Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Extra Part (End)


__ADS_3

Setelah dari pemakaman, Reyhan menepati janjinya untuk pulang kerumah neneknya. Rumah yang bercat putih itu, masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Saat pertama kali dirinya menginjak lantai marmer berwarna putih itu.


"Assalamualaikum, Nek?" ucap Reyhan, saat dirinya melihat sang nenek yang tengah duduk sambil memandang figura foto yang ada di ruang tamu.


"Waalaikumsalam, sini duduk sama Nenek?" ajak Bu Suryo, sambil menepuk sisi kosong disamping dirinya.


Dengan langkah pelan, Reyhan mendekat dan duduk di samping sang nenek. Reyhan memperhatikan sang nenek yang masih setia menatap bingkai foto yang terpasang di dinding ruang tamu.


Reyhan ingin bertanya tapi belum sempat pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Neneknya lebih dulu bersuara, "itu ayahmu, kamu gak lupa kan Nak?"


Reyhan memandang foto itu sekilas sambil mengangguk, "Aku belum lupa, Nek! Bahkan wajahnya masih terus ada disini." ucap Reyhan sambil menyentuh dadanya.


"Nenek takut, kalau suatu hari nanti kamu akan lupa dengan wajahnya! Mengingat kalian terpisah sangat lama!" ucap Bu Suryo dengan tatapan sendu.


"Reyhan gak mungkin lupa, Nek. Walaupun terpisah lama, mama selalu memberi tahu siapa ayah. Jadi aku selalu mengingatnya walaupun belum pernah bertemu."


Bu Suryo menarik nafas, dadanya sedikit sesak mengingat kebaikan mantan menantunya itu. Tak dipungkiri masih ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya, saat perpisahan yang menjadi pilihan anak dan menantunya dulu.


Seandainya Ilham tak pernah melakukan kesalahan itu, seandainya ia tak menikah lagi dan menyakiti Hanum. Seandainya Ilham nya mau sedikit saja bersabar. Mungkin saat ini Ilham nya masih ada, menantunya juga masih akan sama dan ia akan hidup bahagia bersama anak dan istrinya sekarang.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, jika seandainya itu bisa. Mungkin Bu Suryo akan terus berandai-andai. Nyatanya sesak yang kini ia rasakan tak mampu ia uraikan.


Reyhan menggenggam tangan renta sang Nenek, menatap dengan sendu saat mata tua itu mulai meneteskan air mata.


"Apa yang sudah terjadi, tak mungkin lagi bisa kembali. Tapi Reyhan disini akan selalu ada untuk Nenek. Jadi tetaplah sehat dan lupakan masa lalu itu Nek?" ucap Reyhan penuh dengan permohonan.


Bu Suryo menarik nafas panjang. Cucu nya benar, biarkan lah masa lalu itu jadi kenangan dan cukup untuk jadi pelajaran. Sambil tersenyum Bu Suryo bertanya. "Kamu sudah makan, kalau belum ayo kita makan?"


Reyhan tersenyum dan mengangguk, "Bukannya Nenek mengundangku kemari memang untuk makan?" Candanya.


"Ayo kita makan, Nenek sudah menyuruh Mbak Ani untuk masak makanan kesukaanmu!" ajak Bu Suryo.


Keduanya beranjak dan melangkah kan kaki nya menuju meja makan. Keduanya duduk bersebelahan. Bu Suryo memandang sendu saat ingatannya kembali lagi, "Dulu meja makan ini selalu ramai, ada kakek dan ayahmu yang akan menemani Nenek makan!" lirih Bu Suryo.


"Sekarang kan sudah ada aku yang akan selalu menemani Nenek makan, bahkan aku juga akan tinggal disini untuk selalu ada untuk Nenek!"


Bu Suryo menatap Reyhan tak percaya, "Kamu mau menemani Nenek tinggal disini? Lalu bagaimana dengan Hanum?" tanyanya lagi.


"Mama sudah ijinin Reyhan Nek, lagi pula Reyhan sudah cukup dewasa untuk bisa memilih kan? Dan selama itu baik, mama tidak pernah melarang!"


Bu Suryo menangis haru, tak pernah ia sangka, di usianya yang sudah menginjak senja. Dirinya tak sendirian lagi, mengingat kini ada sang cucu yang akan menemani hari-harinya, sebelum ajal datang menjemputnya.


****


Di tempat lain.


"Kamu yakin Yang, kalau Reyhan akan tinggal disana?" tanya Sakha saat mendengar pembicaraan anak sambungnya dengan sang istri.


"Yakin gak yakin sih Bang, tapi itu sudah menjadi pilihan Reyhan. Ia hanya tak ingin neneknya sendirian di usia tua nya. Dan aku setuju dengan itu!"


Sakha menghembuskan nafasnya berat, "Ya sudah kalau itu sudah jadi pilihannya. Gimana sama Runa dan Fabian mereka aman kan?"


"Bian awalnya gak setuju kakak nya pergi, begitu juga sama Runa tapi Reyhan udah ngeyakinin mereka kalau kakaknya itu akan sering-sering pulang buat ketemu sama mereka."

__ADS_1


Sakha menganggukkan kepalanya, sambil mendekati Hanum. "Yank, Anak-anak kan sudah pada gede! Kamu gak ada gitu niat buat punya anak lagi?" tanya Sakha tiba-tiba.


Hanum yang sudah tahu maksud dari sang suami, hanya menggeleng. "Aku sudah terlalu tua untuk punya bayi lagi Bang. Kalau Abang mau punya bayi lagi, tunggu Reyhan menikah dan ngasih kita cucu!"


Sakha yang niatnya hanya ingin menggoda dan berharap bisa berubah jadi iya, terpaksa harus menelan rasa kecewa karena penolakan dari sang istri.


Melihat wajah sang suami yang berubah masam, Hanum tertawa. "Abang kenapa?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Hanum membuat Sakha membuang muka.


Sambil tertawa Hanum berjalan dan memeluk sang suami dari belakang. "Memangnya kalau Runa punya adik lagi masih pantas, Bang?"


Sakha diam mencerna ucapan sang istri dan tak disangka, sapuan lembut itu Sakha rasakan saat bibir ranum sang istri menyapa bibirnya.


Dengan pelan Sakha mengangkat tubuh sang istri dan membawanya untuk kembali memadu kasih.


***


Reyhan berdiri menatap bangunan putih yang bertuliskan rumah sakit jiwa. Entah apa yang membawanya hingga berani menginjakkan kaki nya ke tempat yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Setelah acara makan siangnya tadi, sang Nenek membawa nya masuk ke kamar yang dulu ditempati mendiang sang ayah. Saat memasuki kamar, pemandangan yang pertama ia lihat adalah foto pernikahan Ayah dan Ibunya. Yang masih tampak seperti baru, karena masih dirawat oleh sang Nenek.


Saat Reyhan berkeliling kamar ia tak sengaja melihat foto pernikahan kedua Ayahnya. Di foto itu, nampak senyum seorang wanita yang berdiri di samping ayahnya dengan memakai kebaya berwarna putih.


Karena foto itulah, kini Reyhan berdiri di sebuah tempat yang tak pernah terpikir untuk ia kunjungi sebelumnya. Saat kakinya mulai melangkah masuk pemandangan yang pertama ia lihat adalah wanita itu.


Duduk diam tanpa melakukan apapun, pandangannya kosong. Hingga suara perawat yang datang sedikit mengalihkan perhatiannya.


"Bu Amel masuk yuk, sudah siang istirahat dulu ya?"


"M … mas Ilham."


Amel seakan melihat Ilham ada di depan matanya, tapi dengan tampilan yang lebih muda.


"M-mas ini kamu kan? Kamu datang mau jemput aku ya? Aku rindu sama kamu Mas?" ucap Amel dengan linangan air mata.


Reyhan yang masih terpaku, hanya diam tak mampu menjawab ucapan wanita yang ada di depannya ini.


"Ayo masuk Bu?" Ajak sang perawat. "Ibu harus istirahat dan meminum obat nya dulu!"


Amel menulikan telinganya, matanya masih terfokus dengan mata Reyhan. Seakan-akan ia takut kalau ia beranjak, lelaki itu akan pergi dan menghilang lagi seperti sebelumnya.


"Mas kamu kok diam aja? Kamu mau bawa aku kan? Kamu udah janji mau bawa aku kemana aja kamu pergi, kamu janji gak akan pernah ninggalin aku sendiri. Tapi kenapa baru sekarang kamu datang, Mas?!" ucapnya sambil terisak.


"Kamu gak tahu selama ini aku merindukanmu, selalu menunggumu untuk datang dan membawaku pergi. Aku tersiksa tanpamu, Mas!" Isaknya lebih keras.


Sang perawat tak tega melihat pasien yang selama ini ia rawat menangis sampai seperti itu. Apalagi ia menangis sambil menumpahkan semua perasaannya, rasa sakit hatinya karena ditinggal pergi oleh sang suami.


Sambil membawa Amel untuk istirahat dan meminum obatnya. Sang perawat meminta maaf saat melihat wajah terkejut dari lelaki yang ada di depannya ini.


"Maaf ya Pak, Bu Amel memang seperti ini! Tapi ini untuk yang pertama kalinya beliau berbicara dengan orang lain, sebelumnya Bu Amel tak pernah bicara, menangis ataupun tertawa dari pertama masuk kesini?"


Reyhan hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Matanya masih menatap wanita yang kini tengah dibawa dengan masih berurai air mata. Dan tanpa ia sadari kakinya ikut melangkah mengikuti kemana wanita itu pergi.


Sesampainya di ruangan yang ditempati Amel, sang perawat memberikan obat untuk ia minum tapi dengan suara lirih Amel menolak meminum obatnya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak butuh obat itu lagi Sus, dia sudah datang untuk membawaku pergi. Akhirnya aku tidak sendirian lagi!" ucapnya sambil memegang dadanya yang mulai sesak saat ia batuk.


"Tapi Bu?" ucapan sang perawat terhenti saat Reyhan masuk kedalam ruangan.


"Dia sakit apa Sus?" tanya Reyhan saat melihat Amel mulai memejamkan matanya.


"Ibu sakit kanker Pak dan itu sudah sangat terlambat saat diketahui. Kami tidak tahu, karena saat pertama kali beliau di bawa kesini beliau dalam keadaan mental yang tidak baik-baik saja karena kematian suaminya."


Reyhan terdiam mendengar ucapan dari suster yang merawat mantan ibu tirinya itu.


Kasihan, itu yang pertama kali Reyhan rasakan saat melihat wanita berwajah tirus dan berbadan kurus itu. Jauh berbeda dari yang ia lihat di foto.


"Kira-kira apa dia bisa sembuh, Sus?" tanya Reyhan sambil menunjuk Amel.


Sang perawat menggeleng pelan, "Saat awal di bawa kesini, keadaan Bu Amel tidak sebaik sekarang Pak." ucapnya mengawali cerita. "Saat itu saya ditunjuk untuk menjaga Bu Amel yang keadaannya benar-benar membuat saya meneteskan air mata. Pandangan nya selalu kosong, tidak mau makan dan terus memanggil nama suaminya yang saya tahu ternyata sudah meninggal."


"Terkadang beliau menangis, terkadang tertawa. Tak jarang pula beliau seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang. Keadaan itu berlanjut sampai tiga tahun beliau tinggal disini. Tapi seiringnya waktu, akhirnya beliau hanya diam dengan pandangan kosong. Yang saya sendiri susah untuk masuk kedalamnya."


"Lalu untuk sakitnya sendiri, sejak kapan tepatnya disadari?" tanya Reyhan yang mulai penasaran dengan hidup wanita yang tengah tidur di depannya itu.


"Untuk sakit Bu Amel, kami tahu setahun terakhir ini Pak. Dan itu ternyata sudah sangat terlambat untuk kami bisa atasi, jadi kami hanya bisa mengandalkan obat-obatan untuk menjaganya tetap sehat."


Reyhan menganggukan kepalanya. "Hm, kalau begitu saya tinggal Sus! Dan kalau terjadi apa-apa dengan wanita ini tolong hubungi saya?" ucap Reyhan sebelum pergi meninggalkan ruang rawat mantan istri ayahnya itu.


"Baik Pak, terima kasih sudah mau berkunjung."


"Hm." Dan Reyhan pun berlalu kembali ke kantor nya, untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sedikit terbengkalai.


***


Keesokan paginya. Reyhan mendapat telpon dari rumah sakit tempat mantan istri ayahnya itu dirawat. Perawat yang kemarin ia ajak bicara, pagi itu mengabarkan kalau pasien yang ia rawat telah meninggal dunia tadi pagi dan tak butuh waktu lama. Kini Reyhan sudah berada di rumah sakit, tepatnya di kamar tempat jenazah akan dikebumikan sebelum dibawa ke tempat pemakaman.


Reyhan hanya berdiri, melihat dengan diam. Sebenarnya dia tak punya alasan untuk berada disini tapi, mengingat wasiat terakhir yang ayahnya tulis yang mengharuskan dirinya berada di rumah sakit untuk melaksanakan wasiat terakhir ayahnya.


Isi wasiat itu menerangkan, semua aset kekayaan yang ayahnya memiliki dibagi atas dirinya dan juga istri kedua ayahnya. Walaupun bagiannya lebih dari seharusnya, tapi isi wasiat itu juga memintanya untuk sekali-kali mengurus istri keduanya, kelak kalau dirinya sudah mengerti dan beranjak dewasa. Ilham meminta itu semata-mata hanya untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu.


Dikarenakan mentalnya yang tidak cukup mampu untuk bisa mengurus bagiannya, maka dari itu jauh sebelum Reyhan yang mengambil alih, kakek nya sudah melakukan itu terlebih dahulu dengan memberikan rumah sakit sekaligus perawat untuk merawat mantan istri kedua ayahnya.


Dan kini dirinya yang akan mengambil alih untuk memakamkan mantan ibu tirinya itu. Tapi sebelum Reyhan beranjak untuk ikut ke pemakaman. Sang perawat yang selalu menemani ibu tirinya itu datang dan memberikan sebuah surat. Surat yang dulu ayahnya tulis sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Reyhan menghembuskan nafasnya, kini beban di pundaknya sedikit terangkat dan ia juga berharap setelah ini ayahnya akan lebih tenang berada di alam sana. Karena apa yang menjadi keinginan dan kecemasan karena dosa masa lalu nya telah selesai.


Sebelum ia benar-benar melangkah pergi, ia sekali lagi melihat dua makam yang saling berdampingan itu. "Semoga Ayah tenang disana, aku telah melakukan tugas terakhir Ayah. Sekarang ia ada disampingmu dan tugas ku itu kini telah selesai." ucapnya sebelum berbalik dan beranjak pergi.


***


SELESAI


Akhirnya bonus extra part selesai ya kak. Terima kasih untuk yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir, maaf jika endingnya tidak seperti yang kalian pikirkan, karena pikiran kita tidak sama😂


Sekali lagi terimakasih tetap dukung terus author baru ini ya kak dan semoga ada cerita lain yang bisa langsung meluncur untuk menyusul🙏🙏


Terima kasih dan Happy Reading 😊🤗

__ADS_1


__ADS_2