Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Hambar


__ADS_3

Sunyi, tak ada pembicara lagi setelah makan malam yang membuat Ilham merasa tercekik, oleh keadaan yang sekarang mulai terasa canggung.


Hanum merapikan dan mencuci peralatan makan, setelah Ilham memutuskan untuk masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Ilham merebahkan dirinya, ketakutan itu terasa nyata saat Hanum dengan jelas mengatakan, "Makanlah yang banyak! takutnya nanti aku tak akan bisa memasak lagi untuk mu."


Apa ini suatu bentuk pemberitahuan kalau suatu saat nanti dia akan pergi?


Ilham mulai gusar memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, haruskah ia memilih sekarang? tapi siapa yang akan dia pilih mengingat Hanum menjadi yang pertama dalam hidupnya.


Dan Amel, pesona gadis itu mulai merambah dalam hatinya. Menjelajahi setiap sudut hati menciptakan gelenyar aneh setiap kali mereka bersama.


Ilham terlihat frustasi memikirkan yang akan terjadi nanti, tapi jika harus kehilangan salah satunya Ilham belum mampu.


Hanum masuk kedalam kamar, dan mulai membersihkan diri. Setelahnya ia bersiap untuk naik ke atas tempat tidur. Hanum ingin sekali merebahkan diri, mengistirahatkan pikiran juga hati.


Dilihatnya Ilham sudah tidur dengan sangat pulas, Hanum membalik diri dan menatap wajah damai suaminya. "Apa kita akan selalu seperti ini Mas? jika memang di dalam hatimu sudah ada wanita lain, doa ku cuma satu bersikaplah zalim padaku, hingga aku bisa lepas darimu tanpa merasa bersalah." ucap Hanum lirih sambil membelai wajah damai suaminya.


Setelah berkata seperti itu, Hanum ikut menutup mata. Berharap doanya akan terkabul meski harus menunggu dengan rasa sakit.


***


Keesokan paginya, Ilham lebih dulu membuka mata menatap dalam diam wajah cantik istrinya. Kerinduan dalam hatinya jelas terasa, tapi ego yang semakin tinggi membuatnya tak melakukan apa-apa.


Ilham merasa dirinya semakin jauh dari istrinya, kata cinta yang dulu selalu terucap bahkan kini jarang diucapkan.


Ilham mengecup lembut, kening wanita yang sudah bersama dengan nya selama lima tahun itu. Bersamaan dengan terbukanya kelopak mata cantik si empu yang memandang heran ke arah suaminya.


"Selamat pagi sayang!" ucap Ilham.


"Pagi Mas, kamu kok sudah bangun?" tanya Hanum.


"Mungkin karena kelelahan semalam, Mas jadi tidur lebih cepat dan bangun lebih awal."


Hanum mengangguk, "Mas ke kantor hari ini?" tanya Hanum.


"Iya, Mas berangkat banyak pekerjaan yang terbengkalai dari tiga hari yang lalu."


"Hmm, ya sudah Mas mandi aku akan siapkan sarapan nya." ucap Hanum sembari bangun dan berjalan ke luar kamar.


Ilham berdehem, dan beranjak bangkit juga untuk mandi.


***


Di tempat lain, Sakha terus bolak-balik mematut dirinya di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang sudah terlihat rapi.


"Sudah oke belum ya?" ucapnya di depan cermin. Ibu Ani yang tidak sengaja lewat di depan kamar sakha dan melihat anak laki-laki nya sedang bolak-balik bercermin, ia sedikit terkekeh.


"Sudah ganteng, Kha!" ucap Ibunya.

__ADS_1


"Eh Mama, kapan Mama masuk kok Sakha gak tau?"


"Gimana kamu mau tahu, kalau kamu sedang asik mondar-mandir di depan kaca begitu." ejek Bu Ani.


"Kamu lagi jatuh cinta Kha?" tanya Bu Ani.


"Eh, kok Mama bilang begitu! kelihatan jelas banget ya Ma?" tanya Sakha malu-malu.


"Berarti benar dugaan Mama, kamu jatuh cinta sama siapa Kha?"


Sakha menggeleng pelan, "Aku aja gak tau Ma dia siapa?" kekeh Sakha.


Bu Ani heran mendengar jawaban Sakha, "Kok bisa kamu jatuh cinta tapi gak tau orang nya?" ucap Bu Ani heran.


"Yah namanya juga baru kenal Ma, jadi belum tau. Tapi nanti Sakha pasti cari tau!" ucapnya serius.


"Ya sudah yang penting bukan istri orang ataupun tunangan orang ya Kha." nasehat Mama nya.


"Kalau itu pasti Ma, masa iya anak Mama yang tampan ini merebut istri orang." kelakar Sakha. "Kalau ternyata ia sudah ada yang punya aku pun rela merebutnya dari siapapun yang tidak menghargainya." ucap Sakha dalam hati.


"Hm, ya sudah kalau kamu sudah selesai ayo turun untuk sarapan." ajak Bu Ani.


"Siap bos!" ucap Sakha menggoda ibunya.


Bu Ani meninggalkan Sakha yang masih berkutat dengan penampilan nya. Dan Sakha yang merasa dirinya sudah benar-benar rapi, bergegas turun untuk sarapan dan berangkat ke kantor.


***


Ilham menoleh dan menunjukan dasi yang sedang ia pegang.


Hanum berjalan mendekat, meraih dasi yang ada di tangan Ilham, "Sini biar aku yang pakaikan Mas."


Ilham dengan senang hati memberikan dasinya, "Makasih ya?"


Hanum mengangguk dan sedikit berjinjit untuk memakaikan dasi di leher Ilham.


"Sudah Mas." ucap Hanum sembari menepuk pelan dada Ilham.


Ilham meraih pinggang Hanum dan mulai mengecup pelan bibir ranum nya, "Aku mencintaimu."


Dulu Hanum akan tersipu saat Ilham mengucapkan kata cinta. Dan sekarang Hanum menanggapi hanya dengan senyuman, kalau dulu ia akan membalas dengan kembali mencium bibir suaminya dan juga mengucapkan, "Aku lebih mencintaimu." tapi sekarang entahlah semua terasa hambar untuk Hanum.


"Sudah yuk Mas, nanti keburu dingin sarapan nya?" ajak Hanum.


Ilham bergeming bahkan kata cinta nya sekarang sudah tak lagi berbalas, tautan tangan mereka pun terlepas saat Hanum mulai berjalan keluar dari kamar mereka.


Ilham memandang sendu ke arah tangan nya, "Sesakit itukah dirimu, hingga berjalan bersamaku pun kau tak mau?" ucap Ilham dalam hati.


***

__ADS_1


"Mas berangkat ya sayang?" pamit Ilham seraya mencium kening Hanum.


"Hati-hati di jalan ya Mas."


"Hmm, kamu juga."


Kring … kring … kring


Hanum berbalik saat mendengar suara dering gawainya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, dengan Mbak Hanum ya?" tanya orang dari seberang sana.


"Iya saya sendiri, ini siapa ya?"


"Ini Mbak saya dari Panti Asuhan Kasih Ibu, ingin mengundang Mbak Hanum selaku donatur untuk datang ke acara syukuran anak-anak yatim Mbak, sekiranya Mbak Hanum tidak keberatan apakah Mbak Hanum bersedia untuk datang?"


"Hari apa ya Bu?


"Nanti sore, Mbak maaf saya baru ngabarin karena kesibukan mengurus acara."


"InsyaAllah nanti saya usahakan ya Bu."


"Baiklah kalau begitu saya tutup dulu ya Mbak, assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


Untuk sejenak Hanum merasa bimbang, haruskah ia datang. Jika ia datang akankah Ilham memberinya ijin, huft Hanum menarik nafas nya panjang, guna mengurangi sesak didada.


***


Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah Amel. "Masuk dulu Mas." teriak Amel dari dalam rumah.


Niat hati ingin langsung sampai di kantor, tapi di tengah jalan Amel menelpon untuk sekalian berangkat bareng. Ilham terpaksa berputar arah kembali menjemput istri keduanya.


Ilham menekan klakson mobilnya berkali-kali, Amel yang ingin berdandan pun terpaksa menunda kegiatan nya dan tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah nya.


"Mas kenapa gak masuk aja sih, Amel belum pake make up nih!" sungut Amel saat ia masuk kedalam mobil.


"Mas buru-buru lagian kenapa kamu gak naik taksi aja sih." kesal Ilham.


"Kok Mas marah sih?"


"Mas gak marah, ya sudah yuk berangkat." ajak Ilham, menyudahi perdebatan nya.


Amel yang masih sedikit kesal, akhirnya memilih diam percuma juga kalau pagi nya di awali dengan perdebatan, yang ada hari nya akan sangat kacau ke depan nya.


****

__ADS_1


__ADS_2