
Keesokan harinya Hanum sudah bersiap, setelah sebelumnya ia membuat daftar apa yang akan dibeli untuk memulai usaha yang akan dirintis bersama dengan sang Ibu.
"Bu?" panggil Hanum.
Bu Surti menatap Hanum dan bertanya, "Kamu sudah siap Num? apa sebaiknya Ibu saja yang berbelanja, kamu kan sedang hamil muda takut terjadi apa-apa nanti?" ucap Bu Surti sedikit khawatir.
"InsyaAllah Hanum kuat Bu, ini juga demi Hanum kan?"
"Ya sudah tapi nanti kalau kamu merasa lelah kamu bilang sama Ibu ya?"
"Iya Bu, Hanum tahu!"
Saat kedua perempuan itu sedang bersiap, Ardi tiba-tiba datang dan berkata, "Mbak di depan ada tamu?"
"Tamu … siapa Ar?" tanya Hanum heran. Pasalnya hari masih terlalu pagi untuk orang yang ingin datang bertamu.
"Siapa ya Bu? tanya Hanum kepada sang Ibu yang terlihat juga sedikit kebingungan.
"Ibu gak tahu Num, coba kamu lihat kedepan gih?"
Hanum pun beranjak, berjalan dengan rasa penasaran siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya.
Saat sampai di depan rumah, Hanum sedikit terkejut saat melihat Ilham yang sedang duduk sambil memainkan gawai di tangannya.
"Mas?" panggil Hanum.
Ilham seketika menoleh, saat suara yang selama ini ia rindukan memanggil dirinya dengan sangat merdu.
Ilham berdiri dan menatap wajah yang selama ini menghiasi mimpinya, saat rindu yang begitu menggebu tak bisa untuk tercurahkan, hingga perasaan tersiksa yang hadir setiap malam.
"Hai, apa kabar?"
"Aku baik Mas, ada apa pagi-pagi kemari Mas gak kerja?"
"Aku kerja, rencana mau ada meeting pagi dan tempatnya dekat dari sini jadi aku sekalian mampir!" ucap Ilham. "Tapi apa aku mengganggu?" tanya nya memastikan.
"Nggak Mas, mari silahkan duduk."
Ilham kembali duduk, Hanum sengaja tidak mempersilahkan Ilham untuk masuk, karena kini mereka bukan siapa-siapa lagi dan Hanum takut jika kedatangan Ilham kesini nantinya, akan menjadi sebuah fitnah jika ia mempersilahkan Ilham untuk masuk.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" tanya Hanum lagi.
"Ada yang ingin ku bicarakan, ini tentang anak kita!"
"Maksud Mas apa?" tanya Hanum heran.
"Seperti sebelumnya yang pernah ku katakan waktu di rumah sakit, aku ingin sedikit bertanggung jawab untukmu dan anak kita!"
"Dan bukankah sudah pernah Hanum bilang, kalau Hanum pun masih sanggup untuk menghidupi anak Hanum sendiri Mas?" ucap Hanum menegaskan.
"Bukan itu maksud Mas, Dek! ucap Ilham menjeda kalimatnya.
"Lalu apa?" tanya Hanum yang mulai tidak sabar menunggu kalimat Ilham.
"Mas akan memberikanmu uang setiap bulan nya untuk kebutuhan kamu dan anak kita."
"Anak kita belum lahir Mas dan selama itu pun aku masih sanggup untuk memberikan nya kehidupan yang lebih baik, walaupun tanpa uang darimu."
"Aku tahu, tapi tolong ijinkan aku sekali saja untuk menjadi orang tua yang adil untuk anak-anakku nanti. Ijinkan aku, untuk menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan kepadamu."
"Tapi Mas bagaimana dengan istrimu, aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara kamu dan dia, terlebih pada diriku sendiri." ucap Hanum.
Hanum terdiam, pikiran nya bercabang entah kemana. Suaminya yang kini meminta ijin untuk bertanggung jawab walaupun sudah sangat terlambat dan rasa tak enak hati saat istri sahnya nanti tersinggung dan marah.
"Perhatikan saja istrimu Mas, jangan sampai niat mu yang ingin bertanggung jawab malah nanti menyeretku kembali dalam masalah."
"Percaya sama aku kalau itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Ilham meyakinkan.
"Apa kamu sudah bicarakan ini sama istrimu Mas?" tanya Hanum.
"Belum tapi nanti aku pasti bicarakan, sekarang yang paling penting kamu setuju dengan niatku ini!"
"Aku belum bisa berkata apa-apa! tapi alangkah baiknya Mas bicarakan saja dulu dengan istrimu setelah itu Mas baru katakan padaku."
Ilham kecewa saat niatnya untuk bertanggung jawab masih diragukan oleh mantan istrinya, tapi ia pun tak dapat memaksa Hanum untuk menerimanya. Ilham takut semakin ia memaksa Hanum akan semakin menjauh darinya.
"Ya sudah! tapi Mas mohon kamu untuk memikirkan ini sekali lagi, Mas gak ingin kamu dan anak kita hidup sedikit kesusahan, walaupun Mas tahu itu tak akan terjadi. Tapi Mas masih berharap, kalau kamu akan mau menerimanya suatu saat nanti!" ucap Ilham mengakhiri percakapan nya dengan Hanum.
Hanum mengangguk, tapi tidak mengiyakan juga permintaan yang Ilham ucapkan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu Mas pamit dulu, Mas akan datang lagi nanti siapa tahu kamu berubah pikiran." ucap Ilham seraya meninggalkan Hanum yang masih termenung sendirian.
Hingga suara deru mesin yang mengalihkan perhatiannya. Tak lama sang Ibu datang menghampiri Hanum dan bertanya, "Kamu gapapa Num?"
Hanum mengangguk, "Gapapa Bu, Hanum baik-baik saja." jawab Hanum sambil tersenyum.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Entah Bu Hanum juga bingung, anak ini juga anaknya Mas Ilham, wajar jika Mas ilham ingin bertanggung jawab. Tapi Hanum juga masih bimbang seandainya nanti istrinya tau, Hanum takut akan ada masalah lain lagi kedepannya."
"Ibu paham, ya sudah apapun keputusan yang kamu pilih nanti. Apapun itu ingat masih ada Ibu yang akan mendampingimu!" ucap Bu Surti tegas.
"Hanum tahu Bu, Ibu tenang saja." jawab Hanum sambil tersenyum, "Ya sudah ayo kita berangkat Bu, sebelum pasarnya nanti tutup kita kan mau belanja buat jualan besok?" ajak Hanum bersemangat.
Bu Surti juga ikut tersenyum melihat semangat Hanum, "Ya sudah ayo kita berangkat! Ardi ikut gak ya?" tanya Bu Surti.
Tapi belum sempat Hanum memanggil adiknya, Ardi datang lebih dulu. "Ardi ikut Bu biar ada yang bantuin angkat belanjaan nanti!"
"Ya sudah ayo kita berangkat?" ajak Bu Surti.
***
Ilham memukul stir kemudi mobilnya, perasaan nya sedikit kacau saat permintaannya untuk bertanggung jawab di tolak Hanum.
Ilham merasa bodoh tapi juga tak akan menyerah sedikitpun, untuk kembali mendekati Hanum dengan cara bertanggung jawab. Ilham tak ingin, istri yang paling dicintainya itu semakin menjauh dari dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Ilham seraya memijat pangkal hidungnya.
***
Di tempat lain, Amel masih menggerutu saat melihat Ilham tak berada di kantornya, bukan hanya hari ini saja dirinya di tinggalkan saat berangkat ke kantor, tapi kemarin juga, saat dirinya tidak sengaja meragukan suaminya itu.
Bukan maksud hatinya untuk ragu, tapi dirinya hanya takut! saat dirinya sibuk dirumah dan ada sekertaris baru yang menggantikannya nanti yang akan menggoda sang suami.
Memang semua orang tak sama, tapi tak ada salahnya jika Amel harus berhati-hati, mengingat pernikahannya dengan Ilham belum disahkan secara negara sampai saat ini. Padahal dulu suaminya itu berjanji saat perceraian nya dengan mantan istrinya sah, ia akan langsung menikahi nya secara agama maupun negara demi anak mereka. Tapi sampai sebulan lamanya, setelah perceraian itu Ilham tak kunjung menepati janjinya.
Ame sedikit curiga, jika suaminya belum bisa melupakan sang mantan istri dan itu yang membuat Ilham tak kunjung meresmikan statusnya.
Amel sedikit geram saat memikirkan semua itu tapi ia juga tidak bisa gegabah demi masa depannya bersama sang anak.
__ADS_1
****