
"Mbak," suara teguran Ardi memutus arah pandang Hanum.
"Mbak kenapa?" tanya Ardi sambil celingukan menatap arah yang tadi dipandang kakak nya tapi nihil karena tidak ada siapapun disana.
"Mbak gak papa Ar, cuma kepikiran saja apa yang tadi pengen mbak beli, kenapa sudah sampai sini malah lupa," elak Hanum.
"Mbak mah kebiasaan, selalu begitu pas di rumah aja buru-buru sampai disini malah lupa," ejek Ardi.
"Mau gimana lagi Ar, mungkin mbak sudah terlalu tua," kekeh Hanum.
"Mana ada Mbak Hanum tua, walaupun sudah tua mbak masih cantik, seperti abegeh usia delapan belas tahunan," gombal Ardi.
"Kamu nih bisa aja kalo ngegombal untung Mbak ini kakakmu coba kalo bukan sudah pasti klepek-klepek di godain begitu."
Ardi hanya mesam-mesem di ejek kakak nya, "Yah mau bagaimana lagi Mbak berhubung Ardi belum punya pacar jadi latihan ngegombal nya sama Mbak Hanum saja," kelakar Ardi.
Hanum hanya bisa menggelengkan kepala nya saat melihat tingkah absurd adik nya, " Ya sudah yuk pulang, Mbak udah selesai nih belanja nya, kalau kelamaan takut mas mu nanti nyariin kalo pas pulang mbak nggak ada."
"Lho memang nya mbak Hanum belum ijin ya sama mas ilham, kalo mau belanja bahan dapur," tanya Ardi heran.
"Tadi ponsel masmu nggak bisa dihubungi mungkin lagi sibuk, jadi mbak cuma kirim pesan aja, tapi entah sudah dibaca apa belum."
"Oh, ya sudah mari kita pulang Mbak," ajak Ardi semangat.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kasir guna membayar semua belanjaan mereka, Sebenarnya masih banyak yang harus di beli sama Hanum, tapi karena tidak sengaja melihat suami dan madu nya yang juga sama-sama berbelanja di tempat yang sama, Hanum takut kalau sampai Ardi tau kalau rumah tangga nya sedang tidak baik-baik saja.
***
__ADS_1
Jam menunjukan pukul sembilan belas lewat tiga puluh menit yang artinya, ilham sudah menemani Amel selama tiga jam lebih dari mulai belanja dan sekarang sedang memasak, "Kamu masak nya masih lama Mel, kalau iya mending pesan saja," ucap Ilham di sela-sela waktunya menunggu.
Bukan tanpa alasan ilham berkata seperti itu tapi karena janji nya yang akan pulang ke rumah istri pertama-nya, walaupun tadi dia sempat berkata akan pulang telat tapi ia tak ingin membuat Hanum lebih lama menunggu.
"Sebentar lagi juga selesai Mas, kamu kenapa sih kok kayak gelisah begitu," tanya Amel.
"Bukan hanya takut kemalaman aja pulang nya."
"Ck," terdengar suara decakan dari bibir Amel.
"Aku ini juga istrimu lho Mas, bukan mbak hanum saja, jadi tolong dong kamu juga hargai aku sebagai istri," ucap Amel kesal.
Karena tak mau membuat keadaan menjadi rumit akhirnya ilham lagi-lagi mengalah, "Iya maaf ya, tapi Mas lapar nih kamu masih lama nggak masak nya," ucap Ilham mengalihkan suasana.
Amel tersenyum, "Sebentar lagi selesai kok Mas, mending kamu mandi dulu saja, disini ada baju Mas juga kok."
"Hmm, oke Mas mandi dulu nanti kalo sudah siap kamu panggil Mas ya."
***
Selesai mandi dan berpakaian, ilham keluar berjalan ke arah meja makan, disana sudah tertata rapi semua makanan yang tadi di masak Amel istri baru nya.
"Ayo Mas makan,"
Ilham yang tadi nya cuma menatap meja, kini mengangguk dan mengambil kursi di meja makan menyantap makanan yang dimasak oleh istri nya.
"Gimana Mas enak nggak masakan aku?" tanya Amel.
__ADS_1
Ilham hanya mengangguk, sambil terus menikmati makanan nya, ia tak mau berkomentar karena buat Ilham hanya masakan Hanum yang pas di lidah nya, yang selalu jadi favoritnya, karena itu ia hanya mengangguk demi menghargai apa yang sudah Amel lakukan.
"Mas, malam ini menginap kan?" tanya Amel.
"Nggak Mel, nanti saja kapan-kapan ya Mas belum bisa," ucap Ilham.
"Mas kita udah nikah lho, halal juga kalau mau berbuat itu lalu kenapa Mas seolah-olah menghindar dariku."
"Bukan menghindar Mel, hanya Mas belum bisa itu saja," tegas Ilham.
"Kalau begitu terus kapan kita punya anak nya Mas? kalau menyentuh aku saja Mas gak sanggup," isak Amel.
Tanpa menyelesaikan makan malam nya Amel pergi dan masuk kedalam kamar, disana Amel menangis. Apa arti pernikahan ini kalau lelaki yang menjadi suaminya saja tak berniat menyentuh dirinya.
Ilham menyugar rambutnya ke belakang "Arghh," geram Ilham. Hilang sudah nafsu makan nya karena pertengkaran ini.
Tak ingin berlarut ilham segera menyusul Amel yang masuk kedalam kamar, sesampainya di dalam kamar ilham tidak menemukan Amel didalam nya, dan tak lama terdengar suara air kran kamar mandi, "Mungkin Amel sedang mandi," pikir Ilham.
Ilham lelah setelah seharian berkutat dengan laporan yang ada di kantor dan tak terasa saat menunggu Amel mandi, ia tertidur saking lelah nya.
Amel keluar dari kamar mandi, setelah menyegarkan tubuh juga pikirannya, Amel merasa lebih segar setelah berendam cukup lama dalam bathtub, aromaterapi mampu membuat pikiran Amel kembali waras, setelah perdebatan nya dengan Ilham. Amel keluar dari kamar mandi hanya menggunakan lingerie karena berpikir kalau ilham pasti sudah pulang mengingat percakapan nya tadi, kalau dia tidak ingin menginap apalagi di luar juga mulai hujan.
Tanpa Amel sadari ternyata suaminya asik tertidur di dalam kamar nya, ada rasa bahagia menyusup dalam hati saat memandang wajah tampan sang suami, tangannya mulai membelai wajah, turun ke bibir dan kecupan singkat ia berikan di bibir Ilham.
Ilham yang kaget mendapat perlakuan itu sontak terbangun dari tidurnya, "Amel apa yang kamu lakukan," tanya Ilham kaget.
"Apa, aku tak melakukan apa-apa hanya sedikit mencium bibir suamiku saja," ucap Amel santai.
__ADS_1
Ilham memandang Amel takjub, dia memang cantik walaupun tak secantik Hanum, bibir merah nya terlihat menggoda di tambah dengan pakaian seksi yang sangat pas di tubuh nya. Entah siapa yang memulai duluan saat bibir sama-sama terpaut, mengecap satu sama lain, tak dipungkiri Ilham merasakan itu ia tergoda, disisi lain hatinya menolak tapi nafsu juga lebih menguasai, ia lelaki normal yang juga butuh kepuasaan saat sang istri di rumah mulai menjauh, disini ia begitu dimanjakan dengan buaian dan belaian dimana langit juga mendukung itu semua, deras nya air hujan, dingin nya udara kamar menjadi saksi percintaan mereka Ilham terbuai, dan akhirnya terjadilah malam panas yang akan menjadi penyesalan seumur hidup nya.
***