
"Mas datang jam berapa?" Bunyi pesan yang Hanum kirimkan pagi ini, sebelum Ilham berangkat ke kantor untuk bekerja.
"Seperti biasa, ada apa Dek?" balas Ilham.
"Mas gak lupa kan, hari ini jadwal Reyhan untuk kedokter?"
Ilham menepuk kepalanya pelan saat ingatan dua hari lalu kembali berputar di kepalanya. "Hm, aku hampir lupa untung kamu ingatkan. Oke aku akan langsung ke sana nanti."
"Oke Mas, nanti ku tunggu!"
Setelah membalas pesan Ilham Hanum kembali meletakan ponselnya, Hanum menarik nafas nya panjang. "Kenapa Mbak?" tanya Ardi yang tiba-tiba duduk di depan dirinya.
"Nggak ada Ar, kamu gak kuliah hari ini?"
"Kuliah tapi cuma ada satu mata pelajaran paling siang Ardi berangkat! Hari ini jadwal adek kedokterkan Mbak jam berapa?" tanya Ardi lagi.
"Hm, nanti sehabis makan siang." jawab Hanum pendek.
"Mbak mikirin apa? Siapa yang nanti nganterin Mbak sama adek?"
Hanum mendesahkan nafas berat, "Mas ilham yang nanti nganterin ke dokter Ar!"
"Oh, Mbak ada rencana mau balik lagi sama mas ilham?"
Hanum mendongakkan kepalanya, "Kamu ngomong apa Ar?"
"Hanya bertanya saja Mbak, karena sekarang aku lihat Reyhan semakin dekat dengan mas ilham. Apa itu gapapa, mengingat semua yang telah terjadi?" Ardi memutus ucapannya saat melihat raut wajah kakaknya.
"Sejauh yang Mbak lihat semua masih baik-baik saja, Reyhan juga butuh ayahnya Ar. Walaupun dia belum tahu apa-apa!"
"Aku tahu Mbak, aku hanya berharap kesalahan yang sama tak akan terulang lagi untuk yang kesekian kalinya!"
"Hm, Mbak tahu Ar. Terima kasih karena selalu ada buat Mbak!" ucap Hanum sembari memegang tangan adik laki-lakinya tersebut.
"Ya sudah bentar lagi jam makan siang, Ibu pasti repot banget nanti. Kalau begitu Ardi kedepan dulu ya Mbak bantuin Ibu!"
Hanum tersenyum, sambil menganggukan kepala.
Waktu berjalan tanpa terasa, saat jam dinding menunjukan angka satu kurang lima menit, yang berarti jam makan siang yang akan selesai sebentar lagi.
Hanum masih memandangi ponselnya dari tadi, hingga dirinya sedikit mengabaikan kehadiran sakha yang kini tengah duduk bersamanya dan juga reyhan yang asyik bermain di pangkuannya.
"Kamu nunggu ilham, Han?" tegur Sakha yang melihat kegelisahan Hanum.
Hanum menatap Sakha, sebelum menganggukan kepala. "Apa gak sebaiknya kamu telpon saja? Biar jelas kapan dia sampainya?"
__ADS_1
"Sudah Bang, tapi entah belum ada jawaban!" Hanum sedikit putus asa mengingat sebentar lagi jadwal dokternya dibuka, sedangkan dirinya masih dirumah menunggu ilham yang katanya akan datang.
"Kalau memang terburu-buru, biar Abang saja yang antar, gimana?" Sakha memberi penawaran saat dirasa tanda-tanda kehadiran ilham belum terlihat.
"Apa gak repotin Abang?" tanya Hanum pelan.
Sakha menggeleng, "Gak ada kata repot untuk mu dan jagoan kecilku ini!" kekeh Sakha.
Senyum di bibir Hanum terbit mendengar ucapan Sakha, tak dipungkiri hatinya sedikit menghangat, saat mendapatkan perhatian dari laki-laki yang ada di depannya ini.
"Ya sudah kalau begitu Hanum bersiap dulu ya Bang!" ucap Hanum sembari beranjak dari duduknya dan mulai mengambil keperluan reyhan.
***
Kini Hanum dan Sakha sudah sampai di rumah sakit, tempatnya biasa datang untuk mengecek keadaan putra semata wayangnya itu.
Saat sampai Hanum langsung masuk keruangan dimana dokter Silvi sudah menunggunya. "Halo apa kabar?" sapa sang dokter ramah.
"Alhamdulillah sehat Dok!" jawab Hanum sembari mendudukan dirinya di depan sang dokter.
"Gimana kabarnya reyhan, hari ini jadwal nya imunisasi ya?"
"Alhamdulillah sehat juga Dok, iya ini imunisasi yang terakhir ya Dok?" tanya Hanum memastikan.
"Iya Bu ini yang terakhir."
Hanum ingin menenangkannya, tapi mengingat dirinya juga takut dan tak tega melihat anaknya disuntik, Hanum memilih untuk menutup mata.
"Gapapa Dok sama saya saja!" ucap Sakha saat melihat Reyhan semakin menangis saat dipisahkan dengannya.
"Boleh Pak, nanti tolong dipegang saja ya kaki anaknya biar tidak kaget!"
Sakha mengangguk dan mengambil Reyhan kembali dalam pelukannya. Saat dalam pelukan Sakha, Reyhan kembali diam dan Sakha yang mulai mengajak Reyhan berbicara, sedikit mengalihkan perhatian Reyhan dari rasa sakit karena disuntik.
"Sudah selesai, wah putranya pintar ya gak nangis lho!" seru sang Dokter sambil tersenyum.
Hanum pun ikut tersenyum melihat kedekatan putranya dengan Sakha. Hanum tak pernah membayangkan bagaimana dirinya, seandainya tadi Sakha tak menawarkan untuk mengantar dirinya juga Reyhan.
"Ini ada resep obat untuk menurunkan demam seandainya nanti Reyhan demam ya Bu!"
Hanum menerima resep obat dan mengucapkan terima kasih, sebelum dirinya meninggalkan ruang praktek sang dokter.
Hanum dan Sakha berjalan bersama untuk mengantri obat. "Hanum antri dulu ya Bang?" Saat melihat antrian yang begitu panjang di depan apotek rumah sakit.
Sakha menarik tangan Hanum, "Gak usah biar Abang saja, antriannya panjang nanti kamu lelah. Mending kamu tungguin Reyhan sambil duduk disini, hem?"
__ADS_1
Hanum pun mengangguk, "Ya sudah aku tunggu disini ya Bang?"
Sakha tersenyum dan melangkahkan kaki nya untuk ikut antri obat yang dibutuhkan Reyhan.
Saat sedang menunggu, entah datang dari mana Amel tiba-tiba menarik kasar tangan Reyhan dan berteriak. "Anakku…!"
Hanum yang terkejut saat Reyhan berteriak dan menangis, ia langsung mendekap anaknya dalam pelukannya.
"Kembalikan anakku Mbak!" teriak Amel sambil meraung.
Sakha yang mendengar teriakan Reyhan sontak berbalik dan ikut menjauhkan Hanum dari Amel. Dan disaat yang bersamaan Ilham pun datang dengan tergesa-gesa, saat melihat Reyhan tengah menangis dalam pelukan Hanum, wajah Ilham seketika berubah pias.
Amel menarik tangan Ilham dan berteriak, "Lihat Mas mantan istrimu merebut anakku!" tunjuk Amel garang.
Hanum yang sama sekali tak mengerti maksud Amel hanya menggelengkan kepala, sambil terus mendekap anaknya yang ketakutan.
"Kembalikan anakku Mbak, itu anakku sama Mas Ilham. Kenapa Mbak Hanum ambil?" teriaknya sambil terus menggapai tangan Reyhan.
Sakha yang masih mendengar tangisan Reyhan, amarahnya seketika keluar. "Jauhkan istrimu dari anakku, Ham. Jangan sampai aku melewati batas!" ancam Sakha geram.
Ilham bertambah pias mendengar ucapan Sakha, emosi nya seketika terpancing. "Reyhan anakku, bukan anakmu!" jawab Ilham sambil menahan kepalan tangannya.
Melihat Amel yang masih terus berusaha mengambil Reyhan, dan melihat Reyhan yang masih begitu ketakutan. Emosi Ilham seketika terpancing. "Diamm…!" teriak Ilham marah.
Amel yang mendengar suara tinggi Ilham seketika terkejut, Amel mulai berjalan mundur sambil menangis. "Mas jahat, itu anakku Mas!" ucapnya sambil menangis.
Ilham melihat kanan kirinya saat suster yang tadi sempat menjaga istrinya tak terlihat, ia segera menelpon dokter yang biasa menangani istrinya itu.
Tak butuh waktu lama setelah panggilannya, dokter datang bersama dengan perawat yang lain dan mencoba menenangkan Amel yang tengah menangis.
Amel memberontak, sebelum suntikan obat penenang itu membuatnya kehilangan kesadaran. Dan Amel yang mulai tak sadar langsung dibawa keruangan untuk diistirahatkan.
Ilham berjalan mendekati Hanum yang masih memeluk Reyhan. "Dek maaf?" ucapnya sambil mengelus puncak kepala Reyhan.
Hanum menggeleng pelan, dirinya masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Reyhan mendongak setelah mendengar suara Ilham, tapi bayi kecil itu masih terlihat ketakutan. Ilham ingin mengambil Reyhan dalam pelukannya, tapi malah penolakan yang Ilham dapatkan.
Reyhan kembali menangis dan Sakha mengambil alih sebelum tangisan itu semakin terdengar kencang. Hati Ilham bagai tertusuk duri. Anaknya memilih laki-laki lain untuk menenangkannya daripada ayah kandungnya sendiri.
"Ayo kita pulang?" ajak Sakha sambil menarik tangan Hanum. Dengan Reyhan yang masih berada di gendongannya.
"Tunggu Dek?" cegah Ilham saat Hanum ingin pergi darinya.
"Nanti saja Mas jelaskan, kasian Reyhan ia mungkin masih ketakutan!" ucap Hanum pelan, dan kembali berjalan mengikuti Sakha untuk pulang.
Hati Ilham sakit saat melihat anaknya yang masih sesenggukan, walaupun sudah tak lagi menangis. Bagaimana dirinya bisa lupa, seandainya Ilham bisa mencegah semuanya, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.
__ADS_1
***