
Sakha berlari dengan sangat cepat, saat dirinya melihat Hanum yang mulai limbung dan hampir jatuh.
Sakha menangkap Hanum tepat waktu, sebelum tubuh yang berisi itu menyentuh tanah. Mendengar teriakan Ilham, Ardi dan juga Bu Surti juga ikut berlari keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ardi terkejut melihat Hanum dengan posisi setengah terduduk dan berada di dalam pelukan lelaki yang ia tak tahu siapa namanya.
Ardi pun tergopoh-gopoh mendatangi Hanum yang terlihat masih begitu terkejut. "Mbak kamu gapapa?" tanya Ardi.
Hanum melihat Ardi dan kembali menatap orang yang kini tengah memeluknya dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.
Butuh waktu sedikit lama untuk Hanum mencerna semuanya, hingga suara Ilham yang juga bertanya keadaannya membuatnya kembali sadar!
"Kamu gapapa Dek?" tanya Ilham khawatir.
Hanum menggeleng, matanya kini menatap Amel yang kembali memegangi perutnya. Hanum bergegas bangkit dan berkata, "Kamu baik-baik saja Mel?"
Amel menatap sinis Hanum, "Kenapa Mbak kamu berharap aku kenapa?" tanyanya.
Ardi yang mulai geram menatap Ilham dan berkata sedikit ketus, "Urus istrimu itu Mas, sebelum aku yang akan mengurusnya sendiri dengan caraku!"
Ilham mengangguk dan mulai berjalan mendekati Amel, "Ayo kita pulang, aku akan jelaskan semuanya?" ajak Ilham.
"Pulang kemana apakah aku masih punya rumah Mas setelah kamu mulai mencampakanku?"
"Aku mohon, ayo Hanum tidak tahu apa-apa aku yang akan menjelaskan semuanya!"
Amel masih bersikeras untuk tidak pulang tapi Ilham juga sama kerasnya, hingga pilihan memaksa Amel untuk ikut dan masuk kedalam mobil Ilham lakukan dengan sedikit kasar. "Ayo?" ucap Ilham sambil menarik tangan Amel.
Amel tak punya pilihan lain selain menurut, rasa sakit yang ia rasakan semakin bertambah dan untuk melawan pun rasanya percuma.
Ilham membanting pintu saat Amel sudah masuk dan duduk di samping kemudi mobilnya. Untuk sejenak pandangannya masih menatap Hanum. Permintaan maaf itu, belum sempat Ilham ucapkan untuk mantan istrinya itu. Tapi ia memilih untuk segera pergi membawa Amel sebelum istrinya itu kembali mengacau!"
"Kamu gapapa Han?" tanya Sakha yang masih memegang tangan Hanum.
Menyadari tangannya masih terpaut satu sama lainnya, Hanum segera mengambil jarak agar tak timbul fitnah diantara mereka.
"Alhamdulillah Bang, Hanum gapapa. Terima kasih karena Abang sudah mau menolong Hanum tadi!" ucap Hanum sembari menunduk.
"Ayo Mbak kita masuk?" ajak Ardi. "Ibu kelihatan cemas tuh!" tunjuk Ardi lagi.
"Iya!" jawab Hanum.
Sakha pun ikut masuk mengantar Hanum, Sakha masih merasa khawatir melihat kondisi Hanum.
"Pak tungguin saya?" teriak Doni dari jauh.
"Buruan!" kata Sakha.
Akhirnya Doni pun menyusul Sakha yang lebih dulu masuk kedalam rumah makan Hanum. "Bapak sudah kenal ya sama Mbak Hanum?" tanya Doni yang mulai penasaran, pasalnya bosnya itu rela berlari saat melihat Hanum yang akan jatuh dan terburu-buru untuk menangkap tubuh wanita itu, padahal jarak mereka lumayan agak jauh.
__ADS_1
"Hmm." jawab Sakha dengan gumaman.
"Masuk Bang dan silahkan duduk?" ucap Hanum.
Sakha pun duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. "Sekali lagi terima kasih ya Bang, kalau tidak ada abang Hanum tidak tahu akan seperti apa tadi?"
"Iya gapapa, aku juga kebetulan melihat tadi Han!"
"Lho ada mas Doni juga?" tegur Hanum.
"Iya Mbak kedatangan saya kemari, sebenarnya mau memperkenalkan Mbak Hanum dengan bos saya yang kemarin sudah tanda tangan kontrak, karena beliau berniat untuk langsung melihat tempat Mbak Hanum!"
"Oh begitu, lalu dimana bos nya?" tanya Hanum sambil melihat sekeliling.
"Lha ini yang ada di depan Mbak Hanum bos saya!" ucap Doni sambil terkekeh.
Hanum pun terkejut bukan main, ternyata bos yang selama ini dibicarakan sama langganannya itu, adalah orang yang sudah Hanum kenal dan yang tadi juga menolongnya.
"Bang Sakha?"
"Iya Mbak, Pak Sakha ini bos saya!" ucap Doni, "Dan …!" Sebelum Doni menyelesaikan ucapannya Sakha sudah mengambil alih acara perkenalannya.
"Ehm, saya Sakha bosnya Doni yang akan memulai usaha bersama dengan Mbak Hanum!" ucap Sakha memperkenalkan diri.
"Hanum, Pak. Eh!"
Sakha terkekeh, "Khusus kamu panggil Abang saja seperti biasa!"
"Hmm, gapapa aku ngerti!" ucap Sakha sambil menatap Hanum.
"Ehm, Don sebaiknya kamu makan saja dulu. Saya masih ada urusan yang harus dibahas dengan Mbak Hanum, jika nanti kamu sudah selesai kamu langsung balik saja ke kantor gak perlu nungguin saya!" ucap Sakha memberi tahu.
"Baik Pak saya pergi dulu!" pamit Doni.
"Kamu sudah lama membuka usaha ini?" tanya Sakha memecah keheningan.
"Alhamdulillah sudah Bang, sudah hampir satu tahun yang lalu."
Sakha memandang Hanum, "Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama aku gak ada Han?" tanya Sakha dalam hati.
"Abang mau minum apa? sebentar Hanum buatkan!" ucap Hanum seraya bangkit dari duduknya, tapi suara Ardi yang lebih dulu mencegah Hanum untuk bangkit.
"Aku saja Mbak, Mbak Hanum duduk saja. Aku yang akan mengambilkan minum untuk Bang Sakha!" ucap Ardi sembari berdiri meninggalkan kakaknya dan kenalannya itu.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Sakha yang kembali memastikan keadaan Hanum.
"Aku baik Bang!"
Tak lama Ardi kembali dengan membawa segelas minuman untuk Sakha. "Diminum dulu Bang dan saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah menolong kakak saya?" ucap Ardi.
__ADS_1
"Iya sama-sama!" jawab Sakha.
"Saya pun juga mengucapkan terima kasih Nak Sakha, saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya tidak ada Nak Sakha tadi!" ucap Bu Surti.
"Iya Bu tidak apa-apa saya ikhlas menolong Hanum."
"Ya sudah kalau begitu saya pamit lagi kebelakang ya Nak Sakha dan ya Num, Ibu harap dapat penjelasan dari apa yang sudah terjadi tadi?"
"Iya Bu nanti akan Hanum jelaskan semua tapi tidak sekarang ya, ada Bang Sakha!"
Bu Surti dan Ardi pergi meninggalkan dua orang itu untuk saling berbincang.
***
Ditempat lain.
"Kamu apa-apaan, hah?" hardik Ilham. "Kenapa kamu bisa tahu alamat Hanum apa kamu sengaja mengikutiku?"
Amel tersenyum getir, "Mengikuti katamu Mas, bahkan aku saja baru tahu kalau selama ini kamu sudah membohongi ku dengan masih bertemu dengan mbak hanum di belakangku!"
"Aku tidak bermaksud untuk membohongimu!"
"Lalu apa kalau tidak berbohong, jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu duduk berdua dengannya!"
Ilham mengacak rambutnya frustasi, susah bagi dirinya untuk menjelaskan saat Amel sendiri tak mau mendengar alasannya.
"Apa kamu ingin kita bercerai Mas?" tanya Amel sambil menatap suaminya.
"Kamu jangan gila Amel sejak kapan aku bilang untuk bercerai!" geram Ilham.
"Kalau begitu lupakan mbak hanum jangan pernah menemuinya lagi!"
"Aku gak bisa ada anakku juga disana dan aku masih berkewajiban untuk menafkahinya!"
"Kalau begitu turunkan aku disini Mas?"
"Tidak kamu sedang emosi kita akan bicarakan ini dirumah dengan baik-baik!" tolak Ilham.
"Turunkan aku disini atau aku akan lompat dari mobil ini Mas?" gertak Amel.
"Kamu jangan gila, sebentar lagi kita akan sampai dirumah kamu duduk dengan diam!" perintah Ilham.
Tapi Amel yang merasa sudah sangat sakit hati, melihat kebohongan suaminya. Ia merasa sudah tak tahan walaupun hanya untuk duduk bersama!
"Turunkan aku Mas …!!!" teriak Amel.
Dan terjadilah tarik menarik antara Amel dan Ilham, hingga mobil yang di kendarai Ilham melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Dikarenakan jalanan yang tidak begitu padat, mobil melaju dengan sangat kencang dan disaat yang bersamaan ada mobil lain dari arah berlawanan yang ingin berbelok.
Ilham mencoba membanting kemudi ke arah kiri, tapi naas mobil yang di kendarai Ilham oleng dan menabrak pembatas jalan. Alhasil kecelakan itu pun tak dapat dihindarkan.
__ADS_1
Braakkkk.
****