Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Mencoba Bertanggung Jawab


__ADS_3

Sesuai janji yang tadi pagi Ilham ucapkan, kini keduanya sudah berada di pelataran rumah sakit untuk mengantar Amel periksa kehamilan. Dan kebetulan rumah sakit yang dipilih Amel untuk membuat janji periksa adalah rumah sakit yang sama dengan Hanum yang kini juga tengah dirawat.


Perasaan Ilham kembali kacau dan saat dirinya masih sibuk dengan pikirannya. Teguran Amel seketika membuyarkan apa yang kini tengah Ilham pikirkan.


"Mas, kok bengong ayo masuk?" ajak Amel sembari menggandeng tangan Ilham.


"Hm, ayo!"


Dan disaat yang bersamaan dari arah sebaliknya hanum keluar bersama dengan sang Ibu yang sedikit kerepotan membawa barang-barang mereka. Hingga tak ada satupun dari keduanya yang bertemu walaupun sedang berada ditempat yang sama.


Amel melangkahkan kaki menuju poli kandungan, setelah sebelumnya membuat janji untuk periksa kehamilan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.


Sambil menunggu Ilham juga berniat untuk melihat hanum walaupun cuma sebentar, walaupun tidak benar-benar melihat tapi setidaknya ia bisa memandang mantan istrinya dari jauh sudah cukup untuk dirinya.


"Aku ke toilet sebentar ya?" pamit Ilham.


"Hm, jangan lama-lama ya Mas sebentar lagi giliranku?"


"Ok, hanya sebentar hem!"


Amel mengangguk dan Ilham pun melangkah keruangan di mana mantan istrinya itu dirawat dengan alasan ingin ke toilet.


Sesampainya di ruangan hanum, Ilham sedikit terkejut mendapati ruangan itu kosong dan sedang dibersihkan oleh suster yang berjaga di rumah sakit.


Ilham masuk dan bertanya, "Pasien yang dirawat disini kemana ya Sus?


"Atas nama ibu hanum pak?" tanya suster balik.


"Iya atas nama ibu hanum!"


"Oh, ibu hanum baru saja keluar dari rumah sakit pak!"


Ilham kembali terkejut, "Bagaimana hanum bisa keluar, apakah kesehatannya sudah mulai membaik Sus?"


"Alhamdulillah sudah pak, bu hanum sendiri yang meminta untuk cepat pulang karena merasa badannya sudah lebih baik dan sehat."


"Oh, ya sudah kalau begitu Sus terima kasih!" ucap Ilham sembari meninggalkan ruangan.


Ilham kembali menemui Amel yang masih menunggu dirinya. "Gimana Mas gak kelamaan kan?" tanya Ilham.


"Nggak Mas, setelah ini kita masuk ya?"


Tak lama menunggu panggilan pasien atas nama Amel mulai terdengar, dengan hati yang deg-degan Amel melangkah bersama dengan Ilham.


"Hallo, selamat pagi!" sapa dokter yang bernama sarah.


"Pagi dok!" jawab Amel bersamaan dengan ilham.

__ADS_1


"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin memeriksakan kehamilan saya Dok!"


"Boleh, ini kehamilan yang keberapa Bu?" tanya dokter ramah.


"Yang pertama dok!"


"Baik kita lihat dulu ya Bu, sebelumnya Ibu periksa dimana?"


"Belum dok, baru sekarang saya periksa!"


"Baik, Ibu terakhir datang bulan tanggal berapa?"


"Saya sedikit lupa dok, karena datang bulan yang tidak teratur membuat saya lupa tidak menghitung tanggal terakhir saya datang bulan."


"Oh begitu, baiklah kita langsung usg saja ya biar kelihatan."


Dokter sarah mempersilahkan Amel untuk naik ke tempat tidur, yang biasa digunakan untuk usg, menyingkap sedikit bajunya ke atas dan memberikan sedikit gel, dokter mengarahkan alatnya di atas perut Amel.


"Sudah terlihat ya Bu?"


Ilham mendekat saat dokter mengatakan bahwa janin nya sudah terlihat. Dengan rasa penasaran yang membuncah, Ilham berdiri di samping Amel dan melihat apa yang ditunjuk oleh sang dokter.


"Ini kantung janinnya ya Bu dan ini rahim nya!" tunjuk dokter Sarah.


Amel manggut-manggut mendengar penjelasan dari sang dokter, begitu juga dengan Ilham yang merasa takjub melihat apa yang ada di dalam rahim istrinya itu.


Setelah selesai Amel kembali duduk di depan meja dokter dan kembali menyimak apa yang dokter Sarah katakan.


"Bayi dan ibu nya sehat, untuk sekarang saya resepkan obat dan juga vitamin untuk ibu dan janin nya supaya lebih sehat lagi ya dan untuk kunjungan selanjutnya nanti bisa dijadwalkan ulang ya Bu bulan depan?" ucap dokter Sarah mengakhiri konsultasinya.


Amel dan Ilham berjalan beriringan menuju tempat untuk menebus obat, "Kamu tunggu disini aja, biar Mas yang nebus obatnya, hem?"


"Iya, aku tunggu ya Mas!"


Ilham bergegas pergi dan saat ia sedang menunggu antrian, ia melihat Ardi yang juga sedang menebus obat tanpa basa-basi Ilham mendatangi Ardi.


"Kamu disini juga Ar?"


Merasa ada yang menegur Ardi pun berbalik dan melihat siapa yang sedang berbicara dengannya.


"Oh, iya Mas!" ucap Ardi datar.


"Obat untuk Hanum juga Ar?"


"Hm." jawab Ardi singkat.

__ADS_1


"Sini biar Mas saja yang menebus obat untuk hanum!" pinta Ilham.


Ardi yang merasa jengah langsung berkata, "Untuk apa, Mas pikir aku tidak mampu untuk menebus obat untuk kakakku sendiri?".


"Bukan begitu Ar, Mas hanya … !"


"Hanya ingin bertanggung jawab begitu Mas?" sela Ardi. "Tapi keinginan itu! aku sarankan lebih baik Mas kubur jauh-jauh, karena kami sudah tidak butuh tanggung jawabmu karena tanpamu kami masih mampu untuk membesarkan anak mbak hanum sendiri." ucap Ardi ketus.


Ilham ingin menjawab tapi suara amel yang tiba-tiba memanggil dirinya sejenak mengalihkan pandangannya.


"Mas kok lama banget sih? tanya Amel yang belum menyadari ada Ardi, yang juga ikut mengantri untuk mengambil obat.


"Aku sedang menunggu antrian Mel!" jawab Ilham.


Tapi saat amel ingin bertanya lebih jauh, perhatiannya tertuju dengan sosok yang berdiri tak jauh dari suaminya. "Ardi … ! ngapain kamu disini?" tanya Amel ketus.


Ardi hanya mengedikkan bahu, malas untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang telah membuat kakak nya menderita.


Saat Amel ingin kembali bersuara, panggilan atas nama Ardi terdengar dari apotik tempatnya mengantri obat.


Setelah menyelesaikan pembayaran nya, Ardi bergegas pergi meninggalkan sepasang suami istri yang membuat perasaannya buruk seketika.


Amel kembali menatap sang suami yang mencoba untuk kembali berbicara dengan Ardi, sebelum mantan adik ipar nya itu pergi meninggalkan dirinya, yang masih mempunyai banyak pertanyaan.


"Ar …! belum sempat mengejar tangan Ilham lebih dulu ditarik oleh Amel.


"Mas mau kemana?"


"Sebentar ya, ada yang ingin mas tanyakan sama Ardi?"


"Pasti tentang mbak hanum kan? tebak Amel.


Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal, demi mengurangi rasa tak nyamannya atas pertanyaan Amel istrinya.


"Kamu lupa Mas, kalau kamu dan mbak hanum itu sudah bercerai! sebaiknya jangan pernah mencari tahu atau coba-coba kembali lagi sama mbak hanum. Kalau Mas nekat, aku juga akan nekat membawa pergi jauh anak ini, supaya Mas gak bisa bertemu dengannya sampai kapanpun." ancam Amel.


Ilham semakin bimbang, hingga tanpa sadar dia menjambak rambutnya sendiri, demi mengurangi sakit yang tiba-tiba masuk kedalam kepalanya.


"Arrghhh, oke sekarang kita pulang." ajak Ilham setelah ia mendapatkan obat yang dibutuhkan.


Ilham berjalan keluar diikuti Amel dari belakang, langkah Ilham yang lebar! membuat Amel sedikit susah untuk mengimbangi langkah kaki suaminya dan tanpa terduga Amel hampir terjatuh, seandainya tidak ada seseorang yang menangkap tubuhnya.


****


Minal aidin wal faidzin readers, maafkan author receh ini jika dalam penulisan sering membuat kalian esmosi dan meledak-ledak. Dengan kesungguhan hati, saya minta maaf🙏🙏🙏


Happy Reading😊

__ADS_1


__ADS_2