
Ilham pulang dengan amarah yang mengumpul di dalam hatinya! pikirannya seketika buntu, bagaimana mungkin dirinya bisa ditipu dengan begitu mudahnya, sampai-sampai dirinya sama sekali tidak menyadari semua itu.
Istri yang dipilihnya, istri yang akan memberinya seorang anak ternyata malah bukan anak kandungnya. Kilas balik semua dosa nya terhadap mantan istrinya seketika berputar kembali, seperti sebuah film yang terus menerus di putar di dalam kepalanya.
Ilham memukul kencang kemudi nya, "Sialaaannn!" umpatnya kencang, saat dirinya sedang melajukan kendaraan beroda empat itu.
Ilham memilih untuk langsung pulang, banyak pesan dari Amel yang menanyakan keberadaannya. Tapi tak satupun dari pesan yang Amel kirim dibaca olehnya, apalagi di balas.
Ucapan laki-laki yang tidak sengaja di dengarnya tadi, terus terngiang di telinga dan juga pikirannya. "Bagaimana mungkin?" gumamnya. "Apa salahku Amel kenapa kamu lakukan ini kepadaku?" ucap Ilham sembari memukul angin. "Siapa laki-laki itu?" lanjutnya bermonolog.
Ilham menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu dan menyandarkan tubuhnya lelah! Kenapa? pertanyaan itu terus menggema di dalam pikirannya. Ilham susah mencerna semuanya, kenyataan yang baru saja diketahui nya membuat hati dan juga pikirannya kacau.
Rencananya setelah menemani Amel berbelanja dirinya akan langsung kembali ke kantor, mengingat banyak pekerjaan yang menumpuk! tapi saat mendapati kenyataan yang begitu memukul dirinya, Ilham memilih untuk menenangkan diri dan melupakan semua pekerjaannya.
Hingga waktu berlalu dengan begitu cepat dan tak terasa jam sudah menunjukan pukul enam sore dan sang istri yang pamit untuk berbelanja itu, belum menampakan batang hidungnya sama sekali.
Ingin rasanya Ilham menelpon dan bertanya, tapi saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan sang istri, ia sedikit ragu untuk melakukannya.
"Biarlah jika dia mau pulang pasti akan pulang." ucap Ilham dalam hati. Setelah mengucapkan kata-kata itu, tak lama yang ditunggu datang dengan wajah yang terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.
Amel terkejut saat dirinya pulang dan mendapati Ilham duduk diantara remang malam! bukan tanpa sebab, pasalnya Amel pulang kerumah yang terlihat sepi dan semua lampu belum dinyalakan ia tak menyadari kalau ternyata suaminya sudah menunggunya kedatangannya.
"Mas kamu sudah pulang, kenapa gelap-gelapan?" ucapnya sembari menyalakan lampu, "Kamu bikin aku kaget tau gak?"
Ilham hanya menatap Amel tanpa menjawab pertanyaan yang wanita itu lontarkan.
"Kamu sudah makan belum dan kenapa telpon dan semua pesanku gak dibalas? Kamu sibuk banget ya?" tanyanya lagi.
"Hmm."
"Kamu mau makan sebentar aku siapkan dulu ya, aku mau menaruh belanjaan dulu di kamar!" ucap Amel sembari berjalan ke arah kamar mereka.
Ilham yang semula hanya duduk kini beranjak mengikuti langkah Amel, ia ingin sekali bertanya tentang apa yang tadi dia dengar, tapi sekuat tenaga Ilham coba menahannya. Bukan karena apa, Ilham hanya ingin mencari sedikit bukti tentang apa yang tadi dia dengar saat di restoran.
__ADS_1
Amel meletakkan semua belanjaan di atas tempat tidur, lalu beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan badan dan berganti pakaian sebelum membuat makanan untuk Ilham.
"Aku belum masak Mas, tapi tadi aku beli makanan di restoran. Makan itu aja ya sebentar aku panasin dulu!" ucap Amel sembari melangkah kan kaki menuju dapur.
Ilham masih asyik mendengarkan tanpa berniat untuk menjawab ucapan istrinya itu.
Selepas kepergian istrinya, Ilham melihat ponsel Amel yang terletak di atas meja rias. Ilham mengambil dan mencoba mencari tahu, siapa tau ada petunjuk yang tertinggal.
Saat ia menyentuh ponsel itu, ada pesan masuk dari nomor yang tak bernama dan isinya sungguh membuat Ilham murka.
"Kamu jangan lupa tentang kejadian waktu itu, saat kamu mengajakku tidur di hotel dan aku yakin kalau anak yang kamu kandung itu anakku."
Ilham meremas ponsel yang ada di tangannya dan ingin sekali rasanya ia meremukkan ponsel itu, andai ia tak ingat jika bunyi pesan itu yang akan mengubah hidupnya kelak.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Amel kembali masuk kedalam kamar untuk memanggil Ilham, Amel sedikit terkejut melihat Ilham duduk dan memegang ponselnya.
"Mas kamu ngapain?" tanya Amel dengan sedikit berdebar saat melihat ponselnya berada di tangan Ilham.
"M-maksud kamu apa Mas?"
"Aku tanya anak siapa itu yang kamu kandung?" tanya Ilham lagi dengan sedikit marah.
"Kamu ngomong apa, ini anak kamu lah Mas?" jawab Amel tak terima.
"Anakku kamu bilang, apa buktinya kalau itu anak ku?"
"Mas … !" teriak Amel.
Amel menangis saat itu juga, saat mendapati anak yang dikandungnya diragukan oleh suaminya sendiri.
"Lalu apa ini?" ucap Ilham sembari memperlihatkan pesan yang tadi di terimanya.
"Itu gak bener Mas, dia berbohong!"
__ADS_1
"Dia atau kamu yang berbohong?" tanya Ilham.
Amel menangis dan bersimpuh di kaki Ilham, "Aku berani bersumpah Mas, kalau anak ini adalah anakmu aku tidak pernah sekalipun mengkhianati dirimu!" ucapnya diiringi dengan isak tangis.
"Buktikan itu!"
"Bagaimana caranya?" tanya Amel.
"Besok kita kerumah sakit untuk tes DNA, untuk membuktikan kalau anak yang kamu kandung adalah anakku!" ucap Ilham tanpa sedikitpun menatap Amel yang masih bersimpuh di kakinya.
"Tapi anak ini belum lahir, bagaimana bisa tes itu dilakukan?"
"Kita bisa melakukannya dengan mengambil sedikit cairan ketuban dari dalam kandungan kamu untuk membuktikan nya."
"Tapi itu berbahaya Mas, aku tidak mau!" jawab Amel sambil menggelengkan kepala.
*note, tes DNA bisa dilakukan saat kehamilan mencapai usia 10-18 minggu dengan mengambil sampel dari cairan ketuban atau plasenta. Namun pemeriksaan ini beresiko menyebabkan keguguran.*
"Baiklah kalau begitu untuk saat ini kita pisah kamar untuk membuktikan anak siapa itu nanti."
"T-tapi Mas!" belum sempat Amel menjawab Ilham lebih dulu melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
Ilham masuk dan menutup pintu, ia sedikit menjambak rambutnya frustasi. Arghhh teriak Ilham sambil membuang semua yang ada diatas meja kerja, buku dan semua berkasnya jatuh berantakan dan menyisakan satu foto yang tidak ikut terjatuh bersamaan dengan semua berkas-berkasnya.
Foto pernikahan nya dengan mantan istrinya dulu. Ilham memandang lama dan tanpa terasa air mata itu luruh dengan sendirinya. "Maafkan, aku!" isaknya pilu sambil terus memandang wajah wanita yang tersenyum manis di dalam bingkai foto itu.
Penyesalan Ilham datang lebih terlambat, seandainya! berulang kali seandainya itu bisa diulang, mungkin Ilham tak akan pernah se terpuruk ini menjalani hidupnya. Semua dosa nya kembali lagi berputar dan kini ia memeluk foto sang mantan istri, dalam penyesalan terbesarnya.
Ponsel Amel kembali berbunyi menandakan ada pesan yang kembali masuk, ia bergegas mengambil dan membacanya. "Kenapa hanya dibaca sayang, apa kamu mau melupakan ayah dari anakmu ini?" bunyi pesan yang Amel terima.
Amel seketika murka dan melemparkan ponsel nya kesegala arah, Amel berteriak. "Arghhh, kenapa jadi seperti ini!" ucapnya sambil terisak.
****
__ADS_1