
Mobil berwarna silver itu membelah keramaian kota yang baru saja dimulai. Suasana ramai di jalanan tak seramai suasana di dalam mobil yang hanya diisi dengan kebisuan satu sama lain nya.
Setelah melewati jalan yang penuh keheningan, kini mobil berhenti tepat di garasi. Sang pemilik rumah ikut turun, setelah sang istri terlebih dulu meninggalkan dirinya sendirian di dalam mobil yang mesinnya masih menyala.
Hanum keluar dari mobil meninggalkan suaminya sendirian, ia lantas masuk kedalam kamar. Menumpahkan semua tangis yang tadi sempat ia tahan, walaupun air mata itu tetap saja keluar.
Ilham yang bimbang akhirnya memilih untuk masuk dan diam tanpa melakukan apapun, walau untuk sekedar membujuk sang istri untuk tidak menceraikan nya.
Ilham berpikir mungkin ini yang terbaik untuk mereka, walaupun akan terasa sulit di awal, pasti ia akan mampu menjalaninya. Terlebih sekarang sudah ada buah hati yang telah lama ia tunggu selama ini.
Ilham menghempas kan diri di sofa ruang tamu, berpikir dan terus berpikir. "Ah, seandainya pernikahan nya dengan amel tidak terjadi! apakah pernikahan nya dengan Hanum akankah masih baik-baik saja sekarang?" monolog Ilham dalam hati.
Sekeras apapun Ilham berpikir jawaban nya selalu sama, mungkin ini sudah menjadi takdirnya. Jika jodohnya bersama dengan Hanum sudah berakhir sekarang.
***
Di tempat lain, Inem dengan tergopoh-gopoh datang kerumah Bu Surti. "Assalamualaikum, bi?"
Lama Inem menunggu belum ada suara yang menjawab salam nya tapi di saat ia akan berbalik, Bu Surti muncul dari samping rumahnya.
"Eh Inem, ada apa tumben datang pagi-pagi ke rumah?" tanya Bu Surti yang heran melihat kedatangan Inem di rumahnya.
"Bibi dari mana?"
"Kamu ini di tanya kok balik nanya Nem!"
"Hehehe, habisnya dari tadi Inem panggil-panggil gak ada orang yang jawab salam Inem bi!"
"Ardi kan masih sekolah, sedangkan aku baru selesai memetik sayur di samping rumah!" ucap Bu Surti.
"Iya Inem gak tau bi!" jawab Inem sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus kamu mau ngapain disini, nanti Bu Suryo nyariin kamu lagi."
"Aku disuruh pulang cepat Bi, soalnya tadi ada ribut-ribut di rumah Bu Suryo." ucap Inem memberi penjelasan.
"Ribut masalah apa Nem, kamu ini kok ya. Memangnya pekerjaan kamu sudah selesai. Sampai ada keributan kamu disuruh pulang cepet?"
"Belum tadi pas bantuin bu suryo masak datang tamu perempuan, nah gak lama mbak hanum sama mas ilham juga datang, eh habis itu ribut deh?"
"Hah?" Bu Surti kebingungan apa hubungan nya tamu yang datang dengan hanum kok sampai ribut-ribut.
"Nanti Inem ceritain tapi sekarang Inem haus Bi, boleh minta minum sekalian ceritanya di dalam!"
"Ya sudah ayo masuk?" ajak Bu Surti.
__ADS_1
Inem mendudukan diri di kursi yang ada di ruang tamu bu Surti, mata nya menatap sekeliling, memperhatikan setiap bingkai foto yang terpajang di setiap dinding. Ada sebuah foto yang menarik dirinya untuk mendekat, memperhatikan semakin dalam. Hingga suara teguran dari si empu rumah mengalihkan pandangan nya.
"Ini minum nya Nem!"
"Eh, iya bi!" Inem kembali duduk bersama dengan Bu Surti.
"Bi itu foto mbak hanum sama suaminya ya?" tanya Inem.
"Iya!" jawab Bu Surti pendek, sambil menatap foto pernikahan anak sulung nya.
"Bibi kenapa?"
"Entah Nem, perasaan saya akhir-akhir ini selalu gak enak. Selalu kepikiran sama hanum. Oh iya kamu mau cerita apa?"
"Hmm, tapi setelah Inem cerita Bi Surti harus kuat ya?"
Bu Surti di buat bingung dengan kata-kata Inem, tentang apa yang akan diucapkannya hatinya semakin gelisah tak menentu. "Iya apa?"
"Sebenarnya kemarin di rumah Bu Suryo mau mengadakan makan bersama dengan mbak hanum dan mas ilham, tapi ada satu perempuan yang datang sebagai tamu." Inem menjeda ucapan nya dengan tarikan nafas yang panjang.
Bu Surti menautkan kedua alisnya, tanda kalau dirinya belum memahami maksud dari cerita Inem.
"Tamu yang kemarin datang itu ternyata istri kedua dari mas ilham Bi." lanjut Inem.
"Itu yang Inem denger Bi, karena saat mas ilham marah dan membentak mbak hanum saya melihat semuanya." ucap Inem sambil menunduk.
"Tapi bagaimana mungkin, ilham lelaki yang baik selama ini. Bagaimana bisa?" ucapnya tak percaya, "Lalu bagaimana dengan hanum ku, Nem?" tanya Bu Surti dengan berair mata.
"Mbak hanum menangis Bi, itu yang sempat saya lihat. Tapi selebihnya saya tidak tahu, karena bapak sama ibu membawa mereka untuk berbicara di luar dan saya tidak bisa mendengar lebih jauh." ucap Inem dengan penuh penyesalan.
Bu Surti memegang dadanya, ada nyeri yang menyusup di relung hatinya. Apakah firasat nya selama ini benar, saat melihat rona layu di wajah putri satu-satunya, apakah anaknya selama ini tidak bahagia?
Bu Surti menangis sesenggukan memikirkan nasib anak sulung nya, hingga ucapan salam yang terdengar dari luar pun tak diindahkan nya.
"Assalamualaikum."
Ardi masuk setelah mengucapkan salam dan melihat ada tamu di rumahnya, tapi saat ia akan berlalu masuk kedalam kamar, samar ia mendengar isak tangis ibunya.
"Ibu kenapa?" tanya Ardi saat menyadari benar kalau ibunya menangis.
Bu Surti masih terisak, tenggorokannya terasa tercekat, bahkan untuk menjawab pertanyaan Ardi pun ia tak sanggup dan hanya gelengan yang diterima Ardi.
Ardi gantian menatap Mbak Inem, dengan raut seakan bertanya? Tapi sama hanya gelengan yang di dapat Ardi.
Ruang tamu seketika hening, hanya ada isak tangis dari seorang ibu yang meratapi nasib anak pertamanya. Hingga suara serak bu Surti memecah keheningan yang terjadi di ruang tamu. "Tolong telpon hanum Ar!" ucap Bu Surti serak.
__ADS_1
Ardi yang bingung tak langsung mengikuti keinginan ibunya, hingga suara sedikit membentak, menyentak pendengaran Ardi.
"Telpon kakakmu Ar!!!"
"Ardi akan telpon mbak hanum, tapi setelah ibu menceritakan sebenarnya ada apa ini? jangan buat Ardi bertanya-tanya Bu?" ucap Ardi memelas.
"Telpon kakakmu dulu setelah itu ibu akan ceritakan semuanya?" jawab Bu Surti.
Akhirnya dengan terpaksa Ardi mengikuti kemauan Ibu nya dan dalam deringan ketiga, terdengar suara kakaknya yang mengucapkan salam dari seberang sana.
***
Hanum masih merebahkan diri, walaupun air mata nya sudah mengering tapi rasa lemas karena terus menangis, membuatnya urung untuk melakukan kegiatan dan memilih untuk tetap merebahkan diri.
Hingga dering suara telpon dari gawainya, mengharuskan ia bangkit dan menjawab telpon, saat nama sang adik yang terpampang memenuhi layar.
"Halo assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam Mbak!" jawab Ardi.
"Ada apa Ardi, tumben telpon Mbak jam segini?" tanya hanum dengan suara yang di buat seapik mungkin.
"Gak papa Mbak, ini ibu pengen bicara katanya?"
Tak lama setelah Ardi berkata seperti itu, kini suara telpon nya sudah berpindah ke tangan sang ibu.
"Halo Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Bu Surti.
"Hanum baik-baik saja Bu, kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya Hanum.
"Nggak ibu hanya merasa tidak tenang saja, tapi kalau kamu baik-baik saja. Ya sudah kalau begitu!"
Mendengar suara ibu yang mencemaskan dirinya, air mata Hanum kembali berlinang. "Bu …?" lidah Hanum seketika kelu, ingin rasanya ia menceritakan semuanya! tapi saat mengingat ibu nya sudah terlalu tua untuk mendengar betapa sakit anak nya sekarang, Hanum mengurungkan niatnya.
"Hmm, ada yang ingin kamu bicarakan Num?" pancing Bu Surti.
"Tidak Bu, nanti saja ya? sekarang Hanum lelah ingin istirahat dulu!" ucap Hanum mengakhiri pembicaraan mereka.
"Ya, istirahat lah Nak. Ibu tahu kalau kamu sedang lelah saat ini! tapi kamu juga harus ingat masih ada Ibu, yang akan terus mendukung kamu disini, masih ada Ibu yang menjadi sandaranmu saat dirimu tak kuat menghadapi kesulitan dalam hidup mu." ucap Bu Surti dengan menahan sesak di dada.
Hanum menangis kembali mendengar ucapan dari Ibu nya. Iya dia masih mempunyai seorang Ibu yang sangat kuat, yang akan membantunya keluar, dari penderitaan yang dialaminya saat ini. Hanum mengangguk, "Iya Bu, Hanum tau!" ucap Hanum sambil menahan sesak yang semakin menghimpit. "Kalau begitu Hanum tutup dulu ya Bu? Assalamu'alaikum." ucap Hanum mengakhiri telpon nya.
Hanum kembali menangis, saat ia berpikir kalau dia akan sendirian menghadapi masalahnya ini, tapi dukungan yang tadi Ibunya berikan. Mampu memberikan semangat baru untuk memulai lembaran baru, dengan meninggalkan semua luka yang ada di dalam hatinya.
***
__ADS_1