendiri-sendiri."
"Tapikan Mbak baru saja keluar dari rumah sakit, seharusnya langsung pulang untuk istirahat!" ucap Ardi yang sedikit mengomel.
"Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Hanum.
"Mbak sudah pesan taksi belum?"
"Sudah bentar lagi juga sampai!" jawab hanum.
Tak lama menunggu taksi yang dipesan Hanum datang, sang sopir turun untuk membantu memasukan barang yang Hanum bawa.
"Ayo masuk Mbak, Bu! ajak Ardi.
Ardi masuk terlebih dulu dan duduk di kursi samping kemudi, lalu menyusul sang ibu dan terakhir kakak yang masuk. Dan disaat yang bersamaan juga, Ilham tengah menggandeng tangan Amel yang berjalan sedikit tertatih.
Saat Hanum hendak menutup pintu mobil, matanya tak sengaja berpapasan dengan mata Ilham yang juga tak sengaja sedang menatap dirinya.
Ada rasa tak menentu di benak Hanum, saat melihat begitu sayangnya sang mantan suami kepada istri keduanya itu, mata cantik itu terus memandang begitu juga sebaliknya.
Ilham merasakan perih saat matanya dan mata cantik wanita yang sedikit jauh itu berpandangan, hingga tanpa sadar tautan tangannya terlepas dan semua itu tak lepas dari Hanum yang masih memandangnya.
"Mas?" panggil Amel. "Kamu kenapa kok di lepas pegangannya?"
Ilham seketika menatap Amel, sebelum tatapan itu kembali melihat wanita yang kini telah menjauh bersamaan dengan mobil yang dinaiki nya.
"Gak ada, ya udah ayo kita pulang kamu harus istirahat!" ucap Ilham yang kini kembali menautkan tangannya.
Selama dalam perjalanan pulang, hati dan juga pikiran Ilham selalu memikirkan hanum, sudah sehatkah dirinya, berapa usia kandungannya? Semua pertanyaan itu, terus membayangi di dalam benak dan pikiran Ilham.
Hingga mobil yang dikemudikan sampai di depan rumah yang ia tinggali bersama istri keduanya.
"Kamu masuk dulu ya, aku yang akan membawa semua obatnya?"
"Hm, iya mas dan aku langsung istirahat ya!"
Amel masuk kedalam rumah, saat Ilham mulai menghembuskan nafas lelah.
***
Di tempat lain, Hanum sampai di depan rumahnya! dengan dibantu Ardi dan juga ibunya, Hanum masuk dan mulai mengistirahatkan badannya diatas tempat tidur.
"Kamu ga mau makan dulu Nak?" tanya Bu Surti.
"Hanum masih kenyang Bu, nanti saja kalau Hanum lapar, Hanum pasti manggil Ibu!" ucap Hanum lembut.
__ADS_1
"Ya sudah kamu istirahat saja ya, Ibu juga mau istirahat dulu!"
"Iya, Bu!"
Setelah ibunya pergi, Hanum memikirkan apa yang tadi ia lihat. Sang mantan suami kini lebih bahagia bersama dengan madunya, bukan madu, tepatnya istrinya yang sekarang. Setelah perceraian nya dengan ilham, kini Amel menjadi satu-satunya istri sah Ilham, mereka berjalan bergandengan seolah-olah takut jika sang istri akan terluka.
Sungguh miris saat Hanum memikirkan semuanya! tapi ada kelegaan juga di hatinya, bahwa setelah perceraian itu kini ia memiliki nyawa lain sebagai pengganti setelah kehilangannya.
Tanpa terasa Hanum menyentuh perutnya yang masih terlihat datar, "Kamu akan jadi satu-satunya penyemangat ibu nak, tetap sehat di dalam sini ya? hingga waktu yang akan mempertemukan kita nanti." ucap Hanum sembari mengelus perutnya.
Rasa lelah setelah pulang dari rumah sakit, membuat Hanum terlelap lebih cepat hingga bunyi notifikasi di ponselnya tak di hiraukan sama sekali.
***
Ilham berulang kali mengirimkan pesan ke ponsel Hanum, tapi berulang kali pula pesannya belum mendapat balasan. Ilham menggeram kecewa, apakah mantan istrinya itu sedang marah, hingga pesan nya sama sekali tak dibalasnya?
Berbagai pertanyaan selalu muncul dalam benak Ilham, apakah sang mantan istri benar-benar sudah melupakan dirinya, juga cinta yang telah bersemi lama? apakah hanum mampu hidup tanpa dirinya terlebih ada anak yang selama ini ditunggu-tunggu kehadirannya? saat memikirkan semua ini kepala Ilham berdenyut nyeri, "Aku harus melakukan sesuatu, sebelum semuanya terlambat." ucap Ilham dalam hati.
***
Bu Surti duduk di ruang tamu rumah mereka, di sampingnya sudah ada Ardi yang juga sedang menatap sang Ibu yang terlihat sedikit gelisah.
"Ibu kenapa?" tanya Ardi.
"Hm, Ibu gapapa Ar!"
"Ibu jangan bohong, Ardi tahu apa yang sedang Ibu pikirkan. Tapi percayalah Bu, kalau kita bisa melewati ini semua!" ucap Ardi menyakinkan.
"Ibu tahu Nak! tapi gimana sama kakakmu. Ibu takut kalau kakakmu tak sanggup melewati ini semua, saat kebahagiaan dan kesedihan datang secara bersamaan?"
"Ibu percaya saja, mbak hanum wanita yang kuat. Buktinya selama ini mbak hanum mampu menyembunyikan masalah sebesar ini tanpa kita tahu sedikit pun."
"Itu yang Ibu sesalkan, kenapa mbak mu sedikit pun tidak bercerita saat rumah tangga nya di ambang kehancuran, Ibu hanya merasa gagal sebagai seorang Ibu yang sangat terlambat mengetahui penderitaan anak perempuan satu-satunya!" ucap Bu Surti yang mulai meneteskan air mata.
Ardi mendekati sang Ibu dan memeluknya, "Jangan pernah menyalahkan diri Ibu sendiri, bahkan Ardi saja tidak tahu. Padahalkan Ardi sering ke rumah mbak hanum, tapi sedikit pun Ardi juga tidak tau masalah yang mbak hanum miliki. Sekarang juga bukan waktunya kita untuk menyesali semuanya Bu! tapi kita harus mendukung mbak hanum supaya lebih kuat lagi menghadapi hari-harinya yang sekarang." ucap Ardi bijak.
"Kamu benar Ar! sejak kapan anak manja ini jadi lebih dewasa?" goda Bu Surti.
"Ardi sudah dewasa Bu, hanya masih sekolah saja, jika nanti Ardi sudah lulus Ardi pasti bisa membahagiakan kalian semua!" ucap nya bangga.
"Alhamdulillah, selalu seperti ini ya Nak. Hanya kamu yang sekarang jadi tumpuan Ibu dan mbak hanum?"
"Siap Ibuku sayang, sekarang Ibu istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir ya?" pinta Ardi.
"Iya."
__ADS_1
Bu Surti melangkah masuk ke dalam kamarnya, sedikit mengistirahatkan tubuh dan pikirannya! Bu Surti berdoa semoga semua ujian ini sanggup untuk ia lewati, di sisa usianya kini. Dan berharap kebahagiaan itu lebih cepat datang, menggantikan penderitaan yang selama ini datang di dalam hidup anak perempuannya.
***